Overthinking

Ditulis Oleh: Tsana Ulfah Ullaya, S. Psi

Kita sebagai manusia tidak dapat selalu mengendalikan lingkungan menjadi seperti
apa yang kita inginkan. Namun yang bisa terus kita kendalikan adalah diri kita sendiri,
terutama pikiran. Pikiran dapat mempengaruhi bagaimana kita merasa dan berperilaku dalam
menghadapi lingkungan. Ketika muncul situasi tertentu, setiap individu dapat menunjukkan
respon yang berbeda-beda, tergantung dari bagaimana mereka mengarahkan pikiran mereka
sendiri.

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami kejadian di mana kita terlalu
memikirkan banyak hal atau yang sering disebut sebagai overthinking. Seringkali saat kita
terlalu memikirkan banyak hal, pikiran yang muncul adalah pikiran-pikiran negatif yang
dapat membuat kita merasa takut, khawatir, sedih, atau cemas, dan bila terus dibiarkan dapat
merusak diri sendiri. Menurut Paul Coleman (2015), overthinking merupakan suatu masalah, karena dapat
mengganggu pengambilan keputusan yang masuk akal. Sebagai contoh, saat kita bekerja,
wajar jika kita memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan proses penyelesaian tugas, dari
mulai input, proses sampai output, dan itu tidak berlebihan. Namun menjadi berlebihan jika
kita terus menerus meninjau apa yang telah dilakukan meskipun telah diyakinkan bahwa
semua baik-baik saja. Mencurigai kompetensi diri sendiri atau orang lain, selalu mencari
kesalahan orang lain, sehingga menghambat progres kerja, maka itu overthinking.

Overthinking adalah pemikiran yang tidak produktif dan lebih banyak mendatangkan
kerugian pada diri kita, di antaranya:
1) Menghabiskan waktu dengan percuma dan membuat kita kehilangan peluang
untuk dapat lebih mengembangkan diri.
2) Menghambat progres pekerjaan karena terlalu banyak berpikir namun tidak
diiringi dengan tindakan atau tidak diambil pada waktu yang tepat.
3) Overthinking mengganggu orang-orang di sekitar. Bahkan, orang lain dapat
menilai kita terlalu santai, atau terlalu perfectionist dan dapat membuat kita stres.
4) Menciptakan kelelahan mental karena terlalu terobsesi dan analisis, sehingga
keputusan yang dibuat kemudian dipikirkan dengan buruk.

Individu yang terlalu banyak berpikir tentang hal-hal yang tidak dapat mereka
lakukan akan menjadi lelah secara mental dan tidak dapat membuat pilihan yang masuk akal
tentang hal-hal lain yang bisa mereka lakukan karena terlalu banyak berpikir dan fokus pada
pikiran negatif. Pikiran yang berlebihan atau overthinking ini terbagi menjadi tiga level. Level
pertama adalah level ringan, yang terkadang dialami oleh orang normal, terutama ketika
mengalami situasi penuh tekanan. Tetapi tidak sampai mengakibatkan masalah yang berat.
Level kedua adalah level sedang, di mana individu memiliki pemikiran berlebihan yang
masih realistis, namun mereka tidak dapat menstabilkan emosinya. Mereka sering merasa
stres tentang kehidupan lebih dari yang seharusnya, hingga dapat membuat mereka
mengalami insomnia, atau mengganggu kesehatan tubuh. Terakhir di level ketiga atau level
berat adalah individu yang sudah tidak dapat melihat lingkungan secara realistis. Biasanya
mereka memiliki gangguan kecemasan yang parah dan/atau adanya kecenderungan psikotik.
Pikiran yang berlebihan atau overthinking harus segera kita diatasi. Jika dibiarkan
maka akan merusak diri kita dan menghambat tujuan hidup kita ke depan.

Adapun Coleman (2015) memaparkan cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi pemikiran yang berlebihan atau overthinking ini dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Sadar dan mengakui bahwa kita adalah overthinker, dan overthinking ini adalah
    sesuatu yang ingin kita atasi. Sesungguhnya jika kita terobsesi untuk melakukan
    sesuatu secara terorganisir atau perfectionist tanpa melakukan kesalahan sedikit pun,
    kita akan stres.
  2. Berlatih untuk dapat melakukan penerimaan emosional dengan mengulang pernyataan
    bahwa, “Saya menerima akan adanya ketidakpastian. Saya menerima adanya hal-hal
    yang belum tahu pasti apa yang akan terjadi.”, serta ulangi, “Saya mungkin tidak
    menyukai situasi ini (atau situasi masa depan) tetapi saya menerimanya”. Kita bahkan
    tidak harus percaya sepenuh hati tentang apa yang kita katakan, tapi kita bisa mulai
    dengan mencoba mengulangi frasa.
  3. Adanya kepercayaan dan keyakinan pada diri sendiri. Bukan berarti kita percaya
    bahwa semua akan berjalan persis seperti apa yang kita inginkan, karena itu bukan lah
    kepercayaan, tapi lebih kepada keinginan untuk mengendalikan masa depan.
    Kepercayaan dan keyakinan terbaik yang patut dimiliki adalah, “Saya percaya dan
    yakin bahwa, bagaimanapun, keadaan dapat berjalan dengan baik. Saya akan
    menanganinya, dan saya memiliki kepercayaan dan keyakinan itu bahkan jika saya
    tidak dapat memastikan apa manfaatnya pada saat itu.”
  4. Ambil Tindakan. Jika memang ada beberapa tindakan yang secara realistis dapat
    segera kita ambil, dan dapat membantu meringankan kekhawatiran kita, maka
    lakukanlah. Jika tidak, kita dapat melakukan latihan fisik selama minimal lima menit.
    Ntah itu push up, sit up, dan lainnya yang dapat mengganggu obrolan pikiran negatif
    di dalam kepala kita dan singkirkan energi berlebih yang kita hasilkan karena terlalu
    banyak berpikir.
  5. Mengatur waktu overthinking. Individu yang dapat mengatasi overthinking dengan
    baik kadang-kadang tetap merasa khawatir. Tetapi mereka tidak dikendalikan oleh
    kekhawatiran. Bila kita mengalami overthinking, kita dapat mulai mencoba
    mengendalikannya dengan cara mengatur waktunya, misalnya selama 30 menit.
    Setelah waktu habis, ingatkan diri sendiri bahwa kita mungkin akan kembali
    overthinking di jadwal berikutnya. Di sini kita perlahan belajar untuk mulai
    mengendalikan pikiran, daripada pikiran yang mengendalikan kita. Tidak mudah
    untuk benar-benar dapat menghentikan overthinking. Tapi kita bisa mulai dengan
    mengatur intensitasnya.

