Ternyata LEGO Bisa Menjadi Media Bantuan Anak Dalam Berhitung!

Ini satu..

Ini dua..

Ini tiga..

Berhituuung (tung itung itung itung…)

 

Adakah ayah dan ibu yang tahu cuplikan lirik di atas? Lagu apa yaa?

Dulu, lagu berhitung ciptaan Papa T Bob ini dipopulerkan oleh Kiki, dan sering dipakai orang tua maupun guru untuk mengenalkan angka pada anak. Belajar ngitung dicoba pake lagu, biar anak ga bosen, biar ga takut matematika katanya.

Memang matematika terkenal kurang disukai oleh anak anak, pada orang dewasa pun ketidaksukaan pada proses hitung ini masih saja ada. Alasan ketidaksukaan pada matematika ini bermacam-macam, ada yang malas ngitung, susah, atau sudah mencap diri “tidak bisa”. Apa saja yang membuat munculnya ketidaksukaan pada matematika itu? Faktor penentunya adalah potensi kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Bagi anak yang memiliki taraf kecerdasan di atas rata rata biasanya lebih mudah memahami dan menyelesaikan soal hitungan. Jadi kalau taraf kecerdasannya di bawah rata-rata gak bisa belajar matematika dong? Tentu tidak…. Faktor kedua yang memegang penting pemahaman bagi anak yaitu cara penyampaian konsep dari soal hitung tersebut. Guru dan orang tua tidak bisa menyamakan cara belajar setiap anak, kita harus pahami dulu seperti apa sih potensi atau kapasitas belajar yang anak miliki? Baru metode belajarnya menyesuaikan, misalnya untuk anak yang sering lupa, ia membutuhkan pengulangan mengenai informasi yang diberikan, penyampaiannya juga harus jelas dan konkret agar anak mudah memahami maksudnya.

Matematika sebenarnya mengajarkan logika berpikir. Pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari erat kaitannya dengan proses berhitung. Apa saja contohnya? Oh, ngitung lama perjalanan, ngitung kembalian belanja, ngitung luas bangunan, itu? Ternyata contoh yang tadi disebutkan baru sebagian kecil dari kegunaan matematika. Lebih dari itu, matematika melatih bagaimana berpikir secara rasional, berhitungnya bukan lagi hanya berkaitan dengan angka, tapi membayangkan bagaimana masalah bisa diselesaikan. Dengan seringnya otak distimulasi atau dilatih dengan mengerjakan persoalan matematika, otak akan terbiasa secara fleksibel berpikir dan bekerja secara rasional. Selain itu matematika sangat terkait dengan usaha yang ditampilkan seseorang. Anggap soal njelimet dari matematika itu adalah suatu masalah, beberapa orang ada yang biasanya baru lihat soalnya udah stres duluan, ada yang langsung skip cari yang gampang, ada juga yang mencoba dan salah.

Jadi, terbayang ya bagaimana pentingnya matematika di kehidupan sehari-hari? lalu bagaimana caranya agar kita tidak lagi takut atau benci dengan matematika.

Guru guru di beberapa sekolah di Indonesia dan di Negara lain mulai menerapkan konsep Fun Math. Tujuannya, agar anak dengan mudah memahami konsep berhitung dan tidak merasa sedang belajar matematika. Metode belajar ini biasanya menggunakan media yang bisa ditemukan dengan mudah di lingkungan rumah atau sekolah, ada yang menggunakan lidi, spageti, biji kacang, dan LEGO. LEGO paling digemari oleh guru khususnya ketika memilih media untuk berhitung yang menarik bagi anak. Kebanyakan anak juga tertarik bermain LEGO karena bentuk dan warnanya yang menarik. Gould (2011) menyatakan bahwa bentuk dan warna LEGO mampu menarik perhatian dan minat anak, sehingga bisa dimanfaatkan menjadi media pembelajaran. Menerapkan konsep hitung menggunakan LEGO sebenarnya cukup mudah. Alice Zimmerman, seorang guru di Los Angeles, Amerika, memanfaatkan benda benda konkret seperti spageti dan LEGO sebagai media berhitung pada anak kelas III Sekolah Dasar. Ia menerapkan konsep hitung matematika seperti pertambahan, pengurangan, pembagian, perkalian hingga pecahan.

