Resolusi Tahun Baru Bukan Sekedar Wacana

Ditulis Oleh: Prilianti Putri Lestari, S. Psi

Siapa diantara sobat RK yang membuat daftar resolusi tahun 2019? Bagaimana progressnya saat ini?

Selamat, bagi sobat RK yang bisa mencapai resolusinya! Untuk yang belum, kamu ngga sendiri kok, karena menurut survey dari Miller dan Marlatt (1998) dari 264 subjek yang mengisi kuesioner, sekitar 75% yang membuat resolusi gagal pada upaya pertama yang mereka lakukan dan kebanyakan orang sekitar 67% membuat lebih dari satu resolusi.

Kalau begitu, sebenarnya apa saja yang menentukan kesuksesan seseorang untuk mencapai resolusi-resolusinya? Menurut penelitian ditemukan bahwa orang-orang yang percaya bahwa self-control adalah sesuatu yang dinamis, dapat berubah, dan tidak terbatas (misalnya, “saya bisa berhenti merokok, yang perlu saya lakukan adalah menanamkan hal itu dalam pikiran saya”) cenderung dapat mencapai resolusinya. Sedangkan pada orang-orang yang percaya bahwa kita dilahirkan dengan self-control yang terbatas dan tidak dapat diubah (misalnya, “saya tidak bisa berhenti makan coklat ini, saya punya gen coklat yang diturunkan oleh ibu saya!) serta mereka yang mempunyai keyakinan kecil dalam dirinya pada kemampuan mereka sendiri untuk melaksanakan tujuan mereka (yang dalam psikologi disebut sebagai self-efficacy yang rendah) menunjukan bahwa mereka tidak dapat memperoleh tujuan resolusi tahun baru mereka.

Oleh karena itu, individu yang percaya pada kemampuan sendiri (self-efficacy yang tinggi) umumnya berkorelasi dengan kemungkinan yang lebih besar untuk mencapai tujuan. Sekarang kita tahu bahwa keyakinan pada diri sendiri adalah kunci yang bisa kita lakukan untuk mencapai resolusi. Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat resolusi menjadi lebih mungkin dicapai?

1. Pilih tujuan yang spesifik dan realistis
Di tiap tahun, banyak orang dewasa yang memutuskan untuk menurunkan berat badan di tahun depan. Daripada memilih tujuan yang ambigu, fokuslah pada sesuatu yang lebih konkret yang secara realistis dapat dilakukan oleh sobat RK. Misalnya, sobat RK berkomitmen untuk menurukan berat badan sebanyak 5 kg atau melakukan mini-marathon untuk membiasakan diri berolahraga. Memilih tujuan yang konkret dan bisa dicapai memberi sobat RK kesempatan untuk merencanakan bagaimana sobat RK akan mencapai tujuan dalam tahun tersebut.

2. Pilih hanya satu resolusi
Richard Wiseman, professor psikologi di Hertfordshire University, menyarankan untuk memilih satu tujuan dan fokuskan energimu untuk mencapainya. Memutuskan terlalu banyak resolusi sekaligus dapat menjadi hal yang sulit karena membangun pola perilaku baru membutuhkan waktu. Memfokuskan upaya pada satu tujuan spesifik membuat resolusi menjadi lebih dapat dicapai.

3. Jangan menunda
Rencana adalah bagian penting dalam mencapai berbagai tujuan. Para ahli menyarankan untuk meluangkan waktu dalam memikirkan bagaimana kita akan mengatasi perubahan perilaku dalam mencapai resolusi. Memiliki rencana secara tertulis dan detail dapat memudahkan kita. Jika kita memulai untuk mencapai tujuan tanpa adanya rencana, kita mungkin akan mudah menyerah ketika dihadapkan dengan hambatan dan kesulitan. Dengan mengetahui apa yang kita inginkan untuk dicapai dan kesulitan yang mungkin akan dihadapi, kita akan lebih siap untuk tetap berpegang pada resolusi dan mengatasi potensi dari hambatan-hambatan.

4. Mulailah dengan langkah kecil
Mengambil langkah terlalu banyak adalah alasan umum mengapa begitu banyak resolusi tahun baru yang gagal. Mengurangi kalori secara drastis, berolahraga di gym secara berlebihan, atau mengubah perilaku normal secara radikal adalah cara ampuh untuk menggagalkan rencana. Akan lebih baik bagi kita untuk fokus mengambil langkah kecil yang pada akhirnya akan membantu kita mencapai tujuan yang lebih besar. Misalnya, jika sobat RK ingin membiasakan makan makanan yang lebih sehat, mulailah untuk mengganti beberapa junk food favoritmu dengan makanan yang lebih bernutrisi.

5. Hindari pengulangan kegagalan masa lalu
Strategi lain untuk menjaga resolusi tahun baru adalah dengan tidak membuat resolusi yang sama persis di tiap tahun, karena jika pernah mencoba dan gagal, hal ini dapat berpengaruh pada kepercayaan diri mereka. Jika sobat RK memilih untuk tetap meraih tujuan yang sama dengan yang pernah sobat RK coba sebelumnya, luangkan waktu untuk mengevaluasi hasil sebelumnya. Startegi mana yang paling efektif? Mana yang paling tidak efektif? Apa yang menghambat sobat RK menjaga resolusi dalam beberapa tahun terakhir? Dengan mengubah pendekatan, sobat RK akan lebih cenderung melihat hasil nyata berikutnya.

6. Ingat bahwa perubahan butuh proses

Kebiasaan tidak sehat yang mungkin sobat RK coba ubah butuh waktu bertahun-tahun untuk berkembang, jadi tidak mungkin rasanya kalo kita berharap untuk mengubahnya hanya dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Mungkin butuh waktu lebih lama daripada yang kita harapkan untuk mencapai tujuan, tetapi ingat bahwa tujuan ini bukan perlombaan untuk mencapai tujuan. Setelah kita membuat komitmen untuk mengubah perilaku, itu adalah sesuatu yang akan terus kita kerjakan selama sisa hidup kita.

7. Cari dukungan dari teman dan keluarga
Mungkin kita pernah mendengar nasihat berkali-kali, namun percayalah bahwa itu karena buddy system berfungsi. Mempunyai support system yang solid dapat membantumu untuk tetap termotivasi. Jelaskan tujuanmu pada teman terdekat atau keluarga dan minta bantuan mereka untuk mencapainya.
8. Perbarui motivasimu
Selama hari-hari pertama menjalankan resolusi tahun baru, kita mungkin akan merasa percaya diri dan termotivasi untk mencapai tujuan kita. Karena kita belum benar-benar menghadapi ketidaknyamanan atau godaan yang terkait dengan mengubah perilaku kita, membuat perubahan ini mungkin tampak terlalu mudah. Setelah berhadapan dengan kenyataan menyeret diri kita ke gym pada pukul 6 pagi atau menggertakkan gigi karena sakit kepala akibat penarikan nikotin, motivasi kita untuk menjaga resolusi tahun baru mungkin akan mulai berkurang. Ketika kita menghadapi saat-saat seperti itu, ingatkan diri kita mengapa kita melakukan ini. Apa yang harus kita dapatkan dengan mencapai tujuan tersebut? Temukan sumber inspirasi yang akan
membuat kita terus berjalan ketika masa-masa sulit.

