Stimulasi Motorik Anak di 6 Tahun Pertama

Ditulis Oleh: Rajab Cipta Lestari, S. Psi

Hallo bunda, apakah ada bunda-bunda yang masih memiliki anak dibawah usia 5 tahun? Tahukah Bunda menurut Depkes RI (2006), menyatakan bahwa 16% balita Indonesia mengalami gangguan perkembangan, baik perkembangan motorik halus dan kasar, gangguan pendengaran, kecerdasan kurang dan keterlambatan bicara. Pada tahun 2010 di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo di Surabaya, dijumpai 133 kasus pada anak dan remaja dengan gangguan perkembangan motorik kasar maupun halus.

Perkembangan motorik anak dilihat dari kemampuan gerak motorik kasar seperti
melompat, berlari, bersepeda, dan memanjat serta gerak motorik halus yang melibatkan jari jemari seperti menggambar, melipat, dan menggunting. Dari hasil penelitian terlihat bahwa umur anak adalah faktor paling dominan yang mempengaruhi perkembangan motorik anak. Menurut Craig (1986) dan Berk (2002), anak yang berusia di bawah tiga tahun lebih sering menderita sakit dan lebih beresiko terkena infeksi sehingga kemungkinan mengganggu pertumbuhan badan dan kemampuan gerak motorik kasar maupun halusnya. Namun seiring dengan meningkatnya usia anak maka status kesehatan semakin baik dan anak lebih lincah serta mampu melakukan gerak motorik dengan lebih baik pula.

Pengasuhan stimulasi psikososial yang diberikan ibu kepada anak di rumah ternyata tetap memberikan pengaruh positif pada perkembangan fisik dan motorik anak. Sarana dan prasarana di kelompok bermain juga berpengaruh positif pada seluruh aspek perkembangan anak (motorik, kognitif, sosial emosi, dan moral/karakter), yang menunjukkan pentingnya peranan sarana bagi sebuah kelompok bermain.

Di bawah ini ada beberapa contoh alat permainan balita dan perkembangan yang
distimulasi, diantaranya adalah:
0 – 12 bulan:
– Melatih refleks-refleks (untuk anak berumur 1 bulan), misalnya mengisap, menggenggam.
– Melatih kerja sama mata dengan tangan
– Melatih kerja sama mata dengan telinga
– Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan
– Melatih mengenal sumber asal suara

– Melatih kepekaan perabaan
– Melatih keterampilan dengan gerakan berulang-ulang

Alat permainan yang dianjurkan:
– Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang
– Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka
– Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang
– Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara
– Alat permainan berupa selimut dan boneka
– Giring-giring

12 bulan – 24 bulan:
– Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara
– Memperkenalkan sumber suara
– Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik
– Melatih imajinasinya
– Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan yang menarik

Alat permainan yang dianjurkan:
– Genderang, bola denga giring-giring didalamnya
– Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik
– Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga (cangkir, piring, sendok, botol plastik, ember dll.), balok-balok besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas-kertas untuk dicoret, krayon/pensil warna.

25 bulan – 36 bulan:
– Menyalurkan emosi/perasaan anak
– Mengembangkan ketrampilan berbahasa
– Melatih motorik halus dan kasar
– Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan membedakan warna)
– Melatih kerja sama mata dan tangan
– Melatih daya imajinasi
– Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda

Alat permainan yang dianjurkan:
– Lilin yang dapat dibentuk

– Alat-alat untuk menggambar
– Puzzle sederhana
– Manik-manik ukuran besar
– Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna berbeda
– Bola

36 bulan – 6 tahun:
– Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan
– Mengembangkan kemampuan berbahasa
– Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi
– Merangsang daya imajinasi dengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara)
– Membedakan benda dengan perabaan
– Menumbuhkan sportivitas
– Mengembangkan kepercayaan diri
– Mengembang kreativitas
– Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari dll)

Semangat menstimulasi di rumah ya, bunda-bunda!

 

Daftar pustaka :
Di, I. B. U., & Kemayoran, K. (n.d.). No Title, 106–122.
Kania, N. (2006). UNTUK Oleh : dr . Nia Kania , SpA ., MKes, 1–10.
Pengaruhnya, D. A. N., Perkembangan, P., Emosi, S., Moral, D. A. N., & Anak, K. (2009).
STIMULASI PSIKOSOSIAL PADA ANAK KELOMPOK BERMAIN, 2(1), 41–56.

Mengapa Kita Perlu “Me Time”?

Ditulis Oleh: Tiara Delia Madyani, S.Psi

Rumah berantakan, pakaian kotor belum dicuci, piring kotor menumpuk, tugas dari kantor atau kampus belum selesai dikerjakan. Satu kata yang menggambarkan kejadian itu adalah KACAU!. Tentunya, kita tidak bisa berpikir dengan baik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara bersamaan. Beban kerja dirasakan terlalu berat dan kita belum bisa memilah mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

Menurut OprahWinfrey, menyendiri itu adalah ketika kita menjauhkan diri dari suara-suara orang di sekitarku untuk mendengarkan suara sendiri. Berdasarkan pendapat dari Sherrie Bourg Carter Psy.D., ada beberapa alasan kita perlu waktu untuk menyendiri:

  1. Dengan menyendiri, Kita dapat menjadi orang yang lebih berbahagia. Kita dapat kembali “menyetel ulang” pikiran kita. Kita dapat menjadi fokus dalam memikirkan apa yang kita sukai dan apa yang akan kita lakukan untuk dapat menyegarkan pikiran dan tubuh kita.
  2. Selain itu, dengan menyendiri kita dapat memiliki waktu untuk berbicara dengan diri sendiri tentang masalah yang kita hadapi. Kita dapat melihat kembali jalan keluar apa yang efektif dalam menghadapi masalah.
  3. Menyendiri dapat memberikan insight tentang siapa kita, apa yang kita sukai dan tidak sukai, hobi yang bisa kita lakukan, karakter orang yang seperti apa yang cocok dan memahami kita, dan lain-lain. Kita jadi lebih memahami siapa diri kita dan bagaimana bisa menempatkan diri dengan baik di lingkungan.

