Memaafkan: Dari, Untuk, dan Oleh Diri Sendiri

Ditulis Oleh: Prilianti Puteri Lestari, S. Psi

 

201105-omag-forgiveness-600x411
Masalah adalah hal yang tidak dapat terlepas dalam hidup. Meski sebenarnya siapa sih orang yang mau mencari masalah? Namun tampaknya, tanpa masalah pun bukan berarti bahwa diri kita adalah pribadi yang baik. Dengan kata lain, masalah adalah sesuatu yang membantu diri kita untuk belajar dan berkembang. Apa lagi kita sebagai makhluk sosial yang dimana akan selalu saling membutuhkan satu sama lain.

Dinamika dalam menjalin hubungan dengan orang lain juga tidak dapat terlepas dari adanya  kondisi naik-turun, seperti suka-duka, senang-kesal, bahagia-kecewa, dan lainnya. Yang menarik dalam hal ini adalah ketika kita dihadapkan pada kondisi dimana kita merasa sedih, marah, atau pun kecewa dengan perlakuan orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Rasanya kita sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik, namun kok kita tidak mendapatkan yang kita inginkan dari orang lain? Apakah kita pamrih? Hal ini tentulah wajar karena dalam menjalin relasi diperlukan adanya perlakuan timbal balik satu sama lain. Meskipun begitu, perlu dicatat bahwa kita pun tidak dapat selalu menuntut orang lain agar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak menutup kemungkinan bahwa yang tersakiti tidak hanya diri kita, namun kita pun melakukan perbuatan yang menyakitkan bagi orang lain. Selain dengan mendiskusikan masalah, memaafkan juga merupakan kunci terjaganya relasi serta kedamaian bagi diri sendiri.

Dengan memaafkan, kemarahan bisa terlepas. Segala perasaan negatif yang biasanya dipendam (beberapa diantara kita biasanya lebih memilih untuk memendam kemarahan, bukan?) dapat tergantikan dengan perasaan netral, atau dalam beberapa kondisi, menjadi perasaan yang lebih positif. Memaafkan bukan berarti dapat memulihkan hubungan secara otomatis. Terkadang, kita tidak perlu kembali menjalin hubungan yang sama atau menerima perlakuan buruk dari orang lain yang menyakiti
kita.

Lalu, bagaimana cara untuk memaafkan?
Memaafkan bisa menjadi pilihan yang menantang. Kita berjuang melawan pemikiran dan perasaan sendiri, di sisi lain kita perlu juga berusaha untuk memahami perspektif orang lain. Memaafkan menjadi cara yang sehat untuk membantu kita dalam memahami perasaan terluka dan memproses emosi kita.

Menurut psikolog Robert Enright, terdapat empat langkah dalam memaafkan:

Pertama, adalah mengungkapkan kemarahan dengan mencari tahu bagaimana kita telah berusaha menghindar atau menyalurkan dalam mengatasi emosi tersebut.

Kedua, dalam mulai memutuskan untuk memaafkan. Dimulai dengan mengakui bahwa mengabaikan atau mengatasi emosi negatif tersebut ternyata tidak berhasil, akan tetapi, pilihan memaafkan mungkin dapat menjadi jalan yang terbaik.

Ketiga, adalah dengan menghadapi rasa sakit serta mengembangkan rasa belas kasih bagi orang lain yang melakukan kesalahan pada kita. Cobalah untuk merenungkan apakah tindakan yang dilakukan disebabkan niat jahat atau “paksaan” keadaan dalam hidup orang tersebut.

Terakhir, lepaskan emosi yang menyakitkan dan renungkan bagaimana kita dapat tumbuh menjad pribadi yang lebih baik dari pengalaman dan masalah yang ada.

Ketika sudah memaafkan orang lain, pertanyaan berikutnya yang sering kali muncul adalah: apakah perlu kita melupakannya? Seperti yang kita dengar dari banyak orang, “kita harus memaafkan dan melupakannya”. Wah, rasanya sulit ya untuk dilakukan..
Akan tetapi, ada beberapa alasan yang memungkinkan kita untuk memaafkan namun tidak melupakannya:
1. Memaafkan adalah hal yang penting bagi kondisi emosional kita
Ketika kita tidak memaafkan orang lain, sebenarnya kita memilih untuk menahan semua amarah atas perlakuan yang mereka buat. Hal ini dapat menyakiti diri kita sendiri, membuat kita tidak sabar, terganggu, dan bahkan menyakiti diri kita secara fisik. Memaafkan adalah tentang kita, bukan tentang orang lain. Kita memilih untuk memaafkan orang lain karena kita tidak bisa terus menerus merusak emosi yang ada dalam diri kita. Memaafkan bukanlah soal keadilan, melainkan soal hati.

2. Kita dapat belajar dari pengalaman sebelumnya
Kita perlu mengambil apa yang bisa kita pelajari, mengingatnya, dan move on. Hal ini dapat berarti kita berjalan terus dengan atau tanpa orang yang menyakiti kita. Bahkan dalam situasi tertentu, kita dapat mempelajari sesuatu mengenai diri kita sendiri seperti apa yang dapat membuat kita terpancing emosi, apa hal yang sensitive bagi diri kita, dan bagaimana cara kita mengatasi ketika disakiti orang yang kita pedulikan. Dengan mengetahui itu, kita lebih siap untuk hubungan berikutnya dan menghadapi konflik yang tidak dapat dihindarkan.

3. Memaafkan dapat menjadi kekuatan dalam hubungan
Semua hubungan dapat kembali, dan bahkan menjadi lebih dalam, terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Memaafkan merupakan kekuatan atas komitmen satu sama lain untuk hubungan yang lebih sehat. Dan kita menjadi lebih menjaga komitmen satu sama lain untuk tidak membiarkan konflik memecah belah di kemudian hari.

4. Kita menyelamatkan diri kita untuk menjadi korban dari kesalahan yang sama
Kita perlu mengingat apa yang terjadi pada diri kita agar kita dapat terhindar dari masalah yang sama. Hanya karena kita sudah memaafkan orang lain, bukan berarti kita memilih untuk tetap bersamanya dalam hidup kita. Terkadang, cara yang paling sehat yang bisa kita lakukan adalah dengan memaafkan mereka dan berjalan tanpa mereka. Hal ini penting agar kita tidak mengulang kondisi dimana kita menjadi target dari perlakuan yang keliru. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk belajar dari apa yang terjadi sehingga kita dapat mengatur diri kita untuk hasil yang lebih baik di masa depan.

Memaafkan dan melupakan nampaknya suatu hal yang baik, namun sulit untuk dilakukan. Dengan mengingatnya, bukan berarti kita tidak memaafkan, namun kita memilih untuk menjadikan hal itu sebagai pembelajaran yang bernilai bagi hidup kita.

References
Forgiveness. (n.d.). Retrieved from Psychology Today:
https://www.psychologytoday.com/us/basics/forgiveness
Kurt Smith, P. L. (2018, July 8). 4 Reasons to Forgive but Not Forget. Retrieved from PsychCentral:
https://psychcentral.com/blog/4-reasons-to-forgive-but-not-forget/

7 Cara Membuat Keputusan yang Baik

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

make-good-decisions-702x336

sumber gambar: aconsciousrethink.com

Tidak selalu mudah untuk mendapatkan suatu jawaban yang jelas dari sebuah pertanyaan.  Apalagi untuk membuat suatu keputusan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Haruskah kamu mengambil pekerjaan yang kamu tahu kamu tidak akan nyaman padahal kamu akan dibayar lebih besar dari pekerjaan sebelumnya ? Haruskah kamu milih jurusan A dari pada jurusan B di perguruan tinggi tersebut ? Atau beberapa pertanyaan lainnya yang menuntutmu untuk membuat suatu keputusan.

Kali ini kita akan membahas bagaimana langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk membuat keputusan yang cukup sulit

  1. Jika kamu mempunyai beberapa hal dan harus mengambil suatu keputusan. Ubah hal tersebut menjadi pertanyaan tertutup ( yang memiliki jawaban “iya” atau “tidak)

Contoh : haruskah aku mengambil pekerjaan di perusahaan asuransi tersebut ? haruskan aku menjauhi temanku ? haruskah aku pindah ke daerah lain ?