Manfaat Memasak Bersama Anak

Ditulis Oleh: Lindyani Anissa, S. Psi, M. Psi., Psikolog

Disaat kondisi pandemic seperti saat ini, orangtua dan anak memiliki banyak tanggungjawab yang perlu
diselesaikan dari kantor ataupun sekolah. Kondisi ini menjadi sumber tekanan tersendiri jika kita sebagai
orangtua merasa kesulitan untuk memikirkan kegiatan yang bisa membuat suasana dirumah menjadi
lebih menyenangkan. Ternyata, untuk dapat membuat suasana lebih menyenagkan, tidak perlu keluar
rumah. Kegiatan sehari-hari pun bisa dilakukan antara orangtua dan anak. Salah satunya memasak ! ya,
kegiatan yang dianggap menjadi tanggungjawab ibu ini, ternyata bisa melibatkan peran anak. Banyak
orangtua yang menganggap kegiatan ini berbahaya jika dilakukan anak, namun ternyata banyak manfaat
yang bisa diambil jika kita melibatkan anak dalam kegiatan memasak, tentunya dengan pengawasan
yang baik ya. Berikut manfaat memasak bersama anak :

  1. Melatih kesabaran anak
    Melalui praktik langsung saat memasak, dapat melatih kesabaran anak. Anak-anak yang
    praktik memasak langsung cenderung lebih mampu mengenal proses mulai dari
    membeli bahan, menyiapkan bahan, dan mencuci peralatan memasak yang secara tak
    langsung mengajarkan arti tanggungjawab dan kesabaran.
  2. Melatih anak untuk bergaya hidup sehat
    Sebuah penelitian yang dilakukan University Alberta di Kanada mengungkapkan bahwa anak-anak
    yang biasa ikut memasak akan cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan sehat. Dalam studi
    ini, ditemukan bahwa mengajak anak-anak ikut memasak dan menyiapkan makanan di rumah
    adalah strategi efektif untuk mendukung kebiasaan mengonsumsi makanan sehat.
  3. Meningkatkan motorik halus
    Saat memasak, keterlibatan tangan merupakan hal yang utama dilakukan. Dengan melakukan
    kegiatan mengupas, meremas, menggulung dan menekan/mencetak adonan dan yang lainnya,
    tanpa merasa dipaksa, anak sebetulnya sedang melatih banyak hal. Salah satunya motorik halus
    anak yang akan berkembang dengan baik.
  4. Meningkatkan koordinasi motorik
    Selain mampu melatih dan meningkatkan motorik halus, aktivitas dalam memasak juga dapat
    meningkatkan koordinasi motoriknya. Bagaimana ia dapat menyelaraskan pandangan mata dengan gerakan tangannya sambal fokus mendengarkan perintah dan contoh dari ibu atau ayah sebagai pendamping.
  5. Pengembangan Kemampuan Sosial Emosional
    Dalam memasak tentu ada sisipan aspek aturan serta tanggung jawab, dari mulai mempersiapkan
    bahan masakan, berapa banyak sayur yang digunakan, bagaimana bentuk potongannya, lalu
    bertanggungjawab dalam kebersihan bahan makanan tersebut. Hal ini juga secara tidak langsung
    dapat membuat anak mengekspresikan perasaannya saat itu.
  6. Pengembangan Kemampuan Bahasa
    Saat memasak, orangtua pasti akan memberikan instruksi sederhana bagi anak. Menyebutkan
    nama dari bahan masakan yang digunakan, memberi perintah bahan masakan mana yang akan
    diolah terlebih dahulu sampai dengan langkah memasak lainnya. Hal ini tanpa disadari dapat
    meningkatkan pembendaharaan kata anak, meningkatkan kemampuan anak dalam memahami
    instruksi dari sederhana hinga kompleks dan saat sudah selesai memasak, anak bisa diminta untuk
    bercerita mengenai kegiatannya pada anggota keluarga lain sehingga dapat melatih anak
    mengungkapkan kembali pengalamannya dan melatihnya dalam merangkai kata serta kalimat.

Ternyata dalam satu kegiatan saja sudah memiliki banyak sekali manfaat untuk anak. Hal penting
yang perlu dilakukan adalah, pengawasan yang tepat saat anak ikut serta dalam kegiatan memasak.
Sehingga, kegiatan ini tetap aman serta memberikan pengalaman yang dihayati sebagai
pengalaman yang menyenangkan untuk anak.