Dibawah ini terdapat beberapa ide kegiatan ME TIME, yaitu:

  1. Disconnect. Luangkan waktu untuk tidak terhubung dengan siapapun atau apapun yang dapat mengganggu kita ketika kita sudah memutuskan untuk menyendiri. Matikan handphone, koneksi internet, dan jauhkan diri dari hal-hal yang membuat kita tidak fokus untuk beberapa saat. Selama itu, kita dapat melakukan hal-hal yang membuat kita kembali segar atau bahagia, misalnya menuliskan apa yang kita pikirkan, menonton film yang kita senangi, berolahraga, tidur nyenyak, pergi ke salon, dan sebagainya.
  2. Bangun lebih pagi dari biasanya. Ketika kita bangun lebih pagi dari orang lain di rumah, kita memiliki waktu untuk dapat merenungkan apa yang akan kita lakukan atau hal-hal yang telah terjadi pada kita. Selain itu, kita juga dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang mampu membuat kembali segar di awal pagi seperti meditasi.
  3. Tutup pintu. Di saat kita terlalu lelah dengan banyaknya hal, pergi ke sebuah ruangan lalu menutup pintu kamar atau ruangan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk menenangkan diri sejenak. Kita dapat duduk tenang, menghirup napas dalam-dalam sambil minum teh atau kopi.
  4. ME TIME saat makan siang. Cobalah untuk pergi ke taman atau tempat favorit saat waktu makan siang tanpa teman. Nikmati makanannya, pemandangannya, dan waktu sendirimu!.
  5. Merencanakan waktu untuk menyendiri. Jika kita ingin memiliki waktu untuk benar-benar menyendiri, kita dapat mencoba untuk menyusun jadwal kapan, kegiatan seperti apa, dan hal-hal apa saja yang harus kita persiapkan. Kita dapat membuat kegiatan itu seminggu sekali, sebulan sekali, atau pada waktu tertentu.

Sumber:
https://www.psychologytoday.com/us/blog/high-octane-women/201202/why-you-shouldnt-feel-guilty-about-stealing-little-time-yourself
https://www.psychologytoday.com/us/blog/high-octane-women/201201/6-reasons-you-should-spend-more-time-alone

Mengenal Jenis Kepribadian Ekstrovert

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S.Psi

Sobat semua pasti sering mendengar atau bahkan mengucapkan istilah ekstrovert. Tapi
sebenarnya apa sih itu ekstrovert ? Nah di artikel kali ini kita akan membahas apa itu jenis kepribadian ekstrovert.

Apa itu jenis kepribadian Ekstrovert?
Jenis kepribadian ekstrovert merupakan salah satu jenis kepribadian yang dikenalkan oleh Carl Gustav Jung pada tahun 1920 dalam bukunya yang berjudul psychologische typen. Jenis kepribadian ini merupakan jenis kepribadian dimana individu mendapatkan energi psikis atau mentalnya dari luar dirinya sendiri atau dari lingkungan sekitar. Seseorang dengan jenis kepribadian ekstrovert lebih menyukai lingkungan yang interaktif. Mereka cenderung antusias dalam hal baru dan senang bergaul. Hal tersebut disebabkan karena seorang ekstrovert lebih didominasi dengan sifat dan kondisi atau kebiasaan yang menyenangkan dari luar diri mereka sendiri karena energi yang mereka dapatkan berasal dari lingkungan tersebut.

Individu dengan jenis kepribadian ekstrovert biasanya akan terlihat lebih enerjik dan memiliki karakteristik yang lebih terbuka. Oleh karena itu individu dengan kepribadian ekstrovert biasanya akan menyukai aktivitas spontan dan lebih mudah melakukan interaksi dengan dunia luar.

Ciri-ciri individu dengan jenis kepribadian ekstrovert:
1. Senang berinteraksi dan bersosialisasi
Karena sumber energi individu dengan jenis kepribadian ekstrovert berasal dari luar
dirinya sendiri atau lingkungan sekitar, maka orang dengan jenis kepribadian ini
cenderung lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang dan di
lingkungan terbuka seperti sekolah atau kampus. Seroang ekstrovert akan senang sekali
dalam berinteraksi dengan banyak orang dan teman-temannya.

2. Mudah bergaul
Baik dalam dunia nyata atau dunia maya, persoalan bergaul menjadi keahlian tersendiri
bagi individu atau orang dengan jenis kepribadian ini. Biasanya akan sangat mudah bagi individu ini untuk bergaul dengan lingkungannya, bahkan dengan orang yang baru
dikenalnya sekalipun. Namun hal ini juga terkadang menjadi kelemahan tersendiri bagi
orang dengan jenis kepribadian ini karena bisa kurang selektif dalam berteman.

3. Selalu antusias dan semangat.
Di dalam kesehariannya. Biasanya orang dengan jenis kepribadian ini selalu tampak
ceria, semangat dan sumringah. Jika dihadapkan dengan hal baru, biasanya mereka
cenderung sangat antusias pada kondisi tersebut. tapi tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang dengan jenis kepribadian ini bisa tampak lesu atau murung apabila mereka sedang dilanda perasaan cemas atau takut bahkan stress atau sedang down.

4. Cenderung spontan dalam bertindak dan berbicara
Individu atau orang dengan jenis kepribadian ini cenderung spontan dalam beryindak
atau terkesan ceplas-ceplos dalam menyampaikan pendapat atau berbicara. Apa yang
mereka ingin sampaikan atau bicarakan biasanya langsung seketika itu mereka sampaikan juga.

5. Pandai mencairkan suasana
Indivdidu atau orang dengan jenis kepribadian ini cenderung terlihat lebih ceria dalam
setiap kelompok atau perkumpulan yang meteka ikuti dan mungkin saja beberapa dari
individu atau orang dengan jenis kepribadian ini sangat pandai dalam mencairkan
suasana.

6. Menyukai popularitas dan senang menjadi pusat perhatian
Individu atau orang dengan jenis kepribadian ini biasanya cenderung senang menjadi
pusat perhatian orang-orang sekitarnya. Mereka pun cenderung populer di kalangan
teman atau lingkungan sekitarnya.

7. Senang menjadi pembicara daripada pendengar
Individu atau orang dengan jenis kepribadian ini biasanya lebih senang menuangkan ide dan gagasan mereka kepada orang lain. Di dalam sebuah diskusi mereka cenderung akan banyak mendominasi suara tapi terkadang pembicaraannya bisa saja kalah berbobot dari mereka yang introvert.

8. Ekstrovert cenderung tampil percaya diri
Rasa percaya diri adalah hal yang mungkin tidak semua orang miliki. Namun bagi
seorang ekstrovert, rasa percaya diri adlaah hal yang harus ada dalam diri mereka sendiri. Seorang ekstrovert biasanya tampil percaya diri dan enerjik saat melakukan sesuatu atau pun tampil di depan publik. Selain itu mereka pun cenderung pandai berbicara, bercerita dan berinteraksi dengan orang lain.