  1. Bagian kedua ini merupakan standar dalam membuat keputusan, buat dua kolom dalam secarik kertas atau buku catatan kamu. Kolom pertama untuk keuntungan yang akan didapat apabila mengambil keputusan tersebut dan kolom lainnya untuk kekurangan apabila kamu mengambil keputusan tersebut. catat semua keuntungan dan kekurangan yang dapat kamu pikirkan di kolom yang sudah dibuat. Coba tuliskan masing-masing setidaknya 10 sampai 12 catatan pada masing-masing kolom sampai kamu tidak dapat memikirkannya lagi.

 

  1. Periksa ketertarikan kamu pada hal yang kamu tulis. Setelah mencatat semua keuntungan dan kekurangan, periksa kembali yang kamu catat. Periksa kembali setiap kolom secara terpisah. Apakah kamu merasa  ada ketertarikan dengan satu item dan pada bagian mana kamu merasa tertarik  ? jika iya, buat catatan pada kolom tersebut. pada bagian ini kamu belum membuat keputusan. Tapi hanya melihat bagaimana reaksi kamu terhadap item tersebut.

 

  1. Setelah itu, coret semua item yang menurutmu belum tentu benar, sebagai contoh: saya terlalu tua untuk kembali bersekolah, orang-orang tidak akan mengerti dengan apa yang saya lakukan atau lain-lain.

 

Sebelum kita beralih ke cara berikutnya, pikirkan kembali beberapa nilai atau values yang kamu miliki, misalnya keluarga, kesehatan, komitmen, kejujuran, respek,  pengembangan personal diri kamu atau lainnya dan nilai yang mana yang menjadi urutan 5 teratas dalam diri kamu.

 

  1. Setelah kamu memiliki “pegangan” pada beberapa nilai atau values pribadi kamu, Kemudia lingkari beberapa item yang sesuai dengan nilai atau value yang kamu ambil.

 

  1. Garis bawahi item yang berfokus pada kekurangan berdasarkan nilai atau value yang kamu anut, misalkan “itu terlalu mahal” atau “itu tidak akan berjalan dengan baik” dan sebagainya. Ketika kita fokus pada kemungkinan kekurangan yang akan terjadi dibandingkan dengan apa yang akan kita dapatkan, kita akan beresiko untuk menghambat pertumbuhan diri kita sendiri.

 

  1. Hitung setiap item yang tidak dicoret atau tidak digaris bawahi dan jumlahkan di bagian bawah di masing-masing kolom.

Jika kamu sudah menjalani langkah-langkah diatas dan masih belum mendapatkan jawabannya, coba bertanya pada diri kamu sendiri beberapa pertanyaan berikut :

  • Apakah yang kamu tulis benar-benar tidak jelas atau hanya sulit untuk ditindak lanjuti ?
  • Siapa yang kamu takutkan akan mengalami kerugian atau terluka oleh keputusan yang kamu ambil ?
  • Apakah kamu harus memutuskan hal tersebut hari ini juga ?
  • Jika saya memutuskan berdasarkan apa yang saya rasakan hari ini daripada memikirkan apa yang akan saya rasakan di masa depan, apakah jawabannya akan jelas ?

Membuat suatu keputusan memang bukan hal yang mudah apalagi yang menyangkut hidup kita. ketika membuat suatu keputusan, hal yang paling masuk akal adalah mencoba untuk menyenangkan diri kita saat ini.

Source : Gilbert, D, (2007) Stumbling on Happiness. New York, NY: Vintage

Kapan sih Proses Awal Anakku Bisa Mengontrol Dirinya?

Ditulis Oleh: Nida Nabila Sodikin, S. Psi

self control

 

Siapa yang tidak happy memiliki buah hati yang dapat memilih mana yang ia butuhkan dan tidak? Wah pasti senang sekali ya, bunda. Tapi, di sisi lain dengan zaman yang serba modern ini, tidak menutup kemungkinan banyak lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku anak kita. Jadi, bagaimana ya caranya untuk membentengi perilaku anak kita dari hal-hal diluar norma sosial? Bagaimana ya caranya agar anak kita tahu mana yang benar-benar ia butuhkan dan mana yang tidak ia butuhkan?

Ya! Salah satunya adalah kita harus mengajarkan self control atau kontrol diri pada anak kita. Nah sebelum beranjak mengenal kontrol diri kita harus tau dulu nih karakter anak kita sesuai dengan perkembangannya.

Seperti yang kita tahu ya bun anak itu sebenarnya memiliki banyak sekali keinginan dan cenderung sulit mengerem keinginannya tersebut loh. Apalagi saat anak kita menginjak
usia 2 tahun. Wah bunda dan ayah harus melipatgandakan kesabarannya dan kadang merasa bingung “kok anakku sulit sekali diatur ya?ko saat diajak ke toko ia selalu memaksa ingin mengambil sesuatu ya?” wajar ga sih kalau anak kita seperti itu?jawabannya adalah sangat wajar. Setiap anak pasti memiliki kadar keinginan dan tingkat egois yang berbeda-beda. Kita sebagai orang tua harus mengenali terlebih
dahulu karakteristik anak kita. Apakah anak kita bisa diarahkan saja ataukah harus mendapatkan treatment lain? Apa keinginan anak kita dan bagaimana mensiasati keinginan tersebut agar lebih terarah.

Betul jika anak usia 2 tahun itu sangat wajar jika ia terlihat lebih egois , terlihat lebih sulit diatur, dan terlihat sulit menuruti apa yang dikatakan orang tuanya. Itu adalah proses perkembangan anak kita bunda. Berarti anak kita memiliki keinginan dan dapat membedakan dirinya serta orang lain. Maka dari itu, Freud mengatakan bahwa pada usia ini kenyamanan anak berpindah dari oral ke anal. Atau dari kenyamanan mulut ke anal. Pada usia 2-3 tahun tahun, anak sendang berproses untuk memindahkan kenyamanannya dan akan merasa bahwa dirinya adalah orang yang berbeda dengan
ayah bunda. “aku adalah aku, aku berbeda dengan bunda, aku berbeda dengan ayah, aku punya keinginan sendiri” seperti itulah kira-kira yang ada dipikiran seorang anak di usia 2 tahun. Pada masa ini anak sudah menyadari kemauan mereka, bila anak terlalu banyak dibatasi atau dihukum terlalu keras, mereka cenderung takut untuk melakukan sesuatu dan tidak percaya diri.

Sadar ga sih bun, kalau anak usia 2 tahun itu waktunya di sapih dan belajar toilet training? Tapi buat apa sih proses itu?

Jawabannya adalah karena pada masa ini anak sudah mulai belajar untuk menahan keinginannya dan menempatkan keinginannya pada tempat yang seharusnya. Anak belajar menahan tidak meneruskan kenyamanannya untuk mimi pada bunda dan keluar dari comfort zone di perkembangan usia sebelumnya(Oral). Kadang, anak masih suka ingin mimi pada bunda padahal sudah waktunya disapih. Nah, bundanya harus konsisten ya untuk tidak memberikan mimi pada anak. Jadi, sebelum anak disapih bunda nya harus ‘tega’ dan siap dulu ya bund demi kontrol diri anak yang baik. Selain itu, ajarkan anak untuk toilet training. Sebetulnya, pada fase ini anak diajarkan untuk menahan sesuatu dan mengeluarkan keinginan tersebut pada tempat yang seharusnya. Anak belajar untuk mengontrol dirinya meski rasanya tidak nyaman. Ajarkan anak sedikit-sedikit untuk pergi ke toilet ketika perutnya sudah tidak enak atau merasa ingin buang air kecil, kenalkan perasaan itu pada anak. Serta lepas popoknya sedikit-sedikit dan ganti dengan celana dalam yang lucu-lucu agar anak tertarik untuk mengganti popoknya dengan celana dalam. Tak apa, awalnya anak merasa basah ketika mengompol. Anak belajar bahwa mengompol di depan umum itu rasanya tidak nyaman dan anak akan belajar jika dirinya ingin nyaman maka ia harus menahan rasa ingin buang air nya dan harus pergi ke toilet.