9. Terus bekerja pada tujuanmu
Pada bulan Februari, banyak orang telah kehilangan percikan motivasi awal yang mereka rasakan setelah membuat resolusi tahun baru mereka. Biarkan inspirasi itu tetap hidup dengan terus bekerja pada tujuan, bahkan setelah menghadapi kemunduran. Jika pendekatan kita saat ini tidak berhasil, evaluasi ulang strategi sebelumnya dan kembangkan rencana baru. Dengan bertahan dan bekerja pada tujuan kita sepanjang tahun, kita bisa menjadi salah satu dari sedikit yang bisa mengatakan bahwa kita benar-benar menjaga resolusi tahun baru.

10. Jangan biarkan hambatan kecil menurunkan semangatmu
Menghadapi kemunduran adalah salah satu alasan paling umum mengapa orang menyerah pada resolusi tahun baru mereka. Jika sobat RK tiba-tiba kembali melakukan kebiasaan buruk, jangan menganggapnya sebagai kegagalan. Jalan menuju tujuan kita tidak lurus, dan akan selalu ada tantangan. Sebaliknya, melihat kekambuhan sebagai kesempatan belajar. Jika kita membuat jurnal resolusi, tulis informasi penting tentang kapan kekambuhan terjadi dan apa yang mungkin memicu itu. Dengan memahami tantangan yang sobat RK hadapi maka akan lebih siap untuk menghadapinya di masa depan.

References
Cherry, K. (2019, August 9). 10 Great Tips for Keeping Your Resolutions This Year. Retrieved from
verywellmind: https://www.verywellmind.com/how-to-keep-your-new-years-resolutions-
2795719
John M. Grohol, P. (2018, July 8). The Psychology of New Year's Resolutions. Retrieved from
PsychCentral: https://psychcentral.com/blog/the-psychology-of-new-years-resolutions/

Mempersiapkan Tahun Baru yang Lebih Baik

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

Biasanya, untuk mempersiapkan tahun baru yang lebih baik, kita merenungkan tahun
sebelumnya dan berpikir tentang apa yang ingin kita lakukan dengan kesempatan peluang yang baru. Banyak orang menetapkan resolusi Tahun Baru untuk berolahraga, makan lebih sehat, lebih ramah, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan berganti pekerjaan dan sebagainya. Sayangnya untuk sebagian besar, hal tersebut tidak cenderung menetap, resolusi yang sudah dibuat bisa dilupakan dan kebiasaan lama serta pengalaman yang lalu masih dilakukan.

Perilaku dan perubahan hidup adalah mungkin terjadi, tetapi butuh komitmen dan fokus, bukan hanya kalimat keinginan yang dituliskan di selembar kertas atau direkam dalam telepon genggam kita. Untuk benar-benar membuat perubahan yang kita inginkan, kita harus mengubah cara berpikir kita tentang perubahan yang perlu kita lakukan.

1. Mulailah dengan menentukan hasil atau outcome yang kita inginkan
Kebanyakan orang tahu apa yang tidak mereka inginkan, tetapi mereka jarang
meluangkan waktu untuk mempertimbangkan apa yang mereka inginkan. Dan itu bisa
menjadi pernyataan luas. Contohnya: Saya ingin menurunkan berat badan;
pernyataan tersebut terlalu luas dan tidak jelas. Pernyataan hasil yang baik mencakup
tindakan kuantitatif dan kualitatif. Berapa berat yang ingin Kita turunkan? Kapan?
Kita ingin ukuran tertentu? Adakah hal yang akan Kita lakukan atau tidak akan
lakukan untuk menurunkan berat badan (makan selada setiap hari selama sebulan
jarang berhasil, misalnya)? Apakah Kita ingin menurunkan berat badan dengan
makan lebih baik, atau ingin berolahraga juga? Semakin lengkap Kita dapat
melukiskan gambaran hasil sukses Kita, dengan sangat detail, semakin baik pikiran
Kita untuk mengarahkan pada apa yang Kita inginkan.

2. Mencari tahu apa yang menghalangi kita atau apa yang mungkin menghalangi
kita untuk mencapai kesuksesan
Di sinilah Kita mengidentifikasi hambatan Kita untuk sukses. Tidak dapat
menurunkan berat badan karena Kita tidak punya waktu untuk berolahraga? Kita
bepergian terlalu banyak untuk bekerja? Kita sedang menjalani pengobatan yang

menambah berat badan? Mungkin ada beberapa faktor yang menghalangi Kita, jika
tidak, Kita akan mencapai tujuan Kita sejak lama. Penting untuk mengidentifikasi
hambatan dan kemudian mengkategorikannya agar dapat merencanakan lebih lanjut
secara efektif.

3. Mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan kita
Penting untuk mengenali di mana hal yang mungkin menjadi hambatan Kita sendiri,
tetapi juga di mana Kita membawa keterampilan dan keterampilan khusus untuk
membantu Kita melakukan perubahan. Perhatikan baik-baik apa yang dapat Kita
lakukan untuk memungkinkan diri Kita berhasil dalam usaha yang Kita lakukan.
Lihatlah juga orang-orang di sekitar Kita, orang-orang dalam hidup Kita yang peduli
pada Kita dan dapat mendukung upaya Kita menuju kesuksesan. Apakah ada orang
yang dapat Kita manfaatkan untuk membuat rencana? Adakah orang yang bisa
menjadi penyemangat atau sumber informasi Kita?

4. Pertimbangkan juga langkah alternative
Terkadang kita berpikir seolah-olah hanya ada satu cara untuk mencapai tujuan Kita.
Tapi ternyata dibalik itu banyak sekali opsi alternative yang bisa kita. Bisa dengan
memulai bertanya pada diri kita sendiri mengenai apakah itu yang paling efisien
waktu, paling murah, paling menarik, paling cocok untuk kepribadian Kita, dan lain-
lain.
5. rencana yang jelas dari langkah selanjutnya
Hidup kita adalah campur tangan kita juga, Kita ingin tetap terbuka terhadap ide dan
opsi baru; ya, Kita ingin pergi ke mana Semesta membawa Kita tetapi Kita masih
perlu memiliki rencana tindakan jika Kita ingin
(a) mencapai hasil yang diinginkan
(b) mengatasi hambatan
(c) meningkatkan faktor manusia dan Stakeholder
(d) menerapkan alternatif yang tepat untuk Kita.
Tentukan apa, siapa, kapan, bagaimana, dan berapa banyak, dan kemudian ambil
langkah untuk bergerak maju menuju tujuan Kita.

Apa pun yang Kita lakukan, pastikan untuk membuat perubahan KITA menjadi
kenyataan di tahun baru ini.

Sumber:

Flaxington, B. D. (2019, December 20). Preparing for a New Year. Retrieved December 22,
2019, from Psychology today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/understand-
other-people/201912/preparing-new-year

Psikologi Forensik

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

Psikologi Forensik
Bidang yang berkembang pesat ini menyangkut penerapan psikologi dalam konteks
hukum. Tujuan utamanya adalah pengumpulan, pemeriksaan, dan penyajian bukti
untuk tujuan peradilan, dan perawatan dan rehabilitasi para penjahat begitu mereka
memasuki sistem penjara. Psikolog menjadi semakin berpengaruh dalam proses
pengadilan di seluruh dunia, membawa keahlian mereka ke berbagai kasus pidana,
keluarga dan sipil.