9. Terkesan sigap dan tegas
Seorang ekstrovert cenderung memiliki sikap tegas dan sigap, baik ketika bekerja dan
bertindak. Begitupula dalam mengambil suatu keputusan . mereka biasanya cederung
dipilih untuk menjadi seorang pemimpin di dalam suatu kelompok atau organisasi.

10. Senang bekerja kelompok dan tidak suka kesendirian.
Suasana sepi dan sunyi menjadi suatu hal yang dihindari bagi orang-orang ekstrovert.
Rasa semangat dan energy mereka akan berkurang dikala mereka dalam keadaan sendiri. Bahkan mungkin saja mereka tidak punya keinginan untuk beraktivitas apabila mereka berada dalam kesendirian.

Ciri-ciri diatas bisa saja kita temukan di lingkungan sekitar kita baik di rumah, sekolah atau kampus dan lingkungan pekerjaan. Tetapi tidak mutlak bahwa ciri-ciri tersebut harus semuanya ada pada orang dengan jenis kepribadian ekstrovert, bisa saja ada ciri yang berbeda diantara orang dengan jenis kepribadian ekstrovert.

Sumber:

Alekhine, Riswandi. 2017. “Kepribadian Ekstrovert, ciri-ciri, mitos dan profesi yang cocok, https://psyline.id/pengertian-kepribadian-extrovert. Diakses pada tgl 25 Juli 2019 Pukul 13.05.

Membantu Meningkatkan Minat Baca pada Anak

Ditulis Oleh: Meilinda Herawan, S.Psi

Tahun ajaran baru sudah berlangsung sekitar 2-3 mingguan, biasanya minggu-minggu di
awal masuk digunakan untuk masa orientasi atau perkenalan dengan teman-teman baru atau lingkungan baru. Antusias anak untuk memasuki lingkungan baru masih cukup tinggi. Mulai dari mempersiapkan segala peralatan sekolah, kesiapan untuk datang lebih pagi, dll.

Memasuki minggu setelah masa orientasi, mulailah masuk pada materi pelajaran
dimana mulai terlihat kebiasaan anak dalam belajar. Tidak jarang orang tua mulai mengeluhkan anak-anaknya yang tidak mau membuka buku, baik itu buku pelajaran atau buku bacaan lainnya. “anak saya tuh sebenarnya pintar, tapi ga pernah buka buku” keluh salah satu ibu dari siswa yang baru saja memasuki tingkat SMP. Pastinya orang tua di rumah akan merasa khawatir kalau-kalau anaknya akan ketinggalan informasi atau kalah bersaing dengan anak lainnya jika tidak pernah membaca.

Banyak penelitian mencatat, membaca adalah kunci keberhasilan akademis dan tiga
perempat orang tua memilihnya sebagai keterampilan paling penting untuk dikembangkan anak. Dua penelitian terbaru melaporkan (Scholastic’s “Kids and Family Reading Report dan National Endowment for the Arts’ “To Read or Not To Read”) seharusnya para pendidik dan orang tua merasa ngeri. Persentase anak-anak yang suka membaca sangat memprihatinkan. Hanya satu dari empat anak membaca untuk kesenangan setiap hari dan 22 persen jarang membaca. Terjadi penurunan membaca mulai usia delapan tahun, terus menurun dan tidak pernah meningkat lagi. Kurang dari sepertiga anak usia tiga belas tahun yang suka membaca setiap hari. Persentase anak usia tujuh belas tahun yang tidak senang membaca sudah dua kali lipat dalam dua puluh tahun.

Mengapa anak-anak tidak senang membaca? Alasan utama mereka adalah “Terlalu sibuk” “Tidak ada waktu” atau “Terlalu lelah”. Krisis membaca ini nyata dan orang tua menyadari masalah: 82 persen orang tua menginginkan anak-anak mereka lebih banyak membaca sebagai kesenangan, tetapi tidak tahu caranya membuat anak ketagihan membaca.

Berikut cara untuk membantu meningkatkan minat membaca pada anak:

  1. Sediakan waktu membaca. Tentukan beberapa menit sehari. Hapus satu acara TV atau kegiatan dari jadwal anak, paling sedikit tiga puluh menit seminggu. Sediakan waktu sepuluh menit setiap malam untuk menciptakan rutinitas membaca bagi semua.
  2. Ciptakan rumah yang kaya bahan bacaan. Penelitian menunjukkan semakin banyak buku yang anda miliki di rumah, semakin besar kesempatan anak menjadi pembaca. Berlangganan majalah untuk anak. Usahakan bahan bacaan selalu tersedia.
  3. Mendaftar menjadi anggota perpustakaan nasional atau anggota perpustakaan di
    sekolah. Anak-anak praremaja mengakui mereka takut anak-anak yang popular tidak akan menyukai mereka jika mereka membaca. Jadi bantu mereka melawan tekanan anak sebayanya dan membaca bersama.
  4. Menjadi kritikus film. Baca buku dan tonton filmnya. Laskar Pelangi, 5 cm, atau Harry Potter adalah sedikit contoh. Anak-anak senang menjadi kritikus film dan
    memperdebatkan buku atau filmnya yang lebih bagus.
  5. Jangan berhenti membacakan. Penelitian mengatakan penurunan pertama minat baca pada anak terjadi sekitar usia delapan. Itu juga usia saat kebanyakan orang tua berhenti membacakan cerita untuk anak-anaknya. Cari buku (anak yang memilih) dan bacakan—atau bergiliran membaca paragrafnya.
  6. Menjadi contoh. Penelitian membuktikan anak-anak yang melihat orang tuanya
    membaca lebih mungkin suka membaca. Biarkan anak-anak anda tahu anda
    menghargai membaca dan mereka harus melihat anda sering membaca.
  7. Mencari bantuan. Minta nasihat ahli, cek ke dokter anak untuk memastikan tidak ada masalah penglihatan, bicarakan dengan guru untuk memastikan ketidaktertarikan anak terhadap membaca bukan karena masalah ketidakmampuan belajar. Lakukan evaluasi pada anak dan berikan bantuan yang seharusnya.

J.K. Rowling membuktikan anak-anak suka membaca jika anda berikan buku yang tepat. Hampir tiga dari empat anak usia sebelas sampai tiga belas tahun sudah membaca paling sedikit satu buku seri Harry Potter karya Rowling. Ternyata orang tua dan anak-anak membaca buku seri tersebut bersama-sama. Semakin banyak anak membaca, mereka semakin nyaman dengan bahan-bahan bacaan dan akan menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Jadi, lebih banyak membaca ya..!