Sumber :
Jurnal PAUD TERATAI. Volume 06 Nomor 3 Tahun, Fitri Freeanti Noor Jannah. 2017
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA, Vol. 4, No. 4, September 2018

Mempelajari Arti di Balik Senyum Bayi

Ditulis Oleh: Rajab Cipta Lestari, S. Psi

Senyum adalah bahasa non-verbal yang biasanya memiliki arti yang menyenangkan,
seperti merasa senang, bentuk sapaan terhadap orang yang ditemui, atau juga bentuk
mengharigai orang lain. Senyuman seringkali diartikan dengan bahasa non-verbal yang positif,
karena memberikan dampak bagi yang melakukan atau yang menerimanya juga ikut merasakan
hal positif. Selain itu juga senyum sendiri adalah bahasa non-verbal yang sudah kita pelajari sejak
bayi, ketika merasa nyaman dengan orang disekitar, atau ketika dekat dengan ibunya, merasa
senang akan ditunjukkan dengan senyum dan tertawa. Dari contoh perilaku bayi itu saja, sebuah
senyuman dan tertawa pada bayi dapat berarti banyak hal.

Sebuah penelitian yang dilakukan diluar negeri oleh Caspar Addyman, Ph.D, penelitian yang dilakukan sejak tahun 2005 ini mempelajari mengenai persamaan dan perbedaan dari senyum dan tawa pada bayi. Landasan
beliau melakukan penelitian tersebut dikarenakan beliau melihat respon bayi yang
menyenangkan melihat orang dewasa tersenyum, hal ini menimbulkan pertanyaan apa yang
dipikirkan oleh bayi. Sebuah percobaan dilakukan kepada bayi dengan menunjukkan foto wajah wanit dan
pria, dan setelah ditunjukkan 10 foto wanita terlihat bahwa bayi menunjukkan ekspresi yang
senang ketika melihat foto dengan wajah pria. Sejak usia 3 bulan bayi sudah dapat melakukan
hal ini walaupun untuk merespon pertanyaan orang dewasa akan cukup lama, selain merespon
senyuman ketika seorang bayi melihat sesuatu dengan lama pada sesuatu yang menarik
perhatiannya berarti bayi tersebut sedang mempelajari hal yang baru.

Selama ini orang kita sebagai orang dewasa sering mengira bahwa bayi yang tertawa
dikarenakan hal lucu yang kita tampilkan padanya, namun justru bayi sedang memberikan
respon sosialnya. Bayi menunjukkan ketertarikannya agar kita bisa terlibat dan mengajaknya
bermain. Bertemu orang lain adalah proses belajar untuk bayi, dan tertawa merupakan cara
merespon bayi dari proses bertemu dengan orang lain. Terdapat beberapa manfaat dari
mempelajari arti dibalik senyuman dan tertawa bayi diantaranya adalah :
. Memainkan peranan dalam membangun ikatan batin dan proses  kedekatan antara
orangtua dan anak.
·  Membantu bayi merasa aman dan terjamin.

·  Membantu bayi belajar dan mengembangkan wawasan akan dunia.
·  Bayi dan anak balita yang membaca ekspresi wajah orangtuanya, menggunakan ekpresi
wajah ini sebagai panduan berperilaku kelak.
·  Pengalaman emosional yang dimiliki bersama orang lain di tahun pertama, membantu
membentuk respon emosional ketika berinteraksi dengan orang lain.
Cara belajar ini yang merupakan dasar anak dalam belajar menghadapi lingkungan,
tanggap dan berinteraksi dengan lingkungan, terkadang sebagai orang tua kita kurang memahami
dan kurang masuk ke dalam diri anak untuk dapat memahami apa yang dirasa dan dipikirkan
oleh anak.

Sumber
Psychologytoday.com. (24 April 2020). Why I Study Laughing Babies Yes, it’s fun—but it’s also
serious science. Retrieved 25 April 2020.
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-laughing-baby/202004/why-i-study-
laughing-babies
Tribunnews.com. Makin Banyak Mamanya Senyum, Bayi Makin Tumbuh Cerdas. Retrived 26
April 2020. https://www.tribunnews.com/kesehatan/2012/12/13/makin-banyak-
mamanya-senyum-bayi-makin-tumbuh-cerdas

Pedoman Praktik Psikologi dalam Hukum

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

Prakteknya ilmu psikologi dalam dunia hukum dikenal dengan sebutan psikologi forensik.
Dimana praktek tersebut akan digunakan untuk kepentingan hukum, jika bukan untuk
kepentingan hukum, maka praktek yang dilakukan tersebut hanya praktek psikologi biasa
yang pada umumnya dilakukan.

Apa sih bedanya? American Psychology Association (APA) membuat dasar-dasar pedoman
untuk pelaksanan praktek psikologi forensik. Dasar-dasar pedoman tersebut antara lain
meliputi Tanggung Jawab, Kompetensi, Ketekunan, Membentuk Hubungan, Fees, Informed
Consent, Pemberitahuan, dan Persetujuan, Menghadapi Konflik dalam Praktik, Menjaga
Privasi, Kerahasiaan dan Hak klien, Metode dan Prosedur, dan Pemberian Assessment.
Poin pertama mengenai Tanggung Jawab sebagai seorang praktisi psikologi forensik, yang
meliputi: Integritas, Ketidakberpihakan dan Keadilan, dan Menghindari Konflik Kepentingan.
Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Integritas
    Praktisi forensik berjuang untuk akurasi, kejujuran, dan kebenaran dalam sains,
    pengajaran, dan praktik psikologi forensik dan mereka berusaha untuk melawan
    tekanan partisan untuk memberikan layanan dengan cara apa pun yang cenderung
    menyesatkan atau tidak akurat.
  2. Ketidakberpihakan dan Keadilan
    Ketika menawarkan pendapat ahli untuk diandalkan oleh pembuat keputusan,
    menyediakan layanan terapi forensik, atau mengajar atau melakukan penelitian,
    praktisi forensik berusaha untuk akurasi, imparsialitas, keadilan, dan independensi
    (Standar EPPCC 2.01). Ketika melakukan pemeriksaan forensik, praktisi forensik
    berusaha untuk bersikap tidak memihak dan menghindari presentasi partisan dari
    bukti yang tidak representatif, tidak lengkap, atau tidak akurat yang mungkin
    menyesatkan para pencari fakta. Praktisi forensik berpegang pada data yang nyata,
    yang ditemukan, dan dapat diperlihatkan sebagai bukti-bukti atau dasar pemikiran
    dalam menghadapi sebuah kasus.
  3. Menghindari Konflik Kepentingan
    Praktisi forensik menahan diri dari mengambil peran profesional ketika kepentingan
    atau hubungan pribadi, ilmiah, profesional, hukum, keuangan, atau lainnya
    diharapkan sikap ketidakberpihakan dimiliki agar tetap terjaga keprofesionalan
    sebagai praktisi psikologi forensik.
    Praktisi forensik didorong untuk mengidentifikasi, membuat diketahui, dan
    mengatasi konflik kepentingan nyata atau nyata dalam upaya untuk
    mempertahankan kepercayaan publik, melepaskan kewajiban profesional, dan
    mempertahankan tanggung jawab, ketidakberpihakan, dan akuntabilitas.

