Power Struggle

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

Power Struggle adalah situasi ketika anak menolak melakukan sesuatu/kegiatan (misalnya: mandi,
tidur siang, makan sambil duduk, selesai bermain, dll) dan orang tua bersikeras mengajak anak
melakukan kegiatan tersebut. Kebanyakan orang tua mulai mengalami situasi ini ketika anak berada
di usia 2 tahun. Orang tua sebenarnya bisa memandang situasi ini sebagai momen perkembangan
kemandirian bagi anak. Inilah beberapa tips agar Sobat RK bisa lebih tenang menghadapi Power
Struggle.

  1. Memberdayakan anak
    Pada usia 2 tahun anak biasanya mulau sering menyatakan keinginannya atau berkata “Tidak” pada
    hal yang tidak ingin ia lakukan. Hal tersebut menunjukkan anak memiliki kebutuhan untuk berdaya.
    Maka orang tua bisa memfasilitasi kebutuhannya tersebut dengan melibatkan anak dalam
    mengambil keputusan. Dengan begitu, anak akan mengembangkan perasaan kompeten atau bisa
    melakukan sesuatu sesuai dengan pilihannya.
  2. Memberikan pilihan pada anak
    Ini adalah salah satu strategi agar anak merasa terlibat dalam mengambil keputusan. Misalnya ketika
    anak menolak mandi, orang tua bisa memberikan pilihan dengan mau “mandi dengan ayah atau
    ibu?” “Mandi bawa bebek2an atau bawa dino?” Dll.
  3. Validasi emosi anak
    Validasi emosi juga memegang peranan penting agar power struggle tidak berujung tantrum. Ketika
    perasaan anak diakui dan diterima, anak biasanya akan lebih mudah mengatur perasaan dan
    keinginannya. Sebagai contoh ketika mengajak anak mandi dan ketika pilihan yang orang tua berikan
    pun anak tolak kita bisa menunjukkan pemahaman kita terhadap kondisi anak. “Ibu tau kamu
    keliatan masih senang sekali main sampai belum mau mandi ya, yuk kita jalan sama-sama ke kamar
    mandi ya..” (anak malah menangis dan berteriak) “Iya saying sedih banget ya kedengerannya,
    ngerti..ngerti masih mau main yaa, mau ibu peluk dulu sebelum kita mandi?” baru setelah tenang
    ajak anak untuk mandi.

Prosesnya keliatan lama dan melelahkan ya? Tapi hal ini sangat penting dilalui agar anak tetap
merasa berdaya dan dipahami oleh orang tuanya.

Hallo, Ayah!

Ditulis Oleh: Tsana Ulfah Ullaya, S. Psi

Peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu. Terkadang kita tidak sadar bahwa peran ayah tidak hanya sekedar mencari nafkah atau menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan psikologis anak. Peran ayah untuk turut berpartisipasi merawat anak mereka secara positif mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak (Phares, 1992; Rohner dan Veneziano, 2001, dalam East et al, 2006). Rohner dan Veneziano (dalam East et al, 2006) melakukan tinjauan mengenai pentingnya ayah pada perkembangan dan kesejahteraan anak, dan menemukan bahwa peran menjadi ayah dan cinta ayah sangat penting dalam perkembangan psikologis dan kesehatan psikologis anak.

Kurangnya penelitian yang membahas mengenai pengaruh ayah pada perkembangan anak dapat disebabkan oleh norma sosial di mana ibu adalah pengasuh utama anak, yang mana dapat menggiring pandangan bahwa ibu lah yang bertanggung jawab atas kesejahteraan psikologis anak (Jackson dan Mannix, 2004; Phares, 1992, dalam East et al, 2006). Pengaruh ayah dalam kehidupan anak sangatlah besar, di antaranya adalah sebagai berikut:

a) Menjadi prediktor kesejahteraan psikologis anak baik positif maupun negatif

b) Mempengaruhi perkembangan nilai-nilai pribadi anak melalui masa kanak-kanak, remaja dan dewasa

c) Membentuk konsep diri pada anak

d) Dapat memberikan role model laki-laki

e) Kedisiplinan

f) Pengawasan atau faktor pelindung terhadap perkembangan perilaku maladaptif dan konsep diri negatif pada anak

g) Berkontribusi pada kesejahteraan finansial dan fisik anak

Sumber:

East, Leah, Debra Jackson, and Louise O’Brien. 2006. Father absence and adolescent

development: A review of the literature.

https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/1367493506067869

Daya Juang

Ditulis Oleh: Lindyani Anissa, S. Psi., M. Psi., Psikolog

Apa itu daya juang?