Source :
Borba, Michele. The Big Book of Parenting Solutions 101 Jawaban Sekaligus Solusi bagi Kebingungan dan
Kekhawatiran Orang Tua dalam Menghadapi Permasalahan Anak Sehari-hari. Jakarta, PT Elex Media
Komputindo. 2010

Membantu Anak Mengatasi Masa Transisi Saat Mulai Masuk Sekolah

Ditulis Oleh: Narulita Shanti, S.Psi

Halo bunda! Tidak terasa ya sudah satu minggu anak-anak mulai sekolah. Banyak diantaranya yang baru memasuki PAUD/TK dan ada juga yang baru masuk ke SD. Mungkin hari-hari dimana sang buah hati sudah memasuki sekolah merupakan saat-saat yang dinanti oleh para orangtua dan anak, ada  perasaan senang sekaligus haru melihat anak yang dulunya kecil dan sepertinya tidak tahu apa–apa, kini semakin besar dan matang. Namun ada juga orangtua yang merasa takut atau cemas ketika anak mau memasuki masa transisi ini.

Menurut Cathine Neilsen-Hewett, dosen senior, Direktur Studi Akademik di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Wollongong, mengungkapkan bahwa masa transisi ke sekolah adalah waktu yang sangat penting dalam tahap kehidupan anak. Hal ini menandai tahap baru dalam kehidupan seorang anak. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa anak yang memiliki pengalaman sekolah yang positif sejak dini penting bagi kesejahteraan sosial, emosional anak dan prestasi akademik. Sebaliknya, anak-anak yang mengalami awal masa transisi yang tidak lancar ke sekolah lebih mungkin untuk terus mengalami kesulitan sepanjang mereka bersekolah. Lalu bagaimana orangtua dapat mendukung masa transisi anak ketika masuk sekolah?

a) Dimulai dari hari pertama di sekolah
Meninggalkan anak di sekolah untuk pertama kalinya bisa sangat emosional. Beberapa anak, mungkin ada yang langsung pergi denga percaya diri. Namun ada juga yang masih takut untuk pergi meninggalkan orangtua. Untuk mengatasinya, yakinkan bahwa mereka akan memiliki waktu yang indah dan katakan bahwa bunda akan berada di sana untuk menjemput mereka ketika pulang sekolah. Bisa juga dengan menjanjikan bunda akan menjemput di tempat yang sudah dijanjikan kepada anak. Selain itu, bunda juga bisa mengajak komunikasi kepada anak tentang bagaimana hari pertama mereka ketika di sekolah. Bunda bisa mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik seperti; “tadi
teman-temannya siapa aja namanya?” atau “hari ini sama Bu guru melakukan apa aja?” dan sebagainya.

b) Simpan hal-hal baru seminimal mungkin
Hari pertama memulai sekolah bisa sangat melelahkan bagi anak, jadi penting untuk tidak memperkenalkan terlalu banyak hal-hal baru sekaligus. Anak-anak akan mendapatkan kenyamanan dengan caranya sendiri, jadi hindari memulai dengan memaksakan mengikuti banyak kegiatan.

c) Menjalin relasi dengan teman baru
Berhubungan dengan teman sebaya merupakan hal yang penting; memiliki teman atau belajar untuk memulai berteman sangat penting untuk melawati masa transisi. Orangtua dapat membina hubungan ini dengan mengundang anak-anak untuk bermain sepulang sekolah atau mengajak bermain bersama di akhir pekan.

d) Jangan lupa, orangtua juga perlu beradaptasi
Memulai sekolah adalah pengalaman bersama antara anak, guru kelas, orangtua dan komunitas sekolah yang lebih luas. Tak heran beberapapa orangtua yang baru mengenal lingkungan sekolah dapat juga merasa canggung dengan lingkungan yang baru. Jadi, coba luangkan waktu di hari pertama anak sekolah untuk mulai menjalin relasi dengan orangtua murid lain. Apalagi saat ini lebih mudah untuk para orangtua saling berkomunikasi. Pihak sekolah atau guru kelas biasanya akan membuat grup chat untuk para orangtua murid baru untuk mengetahui perkembangan anak-anaknya. Dengan begitu bunda pun bisa ikut saling menjalin relasi dengan para orangtua lain.

Jadi, beri anak bunda waktu untuk beradaptasi. Hal yang wajar jika terjadi “drama” selama beberapa minggu pertama masuk sekolah. Ketika anak menjadi lebih akrab dengan situasi sekolah dan kelas yang baru, koneksi antara anak dengan teman dan guru pun akan meningkat, demikian juga strategi atau cara untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.

Source:
https://theconversation.com
https://www.psychologytoday.com

Mengatasi Rasa Cemburu Kakak pada Adik Bayi

Ditulis Oleh: Nida Nabila Sodikin, S.Psi

Hai bunda, alangkah bahagianya jika kita ke hadiran new baby atau adik bayi dari Kakak. Malaikat-malaikat kecil yang akan meramaikan seisi rumah dengan celotehannya, tertawannya bahkan tangisannya. Namun,tak jarang kakak terutama yang masih balita jadi makin rewel setelah punya adik. Ia semakin sering tantrum di tempat umum atau selalu ingin menempel dengan Bunda. Padahal Bunda berharap si kakak bisa lebih mandiri karena sudah punya adik. Bahkan perilaku balita setelah punya adik bisa membuat Anda geleng-geleng kepala. Seringkali, bunda merasa bingung kok kakak menjadi cari perhatian sekali ya semenjak hadirnya adik?kok kakak menjadi sulit bermain dengan orang lain selain bundanya?kok kakak sekarang cengeng?

Yang pasti, Bunda dan ayah harus bekerja sama dengan baik dan melatih kesabaran ya Bund. Rewel adalah bentuk ekspresi dari balita yang cemburu atas perhatian dan kasih sayang yang Bunda berikan untuk adiknya. Jika dulu semua perhatian Bunda dan ayahnya tertuju padanya, kini ia harus berbagi. Anak sedang mencoba belajar berbagi loh Bund.

Nah kalau seperti itu, bagaimana kita sebagai orang tua harus menghadapinya? Berikut tips menghadapi kakak yang cemburu kepada adik bayi :

  1. Membangun ikatan antara kakak dengan adik

Biarkan Kakak Menggendong adik sebentar, tentunya dengan bantuan Bunda. Pakar mengatakan bahwa kepala bayi memiliki feromon yang membuat orang jatuh cinta saat menghirup feromon tersebut dan merasa protektif terhadap bayi. Semakin lama kakak menggendong dan memeluk bayi, semakin kuat hubungan mereka nantinya.