Tips Menghadapi “Covid-19 Anxiety”

Ditulis Oleh: Tiara Delya Madyani, S. Psi

Apa itu Covid-19 anxiety? Covid-19 anxiety atau lebih dikenal dengan Coronavirus Anxiety
adalah kencendrungan untuk memikirkan hal-hal buruk yang bisa terjadi atau stres yang
ditimbulkan terkait dengan pemberitaan pandemic virus corona. Individu yang memiliki
kecemasan cenderung merasa tidak nyaman dengan pemberitaan virus corona dan berpikir
banyak hal buruk akan terjadi kepadanya seperti masa depan yang semakin tidak jelas karena
terkena PHK, akan terjadi banyak tindak kriminal, merasa curiga ketika bersosialisasi dengan
orang lain, dan lain sebagainya.

Kecemasan yang kita alami, dapat membuat kita ‘mengisolasi’ diri dengan pikiran-pikiran
yang belum tentu akan terjadi. Hal ini dikarenakan selama #dirumahaja kita mengalami
kebosanan atau sama sekali tidak mengerjakan sesuatu yang membuat perhatian kita
teralihkan dari kecemasan tersebut.

Lalu, bagaimana kita bisa mengendalikan kecemasan yang kita alami saat wabah ini terus
berlangsung?

  1. Berlatih untuk berdamai dengan ketidakpastian
    Sebuah studi pada tahun 2009 tentang wabah H1N1 menunjukkan bahwa individu
    yang kesulitan dalam menerima ketidakpastian cenderung meningkatkan kecemasan
    yang mereka miliki. Kia dapat berlatih untuk berdamai dengan ketidakpastian dari
    hal-hal sederhana, yaitu:
  • Kita dapat melakukan aktivitas-aktivitas positif yang baru dan menantang untuk
    dilakukan seperti ketika kita tidak terbiasa untuk memasak, kita dapat mencoba
    resep-resep sederhana untuk melatih kemampuan memasak kita.
  • Selain itu, mencoba untuk melihat suatu kejadian dari dua sudut pandang, negatif
    dan positif. Sisi positif dari wabah corona yaitu kita banyak memiliki waktu
    dengan keluarga karena #dirumahaja meskipun kita memahami bahwa sisi negatif
    dari wabah ini yaitu aktivitas yang kita lakukan terbatas.
  1. Melakukan olahraga untuk mengatasi rasa khawatir
    Banyak kegiatan olahraga yang bertujuan untuk mengatsi rasa khawatir dalam diri
    kita, antara lain:
  • Yoga
    Banyak orang yang merasakan merasa lebih tenang setelah melakukan yoga. Kita
    dapat mulai mencari aplikasi atau tutorial video yoga yang mudah dilakukan
    untuk mengisi kegiatan selama #dirumahaja.
  • Meditasi
    Lakukanlah meditasi dengan teratur. Meditasi baik untuk menenangkan diri.
    Banyak aplikasi yang mengajarkan bentuk meditasi sederhana, seperti Headspace
    atau Calm.
  • Berlatih Teknik Pernapasan Sederhana
    Kita bisa memvisualisasikan diri sedang berjalan di kotak yang cukup panjang.
    Berikan instruksi pada diri sendiri untuk menghirup, tahan napas atau buang
    napas pada kotak tertentu. Contohnya, kita dapat menarik napas panjang pada
    kotak pertama, lalu tahan napas ketika berjalan di kotak 2, 3, dan 4. Lalu kita membuang napas pada saat kita mencapai kotak kelima. Lakukan secara berulang-ulang hingga kita merasa tenang.
  1. Fokus pada Fakta
    Internet dan media sosial dibuat untuk mempermudah kita dalam mencari informasi
    dalam waktu singkat. Namun, ketika kita cemas, kedua hal ini dapat menjadi musuh
    kita. Banyak informasi-informasi ‘hoax’ yang bertebaran melalui intenet dan media
    sosial seperti cara mendeteksi apakah kita terpapar corona melalui cara kita bernapas
    yang pernah disebarkan oleh selebgram. Informasi tersebut belum tentulah benar dan
    ketika kita mencari informasi tentang corona di google, akan ada banyak data yang
    membuat kita terkadang fokus pada situs-situs yang abal-abal dalam memberikan
    informasi tentang virus corona. Kita dapat mencari data yang dapat dipercaya melalui
    situs yang ditunjuk pemerintah, World Helath Organization (WHO), dan sebagainya.
  2. Cari Bantuan Tenaga Profesional
    Jika kita sudah melakukan berbagai cara seperti melakukan kegiatan yang positif,
    mengkomunikasikan hal yang kita rasakan kepada keraba/keluarga/sahabat,
    mengubah mindset kita tetapi tidak menurunkan kecemasan yang kita rasakan. Hal ini
    berarti sudah saatnya kita mencari bantuan dari tenaga profesional seperti psikater dan
    psikolog. Selama masa wabah ini banyak aplikasi atau layanan konseling secara
    online yang disediakan oleh berbagai lembaga untuk membantu masyarakat. Jangan
    pernah takut atau ragu untuk meminta bantuan tenaga profesional jika kita memang
    membutuhkannya karena kecemasan yang kita alami tidak akan hilang jika tidak aksi
    dari diri sendiri untuk mengahadapinya.
    Sumber:
    https://www.allencomm.com/courses/covid19_5_tips_to_face_your_anxiety/index.html
    https://www.thejakartapost.com/life/2020/04/03/7-science-based-strategies-to-cope-with-
    coronavirus-anxiety.html
    https://www.dream.co.id/fresh/corona-covid-19-anxiety-bagaimana-mengatasinya-200326n.html
    https://www.health.harvard.edu/blog/coping-with-coronavirus-anxiety-2020031219183