Di kepolisian
Kontribusi dunia nyata dari psikolog forensik yang membantu melacak penjahat
kurang dramatis daripada yang muncul di TV, tetapi mereka telah membantu
membuka pintu bagi semacam psikologi investigasi yang melayani banyak aspek
dari proses investigasi kriminal.
• Memilih kandidat polisi
Psikolog melakukan evaluasi terhadap calon polisi untuk melihat apakah
mereka memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Mereka
menggunakan tes psikologi dan wawancara dan dapat menawarkan
rekomendasi.
• Mengelola sistem informasi
Mereka membantu membangun sistem yang efektif untuk mengumpulkan,
mengorganisir, dan memahami sejumlah besar informasi yang merupakan
dokumen yang terkait dengan kasus pidana.
• Melakukan wawancara
Mereka menggunakan pengetahuan ahli mereka tentang pikiran manusia
dan pola perilaku untuk memperbaiki proses wawancara. Mereka dapat
mendeteksi ketika orang berbohong atau menyembunyikan kebenaran
dengan menganalisis dan
menafsirkan kata-kata, ekspresi wajah, intonasi, dan bahasa tubuh.
• Menghubungkan kejahatan dengan tersangka
Analisis mereka terhadap bukti polisi dapat digunakan untuk mengidentifikasi
pola yang menghubungkan pelanggaran dengan penjahat.

Di ruang sidang
Psikolog forensik dapat menjadi bantuan yang sangat berharga di ruang sidang.
Mereka dapat membantu proses hukum dalam sejumlah cara di pengadilan pidana
dan perdata.
• Memberikan kesaksian ahli
Psikolog dapat melestarikan tidak hanya fakta-fakta kasus di pengadilan,
tetapi juga pendapat dan interpretasi khusus dari fakta-fakta tersebut.
Pendapat semacam itu bisa sangat memengaruhi putusan.

• Memberikan panduan untuk pengacara
Mereka dapat memberi nasihat kepada pengacara di setiap tahap proses
peradilan, mulai dari membantu mereka menyiapkan kasus untuk pengadilan
hingga memberi nasihat tentang pemilihan juri dan jalur pemeriksaan untuk
saksi dan pembela.
• Menawarkan pendapat kepada hakim dan juri
Mereka membantu hakim dan juri membuat keputusan terdidik dengan
menawarkan pendapat ahli mereka tentang perilaku manusia, dan dengan
menafsirkan perilaku terdakwa di seluruh proses hukum.

Dalam sistem penjara
Penjara idealnya adalah fasilitas pemasyarakatan di mana pelanggar direhabilitasi.
Namun, pada kenyataannya mereka adalah lingkungan yang keras dan tidak alami
yang menghadirkan banyak tantangan bagi psikolog yang bekerja di sana. Peran
mereka adalah untuk membantu merehabilitasi para pelaku dan membantu staf
dalam persiapan file kasus dan laporan.
• Bekerja dengan pelaku tindak pidana
Psikolog bertujuan untuk mengidentifikasi aspek kehidupan pelaku yang
paling membutuhkan perawatan untuk mengurangi risiko kekambuhan
mereka di masa depan. Mereka menyediakan campuran sesi terapi kelompok
dan konseling satu-satu. Perawatan juga dapat melibatkan mengurangi efek
buruk dari berada di penjara, di mana trauma masa kanak-kanak sering
diaktifkan kembali, perasaan tidak manusiawi merajalela, dan
ketidakpercayaan di antara tahanan sering menyebabkan kekerasan.
• Bekerja dengan staf
Mereka terus memberi tahu otoritas penjara tentang perkembangan pasien
mereka, dan berkomunikasi langsung dengan dewan pembebasan bersyarat.
Penilaian mereka memainkan peran penting dalam apakah pembebasan
bersyarat diberikan.

 

Jika Anak Mengalami Bullying, Ini Yang Bisa Orangtua Lakukan…

Ditulis Oleh: Fadila Nisa Ulhasanah, M. Psi., Psikolog

Saat ini sudah marak kasus bullying pada anak dan mereka terlalu muda untuk mengerti mengapa hal tersebut terjadi. Sejumlah peneliti sudah mempelajari bullying selama bertahun-tahun dan menemukan beberapa jenis bully.
Nah ini dia 6 jenis bullying yang kerap ditemukan di sekolah (Very Well Family) dan harus diketahui orang tua:
1. Bullying Fisik, merupakan bentuk intimidasi paling jelas. Contohnya: menendang, memukul, menampar, mendorong, dan serangn fisik lainnya.
2. Bullying Verbal, menggunakan kata-kata pernyataan dan memanggil nama denngan cara yang kurang pantas untuk mengintimidasi korban. Tujuannya untuk meremehkan,
merendahkan, dan melukai orang lain.
3. Agresi Relasional, merupakan tipe yang berbahaya dan jarang diperhatikan oleh guru dan orang tua. Agresi relasional erat dengan tindakan memanipulasi, untuk menyakiti teman dengan menyabotase status sosialnya. Contoh: mengasingkan orang lain dari kelompoknya, menyebarkan isu, memanipulasi situasi, dan merusak kepercayaan. Tujuannya, meningkatkan kedudukan sosial mereka sendiri dengan mengintimidasi orang lain.
4. Penindasan Sekual, terdiri dari tindakan berulang, berbahaya, dan memalukan yang
menargetkan seseorang secara seksual. Contohnya: pemanggilan nama berbau seksual,
komentar kasar terkait seksual, gerakan vulgar, sentuhan, proposisi seksual, dan materi
pornografi.
5. Cyberbullying, melecehkan, mengancam, mempermalukan, atau menargetkan orang lain melalui penggunaan internet, smartphone, atay teknologi lainnya.
6. Bullying Prasangka, dapat mencakup semua jenis penindasan lain, termasuk penindasan di dunia maya, verbal, relasional, fisik, sampai seksual, ketika intimidasi terjadi, anak menargetkan orang lain yang berbeda dari mereka dan memilihnya.
Pada masa anak sampai remaja, penerimaan lingkungan atau teman sebaya menjadi hal yang sangat penting dan mempengaruhi pembentukan self esteem. Anak yang mengalami bullying punya kecenderungan memiliki self esteem rendah sehingga membuat penilaian yang salah dan negatif mengenai dirinya. Penilaian yang dibentuk dapat berupa “Saya tidak cukup baik”, “Saya tidak berharga”, “Saya selalu salah”, “Saya tidak diterima”, dll. Pengalaman dan penilaian tersebut akan tertanam dalam memori mereka. Penilaian ini pun dapan mempengaruhi pembentukan identitas anak kelak.
Sebagai orang tua, kita harus tetap berada dekat mereka dan mendampinginya. Jika tidak, terkadang akan sulit untuk menemukan hal yang berubah dalam hidup anak kita.

Adapun tanda sesuatu yang keliru pada anak:
– Perilaku anak tiba-tiba berubah (misal, hilang minat terhadap hal yang disukai).
– Anak mulai menarik dirri dari lingkungan sosial

– Anak mulai menampakkan hasil belajar yang kurang baik di sekolah, yang diakibatkan mereka kurang mampu berkonsentrasi terhadap tugas dan proses belajar.
– Anak mengalami mood swing (perasaan yang mudah berubah)