Lalu, apa hubungannya dengan self control atau kontrol diri ya? Kontrol diri adalah bagaimana kita bisa menahan sesuatu atau menunda sesuatu hal yang tidak pada tempatnya atau tidak bertentangan dengan norma sosial. Pada masa usia 2 tahun itu, adalah masa emas dimana anak belajar untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak sesuai norma melalui proses perkembangannya. Anak keluar dari comfort zone dan mencoba menahan apa yang ia rasakan meski itu tidak nyaman baginya. Jika anak
sudah merasa tidak nyaman, ia akan mencari cara bagaimana caranya agar dirinya kembali nyaman tapi harus sesuai dengan norma sosial. itulah yang diajarkan oleh proses sapih dan toilet training.

Proses tersebut mengajarkan anak untuk menahan sesuatu yang kadang hal tersebut membuat anak tidak nyaman, saat mencari cara bagaimana untuk menyamankan kembali dirinya, disini anak belajar untuk mencari cara agar perasaannya kembali nyaman dan tugas orang tua adalah mengarahkan perilakunya agar sesuai dengan normal (dalam proses toilet training anak diajar ke toilet agar perasaannya kembali nyaman). Jadi , pada masa ini ajarkan anak untuk dapat menahan kepuasan anal nya dengan baik ya bun. Kalau bunda mengajarkannya terlalu tegas, nanti anak akan takut dan cenderung tidak mau mengeluarkan apa yang ia rasakan. Sebaliknya, jika bunda membiarkan anak tanpa toilet training akan membuat anak bebas melampiaskan tegangan pada anak dengan mengeluarkan kotoran ditempat dan waktu yang tidak tepat, yang di masa mendatang muncul sebagai sifat sulit diatur, jorok, semaunya sendiri dan kurang bisa menahan diri.

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal Forensik

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari. S. Psi., M. Si

Woman head with an enclosed fingerprint

Apa itu forensik? Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI, adalah:

1. cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penerapan fakta-fakta medis pada masalah-masalah hukum

2. Ilmu bedah yang berkaitan dengan penentuan identitas mayat seseorang
yang ada kaitannya dengan kehakiman dan peradilan: polisi belum bisa menjelaskan
identitas korban karena masih menunggu hasil pemeriksaan yang diselidiki oleh tim
penyidik.

Jika kita merujuk pada hal tersebut, maka forensik erat sekali kaitannya dengan ilmu
kedokteran atau otopsi mayat kata yang familiar didengar oleh masyarakat. Namun, menurut John C.Brenner, forensik adalah analisis informasi yang cocok untuk
digunakan dalam pengadilan. Forensik ini dapat mencakup banyak cabang ilmu, antara lain antropologi forensik, arkeologi forensik, ilmu pembuktian, odontologi forensik, patologi forensik, psikologi forensik dan ilmu forensik. Contoh odontologi forensik mengidentifikasi pelaku melalui gigitan/bitting dalam kasus pemerkosaan yang mengigit puting korban, maka dapat dianalisa melalui gigitan tersebut untuk diambil sampel DNA nya. Maka, kita akan mendapatkan pelakunya. Sedangkan Psikologi dapat menggunakan keilmuannya untuk menggambarkan pelaku yang akan menghasilkan profil kriminal pelaku. Hal tersebut dapat digunakan dalam persidangan agar mendapatkan gambaran mengenai pelaku yang dengan sadar atau tidak sadar melakukan kejehatan, hingga seberapa tinggi tingkat bahaya yang dimiliki oleh pelaku untuk mengulangi perilaku tersebut, ataupun untuk mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

Kita dapat memahami berdasarkan pengertian tersebut bahwa semua cabang ilmu
pengetahuan jika digunakan untuk kepentingan hukum/pengadilan maka ilmu tersebut
telah mengaplikasikan keilmuannya dalam bidang forensik.

Sekarang ini, dunia forensik telah bergembang dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Di Indonesia, forensik ada pada bidang ilmu kedokteran, kedokteran gigi, antropologi, ilmu sains, Iimu telekomunikasi/IT atau yang dikenal dengan digital forensik, psikologi dan akuntansi. Semoga bidang forensik ini dapat terus berkembang, dan dapat dikenal serta diterima oleh seluruh elemen masyarakat.

Membangun Self Esteem Anak

Ditulis Oleh: Fadila Nisa Ul Hasanah, M.Psi., Psikolog

SE1

Self-esteem atau perasaan harga diri adalah evaluasi yang dibuat tentang diri sendiri. Apakah itu berkaitan dengan tampilan fisik, kemampuan, penerimaan, kondisi mental, dan sebagainya, yang menunjukkan sejauh mana kita menyukai diri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga. Apa yang kita pikir atau bagaimana kita menganggap diri sendiri akan mempengaruhi perasaan, sikap, perilaku dan motivasi kita. Mengembangkan self-esteem yang sehat dan konsep diri yang positif sangat penting untuk keberhasilan dan kebahagiaan anak-anak atau pun remaja.

Anak dengan healthy self esteem:
– Merasa diterima dan disukai orang lain
– Merasa percaya diri
– Merasa bengga dengan apa yang ia mampu lakukan
– Berpikir positif mengenai dirinya
– Yakin terhadap dirinya

Anak dengan unhealthy self esteem:
– Mudah mengkritik diri
– Merasa diri tidak sebaik anak lain
– Berpikir mengenai kegagalannya dibandingkan keberhasilannya
– Ragu jika ia tidak dapat melakukan segalanya dengan baik

Mengapa self esteem penting?
Self esteem merupakan evaluasi terhadap diri, maka hasilnya adalah penilaian-penilaian mengenai diri. Jika penilaian yang dimiliki baik, maka kecenderungan anak akan memiliki pemikiran positif mengenai dirinya, perasaan yang baik terhadap dirinya, dan mampu berperilaku adaptif menghadapi lingkungannya.

Bagaimana self esteem berkembang?
Pembentukan self esteem dimulai pada masa kanak-kanak. Anak akan memperoleh self esteem mereka dari orang tua dan lingkungan. Mereka belum dapat mengevaluasi diri karena perkembangan kemampuan kognitif anak belum cukup untuk hal tersebut (menilai apakah mereka baik atau buruk). Oleh karena itu, orang tua dan lingkungan berperan besar dalam pembentukan self esteem. Self-esteem seringkali berubah dan mengalami penyesuaian karena pengaruh pengalaman baru. Jadi keterlibatan orang tua sangat penting untuk mewaspadai gejala-gejala self-esteem yang tidak sehat dan membantu mengarahkan anak-anak memahami dirinya secara sehat dan tepat.

Bagaimana orang tua dapat membangun self esteem?
Setiap anak berbeda. Self esteem mungkin akan mudah dimiliki namun terkadang beberapa anak menghadapi masalah yang dapat membuat self esteem nya menjadi rendah. Tetapi self esteem yang rendah dapat dikembangkan.

1. Ciptakanlah lingkungan rumah penuh kasih sayang dan aman. Berikan pelukan
sebagai ungkapan kasih sayang secara spontan. Hindari pertengkaran orang tua di
depan anak-anak. Anak yang senang bisa mencapai sesuatu tapi tidak merasa dicintai,
mungkin self esteem-nya  menjadi rendah. Sebaliknya, anak yang merasa dicintai tapi
ragu-ragu tentang kemampuannya juga dapat membuat self-esteem-nya berkurang

2. Ajari anak- anak berlatih membuat pernyataan positif terhadap dirinya.
Sebagai contoh:
“Aku bisa kalau terus mencoba menyelesaikannya”.
“Aku senang bisa membantu orang lain meskipun dia tidak berterimakasih”.
“Aku sudah berusaha sebaik mungkin, ngak apa-apa hari ini aku kalah,”

3. Larangan mengkritik secara keras. Pesan yang anak-anak dengar mengenai dirinya
dari orang lain mudah diartikan ke dalam perasaan mereka mengenai dirinya. kata-kata
yang keras (contoh ; “Kamu pemalas!”) membahayakan dan tidak memotivasi. Ketika
anak mendengar pesan negatif mengenai dirinya, hal tersebut membahayakan self
esteemnya. Bimbing anak dengan kesabaran. Fokus pada hal yang orang tua inginkan di
waktu berikutnya. Saat dibutuhkan, tunjukan caranya.