Bagaimana Pandemi Dapat Memacu Depresi? 5 Cara Menangani Quarantine Blues.

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

Setiap kali terjadi tragedy atau krisis, kita sebagai individu seringkali mencari
berbagai bentuk dukungan emosional seperti komunitas, kelompok agama, keluarga dan
teman-teman serta sahabat. Hubungan yang sehat seperti itu mengangkat kita, memberi kita
keberanian, dan memberi kita kekuatan.

Ketika kita dihadapkan dengan penderitaan yang sama, kontak sosial sesama manusia
merupakan suatu “Teknik” penyembuhan. Itu membangunkan kemanusiaan kita dan memicu
refleksi diri. Seringkali, krisis menyebabkan kita mengesampingkan kekhawatiran kecil dan
lebih menghargai hidup. Seperti yang pernah dikatakan orang bijak, rasa terima kasih lahir
dari penderitaan.

Namun Social Distancing dari coronavirus yang sedang kita lakukan saat ini tidak
memungkinkan untuk kita melakukan kontak semacam itu. kita tidak bisa memeluk atau
menyentuh, berjabat tangan dengan teman atau saudara-saudara kita. Kita rindu berada di
hadapan orang yang kita cintai. Acara keluarga dibatalkan, makan malam atau makan siang
dengan teman dilarang. Banyak dari kita terisolasi dan merasa lebih sendirian daripada
sebelumnya.

Isolasi memicu depresi.

Orang-orang yang lebih muda dapat menggunakan teknologi untuk sekedar
kunjungan video atau pertemuan, namun tidak semua orang tua cenderung tahu bagaimana
menggunakan teknologi tersebut. Selain itu, karena mereka yang paling rentan terhadap virus
corona, mereka juga cenderung kesepian karena kurangnya penguasaan akan teknologi.
Depresi berkembang biak dalam kesendirian karena kekhawatiran tentang masa depan
menggerogoti perasaan kesejahteraan kita.

Beberapa hal yang bisa membantu kita bertahan saat isolasi
ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk bisa bertahan dalam situasi yang
mengharuskan kita melakukan isolasi dari pandemic coronavirus ini. Diantaranya adalah

  1. Belajar atau mengembangkan skill baru
    Kita bisa mempelajari berbagai macam hal atau kemampuan yang belum pernah kita
    pelajari sebelumnya, seperti belajar memainkan alat music, mengikuti pelatihan
    online yang banyak diselenggarakan, atau beberapa tugas baru yang bisa kita terima
    atau kerjakan.
  2. Perbanyaklah membaca
    Membaca bisa menjadi salah satu media untuk “pelarian” secara emosional dan
    Psikis. Kita bisa membaca buku online, memesan buku edisi terbaru atau sekedar
    membaca buku yang sudah kita miliki sebelumnya. Bacalah berbagai hal yang
    menurut kita menyenangkan seperti cerita misterius, biografi artis atau tokoh dunia
    dan lain-lain
  3. Buat rutinitas baru
    Jika kita memiliki rutinitas yang sering kita lakukan, tetaplah lakukan rutinitas
    tersebut, tapi tambahkan juga beberapa kegiatan baru di antara kegitaan tersebut
    seperti menonton film kesukaan, melakukan perawatan diri, menata ulang lemari,
    melihat foto-foto keluarga dan sebagainya.
  4. Persepsikan situasi saat ini sebagai sebuah peluang.
    Terlalu sibuk untuk menemukan atau menambahkan rutinitas baru ? tidak lagi, karena
    sesungguhnya di waktu kita melakukan karantina atau isolasi saat ini, kegiatan baru
    tersebut bisa membuat kita lebih berkembang dari sebelumnya, contohnya seperti
    membaca buku, atau bermain alat music. Kita bisa menemukan hal baru dan
    mengetahui lebih banyak hal baru dari sebelumnya.
  5. “reach out”
    Luangkan waktu untuk menelepon teman; kontak kembali dengan teman-teman
    sekolah menengah atas atau perguruan tinggi. Sekarang juga saat yang tepat untuk
    saling menengok tetangga yang sudah tua dan menawarkan untuk membantu mereka
    berbelanja, dll. Hal yang menakjubkan tentang kegiatan altruistik adalah mereka juga
    membangkitkan semangat Anda. Bukankan itu merupakan suatu pencapain yang luar
    biasa ?
    Sumber :

L.C.S.W, S. G. (2020, 04 05). Psychology today Articles. Retrieved from Psychology today:
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/when-kids-call-the-shots/202004/how-
the-pandemic-can-trigger-depression

RAISING A READER: Tahap Awal Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak

Ditulis Oleh: Nida Nabila Sodikin, S. Psi

Halo bunda dan ayah.. kira-kira pernah ga sih (atau bahkan sering) terbersit pikiran “hmmm bagaimana ya cara untuk menumbuhkan anak menjadi individu yang rajin membaca?” eits.. sebelumnya apa sih
membaca itu?