2. Saat Kakak masih Bayi
Sulit untuk kakak membagi perhatiannya kepada adik apalagi jika kakak masih balita. Hal tersebut menjadi hal yang wajar jika kakak merasa sedih, kecewa dan merasa tidak diperhatikan. Jelaskan kepada kakak bahwa kakak dulu pernah sekecil adik. Adik bayi belum bisa melakukan hal hebat seperti kakak. Adik bayi masih harus ditolong untuk makan, minum dan kegiatan lainnya. Dan selalu katakan bahwa kasih sayang Bunda dan Ayah tidak berkurang kepada Kakak.

3. Sertakan Kakak pada aktivitas merawat adik
Sertakan Si Kakak saat merawat adik. Misal, Mintalah bantuannya untuk mengambilkan baju atau popok bayi. Puji ia di depan adik barunya bahwa kakak sudah membantu adik kecil dan Bunda. Ucapkan kata “sayang” kepada kakak agar kakak tau bahwa Bunda akan selalu sayang kepada kakak meski sudah ada adik.

4. Jangan meminta anak bersikap sebagai ‘anak gede’ karena belum waktunya
Seringkali orangtua menganggap bahwa dengan lahirnya adik, si kakak otomatis harus bersikap seperti anak yang sudah besar meski usianya masih balita. Ini kesalahan yang harus diperbaiki.
Bila anak masih suka bangun tengah malam dan ingin dipeluk ibunya, jangan ragu untuk memberikannya. Bila Bunda tidak bisa melakukan hal tersebut karena sedang menyusui, biarkan Ayah yang menenangkan si anak hingga ia kembali tertidur. Bila dia mulai merengek dan meminta perhatian lebih, itu wajar, karena sedikit banyak ia merasa tersaingi dengan kehadiran si bayi. Oleh sebab itu, biarkan dia menjadi ‘bayi’ sekali lagi tanpa perlu merasa malu atau rasa bersalah. Berikan ia perhatian lebih dan kasih sayang yang banyak.

5. Beri perhatian lebih pada perasaan si kakak baru
Anak kecil biasanya belum paham dengan apa yang ia rasakan, tugas Anda sebagai orangtua untuk mengungkapkannya lewat kata-kata. Karena dengan begitu akan membantunya mengendalikan perasaan, setelah ia mengetahui nama emosi yang ia rasakan. Dibandingkan harus mengungkapkannya lewat perilaku yang mungkin bisa berdampak negatif.
Dorong ia untuk membangun ikatan emosional dengan si bayi, dengan tetap membiarkan perasaan negatif yang ia miliki untuk muncul. Contohnya dengan mengatakan, “Ibu tahu berat bagi kakak untuk melihat ibu terus-terusan sibuk dengan dedek bayi saat kakak membutuhkan ibu.”

6. Ijinkan anak untuk merasa sedih
Anak yang lebih tua pastinya akan bersedih karena mereka kehilangan waktu ekslusif bersama orangtua setelah bayi lahir, perhatian penuh dari orangtua dan waktu yang banyak dengan ayah bundanya. Bila dia mulai rewel dan merengek, peluk dia dan bersimpatilah dengan perasaannya.
Biarkan ia menangis di pelukan Anda sebanyak yang ia mau. Kemudian bantu dia menemukan cara untuk merasa lebih baik. Lalu buat ia menyadari bahwa meski ia tidak lagi memiliki perhatian penuh dari orangtuanya, ia punya sesuatu yang lebih baik. Yakni seorang ibu yang lebih mengerti dan bersimpatik padanya. Ibu yang menerima ia apa adanya, mengerti kebutuhan dia, dan membantunya untuk merasa lebih baik. Tak peduli apapun.

Jadi bunda dan ayah, adalah hal yang wajar jika kakak menjadi seakan rewel dan mencari perhatian kepadamu. Itu adalah bentuk rasa cemburunya terhadap adik tetapi diekspresikan dengan perilaku yang sesuai dengan usianya. Jangankan kakak, mungkin kita pun akan merasa cemburu juga jika kita merasa perhatian kita terbagi, kan? Pahamilah perasaan kakak, ajak kakak beraktivitas bersama dengan adik, ajak kakak bermain dengan adik bersama-sama. Hindari membandingkan kakak dan adik bayi. Hal tersebut malah akan menjadikan kakak semakin kecewa dan cemburu kepada adik bayi.

Semangat ya Bunda dan Ayah, Kesabaran adalah kunci dari kesukesan menangani rasa cemburu kakak ke adik bayi (

Hukum dan Psikologi

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S.Psi., M.Si

Aplikasi Psikologi Sosial dalam Bidang Hukum dan Contoh Kasus

Kejahatan erat sekali dalam dunia hukum. Kejahatan  menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis (hukum pidana). Kejahatan adalah suatu rumusan tentang perilaku manusia yang diciptakan oleh yang berwenang dalam suatu masyarakat yang secara politis terorganisasi; kejahatan merupakan suatu hasil rumusan perilaku yang diberikan terhadap sejumlah orang oleh orang lain; dengan demikian kejahatan adalah sesuatu yang diciptakan (Quinney, 1979).

Kriminologi di Indonesia memandang kejahatan sebagai pelaku yang telah diputus oleh pengadilan; perilaku yang perlu dekriminalisasi; populasi pelaku yang ditahan; perbuatan yang melanggar norma; dan/atau perbuatan yang mendapat reaksi social. Kejahatan dalam KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) diatur dalam buku II, yaitu Pasal 104 sampai Pasal 488 KUHP.

Tindakan kriminal yang terus terjadi diantaranya adalah korupsi, narkoba, kerusuhan, pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual kepada anak, dan masih banyak lagi kasus-kasus kejahatan yang terjadi. Kasus-kasus ini terus meningkat seperti bola saju yang terus bergulir seolah negara ini tidak mampu mengatasi permasalahan kriminalitas yang terjadi. Sanksi hukum yang diberikan kepada pelaku seolah sudah menjadi hal yang biasa tetapi tidak satupun dari sanksi hukum tersebut yang dapat menjamin bahwa pelaku tidak akan mengulangi perilaku kriminalitasnya kembali.