4. Bantu anak untuk melakukan suatu kemampuan. Dalam setiap usia, akan selalu ada
hal baru yang dapat dipelajari oleh anak-anak. Bahkan masa bayi, belajar memegang
gelas atau belajar melangkah adalah suatu penguasaan besar yang mereka senangi.
Seiring dengan perkembangan usia, hal seperti belajar mengenakan pakaian, membaca,
atau naik sepeda adalah kesempatan untuk mengembangkan self esteem juga.

5. Bantulah anak untuk menetapkan standar yang tepat dan lebih realistis dalam
menilai dirinya, baik tentang kemampuannya, daya tarik atau kesempurnaan,
sehingga akan membantunya mempunyai konsep diri yang positif. Sebagai contoh, seorang anak yang bagus dalam mata pelajaran lain, tapi kesulitan dengan matematika mungkin beranggapan bahwa dia payah hanya karena tidak bisa matematika. Anggapan demikian selain keliru, juga akan membentuk keyakinan bahwa dia gagal. Bantulah untuk meringankan situasinya. Anda bisa katakan: “Belajar Matematika itu perlu waktu lebih banyak dan ketekunan. Bagaimana kalau kita kerjakan bersama.

6. Saat mengajarkan anak melakukan sesuatu, tunjukkan dan bantu mereka di awal.
Lalu biarkan mereka melakukan apa yang mereka bisa, walaupun mereka membuat
kesalahan. Pastikan anak Anda mendapatkan kesempatan untuk belajar, mencoba, dan
merasa bangga. Jangan membuat tantangan baru terlalu mudah atau terlalu sulit.

7. Berikan pujian, namun lakukan dengan bijak. Tentu sangat baik untuk memuji anak.
Pujian merupakan bentuk dari kebanggaan orang tua pada anaknya. Namun dalam
beberapa cara memuji anak-anak bisa menjadi boomerang.
Sebaiknya dilakukan dengan:
– Jangan memuji berlebihan. Hindari pujian yang terdengar tidak benar atau tidak
tulus. Misalnya, memuji anak bahwa ia bermain dengan hebat padahal dia tahu
bahwa ia tidak bermain dengan baik. Jauh lebih baik mengatakan, “Ibu tahu ini
bukan permainan terbaikmu, tapi Ibu bangga padamu karena tidak menyerah.”
– Puji usahanya. Hindari pujian yang berfokus pada hasil (seperti mendapat nilai baik)
atau kualitas yang menetap (seperti kepintaran atau atletis).
– Sebaiknya berikan pujian untuk upaya, kemajuan, atau sikapnya. Misalnya, “Kamu
belajar dengan baik”, “Kamu menulis dengan semakin baik dan rapi”, “Ibu bangga
terhadapmu karena rajin berlatih piano”. Dengan pujian semacam ini, anak-anak
berupaya keras dalam berbagai hal, bekerja menuju tujuan, dan mau mencoba.
Ketika anak-anak melakukan itu, mereka lebih cenderung berhasil.

8. Jadilah contoh yang baik. Ketika orang tua membuat makanan, membersihkan rumah,
mencuci mobil, atau melakukan kegiatan harian lainnya, berarti mereka sudah membuat contoh yang baik. Anak-anak belajar hal yang sama untuk mengerjakan pekerjaan di rumah seperti membereskan mainan atau kasurnya. Menjadi model untuk sikap yang benar pun dapat dihitung. Saat orang tua mengerjakan tugas rumah secara happy (setidaknya tanpa mengeluh dan complain), mereka mengajarkan hal yang sama pada anak-anak.

9. Fokus pada kekuatan. Berikan perhatian pada hal yang dilakukan dengan baik oleh
anak dan dia nikmati. Pastikan anak-anak punya kesempatan untuk mengembangkan
kekuatannya. Fokuskan pada kekuatannya dibandingkan kelemahannya jika orang tua
ingin anak merasa baik terhadap dirinya.

10. Ajarkan anak membantu dan memberi. Self esteem berkembang saat anak dapat
melihat apa yang bisa ia lakukan untuk orang lain. Anak-anak dapat membantu di
rumah, melakukan kegiatan sosial di sekolah, atau bahkan membantu adik atau
kakaknya. Membantu dan berbuat baik membangun self esteem dan perasaan baik
lainnya.

https://bigloveadagio.wordpress.com/2010/03/23/membina-self-esteem-anak/
https://kidshealth.org/en/parents/self-esteem.html

“Apakah Anakku Perlu Terapi?”

Ditulis Oleh: Mischa Indah Mariska, M.Psi., Psikolog

Sebelum memutuskan untuk mendatangi terapis, langkah pertama yang perlu orangtua lakukan adalah mengunjungi pihak profesional seperti psikolog anak atau ke dokter tumbuh kembang anak untuk mengkonfirmasi kekhawatiran mengenai kebutuhan anak apakah perlu diterapi atau tidak berdasarkan keluhan-keluhan yang dirasakan orangtua. Namun yang seringkali menjadi hambatan di awal adalah adanya suatu kondisi bahwa mendatangi psikolog memang tidak semudah mengambil keputusan untuk mendatangi dokter. Keluhan yang dirasakan tidak senyata keluhan atau sakit fisik yang membuat kita merasakan tingkat urgensi yang tinggi untuk segera ke dokter.

“Kayaknya nggak perlu ke psikolog deh, mungkin cuma kekhawatiranku aja..”

“Kalau ternyata keluhannya sepele nanti diketawain lagi sama psikolognya.”

“Nanti malu dan banyak ditanya macem-macem kalau ketauan keluarga bawa anak ke psikolog.”

…dan beragam pertimbangan lainnya.

Di satu sisi memang terkadang ada kondisi anak yang terasa seolah membutuhkan terapi namun setelah dikonfirmasi ternyata itu hanyalah sebuah fase yang umum terjadi pada rentang usia tertentu dan orangtua hanya disarankan untuk melakukan beberapa pendekatan dan pendampingan yang tepat di rumah. Namun sering juga ternyata kondisi anak yang menjadi kekhawatiran orangtua memang membutuhkan bantuan profesional entah itu hanya berupa konseling rutin atau bahkan terapi.

Untuk membantu menjawab kebingungan para orangtua berkaitan keluhan yang dirasakan mengenai anaknya, sudahkah perlu untuk diberikan terapi atau tidak, berikut akan dibahas beberapa poin yang bisa menjadi panduan demi mencegah terjadinya penundaan pemeriksaan yang terlalu lama yang berakibat pada berkembangnya masalah psikologis anak yang lebih serius jika dibandingkan permasalahannya dikonsultasikan lebih awal.

Selalu ingat, keluhan pada perilaku anak tidak selalu pertanda adanya masalah, bisa jadi hanya sebuah fase. Masa kecil adalah masa yang menyenangkan dan memang harus terasa menyenangkan untuk dilalui oleh anak. Tapi terkadang masa kanak-kanak juga merupakan masa penuh tantangan bagi orangtua karena anak sebagai manusia baru yang hadir ke dunia masih perlu melalui berbagai proses pengenalan dan pembelajaran untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan proses ini mengenai seluruh aspek tumbuh kembangnya. Contoh yang paling sering menjadi keluhan dan kekhawatiran orangtua adalah ranah emosi anak yang sering bergejolak. Semua manusia diciptakan dengan bekal emosi dalam dirinya. Apa pun emosi yang dirasakan tidak ada yang namanya emosi buruk, tapi anak akan melalui berulang kali kesulitan dalam memproses ragam emosi tersebut, dan bukan berarti juga mereka harus selalu memerlukan terapi untuk melaluinya. Kunci utama tetap ada pada penerimaan dan pendampingan dari orangtua.

Orangtua perlu paham bahwa kecemasan, tantrum, bahkan perilaku agresif di rentang usia tertentu dan dengan derajat tertentu bukanlah suatu kelainan melainkan bagian dari fase perkembangan anak yang perlu diterima dan dipahami oleh orangtua.