Membaca adalah suatu proses yang melibatkan reaksi yang penuh arti terhadap simbol yang terlihat (Bond and Tinker. 1967). Dalam artian, membaca itu adalah proses dimana kita mengenal simbol-simbol yang tertera di sebuah tulisan (misal kita tau A itu dibaca A, B dibaca BE dst),
menyambungkan simbol-simbol tersebut menjadi kata-kalimat-paragraf dst dan paham akan apa yang kita baca. Nah kalau kita melihat suatu tulisan dan tidak paham akan apa yang kita lihat tersebut, berarti itu hanya ada pada tahap melafalkan saja, bukan membaca. Wahh.. tidak semudah itu ya ternyata untuk membaca. Jadi bagaimana ya caranya kita menumbuhkan anak yang rajin membaca baik tulisan, artikel, buku (bisa buku cetak atau ebook)?? Ini dia saran-saran yang dapat bunda dan ayah lakukan :

  1. Jadilah individu yang suka membaca
    Yap!sebelum anak yang melakukan, alangkah baiknya kita sebagai orang tua harus menjadi contoh bagi anak untuk menjadi individu yang suka membaca. Baca apa pun yang ayah bunda temukan, koran, komik, buku, majalah, berita di tv apapun itu. Bacakan dengan lantang ya ayah,
    dan bunda. Kelak, anak akan mencontoh perilaku orang tua yang suka membaca.

2. Bacakan buku sejak dalam kandungan
Bagi bunda yang sedang mengandung, yuk bacakan buku sebanyak mungkin kepada baby. Baby bisa mendengarkan apa yang bunda bacakan lho! Bacakan buku atau bacaan yang baik ya bund,
seperti buku cerita untuk anak.

3. Baca-baca-baca.. Nah.. ayo ajak anak membaca sejak dini ayah bunda, bahkan sejak lahir. Loh?kok?kan anak bayi belum bisa membaca?yap, betul. Akan tetapi, mereka bisa mendengarkan apa yang ayah dan
bunda katakan. Bacakan buku minimal 1 buku perhari atau bisa lebih. Bacakan apapun yang ada disekitar anda seperti tulisan di jalan, buku cerita, bahkan untuk sekarang sudah banyak aplikasi buku di gadget ayah dan bunda. Oh ya, membacanya harus dengan ekspresi ya ayah dan bunda! Agar anak lebih tertarik untuk ikut serta dalam aktivitas membaca buku.

4. Jadikan rutinitas
Jadikan membaca suatu rutinitas anak dan orang tua setiap hari. Selain menumbuhkan rasa kecintaan anak terhadap membaca, juga mempererat bonding antara orang tua dan anak. Salah satu contoh, jadikan rutinitas membaca buku sebelum anak tertidur di malam hari. Jika anak sudah lancar berbicara (misal untuk anak usia 3 taun) berikan pertanyaan seputar bacaan yang sedang ayah/bunda bacakan. Misal, “tadi siapa ya yang bertanding lari dengan kura-kura?”.

5. Membantu Lancar Baca
Jika kita sebagai orang tua selalu membacakan buku kepada anak, kelak anak akan memiliki kosakata yang lebih banyak di dalam memory nya jika dibandingkan anak yang tidak dibacakan buku. Kemampuan tersebut dapat membantu anak untuk lebih cepat dalam membaca terutama pada tahap membaca awal. Ketika anak melihat suatu kata yang dibaca, ia akan dengan mudah mengidentifikasi kata tersebut karena sudah familiar untuknya.

6. Buku Menarik
Belikan buku yang sesuai dengan usianya dan menarik bagi anak. Misalkan, bunda dan ayah membelikan buku yang terbuat dari kain untuk anak ayah dan bunda yang masih bayi. Jika anak sudah dapat membaca, belikanlah buku sebagai reward untuk anak. Berikan kebebasan dengan pendampingan kepada anak untuk memilih buku yang ingin dibelinya.


Itulah salah satu tips untuk menumbuhkan minat membaca pada anak. Lalu seberapa penting sih membaca untuk anak? Ayah dan bunda dalam dunia pendidikan Membaca adalah aktivitas dasar yang harus dimiliki seorang anak sebelum anak masuk ke sekolah formal (SD/MI). Anak akan menemukan kesulitan di sekolah jika kemampuan membacanya belum baik.

Yuk bunda dan ayah, ajarkan anak untuk membaca sedari dini agar kelak ia akan sukses di sekolah dan lingkungannya. Pastikan juga anak
ayah dan bunda tidak mengalami kesulitan belajar yang perlu untuk diberikan intervensi khusus 😉

Sumber Acuan :
Improving The Teaching Of Reading 3rd Edition . Emerald V. Dechant. 1982
https://www.nytimes.com/guides/books/how-to-raise-a-reader

PEDOMAN PRAKTEK PSIKOLOGI dalam HUKUM (Bagian 1)

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

image source: clbb.mgh.harvard.edu

Prakteknya ilmu psikologi dalam dunia hukum dikenal dengan sebutan psikologi forensik. Dimana praktek tersebut akan digunakan untuk kepentingan hukum, jika bukan untuk kepentingan hukum, maka praktek yang dilakukan tersebut hanya praktek psikologi biasa yang pada umumnya dilakukan.