Menurut teori, Daya juang dapat didefinisikan sebagai kecerdasan individu dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, hambatan-hambatan maupun tantangan dalam hidup Penting bagi orang tua untuk  mendukung anak dengan meyakinkan bahwa kesuiitan dan masalah adalah tantangan. Secara khusus, daya juang juga penting dalam mencegah timbulnya masalah kesehatan mental serta berpotensi mengurangi masalah kesehatan mental yang ada.

Apa ciri-ciri orang dengan daya juang yang tinggi?

Beberapa orang dilahirkan dengan kemampuan untuk mengatasi hambatan dan kesulitan dalam hidupnya dengan relatif mudah. Berikut ciri orang yang memiloki daya juang tinggi :

Ulet, disiplin, semangat, pantang menyerah, bangkit dari kegagalan, rajin, mandiri, fokus, berpikiran terbuka adalah beberapa contoh orang yang berdaya juang tinggi.

Apa pentingnya berdaya juang tinggi?

Daya juang menentukan kesuksesan seseorang. Meski setiap orang memaknai kesuksesan secara berbeda, tetapi satu hal penting adalah menentukan tujuan hidup atau cita-cita sedini  mungkin. Daya juang menunjukkan bagaimana kita merespons kehidupan, terutama pada hal-hal yang sulit,

menghadapi segala sesuatu, mulai dari kerepotan sehari-hari hingga kesulitan besar yang dapat

ditimbulkan hidup.

Kesuksesan adalah keberhasilan mencapai cita-cita dengan jalan yang dipilih. Bersekolah, mengembangkan minat, mengembangkan wawasan dan pertemanan baik, merupakan beberapa pilihan jalan untuk mencapai cita-cita.

Apa yang dapat orang tua lakukan?

• Tingkatkan komunikasi dengan anak, teman-teman anak dan orang tuanya, serta guru-guru di sekolah.

• Latih anak menerima kekalahan dan memotivasinya untuk bangkit.

• Latih anak hidup sederhana.

• Ajarkan tabah menghadapi masalah, dan memberi kesempatan untuk mencari upaya penyelesaiannya.

• Bantulah anak membangun rasa tanggung jawab, misalnya, menyelesaikan tugasnya sendiri,

membantu pekerjaan di rumah.

• Dukung anak mengembangkan minat

• Bantulah anak disiplin bangun pagi.

• Tunjukkan contoh-contoh upaya orang mencapai keberhasilan.

Semakin tangguh, semakin efektif dan konstruktif Anak kita untuk menanggapi kesulitan hidup.

https://www.psychreg.org

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Pet Attachment

Ditulis Oleh: Rajab Cipta Lestari, S. Psi

Apakah sobat RK suka dengan binatang? Atau ada yang sampai memelihara binatang tersebut? Tahukah sobat RK, ternyata memelihara binatang memiliki manfaat bagi kesehatan diri kita. Fakta bahwa ikatan manusia-dan-peliharaannya dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental pemilik hewan peliharaan. Kepemilikan hewan peliharaan dapat memiliki efek penyembuhan tertentu, termasuk menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol. Sebuah penelitian, dari University of New England di Australia, menemukan bahwa pemilik kucing memiliki lebih sedikit gangguan kejiwaan dibandingkan mereka yang tidak memiliki teman kucing. Dan penelitian yang dilakukan di University of New York di Buffalo menemukan bahwa sakit hipertensi yang di deritanya menjadi membaik secara drastis setelah memiliki hewan peliharaan selama enam bulan.

Bowlby mengartikan attachment sebagai ikatan emosional yang berlangsung antar individu, individu berusaha untuk menjaga kedekatan dengan objek keterikatan dan bertindak untuk memastikan hubungan itu berlanjut. Pendapat lain menyebutkan bahwa attachment tidak hanya terbentuk antara anak dan orang tuanya saja, ada penelitian yang menunjukkan kedekatan (kelelakatan) hubungan antar ibu manusia dan anak kera. Kedekatan ini dinamakan dengan pet attachment, yang di definisikan sebagai kelekatan antarspesies diasumsikan berkembang dengan cara yang sama seperti ikatan antar manusia dalam memberikan keamanan dan perlindungan atau hubungan attachment timbal balik yang aman.

Faktor-faktor dalam pet attachment pertama adalah gender, perempuan cenderung memiliki tingkat attachment yang tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Lalu yang kedua adalah jenis peliharaan yang dimiliki, memiliki pengaruh terhadap tingkat attachment seseorang. Terakhir yang ketiga, adalah waktu yang dihabiskan dengan hewan peliharaan. Semakin lama waktu yang dihabiskan dengan hewan tersebut, tingkat attachment akan semakin tinggi. Pet attachment memiliki manfaat diantaranya adalah :

1. Memiliki banyak efek positif untuk seluruh kalangan usia (dari anak-anak, dewasa dan orang lanjut usia). Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa pet attachment ini mengurangi kemungkinan terjadinya depresi pada lansia.