Perhatikan tampilan simtom pada anak: frekuensi, durasi, tingkat keparahan, dan kesesuaian dengan usia anak. Hampir semua anak melalui fase tantrum, namun dalam mendampingi anak melalui fase ini orangtua juga perlu aware apakah durasinya berlangsung terlalu lama, apakah perilaku yang menyertai tantrum sangat parah seperti misalnya menyakiti diri sendiri, dan apakah usianya sesungguhnya sudah terlalu besar untuk menunjukkan tantrum? Beberapa poin seperti ini patut menjadi acuan bagi orangtua untuk coba memeriksakan anak ke psikolog agar dapat dilakukan asesmen klinis lebih lanjut. Dari asesmen tersebut nanti akan dapat diketahui apakah perilaku yang ditampilkan anak masih kategori normal atau sudah di luar norma.

Hal lain yang dapat menjadi perhatian adalah apakah perilaku yang tampil sudah sampai mengganggu fungsi anak sehari-hari, seperti sering muncul konflik dengan teman atau guru di sekolah, kesulitan berkonsentrasi saat di kelas, mood swings yang terlalu sering di rumah sehingga mengganggu relasi anak dengan anggota keluarga lainnya. Contohnya, anak sulit dibangunkan dan penuh drama untuk berangkat sekolah sesungguhnya wajar, namun jika terjadi setiap hari dan bahkan selama di sekolah pun tidak merubah moodnya sampai pulang, maka hal tersebut bisa menjadi indikasi permasalahan yang memerlukan pemeriksaan lebih dalam.

Lakukan perbandingan melalui pengamatan terhadap perilaku anak lain yang seusia. Memang betul dalam parenting tidak sepatutnya kita membanding-bandingkan kondisi anak kita dengan anak lain yang dirasa lebih baik dari anak kita. Namun pada kasus tertentu hal ini menjadi perlu untuk menjadi acuan kita apakah anak kita memang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak profesional atau tidak, bukan untuk mendiskreditkan anak.

Bertanya kepada anggota keluarga lain atau teman mengenai anak-anak mereka yang usianya sama dengan anak kita bisa membantu kita memiliki panduan tentang keluhan yang kita rasakan terhadap anak. Jika melalui obrolan tersebut tenyata kondisi anak kita juga sama-sama dialami oleh anak lain, dengan frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan yang sama, itu berarti kita bisa berlega hati. Namun jika dari beberapa anak yang kita bandingkan lalu kita merasa anak kita memang melebihi batas keluhan prilaku anak pada umumnya maka itu bisa menjadi indikasi untuk kita segera memeriksakan anak ke psikolog.

Pada kasus kecemasan dan depresi, ingat tidak selalu sama tampilannya pada setiap anak. Gangguan psikologis terbagi menjadi dua, yang pertama masuk kategori externalizing behavior seperti ADHD atau perilaku oposisi (dalam ilmu psikologi dikenal istilah atau diagnosis “Oppositional Defiand Disorder dan Conduct Disorder.”). Simtom-simtom yang muncul mudah dilihat oleh lingkungan karena tampil dalam bentuk perilaku yang mengganggu dan tentu saja mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekeliling.

Kategori yang kedua adalah internalizing behavior, simtom-simtomnya sulit untuk dideteksi karena berkaitan dengan pola pikir dan perasaan yang terganggu seperti kecemasan dan depresi. Meskipun sulit untuk dideteksi namun orangtua bisa menangkap dari reaksi anak setiap marah seperti sangat mudah tersinggung, ledakan emosi yang tiba-tiba, dan juga terdapat perubahan pada pola tidur dan makan anak. Ciri-ciri secara fisik juga bisa dilihat dari keluhan anak seperti sakit kepala atau perut yang frekuensinya sering. Ini biasa terjadi pada anak-anak dengan kemampuan verbal yang masih rendah, mereka kesulitan mengungkapkan lewat kata-kata sehingga termanifestasikan melalui keluhan fisik.

Kunjungi/bertanyalah pada pihak profesional. Ketika kita memiliki kekhawatiran mengenai kondisi psikis anak maka kuatkanlah tekad untuk segera mengunjungi pihak profesional. Jika bingung siapakah yang harus ditanyai, kita bisa mulai dari bertanya ke dokter anak kita sendiri yang selama ini sudah sering kita temui. Biasanya dokter akan merekomendasikan pihak mana yang tepat untuk ditemui selanjutnya. Guru pun bisa menjadi ahli profesional yang bisa dijadikan sumber informasi mengenai kondisi anak.

Perlu diingat, mengunjungi ahli profesional seperti psikolog bukan berarti anak kita mengalami masalah kejiwaan serius dan membutuhkan treatment panjang, meskipun tidak ada yang salah juga dengan hal tersebut jika itu benar-benar tejadi. Namun stigma yang seringkali muncul di awal tersebut yang pada akhirnya semakin menjauhkan orangtua dari informasi akurat mengenai kesehatan mental anak dan keluarga, padahal kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Ajak anak bicara dan selami pola pikir serta perasaannya. Lakukan komunikasi rutin mengenai emosi-emosi yang dirasakan anak, terutama jika baru saja terjadi peristiwa yang memancing emosinya. Memang ada anak tertentu yang sudah komunikatif akan tetapi menjaga komunikasi yag rutin dengan anak untuk membicarakan perasaan dan pikiran mereka akan membuat mereka lebih mudah bercerita kepada orangtuanya setiap kali mereka mengalami sesuatu yang membuat tidak nyaman, dan kita sebagai orangtua akan berada di posisi yang mudah untuk terkoneksi dengan anak dan membantu kesulitan mereka.

Terkadang anak hanya butuh didengarkan dengan seksama oleh orangtuanya, tanpa ada nasihat setelahnya. Hasrat orangtua pada umumnya memang selalu terdorong untuk memberikan intervensi, namun kita perlu tenang sejenak dan betul-betul mendengarkan apa yang disampaikan anak. Tidak hanya setiap perkataannya tapi juga bahasa tubuh, ekspresi wajah dan nada bicaranya lalu berikan tanggapan seperti anggukan kepala, usapan di bahunya, genggam tangannya, juga senyuman, hal itu akan lebih menyamankan anak ketimbang kita buru-buru memberikan nasihat.

Sumber:

https://www.huffpost.com/entry/how-to-tell-if-your-child-needs-therapy_l_5d41eb12e4b01d8c97859aba

https://www.vice.com/en_us/article/gvzdyy/how-to-tell-if-a-kid-actually-needs-to-see-a-therapist

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Males ah belajar. Capek, pusing… :(

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M.Psi., Psikolog

Ada yang belum pernah dengar perkataan ini? Nggak mungkin kayaknya ya..haha. Terkadang kita mendengarnya dari pernyataan anak kita ketika disuruh belajar atau malah kita sendiri yang mengeluhkan hal tersebut? Seringkali ketika kita merasa malas belajar, lelah atau pusing dalam mengerjakan suatu tugas dipengaruhi oleh kondisi emosi yang sedang dialami sehingga muncul juga istilah “nggak mood” untuk belajar. Lalu kadang mencari lagi alasan untuk menghindari atau menunda situasi belajar tersebut, ”Sebentar bundaa aku masih pusing ini mau tiduran dulu sebentar yaaa…” atau dulu alasan kita sewaktu sekolah/kuliah begini: “nonton dulu deeh 1 episode biar semangat lagi belajarnya..”, “ah makan dulu ah daripada nanti ga konsen perut bunyi..” dan pembenaran−pembenaran lainnya, benar apa betul? 😀

Kenapa ya?

Bisa saja hal tersebut muncul ketika anak atau kita sendiri menghayati belajar sebagai suatu kewajiban yang harus dipenuhi sehingga merasa terbebani. Jadi belum juga mulai belajar sudah capek ngebayanginnya, males, ga mood. Pada beberapa orang belajar memang bukan suatu hal yang menjadi prioritas karena tidak merasa tertantang, tidak dapat reward dari belajar atau memang tidak tahu tujuan belajar itu untuk apa selain dapet nilai bagus, sekedar lulus ujian atau biar gak dimarahin bunda/ayah.

Jadi gimana ya biar bisa seneng belajar?

Hmm..masih inget dengan Welin Kusuma? Pemuda yang memiliki 32 gelar. Wellin memiliki 11 gelar sarjana, 3 gelar master, dan 18 gelar pendidikan profesi. Ia mengungkapkan bahwa orang tua yang berperan besar dalam membentuk kebiasaan belajarnya sehingga ia kemudian menjadikan kuliah adalah hobi bagi Wellin.