Apa sih bedanya?

American Psychology Association (APA) membuat dasar-dasar pedoman
untuk pelaksanan praktek psikologi forensik. Dasar-dasar pedoman tersebut antara lain meliputi Tanggung Jawab, Kompetensi, Ketekunan, Membentuk Hubungan, Fees, Informed Consent, Pemberitahuan, dan Persetujuan, Menghadapi Konflik dalam Praktik, Menjaga Privasi, Kerahasiaan dan Hak klien, Metode dan Prosedur, dan Pemberian Assessment.

Poin pertama mengenai Tanggung Jawab sebagai seorang praktisi psikologi forensik yang meliputi: Integritas, Ketidakberpihakan dan Keadilan, dan Menghindari Konflik Kepentingan.
Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Integritas
    Praktisi forensik berjuang untuk akurasi, kejujuran, dan kebenaran dalam sains, pengajaran, dan praktik psikologi forensik dan mereka berusaha untuk melawan tekanan partisan untuk memberikan layanan dengan cara apa pun yang cenderung menyesatkan atau tidak akurat.
  2. Ketidakberpihakan dan Keadilan
    Ketika menawarkan pendapat ahli untuk diandalkan oleh pembuat keputusan, menyediakan layanan terapi forensik, atau mengajar atau melakukan penelitian, praktisi forensik berusaha untuk akurasi, imparsialitas, keadilan, dan independensi (Standar EPPCC 2.01). Ketika melakukan pemeriksaan forensik, praktisi forensik berusaha untuk bersikap tidak memihak dan menghindari presentasi partisan dari
    bukti yang tidak representatif, tidak lengkap, atau tidak akurat yang mungkin menyesatkan para pencari fakta. Praktisi forensik berpegang pada data yang nyata, yang ditemukan, dan dapat diperlihatkan sebagai bukti-bukti atau dasar pemikiran dalam menghadapi sebuah kasus.
  3. Menghindari Konflik Kepentingan
    Praktisi forensik menahan diri dari mengambil peran profesional ketika kepentingan atau hubungan pribadi, ilmiah, profesional, hukum, keuangan, atau lainnya diharapkan sikap ketidakberpihakan dimiliki agar tetap terjaga keprofesionalan sebagai praktisi psikologi forensik.
    Praktisi forensik didorong untuk mengidentifikasi, membuat diketahui, dan mengatasi konflik kepentingan nyata atau nyata dalam upaya untuk
    mempertahankan kepercayaan publik, melepaskan kewajiban profesional, dan mempertahankan tanggung jawab, ketidakberpihakan, dan akuntabilitas.

Gratitude

Ditulis Oleh: Fadila Nisa Ul Hasanah, M. Psi., Psikolog

Gratitude atau kebersyukuran adalah bentuk emosi yang diekspresikan melalui apresiasi untuk apa yang kita miliki atau kita terima. Emosi atau perasaan ini kemudian berkembang menjadi suatu sikap moral yang baik, kebiasaan, sifat kepribadian, dan akhirnya akan mempengaruhi seseorang
dalam menanggapi/bereaksi terhadap sesuatu ataupun situasi (Emmons & McCullough, 2003).

Manfaatnya:

  1. Meningkatkan kesejahteraan diri
    Orang yang memiliki rasa syukur biasanya lebih menyenangkan, lebih terbuka, dan kurang mengalami kecemasan.
  2. Mempererat hubungan interpersonal Menyatakan rasa syukur dengan berterima kasih kepada orang lain yang telah membantu dapat memelihara, memperkuat dan meningkatkan kepuasan hubungan.
  3. Meningkatkan keinginan melakukan tindakan pro-sosial kepada orang lain.
  4. Meningkatkan optimisme Ketika orang sering beryukur maka ia akan cenderung lebih fokus pada hal-hal yang positif dibandingkan hal negatif yang terjadi. Secara tidak langsung hal tersebut meningkatkan harapan dalam dirinya dan membuat seseorang menjadi lebih optimis.
  5. Meningkatkan kebahagiaan Dengan bersyukur maka akan timbul kepuasana atas apa yang telah dimiliki. Kepuasan hidup ini merupkan timbal balik positif yang diberikan rasa syukur dan efeknya jangka panjang. Dengan demikian, semakin banyak rasa syukur yang kita lakukan dan ungkapkan, semakin banyak kebahagiaan yang kita rasakan.
  6. Memperkuat kontrol diri Kontrol diri meningkat secara signifikan ketika subjek memilih rasa syukur daripada kebahagiaan atau merasa netral. Dengan rasa syukur, individu cenderung memandang positif dirinya dan kemampuan control diri meningkat karena hal tersebut.
  7. Kesehatan fisik dan mental yang lebih baik Saat kita mengapresiasi atau menghargai apa yang kita miliki maka manfaat ganda yang dimiliki adalah pikiran kita menjadi lebih sehat, dengan begitu tubuh pun akan sejalan menjadi lebih sehat pula. Dalam beberapa penelitian juga didapat bahwa dengan melatih rasa syukur dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan.
  8. Memikirkan orang lain berlaku baik pada kita dapat membuat otak dibanjiri oleh kimia otak yang positif sehingga membuat otak lebih aktif dan meningkatkan kemampuan metabolism, regulasi emosi.
  9. Meningkatkan koherensi dari fungsi tubuh, yang memfasilitasi fungsi kognitif, menciptkan stabilitas emosi dan memfasilitasi keadaan tenang.