Apa yang harus dilakukan orang tua saat mendapati tanda tersebut?
Saat terjadi bullying, kita sebagai orang tua sering melakukan defens dan kadang ikut berperilaku kekanank-kanakan seperti berkata “Nanti ibu kasih pelajaran ke temen kamu” atau “Ga boleh ada orang yang menyakiti kamu”. Sebenarnya hal ini merupakan reaksi natural, namun hal tersebut tidak membantu anak kita.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anaknya, yaitu:
– Pertama dan merupakan respon paling penting yaitu segeralah berbicara dengan anakmu dari hati ke hati dalam kondisi tenang.
– Jangan berlebihan dan berusahalah untuk menyembunyikan emosi dari anakmu.
– Katakan: “Ibu/Ayah tahu kamu terlihat sedih, apa ada sesuatu yang terjadi?”
Cara anak merespon, tergantung pada seperti apa hubungan yang terbentuk antara orang tua- anak. Apakah terbuka dan sering membahas mengenai perasaan dan hal-hal lainnya? Apakah jarang membicarakan sesuatu yang personal? Yang terpenting adalah anak akan memahami dan mengerti dalam momen tersebut.
– Beri penguatan terhadap anak, bahwa mereka mampu melewati hal tersebut.
– Biarkan anak tahu bahwa orang tua ada dan ingin membantu mereka.
– Hubungi guru kelas untuk mengerti situasi mereka di sekolah.
– Jika diharuskan bertindak lebih lanjut, dan memang jelas bahwa anak kita mendapat bullying dari teman kelasnya, jangan ditunda dan lakukan.
– Jujur dan biarkan anak tahu apa yang akan dilakukan orang tuanya. Jika kita menutupi dan bertindak di belakang, mungkin akan membuat anak akan lebih tertutup dan kurang berani lagi mengungkapkan sesuatu pada orang tuanya.
– Jika orang tua merasa bersalah terhadap situasi tersebut, hal ini akan memperkuat perasaan negatif anak. Berusahalah untuk bertindak objektif dan simpan frustasimu sendiri untuk didiskusikan dengan pasangan.
– Libatkan orang tua, guru, teman kelas, karena situasi tersebut hanya bisa diselesaikan saat semua terlibat untuk mengubah perilaku.

 

Sumber:
Coopersmith, S. (1967). The Antecedent Of Self Esteem. San Fransisco : Freman Press
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-danish-way/201912/is-your-child-being-bullied-heres-what-you-
can-do
https://www.haibunda.com/parenting/20190420171638-61-38740/6-jenis-bullying-pada-anak-yangperlu-orang-
tua-tahu/3

Mengisi Baterai Jiwamu

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

Hari kesehatan mental sedunia yang diperingati pada tanggal 10 Oktober 2019 lalu mengusung tema pencegahan bunuh diri. Kesadaran atas kesehatan mental ini pun mulai meningkat terlebih setelah muncul pemberitaan−pemberitaan mengenai meninggalnya beberapa idol korea, co−pilot wings air, satpam OJK karena bunuh diri atau mengenai kasus ibu yang membunuh anak kembarnya.

Kesadaran ini kemudian menggerakkan banyak pihak mulai dari pemerintah, sebagai contoh di Jawa Barat yang membuka layanan Crisis Center di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) provinsi Jabar Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dengan hotline service di nomor 022-27012 119. Layanan ini merupakan respon terhadap adanya persoalan masalah kejiwaan yang terjadi pada masyarakat. Misalnya kebutuhan cepat tanggap terhadap
penderita dengan risiko bunuh diri, yang sangat diperlukan agar penderita dapat dicegah dari tindakan bunuh diri dan segera mendapat pendampingan secara intensif (Pikiran Rakyat, 2019).

Selain pemerintah, masyarakat pun mulai menyadari pentingnya kesehatan mental dengan membuat kampanye di media sosial mereka yang menyuarakan pandangan mereka tentang pencegahan bunuh diri. Muncul tagar LetsTalk untuk mengajak siapa pun yang merasa membutuhkan teman bicara mengenai segala hal yang mengganggu perasaannya, video dokumenter “Kamu Juga Manusia”, “40SecondsOfAction”, ”PejuangKesehatanMental”, dll.

Salah satu gerakan yang menarik perhatian saya adalah cara unik dari musisi Kunto Aji dengan meluncurkan klip musik “Pilu Membiru Experience”. Ia menampilkan pendengar setianya di klip tersebut untuk berbagi cerita atau pemaknaan mereka terhadap lagu Pilu Membiru dan Kunto Aji menyanyikan lagu tersebut langsung di hadapan pendengarnya. Kebayang pengalamannya akan terasa bermakna sekali, campur aduk antara masih sedih mengingat lagi ingatan yang ga menyenangkan, terus bahagia ketemu idolanya merasa bersyukur juga mendapatkan kesempatan seperti ini.

Saya pribadi merinding melihatnya…(disamping karena saya juga kebetulan ngefans dari jaman beliau masih jadi finalis Indonesian Idol haha). Apa yang Kunto Aji lakukan udah cukup bisa memberikan dampak terapeutik buat fansnya tersebut. Ya, semua orang sebenarnya bisa melakukan hal yang sama. Bahkan diri sendiri pun
bisa. Malah akan lebih efektif lho… Salah satu caranya dengan mengecek kondisi jiwa kita dan mengisi daya atau “baterai”nya agar bisa kembali berfungsi.

Beberapa penelitian psikologi membuktikan bahwa penurunan percobaan bunuh diri bisa dilakukan ketika individu tersebut menyadari kondisi emosi yang dialami, mulai menerima kondisi tersebut dan menggali apa yang ia butuhkan untuk memudahkan ia merasa lebih nyaman dengan kondisinya tersebut.

Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan holistic mengenalkan konsep Geming, Hening, Bening untuk membantu individu melakukan Self Healing. Program “Geming, Hening, dan Bening” adalah sebuah undangan untuk berhenti dan meniti ke dalam diri. Sebuah kesempatan bagi hati untuk bisa rileks sepenuhnya, hingga kita semua kembali mampu merasakan spektrum perasaan dan emosi seluas mungkin—dari mulai tangis hingga tawa, murka hingga haru. Tanpa perlu takut dirusak olehnya.

Kita belajar hanya mengamati dan merasakan (Reza Gunawan, 2009). Reza juga mengusulkan 2 strategi praktis dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan pada individu yaitu:
1. Bernapas dengan sadar.
Berhentilah sejenak, dengan penuh perhatian, hiruplah napas dan rasakan penuh ke dalam diri.  Setelah itu, dengan penuh perhatian, embuskan dengan lepas.  Rasakan pikiran, perasaan, dan tubuh Anda.  Apakah menjadi lebih nyaman, lapang, dan tenang?  Lakukan lagi beberapa kali tanpa berupaya menjadi positif.  Bernapas saja dengan sadar, penuh perhatian.

Cara kerja teknik ini sangat sederhana: ketika Anda bernapas dengan sadar dan sengaja, otomatis Anda memperlambat bahkan terkadang menghentikan celoteh pikiran yang biasanya begitu deras dan memenuhi kesadaran Anda.  Ketika pikiran mulai melambat dan rileks, perhatian Anda mulai lebih mengarah pada realitas di sini-kini, bukan pada masa lalu (kenangan, rasa sesal, trauma), dan bukan juga pada masa depan (kekuatiran, ketakutan dan antisipasi). Bernapas dengan sadar, jika dilakukan secara
teratur, terutama di saat-saat sibuk penuh ketergesaan, akan membantu kita untuk mengembalikan kesadaran yang jernih.

2. Izinkan diri Anda memiliki rasa dan pikiran apapun
Biarkan dan izinkan diri untuk berpikir negatif ketika sedang mengalami pikiran negatif.  Biarkan dan izinkan diri untuk berpikir positif ketika sedang mengalami pikiran positif.  Ini artinya Anda memberikan izin untuk hidup secara alamiah, apa adanya.  Toh kita sudah mengerti, bahwa baik positif atau negatif, pikiran tersebut tidak mungkin awet selamanya, dan pada waktunya pasti akan berubah juga.