Ada juga ceritanya Maudy Ayunda yang beberapa waktu yang lalu sempat galau milih kuliah S2 di mana karena ia diterima di 2 Universitas terbaik dunia yaitu Stanford dan Harvard. Terus rame banget deh dibuat meme.

maudy

sumber gambar: http://www.hipwee.com

Kece ya..

Dalam wawancaranya di kanal youtube Najwa Shihab, Maudy membahas dengan seru kegalauan untuk kuliah ini. Menarik melihat antusias Maudy ketika ia bercerita tentang kecintaannya untuk belajar. Sedari kecil  ia bermimpi untuk bersekolah di Harvard, “Waaaw  all the smart people go there, imagine how much I can learn”. Canggih ya, dari SD sudah merasa ingin menimba ilmu lagi lebih banyak dari sumber di mana orang−orang pintar berkumpul dan belajar, di luar negeri pula. Maudy kemudian bercerita bagaimana bisa ia secinta itu sama belajar, bagaimana orang tua Maudy mendidiknya untuk mengembangkan kecintaannya tersebut. Ya, lagi−lagi peran orang tua yang memang efektif membentuk perilaku dan kebiasaan−kebiasan baik bagi anak. Orang tua Maudy, menjadikan buku sebagai sumber hiburan untuk anaknya. Bukan tv, gadget, atau jalan-jalan di Mall. Hadiah yang diberikan oleh orang tua Maudy ketika meraih prestasi pun bukan berupa barang seperti mainan, makanan dan lain−lain, melainkan perasaan bangga yang ditunjukkan dalam pujian serta ungkapan sayang pada Maudy. Selain itu, orang tua khususnya Ibu Maudy sering mengajak Maudy untuk mendiskusikan segala hal, bahkan menu makan hari itu pun mereka diskusikan lengkap dengan alasan, sehingga Maudy mengungkapkan obrolan mereka tuh ga pernah simpel, selalu diajak mikir dan dibikin penasaran.

Proses ini sebenarnya selaras dengan apa yang Ki Hajar Dewantara sering tekankan demi pendidikan anak yang terbaik, yaitu memerdekakan anak dalam belajar. Beliau mengungkapkan:  “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri…” Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952). Apa arti kemerdekaan dalam pernyataan beliau tersebut?  Dalam sebuah tulisan di buku Pendidikan, beliau menyatakan “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri”.

Kebiasaan belajar yang orang tua Maudy bukan berupa penetapan jam belajar, cara atau strategi belajar saja tapi membiasakan anak untuk punya rasa ingin tahu yang besar. Menumbuhkan kebutuhan dari dalam diri untuk belajar. Bahwa anak lah yang menjadi prioritas dalam belajar, bukan lagi ambisi orang tua. Proses anak dalam belajar pun dihargai dengan tepat dan tidak hanya terpaku pada hadiah berupa barang semata, tapi dalam bentuk cinta kasih serta pujian yang cukup membangkitkan semangat serta kepercayaan diri anak.

Nah, masalahnya kalo sadarnya udah telat gimana dong? (Udah kuliah nih, semester akhir pula 😦 )

Don’t Worry Be Happy guys….. tidak ada kata telat untuk belajar dan berubah. Asal memang ada keinginan untuk memperbaiki diri dan mau belajar. Bagaimana caranya? Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh yaitu:

 Ubah Mindset dan tentukan tujuan dalam belajar

Langkah ini penting agar kita tidak terus merasa bahwa belajar adalah beban. Mulai dengan menanamkan dalam diri bahwa saya yang butuh belajar nih, bukan orang lain, saya yang bisa ngatur diri sendiri untuk belajar, saya yang tahu kemampuan saya untuk belajar seperti apa, dll. Menelaah hal apa sih yang bikin berat belajar? Ngatur waktunya? Atau cara belajarnya? Dengan begitu kita bisa lebih paham nentuin cara penyelesaian atau nemuin ide supaya ga kerasa lagi beban atau capek buat belajar. Setelah itu baru kita tentukan tujuan belajar kita itu untuk apa? Sesuaikan dengan bidang dari yang ingin kita pelajari atau apa yang ingin kita capai. Bagaimana kalo kita nggak suka sama materi yang perlu dipelajari? Bentar lagi ujian pula. Salah satu cara untuk memulainya adalah dengan mengukur kemampuan kita dalam materi itu, mungkin ekpektasi kita pun harus disesuaikan dengan realita atau kemampuan serta usaha kita supaya kita bisa tetap bisa mengarahkan diri dalam belajar tapi tidak juga seenaknya atau yang penting lulus aja karena ada tujuan yang ingin dicapai tadi.

 Ciptakan tantanganmu sendiri

Beberapa orang memang merasa lebih semangat dalam belajar atau mengerjakan tugas ketika kita merasa tertantang dalam prosesnya. Contoh yang sering terjadi adalah dengan mengerjakan di akhir waktu sehingga kita mau tidak mau harus menyelesaikannya dalam tempo yang sesingkat−singkatnya. Hasilnya? Hanya Tuhan yang bisa menentukan :D, karena kadang hasilnya juga tidak terprediksi bagus atau tidak karena hal ini belum tentu efektif jadi bisa dikatakan cara kerjanya ini belum tepat. Kita bisa menemukan tantangan lain misalnya memakai prinsip gamification yaitu usaha untuk melihat segala sesuatu dari pandangan seorang gamer dan tentukan level−level yang perlu kita capai dan reward apa yang akan kamu dapatkan nantinya.

Kaitkan materi dengan minatmu atau penerapannya di kehidupan sehari−hari

Pada langkah ini banyak yang agak kesulitan, apalagi kalo dari awal memang ga suka sama materinya. “Susah sih kalo harus disangkut−sangkutin, kayanya ga ada kaitannya deeeh sama hobi aku…”. Meskipun begitu, sebenarnya langkah ini yang paling efektif dan bisa membantu kita dalam menyusun rencana belajar. Jadi ketika kita sudah tahu minat atau apa yang kita suka mulailah untuk mengaitkan hal tersebut dengan materi atau tugas yang sedang kita hadapi, misalnya kita senang fotografi, kalo diurai ternyata butuh tahu prinsip−prinsip bentuk geometri juga supaya dapet gambar yang lebih bagus lagi misalnya. Bisa juga kita cari penerapannya yang bisa kita pakai di kehidupan sehari−hari. kaya prinsip−prinsip ekonomi buat belanja bulanan dan lain lain.

Tentukan dukungan seperti apa yang bisa membuat kita semangat belajar

Nah apalagi buat kita yang sering merasa moody atau sering tidak fokus kalau lagi ada masalah, cari tahu dukungan atau bentuk semangat seperti apa yang kita butuhkan bisa jadi sangat penting untuk membantu kita belajar. Butuh curhat dulu sama temen misalnya, butuh dapet kata−kata positif dari ibu, atau sekedar butuh liburan dan nonton sebentar biar fresh lagi bisa dipraktekkan asal tidak bersinggungan dengan tujuan yang udah kita tetapkan sebelumnya.

Seru kan belajar tuh…

Perlu kita hayati pula bahwa belajar itu proses, ada naik turunnya, ada kecewa, jatuh bangun, tapi banyak juga serunya, dan kalau sudah dilewati kita bisa mengapresiasinya dengan menepuk pundak sendiri dan bilang bahwa ternyata kita mampu lho, kita bisa berubah, kita berkembang jadi sosok yang lebih baik loh ternyata… Proses belajar selalu ada sampai akhir hayat, yuk kita nikmatin proses ini dan selalu syukurin atas apapun yang telah kita capai…

 

Sumber:

Bukik Setiawan http://temantakita.com/joey-alexander/

Bukik Setiawan http://temantakita.com/kemerdekaan-belajar/

Glen Ardi https://www.zenius.net/blog/4343/kenapa-malas-belajar

Iradat Ungkai https://www.hipwee.com/hiburan/maudy-ayunda-diperebutkan-2-universitas-ternama-dunia-begini-15-curhatan-iri-warganet-lah-kocak/

WikiHow https://www.wikihow.com/Develop-a-Passion-for-Learning

Najwa Shihab https://www.youtube.com/watch?v=c0-4kWWU94Q

 

 

Menjadi Bahagia Dimulai dari Diri Sendiri

Ditulis Oleh: Tsana Ulfah Ullaya, S. Psi

happiness

Kebahagiaan merupakan suatu hal yang sangat diinginkan oleh setiap insan manusia.
Kebahagiaan sering didefinisikan sebagai keadaan sejahtera dan kepuasan. Beberapa psikolog berpendapat bahwa kebahagiaan melibatkan memaksimalkan emosi yang menyenangkan dan meminimalkan emosi yang tidak menyenangkan.