Cara meningkatkan gratitude:
a. Buat “gratitude journal” yang berisi mengenai hal-hal baik yang dialami ataupun diterima tiap harinya. Selain itu, hal di bawah juga bisa dibuat untuk melengkapi jurnal yang dibuat:

  • Siapa atau apa yang menginspirasi saya hari ini?
  • Aapa yang saya sukai dari diri saya?
  • Siapa yang memberi dapak positif dalam hidup saya?
  • Apa yang telah saya selesaikan hari ini?
  • Apa yang saya ingin kerjakan?
    b. “Thank you notes”, menulis pesan terima kasih untuk orang lain yang telah memberikan
    bantuan untuk kita
  • Pertama, pikirkan seseorang yang telah melakukan sesuatu yang penting dan luar
    biasa untuk kita, namun belum sempat kita ucapkan berterima kasih dengan benar.
  • Selanjutnya, renungkan manfaat yang diterima dari orang tersebut, dan tulis surat
    yang menyatakan terima kasih atas semua yang telah mereka lakukan untukmu.
  • Kirimkanlah surat tersebut secara pribadi, dan luangkan waktu bersama orang ini
    untuk membicarakan apa yang telah kamu tulis.

  • https://positivepsychology.com/gratitude-appreciation/
    https://passionplanner.com/blog/5-gratitude-journal-prompts/

Memaksimalkan Bakat dan Potensi dengan “IKIGAI”

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

Bakat, seringkali menjadi topik atau fokus utama bagi kebanyakan orang, mulai dari usia balita hingga ketika masuk masa dewasa. Di masa balita, orang tua ingin mengetahui bakat yang dimiliki anaknya. Hal ini bertujuan agar orang tua bisa mengarahkan dan membimbing anak untuk memantapkan minat dan bakatnya sehingga akan mudah bagi mereka menentukan tujuan hidup, sebagaimana pernah saya bahas di artikel “Memaksimalkan Minat dan Bakat Anak Usia Dini”.

Tidak sedikit pula beberapa orang baru memfokuskan pada bakatnya ketika SMA atau bahkan ketika akan lulus kuliah. Pertanyaan “Mau jadi apa..?” pun muncul entah datang dari diri sendiri maupun pernyataan yang sering dilontarkan orang lain. Terkadang kita masih merasa kesulitan menentukan jalan apa yang akan dipilih terkait pekerjaan, atau bahkan masih belum mengenali bakat dan potensi yang dimiliki. Berbagai macam cara bisa ditempuh untuk menentukan karir atau tujuan hidup, salah
satunya dengan terlebih dahulu mengenal dan menyadari diri sendiri.

Mengenal atau mengetahui diri bisa menggunakan beberapa konsep atau teori yang populer, saya pribadi cukup sering menerapkan konsep IKIGAI dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika membantu orang lain memetakan bakat maupun keinginannya. Ikigai adalah konsep Jepang
yang didefinisikan sebagai “alasan untuk hidup”. Orang Jepang percaya setiap orang memiliki ikigai. Sesuatu yang sangat penting, sebuah alasan untuk menikmati hidup. Untuk menemukan ikigai, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri tentang 4 hal, yaitu:

  1. Apa yang kamu suka? (what you love?)
  2. Apa yang sangat kamu kuasai? (what you are good at?)
  3. Apa yang dunia butuhkan? (what the world needs?)
  4. Apa kamu bisa menghasilkan yang dengan hal itu? (what you can be paid for?)

Irisan dari 4 pertanyaan itulah yang dimaksud dengan ikigai. Pertanyaan ini yang jika ditanyakan berulang-ulang pada diri akan mengerucut pada hal yang paling kita sukai dan juga memberikan dampak kepada finansial dan orang sekitar (Yoris Sebastian, 2016). Jadi, tidak cukup hanya punya
passion, kita juga perlu menentukan misi yang kita emban untuk masyarakat sekitar, profesi yang menjadi sumber penghasilan, dan lapangan kerja yang mungkin bisa kita kembangkan.

Ikigai merupakan proses menemukan tujuan diri, memang tidak instan sehingga bisa saja waktu yang dibutuhkan untuk menggali atau menemukan ikigai kita berlangsung cukup lama. Untuk memudahkan prosesnya, kita juga bisa melihat indikator atau ciri ketika kita sudah berhasil menemukan ikigai kita, yaitu ketika memiliki unsur 4E; Enjoy, Easy, Excellent dan Earn. Seseorang merasa senang saat melakukannya (enjoy)merupakan ciri yang pertama atas keberhasilan dari suatu
kegiatan. Apakah aku tetap akan melakukannya meskipun tidak seseorangpun menghargai hasil karyaku? Sebagai contoh seseorang yang suka masak selalu mengisi waktunya dengan memasak, terus berlatih, tak perduli walaupun orang lain tak menyukainya. Ciri yang kedua ketika seseorang dapat melakukan sesuatu dengan mudah (easy), saat dia merasakan dapat menguasai keterampilaan tersebut dengan mudah sementara orang lain dengan susah payah. Ciri yang ketiga adalah apabila
orang tersebut merasa telah dapat mencapai hasil yang maksimum (excellent). Terakhir, keika ia menghasilkan pendapatan, pujian, maupun pengakuan dari lingkungan atas apa yang dilakukan (earn).

Beberapa peneliti mengatakan, ikigai bisa berubah seiring perkembangan usia. Seseorang yang menjadikan karier sebagai tujuan hidup, akan mencapai kepuasannya saat pensiun nanti. Selanjutnya, ia akan mencari ikigai baru. Gordon Matthews, profesor antropologi di Chinese
University of Hong Kong sekaligus pengarang buku What Makes Life worth Living? mengatakan, ikigai bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih bermakna. “Sebab, kita selalu memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan,” ujarnya. Jadi, selamat menemukan Ikigai-mu ya Sobat RK..