Ada sebuah prinsip yang yang begitu sederhana namun begitu signifikan tentang segala urusan hati. Saya menyebutnya sebagai Prinsip Paradoks Rasa & Pikiran, yaitu: “Apa pun pikiran dan rasa yang kita tolak, maka dia pun justru semakin awet”, dan “Apa pun pikiran dan rasa yang kita izinkan, justru dia akan semakin cepat tuntas.”

Stres memang bagian alami dari hidup.  Kalau kita mau memahaminya secara lebih jernih, kita bisa bergerak menuju mengizinkan hidup mengalir alami, apa adanya. Tentunya kita masih boleh melakukan upaya mengatasi masalah pada aspek yang memang di bawah kendali kita, namun diikuti dengan kesadaran untuk melepaskan aspek yang memang bukan di bawah kendali kita.  Dengan memahami ini,
kita lebih mampu hidup selaras dengan alam.

Lalu bagaimana jika orang terdekat kita yang sedang mengalami kondisi tidak mengenakkan, bahkan hingga memiliki keinginan untuk bunuh diri? Apa yang harus kita lakukan? Terkadang banyak yang mengungkapkan bingung ketika berhadapan dengan individu yang memiliki pemikiran ingin bunuh diri.

Beberapa cara berikut bisa menjadi pilihan anda dalam menghadapi orang terdekat yang sedang berada di kondisi tidak mengenakkan, yaitu:

1. Dekati
Coba dekati dan tanyakan. Bertanyalah mengenai pemikiran bunuh diri atau pemikiran yang menganggu, masalah apa yang sedang dihadapi dan pertanyaan lain yang tidak membuat mereka tersudut.

2. Dengarkan
Berikan waktu mereka untuk berbicara, menumpahkan isi hati atau pemikirannya. Berikan ruang bagi mereka untuk merasa didengar. Berusahalah untuk tidak menilai berat ringannya masalah yang mereka hadapi apalagi membandingkan dengan permasalahan orang lain. Pada dasarnya mereka betul−betul ingin dimengerti.\

3. Berikan rasa aman
Di kondisi tidak mengenakkan, mereka sebenarnya butuh ditemani, usahakan kita bisa hadir dan menemani. Jangan biarkan mereka merasa sendiri. Beberapa individu memang tidak bisa langsung mengungkapkan permasalahan atau pemikiran yang sedang dihadapi, maka cukuplah kita hadir secara fisik dan emosional agar mereka merasa aman.

4. Jangan menantang
Banyak kejadian bunuh diri saat ini karena mereka ditantang untuk melakukannya. Kadang kala karena penilaian kita terhadap orang lain atau ketika menilai permasalahan yang mereka hadapi sepele seringkali kita menantang mereka karena kita tau mereka tidak berani melakukannya. Hal tersebut justru membuat mereka merasa tersudut dan menilai mungkin pemikiran mereka atau keinginan bunuh
diri adalah hal yang tepat bagi mereka.

5. Cari bantuan professional
Kita sebagai individu pun memiliki batasan. Ketika kita merasa tidak mampu menghadapi mereka, ajak lah mereka untuk mendapatkan bantuan professional yang sesuai.

Kondisi tidak mengenakkan, pemikiran negatif, trauma, lingkungan yang tidak nyaman pasti ada, sering kita temui dan mungkin akan selalu mengganggu. Namun, perlahan kita bisa menyadari dan menerimanya menjadi suatu hal yang netral. Bisa menjadi hal yang buruk, bisa juga nanti justru menjadi hal yang menyenangkan, tenanglah.. seperti lirik lagu Rehat dari Kunto Aji..

Yang dicari, hilang
Yang dikejar, lari
Yang ditunggu
Yang diharap
Biarkanlah semesta bekerja
Untukmu

Tenangkan hati
Semua ini bukan salahmu
Jangan berhenti
Yang kau takutkan takkan terjadi

Selamat diam sejenak hai pejuang kesehatan mental
Selamat mengisi “baterai” jiwamu

Sumber:
http://www.rezagunawan.com/2009/01/geming-hening-bening/#more-108
http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/#more-211

Video Kampanye Mental Health Promotion and suicide prevention Jabar Bergerak

Album Mantra Mantra Kunto Aji
Pilu Membiru Experience https://www.youtube.com/watch?v=1JskEYFuUpA

Health Communication in Relationship (We both talk, listen and respect)

Ditulis Oleh: Tsana Ulfah Ullaya, S. Psi

Komunikasi, bukanlah menjadi suatu hal baru bagi kita. Berbicara mengenai komunikasi menjadi sangat luas cakupannya karena setiap domain dalam kehidupan kita tidak terlepas dari komunikasi. Istilah komunikasi sendiri berasal dari bahasa Latin
“communis” yang artinya “umum”. Sehingga, berkomunikasi dapat diartikan sebagai
“mengumumkan”, atau “berbagi”.

Dalam jurnal “Communication Cycle: Definition, Process, Models and Examples” yang ditulis oleh Prof. John Velentzas beserta DR. Georgia Broni (2014), komunikasi merupakan macam tindakan yang diberikan atau diterima individu dari informasi yang disampaikan orang lain. Bisa tentang kebutuhan, keinginan, pengetahuan, atau keadaan.
Seiring berjalannya waktu, individu akan dihadapkan dengan berbagai macam hal,
baik itu situasi, orang lain, tuntutan serta tanggung jawab yang harus dipenuhinya. Semua itu tentunya tidak terlepas dari komunikasi.

Komunikasi dapat dilakukan bersama anggota keluarga, teman, kolega, atau pun pasangan. Berbicara mengenai pasangan (kekasih/suami/istri) menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Ini menjadi penting, sebab suatu kondisi hubungan dapat mempengaruhi kondisi individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pernahkan kalian melihat ada teman yang baru bertengkar atau berpisah dengan pasangannya kemudian ia menjadi murung, pemarah, hilang motivasi bahkan sakit secara fisik maupun psikis? Atau bisa juga pasangan suami istri yang bertengkar
dan memberikan dampak negatif bagi anak-anak mereka, pekerjaan mereka, dan lain
sebagainya. Jawabannya mungkin pernah, sering atau bahkan kita sendiri yang mengalami. Lalu, bagaimana mengantisipasinya? Komunikasikan diri kita. Bicarakanlah tentang pikiran dan perasaan diri kita sendiri, begitu pun pasangan kita dapat mengutarakan mengenai dirinya sendiri. Komunikasi memegang peran yang sangat penting bagi kesehatan dan keharmonisan suatu hubungan. Komunikasi yang sehat dapat dicapai dengan;

Mengomunikasikan Diri Sendiri
Fokus pada apa yang dapat kita katakan tentang diri kita sendiri secara langsung,
bukan sesuatu yang sudah terjadi kemarin atau minggu lalu. Bukan tentang pendidikan,pekerjaan, anak-anak, atau pasangan kita, tetapi benar-benar tentang diri kita saat ini. Akui jika kita memiliki perasaan negatif atau ada pemikiran menyimpang. Jangan menganggap hal tersebut tidak penting, immature atau tidak pantas. Dengan mengutarakan diri kita sendiri, dapat membuat kita menjadi individu yang lebih terbuka. Sampaikan keinginan kita. Bukan sekedar keinginan yang mudah (Mis, “Saya ingin membeli baju baru”), tetapi keinginan pribadi yang datang dari lubuk hati terdalam, di mana kita merasa hal itu sangat rentan (Misal:
“Saya ingin kita lebih dekat dan saling mendengarkan”). Semakin kita dapat berkomunikasi pada tingkat ini, terkoneksi dengan diri sendiri, semakin kita menjadi diri kita yang sebenarnya.