Mencari kebahagiaan bukanlah suatu hal yang egois. Ketika kita berbahagia dan puas, kita dapat bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita dan masyarakat pada umumnya. Kebahagiaan dapat kita capai dari mana saja. Seperti cinta, kebahagiaan merupakan sesuatu yang lebih mungkin kita kembangkan di dalam diri kita. Suatu studi menunjukkan bahwa orang yang paling bahagia adalah yang dapat mencari makna dari setiap hal yang justru tidak menyenangkan atau tidak memuaskan. Hidup tidak terjadi di masa depan, tetapi terjadi saat ini. Ini bukan berarti kita harus meninggalkan semua tujuan dan hanya menerima apa pun yang terjadi saat ini. Menciptakan visi yang menginspirasi tentang apa yang sedang kita jalani dalam kehidupan menjadi penting bagi keseluruhan tujuan kita.

Kita tidak bisa menyangkal bahwa pribadi kita saat ini juga dipengaruhi oleh kontribusi
lingkungan dan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Ada banyak pengaruh dari lingkungan awal yang kita internalisasi, ulangi atau adaptasi. Kita terus tumbuh dan akhirnya memiliki pandangan tertentu terhadap diri sendiri. Kita akan mulai memiliki pikiran jahat atau “suara hati kritis” yang memberi tahu bahwa kita lebih rendah atau tidak berharga. Sudah waktunya kita menerima diri kita apa adanya, baik dan buruk dalam diri kita. Mempraktekkan mindfulness, atau menerima diri sendiri, membantu kita untuk dapat mengubah cara kita berpikir dan merasakan, sehingga seiring berjalannya waktu menjadi lebih mudah untuk membawa pikiran positif dan  meningkatkan kesejahteraan.

Jika kita berada dalam suatu situasi kebahagiaan bersyarat, misalnya “Saya dapat bahagia jika ini tercapai”, berhenti sejenak dan pertimbangkanlah bahwa mungkin saja kita bisa bahagia sekarang. Setelah itu dengan segala cara yang positif, tetap bekerja untuk mencapai tujuan dengan mengenali, menerima, dan menikmati siapa kita saat ini.

Bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan kebahagiaan dalam kondisi apa pun? Ada beberapa prinsip kesehatan mental tertentu yang dapat diadopsi oleh kita semua untuk menemukan rasa sukacita dan kepuasan sendiri dengan lebih baik. Di antaranya adalah:

1. Bersyukur

Kita memang tidak dapat secara selektif menghilangkan rasa sakit, dan juga mematikan diri kita sendiri demi kegembiraan. Kita harus rela merasakan kesedihan, kemarahan, dan ketakutan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, kita pun harus dapat mengingat tentang hal baik apa yang kita rasakan dan kita dapatkan saat ini.
Kita juga dapat meminta keluarga atau teman untuk dapat memberi tahu hal baik apa
yang ada pada diri kita dan hidup kita, yang mungkin saja tidak kita sadari. Luangkan
waktu untuk memperhatikan segala hal yang baik. Bersyukur atas apa yang kita miliki
merupakan strategi yang terbukti dapat meningkatkan kepuasan hidup.

2. Melihat kebahagiaan dari dalam diri

Fokus melihat kebahagiaan dari luar diri (mis. melihat pakaian baru, makan di
restoran bersama teman) nampaknya cara yang paling jelas dalam mencapai kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi, kebahagiaan yang diperoleh dari rangsang eksternal tersebut hanya dapat bertahan untuk sementara waktu. Untuk dapat merasakan kebahagiaan terlepas dari situasi apapun, semua dimulai dari kesadaran. Menyadari akan segala sisi positif dan negatif dari kehidupan sedang kita jalani. Dari sadar, kemudian menuju pada penerimaan, serta tindakan. Bisa saja saat ini kita sadar bahwa kita sedang berada dalam situasi yang sulit, ada semacam keraguan dan  ketidakmampuan yang menyelimuti, dan itu tidak wajar. Kita dapat duduk beberapa
menit untuk menghayati emosi negatif yang tengah dirasakan, dan melihat apa
penyebabnya. Kemudian kita dapat memilih respon kita, bertanya pada diri sendiri apa
yang dapat kita lakukan saat ini untuk dapat mengingatkan diri tentang hal yang positif.

3. Menyadari kekuatan pribadi

Kita seringkali merasa diri kita tidak cukup pintar, sukses, menarik, dan lain sebagainya. Apalagi dengan munculnya media sosial, atau melihat di televisi mengenai kehidupan selebritas atau bahkan teman kita sendiri yang memperlihatkan kehidupan yang sangat menyenangkan membuat kita mudah menemukan kekurangan dalam diri kita. Setiap orang tentunya ingin membagikan momen membahagiaan yang tengah mereka jalani, khususnya di media sosial. Mereka akan memperlihatkan sudut terbaik dalam hidup mereka. Tetapi apakah mereka juga memiliki masalah atau kesulitan dalam diri mereka sendiri? Tentu saja, tetapi mereka tidak memperlihatkannya. Jangan fokus pada kebahagiaan orang lain. Kita harus kembali melihat diri kita sendiri. Hal positif dan menyenangkan apa saja yang ada dan kita miliki dalam hidup kita saat ini. Ketika kita
mengakui kekuatan kita, kita akan memiliki ketahanan yang jauh lebih kuat dan dapat
lebih baik menangani segala kesulitan yang datang.

4. Tidak datang dari hanya mengisi hari dengan hal-hal yang menyenangkan

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang paling bahagia adalah mereka
yang dapat mencari makna dari hal yang bertentangan dengan kesenangan semata.
Mencari kesenangan dan kepuasan instan tidaklah berhasil karena semua ini hanya
memberikan kebahagiaan jangka pendek, dan tidak berhasil dalam memenuhi
kebahagiaan yang lebih dalam. Ketika menjalani kehidupan yang memiliki makna khusus bagi hidup kita, kita akan merasa lebih puas dan gembira.

5. Mau berkembang

Manusia paling hidup adalah saat mereka dapat berkembang dan mencoba hal-hal
baru. Mempertahankan minat kita pada pilihan-pilihan baru dan terus bergerak maju,
menjadi semakin baik.

currency of happiness

“Kebanyakan orang dapat berbahagia dengan keputusan mereka.” – Abraham Lincoln
"Jangan bertanya pada diri sendiri apa yang dibutuhkan dunia. Tanyakan pada diri sendiri apa yang membuat Anda menjadi hidup dan kemudian lakukan itu. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang-orang yang menjadi hidup.”- Howard Thurman –

Sumber:
Firestone, Lisa, Ph.D. How to Find Your Happiness, Differentiation, Happiness, Self
Development. https://www.psychalive.org/how-to-find-your-happiness/ (diakses pada
tanggal 30 Agustus 2019)

Sarah, Fraser. Be Happy Now! 3 Tips to be Happy with What You’ve Got.

https://www.psychalive.org/be-happy-now-tips-to-be-happy/

Schwartz, Shalom H, et al. (2017). The Secret to Happiness: Feeling Good or Feeling Right?.

Click to access xge-xge0000303.pdf

Ayah… Apa peranmu?