2. Dapat memberikan manfaat kesehatan dan juga social pada pemiliknya

3. Memberikan efek relaksasi dan rekreasi

4. Secara keseluruhan : meningkatkan kesehatan psikologis, meningkatkan kesehatan fisik,

hubungan social dan efek relaksasi & rekreasi

Dari kedekatan dengan hewan juga ternyata dapat memberikan efek positif bagi kesejahteraan

emosi kita, yang dapat memberikan rasa aman bagi diri kita sendiri.

Sumber :

Nugrahaeni, H. S. (2016). Hubungan antara pet attachment dengan kualitas hidup pada pemilik

hewan peliharaan. https://lib.unnes.ac.id/28616/1/1511411096.pdf

https://www.psychologytoday.com/intl/articles/200103/the-healing-power-pets

Meningkatkan Motivasi Belajar Anak Saat Menjalani Online Learning

Ditulis Oleh: Tiara Delia Madyani, S. Psi

Selama pandemi covid-19, belajar dengan media online merupakan hal yang harus si kecil jalani. Orang tua harus bisa berbagi peran untuk mendampingi si kecil belajar karena belum bisa belajar secara mandiri. Si kecil merasa bosan karena hanya duduk diam dan mengerjakan tugas sambil menatap layar laptop untuk mengikuti kelas online atau terkadang meninggalkan tempat duduknya dan membiarkan guru berbicara di laptop. Hal ini bukan merupakan tugas yang mudah bagi orang tua dan pendamping anak ketika mereka mengikuti sekolah online.

Hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk meningkatkan motivasi belajar si kecil yaitu:

1. Tanyakan perasaan anak saat belajar online, tentukan apa yang ingin mereka capai saat mengikuti belajar online, dan cari tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membantu mereka. JANGAN tanyakan materi pelajaran ketika mereka baru selesai sekolah online. Bahas apa yang mereka rasakan saat belajar online, apa yang membuat mereka senang dan tidak senang saat belajar online.

2. Berikan pujian atas usaha yang mereka lakukan untuk tetap mengikuti kegiatan belajar online hingga selesai.

3. Buat sebuah tempat khusus dimana anak ‘belajar’ seperti di sekolah. Orang tua dapat menyediakan meja, kursi, alat tulis dan rak buku di kamar atau ruang belajar khusus. Pastikan anak selalu menggunakan tempat tersebut saat sekolah online dan tidak berpindah-pindah tempat saat jam pelajaran berlangsung.

4. Buat jadwal belajar yang konsisten untuk si kecil. Sepakati kapan orang tua akan belajar bersama si kecil setelah sekolah online selesai. Bagi si kecil, selalu belajar di rumah adalah hal yang membosankan. Orang tua dapat mengecek pemahaman anak tentang materi sekolah saat jadwal belajar. Jika ternyata anak banyak melamun selama sekolah online, orang tua dapat berdiskusi dengan guru apa yang harus dilakukan orang tua selama mendampingi anak belajar.

5. Gunakan permainan edukasi untuk mestimulasi si kecil belajar. Saat ini banyak aplikasi permainan yang cukup memfasilitasi si kecil untuk membantunya belajar. Orang tua dapat menggunakan permainan tersebut saat istirahat ketika sekolah online atau saat mengerjakan tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru.

6. Perbolehkan anak sesekali berdiri atau keluar dari tempat duduknya. Si kecil perlu menggerakkan tubuhnya. Mereka terkadang tidak bisa duduk diam untuk waktu yang lama dan memfokuskan perhatiannya. Beberapa anak terkadang sesekali berdiri ketika mengerjakan tugasnya. Pertimbangkan untuk meletakkan laptop atau komputer diatas meja yang agak tinggi sehingga anak dapat berdiri sejajar dengan meja.