Manfaat Mengomunikasikan Diri Sendiri
Berfokus pada diri sendiri menurunkan indikasi saling menyalahkan. Cukup
menghapus kata “Kamu” dari kalimat dan memperkenalkan lebih banyak “Aku”, akan
mengubah nada kita dari menuduh dan mengkritisi, menjadi reflektif diri. Hal ini dapat
membantu kita dan pasangan merasa lebih terbuka, adanya kesetaraan dalam hubungan (tidak ada yang dominan menasihati atau mengkritisi pasangan), menumbuhkan kasih sayang, cinta dan empati satu sama lain. Saat kita dan pasangan meluangkan waktu, saling berbicara, saling mendengarkan mengenai diri kita masing-masing, kita sebagai pendengar akan merasakan perasaan pasangan kita dan memahami pengalamannya. Begitu pun sebaliknya.

Mendengarkan Pasangan
Saat berbicara, penting untuk diingat bahwa kita tidak tahu apa yang benar-benar
dipikirkan dan dirasakan pasangan kita. Kita mungkin hanya dapat berasumsi dengan melihat ekspresi wajah pasangan yang terlihat sedih atau marah. Tetapi, sampai kita benar-benar mendengarkan apa yang disampaikannya, kita mungkin akan menyadari bahwa ternyata kita tidak tahu apa-apa tentang keadaanya. Jadi, jangan langsung berasumsi dan menyimpulkan.

Dengarkan dengan penuh minat dan dengan hati kita ketika pasangan mengungkapkan
pikiran dan perasaannya kepada kita. Ketika pasangan menceritakan suatu peristiwa tertentu, cobalah untuk menempatkan diri kita di tempatnya, dan hal itu akan membuat kita mendapatkan perspektif baru.

Catatan penting untuk kita adalah; Hentikan kebutuhan untuk menjadi benar.
Percakapan dengan pasangan bukanlah pertempuran yang harus kita menangkan. Kita tidak perlu membuktikan apapun. Kita tahu bahwa menyelesaikan masalah dari perspektif kita sendiri bisa menjadi proses yang berantakan, dan kita mengharapkan reaksi dari pasangan.

Kita mungkin menjadi marah dan frustrasi, atau sesuatu yang dikatakan pasangan bisa
memancing. Tetapi melalui itu semua ingatlah bahwa tujuan kita adalah untuk memperbaiki hubungan dan tidak saling menjauhkan satu sama lain. Ketika kita dan pasangan berkomunikasi satu sama lain dengan berbicara secara pribadi tentang diri sendiri, dan mendengarkan dengan rasa hormat dan minat yang tulus, banyak masalah-masalah dapat diminimalkan, dapat menjaga dan menumbuhkan cinta, rasa hormat dan pengertian di antara kita dan pasangan.

 

Source:
Firestone, Tamsen. The Key to Health Communication. https://www.psychalive.org/key-

healthy-communication/ (Diakses pada tanggal 22 November 2019)

Velentzas, John, and Georgia Broni.(2014).Communication cycle: Definition, Process,
Models and Examples.
https://pdfs.semanticscholar.org/da4e/69265653057d6f03fdc4ce3692b4e6923a0f.p
df (Diakses pada tanggal 22 November 2019)

5 Cara untuk Mengatasi Pikiran Negatif

Ditulis Oleh: Rajab Cipta Lestari, S. Psi

Pikiran negatif dalam diri kita bisa menjadi sangat kuat dan sangat cepat dapat berpengaruh pada diri kita. Tetapi pikiran negatif juga bisa kita “atur”. Mengatur pikiran ini berasal dari para filsuf Stoa, Seneca dan Marcus Aurelius. Mereka memiliki cara dari ribuan tahun yang lalu, sebelum perhatian kontemporer, seperti yang kita praktikkan di
Barat. Filsuf kontemporer yang membawa hal ini adalah Dr. Bill Irvine, serta guru mindfulness Dr. Sam Harris.

40dcd88e59c49a6f7a69d4bc846171fa

Jadi terdapat cara cepat untuk mengurangi pikiran negatif yang ada dalam diri kita, dan dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini biasa isebut dengan hedonis : terbiasa dengan kesenangan baru, mencari sumber kebahagiaan, kenyamanan. Namun hal tersebut membuat kita selalu merasa tidak puas, bahkan setelah hidup kita terasa lebih baik. Misalnya kita terbiasa dengan kemewahan, seperti jaringan internet yang cepat, GPS, barang mewah. Ketika hal yang biasa kita dapatkan atau lakukan, ini menjadi seuatu yang biasa bagi kita. Sehingga kita mencari hal lain untuk mengatasi pikiran negatif tersebut, hal ini lah yang membuat hidup terasa tidak pernah puas dengan kondisi kita sekarang.

Untungnya, kita dapat mengubah adaptasi hedonis dan secara harfiah menurunkan cara pandanghedonis kita untuk menghubungkan pikiran kita untuk lebih banyak memikirkan kebahagiaan.

Inilah lima caranya :
1. Visualisasi negatif adalah ketika dengan sengaja membayangkan betapa buruknya
hidup jika tidak memiliki apa-apa Ini bisa membayangkan seperti memiliki mobil, teman, kesehatan, panca indera yang utuh, dll. Ini juga termasuk membayangkan semua hal yang bisa salah, tetapi belum terjadi. Ini akan menjadi tidak menyenangkan dan sulit , tetapi kita akan melihat nilainya setelah melakukannya, sama seperti menyikat gigi sebelum tidur, atau akan berolahraga bahkan ketika sedang dalam keadaan lesu. Hack mental yang tampaknya mendasar dan mudah ini secara langsung menurunkan cara pandang hedon (sehingga akan lebih mudah lebih bahagia) dan mendukung terhadap adaptasi hedonis tragis yang ada di mana-mana di masyarakat kita.

Jadi, pertimbangkan beberapa hal, seperti bayangkan kecelakaan mobil , atau gempa bumi , atau terdiagnosa kanker. Juga, pertimbangkan bagaimana rasanya kehilangan beberapa hal yang sangat berharga bagi kita , seperti pekerjaan , rumah, komputer, pasangan, kesehatan, dan kehilangan yang dimiliki saat ini. Pemikiran ini yang akan mematahkan pola yang sudah dibangun dan membuat kita terus menerus untuk selalu tidak puas, bukannya bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.

2. Hal buruk akan terjadi; tidak bisa dihindari.
Cara yang dapat dilakukan yakni seperti membayangkan kejadian buruk baru-baru ini dialami oleh orang lain. Ini membantu kita menjauhkan dari perasaan-perasaan buruk yang sedang kita alami, dan belajar lebih memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Jika seorang teman dekat mengalami musibah, apa yang akan kita katakan kepadanya? Bagaimana perasaan kita tentang apa yang terjadi padanya? Pada kenyataannya, perspektif menyaksikan ini dapat menumbuhkan perasaan belas kasih dan kesejahteraan untuk semua. Ini juga mirip dengan framing video-game, di mana kita dapat membayangkan hal yang terjadi seperti ketika sedang berada dalam video game, dan ini adalah ujian ketahanan dan kekuatan.

3. Menjadikan pengalaman sebagai sebuah cerita
Ketika musibah menimpa, yang pasti terjadi, bukan merenung dan meratapi kemalangan, kita dapat meningatnya kembali dengan hati-hati seperti dalam jurnal atau rekaman (tertulis atau dengan video). Hal ini dapat menjadi cerita yang menarik untuk dibagi dengan orang lain. Manusia memiliki ketertarikan yang unik terhadap cerita. Beberapa buku dan film berasal dari kisah yang dialami seseorang melalui cerita.