Konsep ini juga bisa diterapkan pada anak Slow Learner atau lamban belajar atau bagi anak yang kesulitan memahami konsep hitung secara abstrak, mudah lupa, atau sering bosan atau takut pada pelajaran matematika.

Bagaimana? Terlihat mudah dan menyenangkan bukan? Intinya proses belajar harus anak hayati sebagai proses yang menyenangkan dan paham akan manfaat yang akan ia peroleh ketika belajar. Semoga anak-anak tidak takut lagi ya belajar matematika.

 

 

Sumber acuan:

Using LEGO to Build Math Concepts (Alycia Zimmerman)

http://www.scholastic.com

Kapankah Sebaiknya Anak Mulai Bersekolah?

Ayah dan ibu, seringkah kita merasa bingung menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai memasukkan anak kita ke sekolah formal (SD)? Apa saja sih tanda bahwa mereka sudah siap sekolah? Apakah ketika sudah memasuki usia 7 tahun? Atau ketika mereka sudah terlihat bosan di TK/PlayGroup?

Kesiapan anak untuk mengikuti pembelajaran formal tentu harus didukung dengan kematangan aspek-aspek psikologis yang anak miliki. Kematangan yang dimaksud adalah proses yang terkait dengan perkembangan yang dijalani sejak bayi. Untuk mencapai kematangan tersebut maka anak perlu distimulasi atau dibina melalui hal-hal yang sederhana seperti berlatih mandiri, mendorong rasa ingin tahu anak, mengenal benda di sekitar, dan lain-lain.

Ada 3 aspek yang dibutuhkan untuk mengetahui apakah anak sudah siap untuk sekolah atau belum, yaitu kematangan fisik (motorik), kematangan mental (kognitif), dan kematangan emosi. Yuk, kita bahas aspek aspek ini satu persatu…

  1. Kematangan Fisik

Aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mengendalikan gerak tubuh dan otot-otot besar maupun otot-otot kecil mereka khususnya dalam belajar. Aktifitas motorik merupakan kunci utama kemapuan belajar dasar bagi anak. Contoh ketika menulis atau menggambar, anak harus sudah mampu untuk memegang alat tulis dengan 3 jari penopang, yaitu jempol, jari telunjuk, dan jari tengah. Cara menggenggam seperti ini akan membuat anak nyaman menulis dan lebih mudah menggerakan serta mengarahkan alat tulis. Tekanan yang diberikan saat menulis juga tidak terlalu lemah dan tidak juga terlalu keras, karena tekanan yang lemah menghasilkan tulisan yang tipis dan sulit terbaca. Sebaliknya jika tekanan terlalu keras, tangan akan cepat lelah dan menghambat anak untuk menulis lebih lama.

Untuk menstimulasi cara anak dalam menggenggam dan memberi tekanan saat menulis bisa dilakukan melalui kegiatan yang mengolah motorik halus anak seperti bermain plastisin, meronce, mengupas kulit bawang dan lain-lain. Contoh lain yang juga penting dari aspek kematangan fisik adalah cara duduk. Anak harus mampu bertahan untuk duduk tegak dan tidak terlalu banyak bergoyang, hal ini berkaitan dengan kemampuan konsentrasi anak dan membiasakan diri untuk mengikuti aturan (tidak jalan-jalan di kelas misalnya.)