7. Jangan lupa bersenang-senang. Rencanakan aktivitas yang menyenangkan dan tidak melibatkan gadget bersama anak. Orang tua dan anak memiliki waktu yang cukup banyak untuk meningkatkan kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Aktivitas yang dilakukan seperti bermain kartu, bermain peran bersama anak, atau pergi jalan-jalan keluar seperti ke taman dan tempat terdekat dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Sumber:

https://www.ispringsolutions.com/blog/5-e-learninga-tips-to-keep-younger-students-motivated

https://www.commonsensemedia.org/blog/keeping-kids-motivated-for-online-learning

Manfaat Menulis Jurnal

Ditulis Oleh: Prilianti Putri, S. Psi

Pernahkah sobat RK menulis jurnal pribadi, atau mungkin disebut juga sebagai buku harian? Walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan diantaranya; buku harian adalah catatan aktivitas harian seseorang yang berisi detail mengenai peristiwa tertentu, sedangkan jurnal berisi luapan perasaan, emosi, masalah, dan lainnya mengenai kehidupan seseorang. Beberapa diantara kita mungkin pernah mempunyai buku dengan gembok kecil di bagian sisinya atau menyimpan buku yang berisi semua curahan hati kita itu di suatu tempat yang hanya kita ketahui. Ya, hal tersebut dilakukan karena buku ini bersifat sangat pribadi bagi kita.

Masihkah kita menulis jurnal? Jika sobat RK sudah lama tidak melakukannya, coba sobat RK ingat-

ingat kembali, apa yang sobat RK rasakan setelah menulis jurnal? Jika muncul perasaan lega setelah menuliskan luapan emosi, perasaan, atau pikiran kita, hal tersebut memang secara umum dapat terjadi karena ternyata salah satu cara yang efektif untuk menurunkan stress adalah dengan menulis jurnal secara detail mengenai perasaan dan pikiran kita terhadap kejadian yang stressful.

Sebenarnya apa yang membuat kegiatan menulis jurnal ini sering kali disarankan banyak orang?

Jurnal membantu kita mengekspresikan perasaan.

Selama jurnal bebas dari pandangan orang lain, maka tidak ada tempat yang lebih aman untuk mengekspresikan diri selain di jurnal. Banyak orang menuliskan pernyataan yang tidak akan pernah mereka katakan kepada orang lain secara langsung. Itu hanyalah kata-kata dan perasaan, mengapa tidak diluapkan saja? Mereka yang menulis jurnal sering kali mengatakan betapa leganya mereka setelah menuliskannya.

  • Jurnal membantu kita untuk mengklarifikasi pikiran.

Seringkali kita merasakan perasan-perasaan yang bertentangan satu sama lain dalam waktu bersamaan, yang dimana hal tersebut dirasa membingungkan dan membuat kita merasa stuck. Menulisjurnal akan memaksa kita untuk fokus pada satu topik di waktu tertentu. Mencintai dan marah pada orang yang sama itu normal, sebagai contoh. Tulis satu paragraf mengenai apa yang membuat kita mencintai orang tersebut, dan kemudian apa yang membuat kita marah padanya. Setiap emosi mempunyai waktunya masing-masing, satu per satu.

  • Jurnal membantu kita untuk mengingat

Mereka yang menulis jurnal mengatakan bahwa menulis cerita dari pengalaman masa lalu membantu mereka mengingat detail-detail yang mereka lupakan dan membiarkan diri mereka terlarut dalam memori. Detail memori tersebut nampaknya dihayati dan dilalui dengan waktu yang terasa lebih lamban secara disengaja.

  • Jurnal membantu menemukan diri di masa depan

Beberapa orang menulis jurnal dan kemudian segera menghancurkannya. Ada pula yang merobek-robeknya di hari peringatan tertentu (misalnya ketika anniversary dengan pasangan yang sudahditinggalkan). Tetapi banyak juga yang menyimpan jurnal dan kemudian membacanya kembali di masa depan. Gambaran masa lalu dapat membantu kita melihat seberapa besar perkembangan dan pemahaman yang telah kita peroleh.

  • Jurnal dapat membantu dalam penyelesaian masalah dan menenangkan diri

Beberapa orang menggunakan jurnal untuk mencatat berbagai kejadian dan emosi. Tidak hanya itu, menulis jurnal juga dapat menjadi tempat kita untuk melakukan brainstorm untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang sulit. Jurnal dapat menjadi tempat untuk membuat strategi. Selain itu, dapat pula menjadi tempat dimana kita merenungkan mengapa kita merasakan dan melakukan sesuatu serta bagaimana kita bisa berubah. Bahkan, bagi sebagian orang, jurnal dapat menjadi tempat untuk menuliskan harapan-harapan, serta pesan untuk diri sendiri. Kita menghabiskan banyak waktu untuk mendengar suara hati kita yang selalu mengkritisi diri, menulis jurnal dapat menjadi salah satu waktu di mana kita melawan suara hati tersebut dengan meninjau kembali atas apa yang sudah berhasil dilakukan di masa lalu.

  • Jurnal membantu kita untuk menulis

Mungkin hal ini bukan menjadi prioritas utama, akan tetap banyak sekali penulis yang menjami bahwa menulis jurnal adalah salah satu cara mereka untuk melewati hambatan sebagai penulis. Mengekspresikan, tanpa adanya edit atau penilaian, menghasilkan lebih banyak ekspresi.