Salah satu kasus yang perlu mendapatkan perhatian adalah kasus yang melibatkan anak-anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selalu mencatat setiap tahunnya terhadap tindakan kriminal yang menjadi anak-anak sebagai pelaku maupun sebagai korban atau yang disebut Anak Berhadapan Hukum (ABH). Pada tahun 2016 menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Anak Berhadapan Hukum (ABH):

  1. Anak sebagai korban kekerasan seksual (pemerkosaan, pencabulan, sodomi/pedofilia,dsb).
  2. Anak sebagai korban kekerasan fisik (penganiayaan, pengeroyokan, perkelahian, dsb).
  3. Anak sebagai korban kecelakaan lalu lintas.

Anak-anak sangat perlu kita jaga karena mereka masih memiliki perjalanan yang sangat panjang dan memiliki banyak mimpi untuk kehidupan ke depannya. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian dari segala pihak untuk memperhatikan anak-anak di Indonesia. Lingkungan yang paling kecil dan sederhana untuk memperhatikan anak-anak dan menjaga mereka adalah keluarga, yaitu orang tua. Orang tua diharapkan;

  1. Memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anaknya, mengetahui lingkungan pertemanan anak-anak agar anak tidak salah dalam pergaulan.
  2. Memberikan kasih sayang yang cukup, sehingga anak-anak tidak mencari kasih sayang dari orang lain dan dari luar rumahnya.
  3. Orang tua maupun orang dewasa berani menyampaikan sesuatu yang salah atau mencurigakan yang terjadi di lingkungan sekitar. Jika melihat ada tanda-tanda kejahatan terhadap anak-anak, jangan ragu melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwenang.

Maka, marilah kita menjaga anak-anak kita, anak-anak yang berada dekat dengan lingkungan kita, dan anak-anak bangsa Indonesia. Kita saling merangkul bersama untuk memberikan kepedulian terhadap anak-anak Indonesia.

 

Mengenal Lebih Jauh Tentang Depresi.

Ditulis Oleh: Fadila Nisa Ul Hasanah, M.Psi., Psikolog

Apa itu Depresi?

depresi

Depresi sebelumnya dianggap sebagai suatu jenis neurastenia yang termasuk dalam kategori gangguan jiwa ringan. Penderita depresi memiliki suasana hati yang buruk secara berkepanjangan, kehilangan minat terhadap segala hal, dan merasa kekurangan energi. Suasana hati mereka sangat buruk sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Menurut kriteria diagnostik American Psychiatric Association (APA), seseorang dikatakan memiliki gangguan depresi bila mengalami 5 atau lebih gejala depresi fisik atau psikologis selama lebih dari 2 minggu secara berturut-turut, termasuk suasana hati yang buruk dan rasa kekurangan energi. dan terus-menerus dibombardir oleh pikiran negatif dan kehidupan sehari-hari terpengaruh secara signifikan.

Bagaimana Gejala Depresi?
– Gangguan somatis/fisik:
– Sakit kepala
– Insomnia/ hipersomnia
– Merasa lemah secara umum
– Mual
– Sesak napas
– Masalah pencernaan
– Kelelahan dan kekurangan energi
– Sering mimpi dan merasa seperti Anda tidak tidur sepanjang malam
– Rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan

Gejala afeksi/emosional:
– Lekas marah
– Merasa gugup
– Suasana hati yang buruk dan kurang motivasi
– Hilangnya ketertarikan pada suatu hal
– Pikiran tentang pengalaman yang tidak menyenangkan secara berulang-ulang
– Perasaan tidak berharga, rendah diri, dan merasa bersalah
– Kesulitan berkonsentrasi
– Merasa putus asa
– Ingin mati atau bunuh diri
– Menyakiti diri sendiri

Gangguan motivasi:
– Berkurang/bertambah nafsu makan
– Hilang minat terhadap hal-hal yang disukai
– Menurunnya aktivitas
– Menutup bahkan menarik diri dari lingkungan sosial

Apa penyebab Depresi?
1. Faktor Biokimia: Ketakseimbangan hormon atau kimia di otak mempengaruhi suasana hati dan dapat menyebabkan depresi.

2. Genetic, di mana ada sejarah depresi dalam keluarga seseorang.

3. Penyakit, infeksi, alkohol atau obat-obatan lain juga dapat menyebabkan depresi.

4. Tekanan lingkungan: Masalah di rumah, tempat kerja, tempat belajar, atau pertemanan dapat menyebabkan periode konflik, stres atau ketegangan yang panjang dan berat.

5. Kehilangan, atau perpisahan dengan sosok terdekat (misal orang tua, istri, anak, pacar, sahabat)

6. Trauma akan bencana, tindak kekerasan, pelecehan seksual juga dapat menyebabkan depresi.

7. Faktor Individu:
Menurut Beck, salah satu faktor penyebab depresi adalah proses berfikir, seseorang yang depresi memiliki pemikiran menyimpang dalam bentuk interpretasi negatif. Seseorang depresi akan mengembangkan skema diri negatif, skema yang salah dapat membuat seseorang yang depresi mengharapkan kegagalan sepanjang waktu, skema yang menyalahkan diri sendiri membebani seseorang dengan tanggung jawab atas semua ketidakberuntungan dan skema yang mengevaluasi diri sendiri secara negatif terus-menerus dan mengingatkan seseorang tentang ketidakberartian dirinya.

Dysfunctional belief merupakah factor dalam diri yang membuat seseorang mudah terluka. Belief ini terbentuk dari pola asuh orang tua dan interaksi individu dengan lingkungan yang cenderung negatif. Saat terjadi hal yang signifikan (stress), belief ini mempengaruhi individu yang mudah menjadi depresi untuk menilai pengalaman dalam jalan yang negatif dan terganggu. Penilaian negatif (negative cognitive triad) ini mengarahkan individu memandang negatif dirinya, dunianya, dan masa depannya. Pikran negatif ini, dipandang sebagai gejala depresi, menimbulkan masalah lain dari gangguan depresi, yaitu ganguan somatis/fisik, motivasi, dan afeksi/emosional (Beck, 1991). Dengan adanya negative cognitive triad tersebut, membuat penderita depresi mengalami kondisi kehilangan harapan (hopeless) sehingga perilaku yang ditampilkan di lingkungan dapat dikatakan tidak adaptif.