Ditulis Oleh: Clorinda Vinska, S. Psi

Seorang Ayah mempunyai peranan sama besar dalam keluarga seperti Ibu. Dua-duanya memiliki peran yang seimbang. Masalah pembagian perannya bergantung pada kesepakatan antara Ibu dan Ayah. Namun idealnya, Ibu memiliki peranan sebagai sumber affection (perhatian serta kasih sayang), dan Ayah memiliki peranan mengenai kedisiplinan, dan tanggung jawab.

young-boy-smiles-at-father-holding-baby-sister_4460x4460

Enter a caption

Seorang Ayah tentunya memiliki peran yang besar dalam pengasuhan dan memberikan dampak bagi perkembangan anak baik dari segi pendidikan dan juga emosinya. Dalam segi pendidikan, Ayah yang lebih sering terlibat dalam bermain dan memberikan stimulasi pada anaknya akan memiliki IQ yang lebih tinggi, kemampuan bahasa yang lebih baik, dan juga kemampuan intelektual yang lebih baik pula.

Saat mulai memasuki usia sekolah seperti toddler, kemudian Sekolah Dasar biasanya akan masuk dengan tingkat kesiapan atau school readiness yang lebih matang dibandingkan dengan Ayah yang kurang terlibat dalam pengasuhan. Hal ini pun akan berdampak hingga usia remajanya, dengan Ayah yang lebih terlibat dalam pengasuhan biasanya anak memiliki masalah perilaku yang lebih sedikit di sekolah, dan memiliki prestasi sekolah yang lebih baik. Yang kedua manfaat peran Ayah dalam pengasuhan terhadap emosi anak. Ayah yang sering terlibat dalam pengasuhan anak, seperti bermain dengan anak maka anak akan mengembangkan emosi yang lebih secure seperti lebih berani dalam mengeksplorasi lingkungannya untuk mencoba hal-hal yang baru. Hal ini dikarenakan Ayah mendorong anak untuk mencoba hal-hal yang baru dan cukup mengambil resiko. Saat mengajak anak bermain pun, biasanya Ayah lebih banyak terlibat dalam aktivitas fisik, dan akan terlihat lebih “silly” sehingga membuat anak
tertawa lepas (terbahak-bahak). Disatu sisi hal ini mengajarkan anak mengenai bagaimana anak dapat self control dan meregulasi emosinya sehingga anak belajar untuk mengendalikan diri.

Selain itu, sebaiknya Ayah selalu memberikan contoh-contoh peran kepada anak laki-lakinya. Yang kelak diharapakan sang anak nantinya akan menjadi kepala keluarga juga. Sehingga Ayah harus memberikan contoh-contoh peran. Seperti bagaimana mengambil keputusan, bagaimana melindungi anggota keluarganya, membagi kasih sayang terhadap anggota keluarga dan menerapkan tangung jawab.

Menjalankan hobby pun tidak kalah pentingnya, serta mempunyai waktu khusus untuk quality time yang tidak diganggu oleh istri atau kakak perempuan bahkan
adik perempuan. Untuk anak perempuan, luangkan lah waktu Ayah untuk dapat quality time seperti nge-date dengan anak perempuannya, hal ini mengajarkan kepada anak perempuan untuk bersikap. Bagaimana ia mengetahui bersikap yang baik untuk seorang laki-laki yang kita harapkan nanti ada di pasangan anak kita kelak. Ketika seorang Ayah menyentuh anak perempuannya, sentuhannya pun tidak mengandung hasrat apapun, sehingga anak akan belajar sentuhan yang aman dan kelak ketika ia mulai dalam tahap menjalin relasi dengan lawan jenis, maka sang anak akan mempunyai alarm secara otomatis mengenai sentuhan-sentuhan yang tidak sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Ayahnya. Tentunya hal ini akan mengantisipasi anak perempuan kita supaya tidak mengalami kasus mempunyai anak di luar pernikahan. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya peranan Ayah dalam pengasuhan, karena menganggap mencari uang merupakan tugasnya dan pengasuhan serta urusan rumah merupakan tanggung jawab istri.

Importance-of-Father-768x512

Kemudian di usia remaja, dengan Ayah yang lebih terlibat biasanya memiliki self esteem yang lebih tinggi, penerimaan yang lebih baik, memiliki hubungan interaksi sosial yang baik pula seperti lebih pro-sosial dalam membantu dan juga tidak rentan dalam pengaruh teman sebaya seperti kenakalan remaja atau narkoba. Oleh karena itu, Ayah harus sering berkomunikasi dengan keluarga baik istri, dan juga anak-anaknya. Seorang istri akan sejahtera apabila suami memberikan rasa perhatian, dan sayangnya. Tentunya hal ini akan berdampak pada cara istri memperlakukan anak-anaknya. Apabila istri
merasa tidak happy dengan pasangannya, bagaimana sang istri memberikan happiness kepada anak-anaknya? Nah.. cara-caranya bisa dilihat dalam artikel sebelumnya ya Ayah dan Bunda (dalam 5 languages of love).

Sekali lagi peranan Ayah sangat penting bagi anak laki-laki dan juga bagi anak perempuan. Yang penting buatlah anak yang bahagia dari pasangan yang berbagi tugas, dan merasa bahwa peran Ayah cukup dan anak merasakan ada peranan Ayah, dan istri merasakan tidak sendirian menjadi figur orang tua..

Sumber :
https://www.parent24.com/search?q=dad%27s%20role
https://www.parent24.com/Family/Parenting/the-understated-affection-of-fathers-20190612

The Significance of a Father’s Influence

Ibu… Aku takut…

Ditulis Oleh: Lindyani Anissa, S. Psi
Besar kemungkinan anak-anak akan dihadapkan pada pengalaman menyedihkan atau menakutkan. Menyaksikan peristiwa traumatis, seperti tindakan kekerasan, bencana alam, atau kecelakaan, dapat mengancam rasa aman anak-anak. Meskipun demikian, kita sebagai orang tua dapat berperan untuk menciptakan kembali rasa aman mereka.

Apa yang dapat dilakukan orangtua ?

Saat anak mengalami peristiwa yang membuatnya tidak aman, hal pertama untuk memulai adalah dengan berbicara dengan anak. Bicaralah dengan cara yang
tenang, penuh perhatian, dan tatap mata anak.

Bagaimana kita berbicara kepada anak-anak ?

Langkah 1: Atur situasi dan berdiskusilah
Mulailah dengan mempersiapkan diri untuk memberikan perhatian penuh pada anak Anda. Singkirkan gangguan, seperti ponsel, dan temukan ruang di mana bisa fokus berbincaang. Ingatkan anak Anda bahwa Anda ada untuk mendukung mereka, menjaga mereka tetap aman, dan ingin tahu bagaimana keadaan mereka.

Langkah 2: Mulailah percakapan dengan menanyakan bagaimana perasaan anak kita
Tidak peduli berapa usia anak Anda, selalu mulai diskusi dengan bertanya kepada anak Anda apa yang sudah mereka ketahui. Hanya karena anak Anda tidak membicarakan hal itu, tidak berarti mereka tidak memikirkannya. Coba ajak anak Anda dengan bertanya ;Jadi, bagaimana perasaan kamu tentang apa yang terjadi di sekolah / di jalan; Lalu dengarkan anak Anda dan perhatikan semua ketakutan atau kekhawatiran yang mendasarinya. Jangan paksa anak Anda untuk mendiskusikan hal tersebut.

Langkah 3: Jelaskan hal tersebut kepada anak Anda sesuai dengan usianya
Setelah Anda memiliki informasi mengenai apa yang dirasakan anak Anda, jelaskan kembali hal itu sesederhana dan sejelas mungkin, sesuai untuk tingkat pemahaman mereka. Namun, jangan tinggalkan detail penting dan hindari membicarakan hal itu secara tidak akurat. Ini dapat menghambat komunikasi anda jika mereka menjadi salah mengartikan hal tersebut.

Langkah 4: Perdalam pertanyaan dan lanjutkan berdiskusi dengan penuh cinta dan rasa aman.
Beri dorongan pada anak Anda untuk bertanya dan berikanlah jawaban secara langsung. Tingkatkan kehadiran Anda bersama anak Anda baik secara fisik maupun emosional. Juga, ingatkan mereka bahwa mereka benar-benar dicintai sebagaimana adanya dan bahwa Anda melakukan semua yang Anda bisa untuk menjaga mereka tetap aman.

https://www.psychologytoday.com/us/blog/why-family-matters/201908/4-steps-discussing-
traumatic-events-children