Dengan menulis jurnal, kita memperkenankan diri kita untuk mengklarifikasi pikiran dan perasaan, dengan demikian kita mulai mendapatkan self-knowledge yang berharga. Menulis jurnal juga dapat menjadi salah satu cara untuk pemecahan masalah yang baik karena seringkali seseorang dapat memecahkan masalah dan menemukan solusi dengan lebih mudah di atas kertas.

Seiring berjalannya waktu, menulis jurnal mungkin dapat menurunkan tingkat stress. Jika tidak, bagaimana pun, jangan takut untuk mencari bantuan professional ya, sobat RK. Therapist akan membantumu untuk memastikan bahwa tulisan jurnalmu efektif atau mereka dapat membantu untuk menemukan strategi agar dapat menurunkan tingkat stress yang dialami sebagai cara alternatif agar kita bisa kembali produktif.

Bibliography

Elizabeth Scott, M. (2020, March 27). The Benefits of Journaling for Stress Management. Retrieved from verywellmind: https://www.verywellmind.com/the-benefits-of-journaling-for-stress- management-3144611

Ryan Howes, P. (2020, July 15). Why Is Everyone Talkiing About Journaling? Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-therapy/202007/why-is-everyone-talking-about-journaling

Berdamai Dengan Perasaan Menyesal

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

Penyesalan merupakan suatu emosi. Ketika kita merasa buruk, kita yakin dan harus melakukan sesuatu yang berbeda. Penyesalan tentang Pendidikan, hubungan, pola asuh yang diterapkan di rumah kepada anak, Kesehatan dan karir merupakan hal yang bisa dianggap biasa dan sering kita jumpai. Trauma, penyakit, kehilangan seseorang adalah pemicu penyesalan tersebar. Rasa sakit yang kita bawa memotivasi kita untuk melihat ke belakang dan fokus pada apa yang seharusnya kita lakukan secara berbeda. Penyesalan juga bersifat kognitif atau merupakan hasil dari proses berpikir. Menjadi unik ketika kita membayangkan apa yang bisa kita lakukan dari pada apa yang kita lakukan. Dalam psikologi, ini disebut pemikiran kontrafaktual. Kontrafaktuan adalah pemikirantentang alternatif dari peristiwa masa lalu, pemikiran tentang apa yang bisa terjadi.

Perbedaan dari individu mempengaruhi pengalaman penyesalan setiap orang. Beberapa orang tidak mengalami penyesalan yang begitu besar karena beberapa orang tidak memiliki tipe kecerdasan emosional yang terkait dengan “pemeriksaan diri” yang diperlukan untuk membangun penyesalan. Beberapa orang menggunakan jalan pintas emosional, seperti menyangkal dan menyalahkan orang lain, untuk dengan cepat menghilangkan penyesalan mereka. Orang-orang yang “kurang penyesalan” ini melewatkan rasa sakit dari penyesalan tetapi kehilangan personal dan relationship growth yang datang ketika kita menghadapi penyesalan kita.

Penyesalan dapat mengurangi kepuasan hidup dan menimbulkan kesehatan mental yang negatif, atau penyesalan bisa menjadi sumber pertumbuhan dan pengambilan keputusan yang lebih baik. Berikut adalah beberapa pemikiran dan strategi dari psikologi yang dapat membantu Anda menghadapi, tumbuh dari, dan melepaskan penyesalan Anda.

1. Ubah cara kita menyikapinya

Penyesalan bisa saja merupakan suatu hasil dari apa yang kita pikirkan. Bisa jadi karena kita memang terlalu memikirkan dampak negative dari tindakan kita di masa lalu. Salah satu cara yang bisa kita lakukan disamping terlalu memikirkan dampak buruknya seperti apa, kita juga bisa mencoba membayangkan keadaan keadaan atau dampak positif yang akan terjadi dari Tindakan kita yang sudah kita lakukan sebelumnya. Jika perlu kita bisa menuliskan di catatan kita mengenai Tindakan atau kejadian yang kita lakukan kemudian tuliskan beberapa kemunkinan atau dampak positif serta dampak negatifnya. Kemudian kita bisa hitung kembali dampak-dampak positif dari kejadian atau Tindakan tersebut dan kita bisa memberi “penghargaan” atau reward seperti pujian atau sekedar membeli barang pada diri kita terhadap beberapa Tindakan Tindakan yang sudah kita anggap benar. Kita juga perlu mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa tidak ada orang yang hidup dengan sempurna dan pasti memiliki kesalahan dalam bertindak atau berperilaku.