Penanganan depresi
1. Relaksasi; buat hati dan tubuh menjadi lebih rileks dengan melatih pernafasan
2. Hobi; baca buku bisa menjadi salah satu cara penyembuhan juga loh. Bibliotherapy, merupakan proses penyembuhan dengan menggunakan media utama buku sebagai bahan bacaan subjek yang diterapi.
3. Curhat; bicarakan masalah dengan orang terdekat. Terkadang terlalu menyimpan masalah sendiri itu dapat sangat membebani, sehingga tidak ada salahnya untuk melepaskan sedikit beban yang ada.
4. Menyalurkan emosi negatif melalui kegiatan positif; saat seseorang mengalami masalah, banyak energy negatif yang berkecamuk di dalam diri. Energ negatif ini jika tidak diregulasi maka akan berdampak negatif pada diri. Oleh karenanya, salurkan energi negatif tersebut melalui hal-hal positif seperti: melukis, bermusik, hiking, jogging, dan olahraga lainnya.
5. Berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan; dengan mendekatkan diri pada Tuhan dapat memunculkan ketenangan dan harapan baru mengenai kehidupan.
6. Konsultasi dengan ahli;
– Psikolog (biasanya dilakukan sesi konseling dan dapat juga memberikan beberapa terapi yang menunjang kesembuhan seperti Cognitive Behavior Therapy, Forgiveness Therapy, Mindfullness Therapy, dll) dan
– Psikiater (memberikan obat seperti antidepresan untuk menekan gejala-gejala depresi agar tidak muncul kembali).

Bagaimana cara orang sekitar untuk membantu penderita depresi?
– Tawarkan dukungan, pemahaman, kesabaran, dan dorongan.
– Dorong mereka untuk mengungkapkan perasaan dan masalah mereka
– Dorong mereka untuk terlibat dalam kegiatan sosial.
– Mintalah nasihat tenaga medis profesional begitu Anda memperhatikan keanehan pada perilaku mereka.

 

Sumber:
Beck, A.T (1991). Cognitive Therapy; 30 Years Retrospective. Pennsylvania: Department of Psychiatry of Pennsylvania School of Medicine.
https://www21.ha.org.hk/smartpatient/EM/id-id/Home/

Anak Akan Mengembangkan Self-Soothing Dengan Sendirinya. Benarkah?

Ditulis Oleh: Mischa Indah Mariska, M.Psi., Psikolog

Kita cukup sering mendengar bahwa bayi akan belajar untuk menenangkan diri (self-soothe) dengan sendirinya jika ia dibiarkan saat menangis. Benarkah?

Pada kenyataannya bayi yang berada dalam kondisi distress, tidak nyaman, dan gelisah namun tidak mendapatkan sambutan dari caregivernya justru secara fisik akan meningkatkan detak jantung, tekanan darah, mengurangi level oksigen, melonjaknya hormon kortisol (hormon yang diproduksi tubuh saat menghadapi stress atau bahaya), adrenalin, dan hormon-hormon stress lainnya.

Bayi yang dibiarkan menangis memang pada akhirnya akan tertidur dengan sendirinya, dan ini seperti menjadi sinyal bagi orangtua bahwa akhirnya anak berhasil menenangkan dirinya. Teknik “Cry It Out.” ini pun dianggap berhasil diterapkan karena malam-malam berikutnya anak nampak lebih tenang bahkan di siang harinya. Tapi sekali lagi kondisi tersebut bukanlah keberhasilan anak menenangkan dirinya sendiri, melainkan ia kelelahan dan justru gagal mengembangkan koneksi dengan dunianya karena merasa kebutuhannya tidak akan pernah terpenuhi. Jika terus berkelanjutan maka bisa mengakibatkan penumpukan beban yang tidak terselesaikan di dalam perkembangan emosinya.

Tidak hanya berpengaruh pada bayi. Membiarkan bayi menangis berlama-lama juga membuat orangtua secara perlahan mematikan rasa empati yang sebetulnya ada untuk anak. Empati orangtua tersebut padahal sangat membantu anak dalam mengembangkan inteligensi emosinya. Orangtua pun menjadi tidak terlatih untuk melihat dari perspektif anak dan ini yang mengakibatkan parenting menjadi terasa sulit.

Attachment adalah fondasi penting yang perlu dibangun dari semenjak anak lahir. Ketika anak berhasil membentuk secure attachment (attachment yang sehat) dengan orangtua atau cargivernya maka ia pun turut berhasil membangun kepercayaan terhadap dunia. Anak akan tumbuh menjadi individu yang mampu bereksplorasi dengan percaya diri, lebih mudah dalam mengembangkan emotional dan social skillnya di lingkungan, serta memiliki relasi yang sehat dengan orangtua dan keluarganya. Lalu dari manakah attachment ini berasal dan bagaimana cara membentuknya? Tentunya dari momen sederhana yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak, yaitu segera merespon tangisannya ketika menangis saat ia bayi. Meskipun bayi masih saja terus menangis setelah digendong, ia tetap akan merasakan kehadiran dan sentuhan orangtuanya. Ini jelas tidak sama dengan ketika tangisannya diabaikan. Saat bayi menangis ia sedang melepaskan rasa sakit atau takutnya akibat dari terlalu banyaknya stimulus dari dunia yang baru ia jumpai ini.  Kehadiran orangtuanya meski tidak lekas menghentikan tangisannya namun tetap saja memberikan ruang untuk bayi melepaskan perasaannya, dan yang terpenting ia merasa diterima. Di samping itu dekapan orangtua pada bayi membuat tubuhnya otomatis merespon tangisan dengan membangun susunan syaraf yang akan berfungsi mengirimkan calming hormones.

 

Banyak orangtua merasa begitu kewalahan dalam menghadapi hari-hari pertama bahkan bulan-bulan awal kehidupan anaknya. Salah satunya adalah menghadapi situasi penuh tangisan yang seringkali tidak dapat dimengerti ini, karena satu-satunya bentuk komunikasi bayi hanyalah dengan menangis. Kabar baiknya untuk para orangtua, khususnya orangtua baru dengan bayi kecil di rumahnya, selama kita tetap berusaha mencari cara untuk menenangkan diri (agar bisa menghadapi anak dengan tenang), tetap pula menjadi safest place untuk sang bayi, dari situlah anak akan membangun kemampuan untuk self-soothing themselves. Chin up and smile, dear parents!

 

Sumber:

Markham, Dr. Laura. (2012). Peaceful Parents, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting. USA: Penguin Group.

8 Topik Kencan Bersama Suami

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M.Psi., Psikolog 

Kencan bagi Ayah dan Bunda terkadang jadi kegiatan yang “mewah” dan berharga untuk dilakukan, terlebih setelah punya anak atau ketika dihadapkan rutinitas pekerjaan yang padat. Sekedar meluangkan waktu untuk ngobrol, atau menonton film bersama rasanya sudah terasa sangat menyenangkan. Kegiatan kencan ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mempererat jalinan pernikahan. Jadi, bukan hanya mendapatkan kesenangan atau keluar dari rutinitas yang menghabiskan energi saja. Dalam buku dengan judul Eight Dates yang ditulis oleh  seorang Psikolog klinis bernama John Gottman, 8 topik atau tema kencan yang bisa dilakukan agar relasi antara suami dan istri lebih kuat. 8 tema tersebut diharapkan bisa dilakukan semua agar makna pernikahan dapat lebih dihayati.