4. Nikmati momen terindah Anda.
Kita bisa menyimpan senyuman di dalam pikiran hanya dengan mengingat saat-saat paling bahagia dalam hidup, atau orang-orang yang kita cintai. Ini hanya butuh waktu beberapa menit, dan dapat menjadikan sebagai salah satu meditasi terbaik dalam hidup. Pilih momen tertentu yang menggembirakan dan bayangkan secara visual, kemudian coba resapi apa yang di dengar dan rasakan juga untuk melibatkan kelima indera untuk memperdalamnya dan menikmati kegembiraan. Atau juga bisa membayangkan senyum orang yang kita cintai dalam pikiran kita, yang menjadikan kita dapat tersenyum bahagia selalu.

5. Mewujudkan frame "terakhir kali".
Hal yang dapat kita yakini adalah "terakhir kali" kita dapat melakukan segalanya. Dengan mengingat hal ini, bahkan tugas-tugas yang paling tidak menyenangkan dan biasa saja, seperti membersihkan kamar mandi , terjebak dalam kemacetan lalu lintas, atau membuang sampah dapat menjadi hal yang berharga. Perlahan dan nikmati, setidaknya nikmati hal kecil. Yang benar adalah bahwa hidup dapat dilihat sebagai sebuah anugerah, atau kita dapat menemukan cara-cara lain untuk menjadi lebih baik. Perbedaannya adalah mempelajari kebiasaan baru dan mudah untuk menurunkan titik hedonis dan rasa ketidakpuasan.

Cara mana kah yang paling sobat RK sukai?

 

Sumber : Jason N. Linder, LMFT, EMDR-Certified
Mindfulness Insights (www.psychologytoday.com)

Empati?

Ditulis Oleh: Clorinda Vinska Sella Suharto, M. Psi., Psikolog

Bagaimana yaa menumbuhkan perilaku empati?

Ayah dan Bunda, empati itu tidak datang secara alami, dan empati itu
membutuhkan latihan. Yuk kita kenali cara menumbuhkan perilaku
empati pada remaja terutama di rentang usia 12 hingga 18 tahun .
1. Give Them Opportunity
Di usia remaja, teman atau mempunyai kelompok bermain (peer group) adalah segalanya. Remaja akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan teman-temannya dibandingkan dengan keluarga dan orang tua nya. Dalam hal ini, diharapkan
orang tua bisa memberikan otonomi yang sesuai dengan kebutuhan remaja, maka kualitas hubungan remaja dengan orang tua akan minim konflik. Hal ini tentunya membuat remaja lebih terbuka kepada orang tua, dan orang tua bisa lebih mudah
memberikan pengarahan kepada remajanya.

2. Walk The Talk
Cara belajar yang paling baik melalui pengalaman dan contoh. Memahami apa yang dirasakan oleh orang lain dan dapat berespon sesuai situasi, maka orang tua perlu mencontohkan kemampuan ini terlebih dahulu kepada remajanya. Berempati terhadap permasalahan terkait pertemanan, sekolah, dan isu-isu sosial lainnya serta dapat berespon sesuai dengan kebutuhan emosional anak.

3. The Understated Affection of Father
Ayah yang supportive, yang dapat memberikan perasaan tenang ketika bercerita mengenai kekhawatiran yang dirasakan remaja dapat membentuk remaja laki-laki lebih baik dalam memahami sudut pandang orang lain. Jangan lupa untuk menghindari
respon-respon yang meremehkan atau menuntut. Misalnya, ketika remaja laki-laki sedang bercerita tentang kekhawatirannya atau pun masalah emosional lainnya dan
mengatakan “laki-laki tidak boleh cengeng” atau “anak laki-laki tidak boleh lembek”.

4. Ask Children to Think of Others
Kemampuan seseorang untuk memahami sudut pandang orang lain (perspective taking) masih terus berkembang hingga usia 21 (Shellenbarger, 2015). Anak yang sering berdiskusi dengan orang tua tentang kondisi dan situasi orang lain dapat membantu
anak menjadi lebih mampu berempati. Diksusi yang dilakukan bisa mengenai kejadian yang terjadi di dekat anak, misalnya ketika anak bercerita ada salah satu temannya yang hari ini di sekolah diledek oleh teman-temannya karena mengenakan seragam yang salah. “Nak.. apa yang kamu rasakan kalau kamu berada di posisi teman mu itu?”, lalu “apa yang kamu lakukan kepada teman mu itu?”.

5. Model Empathy
Untuk meningkatkan rasa kepedulian anak terhadap orang lain dan lingkungan sosial, libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas sosial seperti kerja bakti kebersihan di sekitar perumahan, memberikan bantuan kepada orang-orang yang kurang mampu,
atau membantu korban bencana alam. Kelima hal ini merupakan landasan yang sangat penting dalam membangun sikap empati. Tak lupa pemberian unconditional love
dari orang tua terhadap remaja menjadi kunci yang sangat penting yang berfungsi menjaga kualitas hubungan yang harmonis.

Selamat mencoba ya Ayah dan Bunda..

Sumber :
https://www.psychologytoday.com/us/blog/human-
kind/201909/why-teaching-your-child-empathy-builds-their-social-
skills
https://www.psychologytoday.com/us/basics/empathy
https://www.psychologytoday.com/us/basics/parenting

Hobi Anda Apa?

Ditulis Oleh: Lindyani Anissa, S. Psi

Apakah anda punya hobi ? Hal ini seringkali dianggap sederhana, namun banyak
dari kita yang sulit menyatakan apa hobi-nya. Hobi adalah “kesenangan istimewa
yang dilakukan pada waktu senggang”. Ya, saat ini kita merasa bahwa waktu kita
terlalu padat dengan berbagai macam kegiatan, sehingga merasa tidak punya waktu
untuk meluangkan diri kita untuk memiliki kegiatan lain. Padahal, dalam sebuah
penelitian, ditemukan bahwa hobi yang melibatkan pemikiran atau melakukan suatu
hal seperti seni, musik, fisik atau kegiatan lain akan sangat menguntungkan, mereka
akan lebih sukses.

Kenapa kita membutuhkan hobi ?

1. Hobi membantu Anda mengatur waktu Anda
2. Hobi dapat membina hubungan sosial baru
3. Hobi membuat Anda lebih menarik
4. Hobi membantu Anda mengatasi stres.

Menurut ahli, hobi membuat orang senang. Ketika psikolog Sarah Pressman dan
rekan-rekannya memeriksa kegiatan menyenangkan yang mempengaruhi
kesejahteraan kita, mereka menemukan bahwa kegiatan santai ini akan
berhubungan dengan tekanan darah rendah, lingkar pinggang yang lebih kecil, dan
indeks massa tubuh yang lebih rendah. Orang juga merasa lebih baik secara fisik
dan kecil kemungkinannya mengalami depresi.

Hobi juga dapat melindungi otak Anda. Sebuah penelitian, meneliti bagaimana hobi
mempengaruhi kehidupan seseorang, mereka menemukan bahwa melakukan hobi
selama satu jam atau lebih setiap hari dapat melindungi dari demensia di kemudian
hari. Studi lain menemukan bahwa memiliki hobi juga dapat menyebabkan Anda
menjadi lebih fungsional ketika Anda lebih tua dan hidup lebih lama.. Dan manfaatnya dapat meluas ke aspek lain kehidupan Anda.