2. Memaafkan dan perbaiki

Berpikir bahwa tindakan kita menyakiti orang lain dan berharap kita bisa melakukan yang lebih baik darinya dapat menyebabkan penyesalan yang memalukan dan begitu besar. Terkadang beberapa Tindakan yang kita lakukan bisa mengakibatkan tumbuhnya perasaan menyesal pada diri kita. Apabila memang menyakut dengan orang lain, maka kita bisa mencoba meminta maaf atau memaafkan apabila kita merasa Tindakan itu salah dan mencoba untuk memperbaiki Tindakan tersebut sedikit demi sedikit. Kembangkan rasa kasih sayang terhadap diri sendiri dan memaafkan diri sendiri. Hal wajar jika kita bersedih akan rasa penyesalan yang kita terima tapi jangan sampai kita

terjebak di perasaan sedih itu terlalu lama. Selain dengan kita memaafkan orang lain pun kita juga perlu memaafkan diri sendiri dari kejadian atau peristiwa yang kita alami. Beberapa terapis juga mengatakan kita bisa menulis catatan atau diary untuk mengungkapkan rasa sakit yang kita miliki dan mengakui kamarahan yang kita miliki juga kita bisa menuliskan alasan-alasan kenapa kita harus memaafkan diri kita sendiri. selain memaafkan diri sendiri pun jangan lupa untuk kita selalu menyayangi diri kita karena kalau bukan kita sendiri yang menyayangi diri kita maka siapa lagi ?

Sumber:

Psychology Today

Buchanan, J., Summerville, A., Reb, J., & Lehmann, J. (2016). The Regret Elements Scale:

Distinguishing the affective and cognitive components of regret. Judgment and Decision

Making, 11, 275-286.

Byrne, R. M. (2016). Counterfactual thought. Annual Review of Psychology, 67, 135-157.

Cornish, M. A., & Wade, N. G. (2015). A therapeutic model of self‐forgiveness with

intervention strategies for counselors. Journal of Counseling & Development, 93, 96-104.

Tips Membuat Action Plan untuk Mahasiswa

Ditulis Oleh: Nida Nabila Sodikin, S. Psi., M. Psi., Psikolog

Masa pandemi ini memaksa kita untuk tetap belajar di rumah atau learn from home . Kadang,
kegiatan dirumah malah bikin kita semakin malas belajar padahal pengen banget dapet nilai
memuaskan, padahal sebentar lagi ujian skripsi/tesis. Lalu, gimana caranya supaya tujuan tetap
tercapai dan semangat tetap membara? Yap salah satunya bisa bikin action plan. Ini dia caranya :

  1. TETAPKAN TUJUAN : Tetapkan tujuan akademikmu se kongkrit dan sejelas mungkin
  2. KENALI DIRI : Kalau sudah tau tujuanmu apa, kamu harus tau sejauh mana
    kemampuanmu dalam mencapai hal tersebut. Aku minat ga?aku sanggup ga? Cara
    belajarku udah cocok atau belum ?Dst. Ini harus dijawab sendiri ya karena setiap orang
    beda-beda 
  3. ANALISIS TUGAS : selanjutnya analisis tugas-tugas yang akan dihadapi. Kira-kira ini
    akan tentang apa? kamu bisa/tidak menangani semua tugas yang akan dihadapi?susah ga?
    Bagian mana yang bisa kamu kerjakan dengan baik
  4. KONTROL DIRI : KONSISTEN iya sekali lagi kita harus KON-SIS-TEN melakukan
    semuanya agar kamu tetap pada tujuan awalmu. Boleh istrahat dulu, boleh leha-leha dulu
    asal tetap target bisa tercapai ya
  5. EVALUATOR : Sekiranya kamu butuh bantuan untuk “mengawasimu”, kamu bisa minta
    bantuan kesiapapun bisa orang tua, sahabat, pacar atau siappaun yang benar-benar kamu
    percaya dan memang mendukung kamu dalam menjalani setiap rencana yang sudah
    kamu susun.
  6. TULISKAN SEMUA : ini optional aja. Tahap ini bisa kamu tuliskan atau tidak. Kalau
    kamu mau tuliskan, salah satunya bisa dengan teknik mind mapping.
  7. EVALUASI DIRI : Kamu bisa evaluasi setiap rencana yang sudah kamu susun. Kamu
    akan tau mana yang akan dipertahankan dan mana yang bisa digantikan.
    Contoh : Tujuan ingin lulus skripsi bulan desember dengan nilai A meski dalam keadaam
    LFH-saya sanggup untuk mencapai tujuan itu asal saya membaca jurnal minimal 3 setiap
    hari, membaca skripsi acuan setiap hari dan berdiskusi dengan teman terkait skripsi. Saya
    harus mengerjakan skripsi setiap hari meski itu hanya menuliskan beberapa paragraf- waktu
    pengerjaan skripsi dari senin-jumat jam 13.00 – 21.00 (termasuk beribadah,makan dan
    mandi) – Sabtu dan minggu boleh istirahat – selalu hadir bimbingan meski melalui daring –
    saya meminta bantuan kepada ibu saya sebagai kontrol saya jika pada hari senin-jumat saya
    tidak membuka laptop untuk mengerjakan skripsi – saya akan evaluasi aktivitas ini dua
    minggu kemudian, apakah aktivitas ini cocok untuk saya atau tidak.
    Gunakan waktumu untuk kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung tujuanmu. Ingat,
    kuncinya adalah konsisten. Jika bukan kamu?siapa lagi yang bisa mengubah hidupmu. Selamat
    mencoba 