  1. Komitmen dan Percaya

Komitmen berarti kita bersedia untuk selalu ada dengan pasangan kita apapun yang terjadi. Sedangkan kepercayaan adalah dasar dari komitmen. Rasa percaya diibaratkan oksigen yang membantu hubungan untuk bernafas. Tentunya, rasa percaya tidak serta merta dibangun dalam waktu semalam. Kepercayaan dibangun dari janji yang selalu dipenuhi oleh pasangan, dan selalu hadir untuk pasangan ketika dibutuhkan. Agar dapat membangun kepercayaan dan komitmen yang kuat bisa dimulai melalui diskusi. Ajak pasangan untuk saling tanya atau membicarakan kapan terakhir kali merasa tidak percaya pada pasangan?, apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan komitmen pasangan? dan perbedaan makna masing masing dari komitmen dan percaya

  1. Cara Tepat Menghadapi Konflik

Semua pasangan pasti pernah bertengkar. Pertengkaran bisa menjadi cara untuk mencapai hubungan yang lebih sehat khususnya untuk mengekspresikan perbedaan yang dirasakan serta mengenal lebih dalam satu sama lain. Penelitian menunjukkan pasangan yang bahagia adalah mereka yang mampu mengatasi konflik, mendengarkan keinginan pasangan  dan memahami sudut pandang pasangan. Pada tema ini, pilihlah tempat kencan yang lebih private karena bisa saja jadi berujung pada pertengkaran. Pada topik ini fokus pada bahasan mengenai perbedaan yang ada antara ayah dan bunda. Misalnya perbedaan cara bersihin rumah, mengurus anak, dll. Jika sampai terjadi pertengkaran jadikan kesempatan ini untuk menjelaskan apa yang ayah dan bunda rasakan ketika bertengkar. Carilah pemicu pertengkaran tersebut, lalu bicarakan seperti apa usaha ayah/bunda supaya berperilaku berbeda ketika kembali menghadapi konflik.

  1. Diskusi tentang seks dan kegiatan intim

Ayah dan Bunda mungkin terkadang merasa risih saat berbicara tentang seks, tapi di tema kencan ini yang penting untuk dibahas. Sebelum kencan, cari tahu terlebih dahulu kenapa muncul perasaan kagok membicarakan seks. Kuncinya ayah dan bunda perlu lebih tenang, jujur dan terbuka. Ketika mulai kencan (kalo bisa ditempat yang romantis) eksplorasi dan saling cari tahu tentang pengalaman seks ayah dan bunda, apa yang membuat terangsang, aktifitas seksual apa yang ingin dicoba namun takut mengutarakannya. Bahas juga secara spesifik bagian tubuh mana yang ayah/bunda suka kalo disentuh, atau aktifitas seksual apa yang sudah dilakukan bunda atau ayah yang menjadi favorit masing masing.

  1. Pekerjaan dan Uang

Cobalah cari tempat kencan yang tidak memakan banyak pengeluaran untuk mendukung tema ini kemudian bahas masalah yang sering muncul terkait financial. Bagaimana update tabungan ayah dan bunda, apakah ada rencana liburan. Saling memberikan apresiasi pada pasangan mengenail pengelolaan uang atau cara mendapatkan uang tersebut.

  1. Keluarga dan Anak

Membesarkan anak tentunya rentan stress, maka dari itu ayah dan bunda perlu memprioritaskan kedekatan antara ayah dan bunda agar cinta yang akan diberikan pada anak anak selalu tercukupi. Kali ini yang perlu dibahas adalah mengenai anak, mau berapa banyak? Masalah apa yang sering muncul dalam pengasuhan, bagaimana cara menghadapi atau mencegah masalah itu muncul? Usahakan untuk tidak melewati topik ini jika ayah dan bunda belum ada rencana punya anak alternatifnya bisa bahas soal pasangan, keluarga dekat atau teman dekat.

  1. Pengembangan dan Penemuan Makna Spiritual

“Change is good”, terlebih di hubungan rumah tangga perubahan pun tidak terhindarkan. Pada beberapa hubungan berakhir karena adanya perbedaan atau perubahan yang besar pada pasangan. Nyatanya, pasangan atau hubungan yang kuat justru ketika pasangan kita bisa mengakomodasi perubahannya satu sama lain dan menerima perubahan tersebut untuk membantu hubungan yang lebih matang atau dewasa. Pada topik ini, pasangan bisa saling mencari tahu apa saja tujuan pasangan yang ingin dicapai?adakah persamaan? pasangan sudah mendukung atau mengapresiasi tujuan kitakah?atau seperti apa bentuk apresiasi yang bisa menambah semangat dalam mencapai tujuan tersebut.

  1. Bermain dan bertualang

Persiapkan terlebih dahulu hal mennyenangkan apa yang bisa dilakukan, misalnya pergi ke konser? ke taman main? mengikuti kelas dansa bersama sama?atau sesimpel lari hujan hujanan bersama pasang. Jika sudah dilakukan diskusikan aktifitas tersebut. Ayah dan bunda bisa juga melakukan kencan secara spontan. Misalnya, mengambil cuti untuk kencan di pagi hari, atau kencan di tengah malam. Apa makna kegiatan tadi untuk ayah dan Bunda, dan kapan terakhir kali merasakan kesenangan seperti itu, dll

  1. Menghormati impian pasangan

Buatlah list semua impiannya ayah dan bunda, apa cerita dibalik impian tersebut, bagaimana cara pasangan kita dalam membantu atau mendukung impian tersebut. Jika bisa lebih dalem lagi, ayah dan bunda bisa membahas impian yang dipunya sejak kecil, orang tua masing masing membantu dengan cara apa, sehingga kita bisa membayangkan bagaimana cara untuk menghormati impian pasangan kita.

Dalam melakukan kencan kencan ini tidak perlu memperhatikan urutannya. Mulailah mengambil tema yang muncul dari kebutuhan masing masing. Setiap hubungan bergantung pada komunikasi yang baik. Dengan sering berkencan dan diskusi lewat topik topik diatas, kita jadi bisa merawat cinta kita dan membantu pasangan meraih mimpinya