  1. Kematangan Mental

Aspek ini berkaitan dengan kapasitas kecerdasan yang dimiliki anak. Daya tangkap untuk memahami perintah atau instruksi akan memegang peranan penting selama ia mengikuti pembelajaran di sekolah dasar. Perlu diperhatikan bahwa daya tangkap yang anak miliki berbeda beda. Pada beberapa anak mungkin bisa dengan mudah paham maksud dari perintah yang diberikan, ada juga yang perlu diulang atau diberi contoh yang kongkrit. Hal ini yang akan menentukan pola belajar seperti apa yang efektif bagi anak. Anak juga diharapkan sudah mengerti konsep konsep belajar. Misalnya anak sudah tahu perbandingan jumlah dan ukuran. Kemampuan ini menjadi dasar bagi anak untuk belajar berhitung. Anak juga diharapkan sudah dapat memahami cerita yang di ceritakan dan bisa menceritakannya kembali dengan bahasa yang sederhana. Selain itu konsentrasi dan daya ingat juga yang menentukan keberhasilan anak dalam belajar.

  1. Kematangan emosi

Munculnya minat dan semangat untuk sekolah merupakan salah satu tanda anak memiliki kematangan emosi. Selain itu, sebelum anak bisa dikatakan siap sekolah ia harus mampu mengelola emosinya. Misalnya bagaimana ketika anak merasa malu saat pertama masuk sekolah, marah atau sedih ketika harus mengikuti aturan sekolah, masih belum memahami perbedaan bermain dan belajar. Berikut ini adalah indikator kematangan emosi yang akan mendukung kesiapan anak untuk sekolah:

–        Bisa bermain secara interaktif dengan temannya.

–         Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya.

–         Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain.

–         Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya.

–         Dapat menolong orang lain/temannya.

–         Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya.

–         Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru.

–         Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti.

–         Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit.

–         Bisa menunggu atau menahan keinginannya.

–         Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan.

Jadi ketika anak misalnya masih berusia 5 tahun namun beberapa aspek masih kurang matang sebaiknya diberi stimulasi terlebih dahulu agar nantinya anak bisa lebih siap mengikuti pembelajaran di SD. Tentunya kematangan setiap anak pun berbeda-beda. banyak faktor yang mempengaruhinya seperti temperamen, tahapan perkembangannya, pola belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, dan faktor lingkungan yang mendukungnya.

Secara umum di usia 6-7 tahun ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Jadi, bisa saja kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pemalu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut.

Itulah mengapa di beberapa sekolah dasar sering mengadakan tes kematangan, tujuannya bukan untuk seleksi tapi sebagai acuan belajar dan mengajar mereka nantinya. Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Jika secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri. Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama.

Jadi pemilihan sekolah juga akhirnya sangat penting, ayah dan ibu harus mengetahui bagaimana pola dan sistem yang berlaku di sekolah tersebut, disesuaikan dengan potensi atau hambatan yang anak miliki. Pilihlah sekolah yang memperhatikan dan berusaha menyeimbangkan semua aspek dan potensi yang dimiliki anak kita, bukan hanya kognitif agar anak bisa belajar dan mendaat hasil yang optimal.

 

 

 

 

Sumber Acuan:

Kemampuan belajar dasar (Robert E. Valett)

Matang Dulu, Masuk SD Kemudian (kancilku.com)

School Readiness (Gary W. Ladd, PhD)

Seberapa Pentingkah Melatih Anak untuk Asertif Sejak Dini?

Seiring anak tumbuh besar mereka juga semakin mengembangkan pemahaman bahwa setiap perkataan dan perilaku yang mereka tampilkan tidak hanya memiliki dampak terhadap orang lain tapi juga diri mereka sendiri. Dengan pemahaman ini anak pun belajar menyesuaikan perilaku dengan melihat contoh di lingkungan seperti orangtua, guru, atau dari buku dan televisi.