Evidence (Barang Bukti)

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

Salah satu hal yang sangat penting dalam dunia forensik adalah “barang bukti” atau bahasa
kerennya evidence. Barang bukti adalah sebuah informasi yang dapat dipergunakan untuk
menggambarkan sebuah atau lebih kejadian kejahatan yang telah terjadi. Pada hukum
Indonesia, mengenai bukti dijelaskan pada pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) yang berisi bukti sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat
petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Analis forensik (forensik analyst) akan selalu mencari bukti-bukti yang berada di tempat
kejadian perkara (TKP). Karena, bukti akan menjelaskan semua dan bukti akan membuat
jelas/terang sebuah kejadian kejahatan. Pada dunia forensik, ada peran dan barang bukti
apasaja yang dapat dianalisa? Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Kedokteran forensik : Body victim, DNA, bercak darah
Kimia forensik : Rambut
Kedokteran gigi forensik : Gigi, bekas gigitan, cap bibir
Fisika forensik : Senjata api, peluru, pecahan kaca
Antropologi forensik : Tulang

Masih banyak lagi. Dunia forensik bukan hanya mengenai satu bidang keilmuwan, tetapi
kolaborasi dari berbagai ilmu untuk dapat memecahkan sebuah kejadian kejahatan.
Tentunya dengan masing-masing bidang keilmuwan ini menggunakan standar pemeriksaan
forensiknya masing-masing. Setiap sesuatu hal yang dapat dianalisa selalu menjadi mungkin
untuk menjadi barang bukti.

Barang bukti yang menjadi sebuah hal yang harus dijaga, maka setiap forensic analyst
memiliki prosedur yang wajib untuk dipatuhi, diantaranya menggunakan sarung tangan
(handscoon), masker, baju pelindung, dan lain-lain sehingga alat bukti tersebut tidak
menjadi rusak atau bercampur dengan barang bukti yang lain. Atau, barang bukti utama
menjadi tidak murni karena bercampur dengan sesuatu hal yang dimiliki oleh examiner,
seperti rambut, sidik jari, maupun darah.

Merdeka Belajar

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

Istilah Merdeka Belajar ramai menjadi topik pembicaraan di dunia pendidikan. Berawal dari tagar di
naskah pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Hari Guru Nasional tahun 2019 yang pada
tindaklanjutnya melahirkan 4 Pokok Kebijakan Pendidikan Merdeka Belajar. Lalu apa sih Merdeka
Belajar itu? Konsep ini sebenarnya sudah dikenalkan oleh Kampus Guru Cikal pada tahun 2014 ketika
Bukik Setiawan sebagai Ketua Kampus Guru Cikal mendampingi #KomunitasGuruBelajar. Dalam
komunitas tersebut terdapat berbagai macam kisah para pengajar yang inspiratif, salah satunya Bu
Wanti dari Borang,Sanggau,Kalimantan Barat. Beliau merubah gaya mengajarnya dan memilih lebih
tertuju pada kebutuhan siswa didiknya. Paradigma inilah yang disebut Merdeka Belajar.

Konsep Merdeka Belajar di dunia Psikologi Pendidikan dikenal sebagai pembelajaran mandiri (Self
Regulated Learning). Zimmerman (Kadi, 2016) menjelaskan self regulated learning merupakan
proses dimana peserta didik mengaktifkan pikiran, perasaan dan tindakan yang diharapkan dapat
mencapai tujuan khusus Pendidikan. Harapannya, individu bisa menghayati tujuan belajarnya
bahkan menjadikan belajar sebagai kebutuhan sehari-hari. Namun faktanya, ketika masuk jenjang
pendidikan formal (SD, SMP, SMA), banyak sekali ditemukan masalah belajar seperti malas belajar,
sulit konsentrasi, dan ada pula yang menjalani rutinitas sekolah hanya sebagai formalitas semata.
Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, harus belajar di rumah tantangannya makin besar ya?
Hmm, padahal secara alami manusia itu pembelajar yang handal lho, sejak kecil manusia selalu
berhadapan pada situasi yang mengharuskannya untuk mengembangkan diri seperti belajar jalan,
belajar bicara, semua dilakukan dengan sukarela dan menyenangkan bukan?