Jika Anda dapat menetapkan satu jam sehari atau bahkan beberapa jam seminggu untuk sesuatu yang Anda rasa benar-benar menyenangkan, jangan kaget jika akan ada semangat baru yang akan dirasakan dalam pekerjaan dan kehidupan keluarga Anda!

Jadi, apa yang harus Anda pilih sebagai hobi baru Anda? Mungkin ada sesuatu yang
selalu ingin Anda lakukan, seperti Mulai dari olahraga, memasak, merajut ,
membaca buku, menonton film, berkebun, fotografi, hingga mengoleksi barang-
barang tertentu, semuanya dilakukan secara rutin guna mendapatkan kesenangan
pribadi atau mungkin Anda bisa memulai sesuatu yang dulu Anda sukai sehingga
Anda berhenti melakukannya. Percayalah, Anda memiliki lebih banyak waktu
daripada yang Anda pikirkan.

Nobody is Perfect

Ditulis Oleh: Tiara Delia Madyani, S. Psi

 

“Aku harus mendapatkan nilai A di semua mata pelajaran”
“Anakku harusnya sudah bisa A, B, C, D….”
“Aku ga boleh menangis meskipun aku sedih”

Perkataan-perkataan itu tanpa sadar selalu kita ucapkan kepada diri kita sendiri. Terkadang sebagai manusia kita memiliki keinginan untuk menjadi sempurna baik di mata kita sendiri atau di mata orang lain. Dengan menjadi sempurna, kita berupaya untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal seperti dalam pertemanan, mendidik anak, menjadi juara, dan lain sebagainya. Padahal, mesin pun yang sudah dirancang sesempurna mungkin oleh manusia, tidak dapat bekerja dengan sempurna seiring dengan berjalannya waktu. Cara berpikir kita yang harus sempurna menjadikan kita tidak tenang saat menjalani hidup. Kita akan selalu merasa khawatir ketika ada satu atau dua hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita terlalu mementingkan diri kita dan kurang begitu melihat apa yang terjadi pada lingkungan di sekitar kita.

Apa sih Arti Kesempurnaan Itu?
Kesempurnaan berarti suatu sifat yang dicirikan oleh “perjuangan yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa cacat, menetapkan standar kinerja yang terlalu tinggi disertai dengan evaluasi diri yang terlalu kritis dan adanya kekhawatiran tentang evaluasi yang dilakukan oleh orang lain.

Apakah Aku Seorang yang Perfeksionis?
Terdapat beberapa tanda yang menggambarkan apakah kita seseorang yang perfeksionis:
1. Tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan.
2. Sangat teliti dan berhati-hati saat menghadapi keadaaan tertentu

3. Memiliki pendekatan all-or-nothing. Ketika kita melihat hal yang akan kita lakukan
itu bisa dilakukan dengan baik maka akan kita lakukan, dan sebaliknya jika kita
merasa tidak bisa melakukannya, lebih baik tidak mengambil kesempatan itu.
4. Selalu melihat hasil dari apa yang kita lakukan. Kita tidak pernah melihat bagaimana
cara memulai dan proses yang harus dilakukan. Kita hanya melihat bahwa hasil yang
kita kerjakan harus sempurna.
5. Terlalu keras terhadap diri sendiri. Ketika kita melihat ada satu kesalahan, kita
terkadang menyalahkan diri kita dan berupaya memperbaikinya secepat dan sebaik
mungkin tanpa melihat keadaan diri dan lingkungan sekitar kita.
6. Mudah terbawa emosi negatif ketika tida dapat mencapai goal yang diinginkan. Kita
mudah sedih dan juga berangan-angan seperti,”kalau tadi ga melakukan A pasti
kejadiannya ga kayak seperti ini.”
7. Memiliki standar yang tinggi untuk dicapai.
8. Rasa puas yang tidak ada batasannya. Ketika kita sudah meraih tujuan A, maka kita
merasa akan lebih baik jika berhasil meraih tujuan yang lebih dari A, yaitu 2 A.
Ketika kita sudah mencapai 2A, kita ingin meraih 3A, dst.
9. Melakukan prokrastinasi untuk menunggu moment yang tepat agar semua dapat
dilakukan dengan baik.
10. Memerlukan waktu yang banyak untuk menyelesaikan satu tugas dibandingkan orang lain. Kita akan merasa aman ketika mengerjakan tugas dengan sempurna, tidak ada kesalahan sehingga selalu mengecek apa yang kurang dari tugas yang kita buat.
11. Dapat menemukan kesalahan yang jarang ditemukan oleh kebanyakan orang.
Menjadi seorang yang perfeksionis cukup melelahkan karena hidup yang tidak berjalan
sesuai rencana. Kita memerlukan ruang dimana kita dapat membuka diri untuk menjadi
individu yang lebih fleksibel dalam menghadapi keadaan yang tidak dapat kita prediksi.

Lalu, pikiran apa yang harus kita miliki agar mengubah kebiasaan harus sempurna ?
1. Berpikir real. Terima diri kita sendiri. Kita adalah manusia yang tidak mungkin lepas
dari kesalahan.
2. Kita dapat belajar dari kesalahan yang telah kita buat. Membuat kesalahan bukan berati dunia akan kiamat.
3. Kebahagiaan tidak hanya berasal dari kesempurnaan yang kita miliki, banyak cara untuk menjadi bahagia.
4. Terima diri kita apa adanya. Jangan biarkan keinginan untuk menjadi sempurna
menjadikan kita lupa apa yang kita miliki, kita sukai, tidak sukai, kemampuan kita, dan
sebagainya. Melakukan komunikasi dengan diri sendiri seperti menghargai apa yang
sudah diraih, hal apa yang perlu diperbaiki, dan sebagainya.

Terdapat lima tips yang dapat diterapkan untuk mengubah kebiasaan harus menjadi
sempurna:
1. Identifikasi tiga situasi yang membuat kita harus melakukan sesuatu dengan sempurna. Dalam setiap situasi tersebut, tuliskan tiga pesan tentang anti-sempurna yang akan memberikan ruang kepada kita untuk menghadapi situasi tersebut tanpa harus menjadi sempurna.
2. Gunakan kesalahan yang telah dibuat sebagai kesempatan untuk menjadi individu yang lebih baik. Ketika kita melakukan kesalahan, katakan, “Ok, aku membuat kesalahan, karena aku manusia, dan tidak ada manusia yang sempurna Dan sekarang, apa yang dapat ku lakukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan?”.
3. Ketika kita menyadari bahwa kita melakukan kesalahan, berikan peringatan kepada diri sendiri bahwa kita harus mencintai diri kita apa adanya. Ingatlah bahwa kesalahan itu hanyalah sedikit dari bagian diri kita, tidak menggambarkan siapa diri kita yang
sesungguhnya.
4. Sengaja membuat satu kesalahan dalam satu hari seperti memakai baju yang warnanya bukan warna favorit kita, salah naik angkutan umum dan sebagainya. Tetapi kita juga perlu hati-hati, jangan lakukan hal-hal yang berbahaya dan melanggar aturan, hukum dan sebagainya.
5. Sadari bahwa orang lain juga dapat melakukan kesalahan. Ingatlah tentang betapa
normalnya hal tersebut karena dapat terjadi pada semua orang, dan kita juga bukan orang spesial di mana kegagalan itu merupakan hal yang tidak boleh terjadi.

 

Sumber:
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/happiness-purpose/201304/be-perfectly-
imperfect
https://www.psychologytoday.com/us/blog/teen-angst/201807/perfectly-imperfect
https://personalexcellence.co/blog/perfectionism/