Pada umumnya melalui periode “belajar” ini anak akan mengembangkan kemampuan asertif yaitu kemampuan untuk berdiri sendiri, memastikan opini dan perasaan diri dianggap oleh orang lain tanpa menyakiti siapapun. Namun jika di periode ini rasa percaya diri anak terkikis, misalnya terlalu banyak dikritik dan dilarang oleh oleh anggota keluarga atau mengalami bullying di sekolah tanpa adanya pendampingan baik dari guru maupun orangtua, maka anak akan mengembangkan perilaku pasif atau agresif dalam berespon terhadap lingkungannya di masa yang akan datang.

early-childhood_large_1

Mengapa kemampuan asertif sangat penting ditumbuhkan sejak dini?

Ketika seorang anak berespon secara pasif terhadap lingkungannya, misalnya cenderung memendam pikiran, perasaan dan kebutuhannya dengan tujuan ingin menghindari konflik dan menyenangkan hati orang lain, maka akan berdampak pada penumpukan stress, kemarahan, dan yang paling parah depresi. Anak yang pasif dalam mengutarakan pendapatnya juga cenderung akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Sementara pada anak yang berespon secara agresif, misalnya selalu menuntut agar keinginannya didengar dan dituruti tanpa memedulikan kondisi orang lain, maka akan berdampak pada munculnya rasa bersalah dan malu. Dalam pergaulan juga mereka cenderung dijauhi.

Seperti apakah anak yang asertif?

Anak yang asertif akan mampu menyatakan pikiran, perasaan, dan kebutuhannya tanpa melukai orang lain. Kemampuan untuk membela diri dan menghormati hak orang lain ini juga berguna untuk menghindari anak dari bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Anak yang percaya dengan dirinya sendiri tidak akan memiliki kebutuhan untuk menindas anak lain, begitupun pada anak yang ditindas akan mampu mengatasi masalahnya dengan baik.

Dalam interaksi sehari-hari, anak yang asertif mampu mengatakan “tidak” ketika ia diminta melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Saat kebingungan dengan penjelasan guru di kelas, ia berani bertanya. Ketika ada hal yang mengganggunya di sekolah, ia akan dengan leluasa bercerita kepada orangtuanya di rumah.

Bagaimana cara melatih anak agar asertif?

  1. Mulailah dengan menghormati pendapat dan keinginan yang disampaikan anak anda sejak dini. Anak yang merasa dirinya dihormati dan dihargai di rumah akan melakukan hal yang serupa kepada orang lain di lingkungan sosialnya dan tidak akan membiarkan orang lain memperlakukan mereka dengan buruk.
  2. Ceritakanlah pengalaman-pengalaman anda ketika berinteraksi dengan berbagai jenis karakter orang yang anda temui selama ini dan bagaimana anda secara asertif menghadapi mereka. Sampaikan apa efek positif dari sikap asertif tersebut bagi diri anda dan orang lain serta kemungkinan negatif yang bisa terjadi seandainya anda tidak mampu bersikap asertif.
  3. Anak anda adalah pengamat yang sangat baik. Maka tampilkanlah perilaku asertif anda dalam kehidupan sehari-hari saat anda berinteraksi dengan anggota keluarga lain, rekan kerja, pegawai restoran, dan orang-orang yang anda temui di tempat umum.
  4. Lakukan roleplay bersama anak dengan menciptakan situasi buatan yang mendorong anak anda untuk asertif, bisa dengan kemampuan menyapa/mengajak berkenalan, menolak, bertanya, berpendapat, meminta tolong, menyapa, dll. Misalnya anda dapat berpura-pura menjadi teman sekelas anak anda yang menyuruhnya untuk ikut bolos sekolah.
  5. Selalu berikan pujian terhadap sekecil apa pun usaha anak anda dalam mencoba mengungkapkan pendapatnya. Hindari memarahi dan menekannya saat anak anda belum mampu bersikap asertif.

Sumber:

Williams, Chris J. (2000). Being Assertive. Overcoming Depression: A Five Areas Approach. UK: Arnold Publishers.

http://www.psychcentral.com