Lantas, bagaimana ya caranya agar belajar tidak dihayati sebagai tuntutan? Cara agar bisa dengan
sukarela dan mengarahkan diri untuk mengembangkan diri dengan belajar sepenuh hati?

Inilah beberapa tips yang bisa orang tua lakukan untuk memelihara semangat belajar anak hingga
akhir hayatnya (life long learner).

  1. Amati dan respon kebutuhan belajar anak.
    Beri kesempatan anak bereksplorasi dan latihlah kepekaan orang tua akan apa yang anak
    minati. Hindari penilaian atau asumsi yang terlalu spesifik misalnya ketika anak senang
    bermain Lego lalu kita menilai ia “ooh ade mau jadi arsitek yaa kereeen looh..”. Disini ortu
    bertuju hanya pada hasil (keren) jenis pekerjaannya (Arsitek) saja. Akan lebih baik ketika
    orang tua fokus pada prosesnya “ooh, Ade suka ya nyusun balok LEGO, tadi mama liat ade
    nyusunnya dari balok yang besar dulu bikin badan kapalnya, baru yang kecil-kecil detil buat
    jadi orangnya, seru banget udah 30 menit yaa mainnya.” Orang tua hanya memaparkan apa
    yang ia amati tanpa menyebutkan hasilnya. Pengamatan tanpa penilaian akan menjadi
    modal kita dalam membantu anak menetapkan tujuan belajarnya.
  2. Membangun tujuan belajar muncul dalam diri anak.
    Dari pengamatan orang tua terhadap kebutuhan belajar dan kemampuan anak, mulailah
    berdiskusi mengenai apa yang ingin anak capai dan kembangkan. Misalnya, dengan bertanya
    “De, main LEGO supaya apa?”, “Apa aja yang bikin seru dari LEGO?”, harapannya ketika anak
    berada di sekolah formal, ia terbiasa menetapkan tujuan belajar dari suatu materi.
  3. Biarkan anak mencoba mengarahkan dirinya dalam mencapai tujuan belajar.
    Tanpa paksaan. Ketika orang tua mengingatkan akan tujuan belajarnya saja pun sudah cukup
    berperan aktif dalam membantu anak mengarahkan dirinya. Meskipun ketika di sekolah
    anak akan mendapatkan nilai atas hasil belajarnya, penting pula bagi anak untuk menghayati
    seperti apa kinerja yang telah ia berikan. Pendapat pribadi anak nantinya akan memudahkan
    orang tua dan anak untuk menentukan strategi belajar yang lebih efektif.
  4. Melatih anak untuk refleksi diri
    Refleksi diri biasanya dilakukan ketika anak sudah memperoleh hasil dari belajarnya. Bisa
    melalui raport atau suatu tugas. Berikan anak untuk menyatakan pendapatnya apakah hasil
    yang diperoleh sudah sesuai dengan harapan anak. Misalnya dengan mengajukan
    pertanyaan “De, menurutmu gimana hasil gambarmu ini?” “Kalau dengan gambar yang
    bulan lalu Ade buat gimana tanggapannya? Mana yang lebih memuaskan menurutmu?”
    “apa alasannya?. Dengan begitu, anak akan melatih kemampuannya dalam menilai kinerja
    serta hasil, harapannya ia nantinya mampu memperbaiki gaya belajarnya jika belum
    memuaskan atau mempertahankan semangat belajar yang telah ia bentuk.
    Intinya dalam membantu anak belajar mandiri atau Merdeka dalam Belajar orang tua berperan
    sebagai pendamping, fasilitator. Cukup mengingatkan tujuan belajar dan tidak membuat anak
    bergantung pada orang tua atau guru dalam belajar. Tumbuhkanlah rasa cinta, suka dan
    berprasangka baik dalam kegiatan belajar, agar belajar terasa sama menyenangkannya seperti
    sedang menikmati makanan kesukaan. Selamat Belajar, Merdeka!

Referensi
https://www.universitaspsikologi.com/2020/01/teori-self-regulated-learning.html?m=1
https://blog.kampusgurucikal.com/merdeka-belajar-bukan-jargon/
http://temantakita.com/kemerdekaan-belajar/
http://temantakita.com/nilai-rapor-anak/