Kasus Hukum atau Bukan?

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

Jika kita sedang berada di sebuah tempat umum, atau sedang membaca sebuah berita lantas kita terkadang spontan menilai bahwa tindakan tersebut sebuah tindakan kriminal atau terkait

dengan hukum. Pada dasarnya, ada langkah-langkah yang harus ditelusuri terlebih dahulu sebelum memutuskan kejadian tersebut sebuah kasus kriminal.

1. Sesuatu terjadi

Hal yang terjadi tersebut;

– Adakah yang melapor kepada pihak berwajib (polisi)

– Kejadiannya terdeteksi

Jika, 2 hal tersebut dipenuhi maka dapat dikatakan bahwa telah terjadi suatu kejadian atau tindakan kriminal.

2. Maka, langkah selanjutnya adalah melihat: apakah tindak kriminal tersebut sebuah tindak pidana atau tindak perdata.

3. Melakukan crime scene analysis atau tata olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari minimal 2 buah alat bukti yang sah. Alat bukti yang sah ini dapat berupa alat atau senjata yang digunakan dalam tindak kriminal tersebut, speciment seperti darah, helai rambut, air liur, sidik jari, maupun tulang. Keterangan saksi maupun keterangan korban dapat digunakan dan dijadikan sebagai alat bukti yang sah. Jika, kasus tersebut telah jelas alur dan indikator-indikatornya telah terpenuhi, maka kasus tersebut akan diproses secara hukum. Lalu, kita dapat menilai bahwa kejadian tersebut merupakan kejadian hukum atau tindak kriminal.

Meski benar terjadi sebuah tindak kriminal, namun kenapa kejadian tersebut terhenti begitu saja? Atau tidak terdengar lagi kabarnya. Hal ini dapat disebabkan oleh:

1. Kurangnya bukti yang dimiliki tim penyedik kepolisian dalam mengungkap kasus

tersebut.

2. Tidak adanya yang melakukan pelaporan.

3. Telah mendapatkan penyelesaian secara kekeluargaan (damai).

Maka, jika sesuatu terjadi di sekitar kamu, kamu perlu mengumpulkan data atau bukti-bukti yang kuat dan sementara itu, yang mengalami kejadian tersebut (mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan) melaporkan telah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan tersebut ke pihak kepolisian. Tindak kriminal itu sendiri akan terus terjadi di masyarakat, di sekitar kita. Hal tersebut bisa berhenti atau berkurang, jika kita PEDULI, SADAR, TAU atas hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan BERANI melaporkan.

Kenapa Validasi Emosi itu Penting?

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

“Berat banget ya situasinya, wajar kamu sedih kaya gini..”

“Saya kesal dan merasa sendiri karena tidak mendapat perhatian dari teman saya..”

“Iya sayang sedih ya, kesel juga ya rasanya ga boleh nonton kartun lagi?”

Sobat RK, seringkah mendengar jenis kalimat seperti di atas? Bijak sekali ya terdengarnya, kadang geli dengernya ga? hha. Kalimat tersebut merupakan bentuk usaha Validasi Emosi. Di dunia parenting pun lagi sering banget digaungkan untuk menghadapi balada emosi anak.

Validation requires empathy (the accurate understanding of the person’s experience) but validation also includes the communication that the person’s response makes sense.

-Dr. Marsha Linehan-

Istilah Validasi Emosi ini cukup sering muncul ketika kita berhadapan dengan masalah pengaturan emosi. Konsep mengakui dan menerima perasaan dianggap ampuh meredakan rasa tak nyaman ketika berada di kondisi yang memicu emosi. Mengapa bisa begitu ya? Seajaib itu kah kata-kata “mengerti” dan melabel emosi yang muncul?

Dalam buku A Whole-Brain Child, Daniel J. Siegel, menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat validasi emosi mampu mempengaruhi keberfungsian otak manusia khususnya pada anak. Otak manusia terdiri dari 2 belahan otak (kanan dan kiri) yang perlu diseimbangkan. Otak kanan masih mendominasi ketika masih berada di fase anak-anak. Maka sejak kecil anak-anak perlu dilatih untuk menggunakan kedua belah otaknya. Latihan ini bisa dimulai di usia 3 tahun. Ada 2 strategi yang bisa dilakukan untuk latihan menyeimbangkan otak yaitu Connect dan Redirect.

  • Connect

Mulailah dengan mengkoneksikan perasaan anak dengan menenangkan dan menunjukkan empati kita pada anak. Bisa menggunakan kalimat validasi atau cukup dengan menemani hingga memeluk anak. Hal tersebut bisa menenangkan otak kanan anak (berisi perasaan dan sinyal nonverbal). Baru kemudian kita picu otak kirinya dengan fokus pada alasan emosinya muncul (what and how).

  • Redirect

Melabel perasaan tersebut agar lebih “jinak”. Ketika sudah tenang minta anak untuk menceritakan kejadian emosional yang ia alami lalu kita bantu validasi atau berikan nama pada perasaan yang muncul. Hal ini akan menghubungkan fungsi otak kiri seperti bahasa emosi, ingatan dan pikiran dari otak kanan. Ketika ketika memberikan nama atau mengakui emosi, otak kita akan mengurangi fokus kerjanya di area emosi sehingga bisa “menjinakkan” perasaan yang muncul.

2 strategi tersebut baru sedikit mengupas cara kerja otak kita dalam mengelola emosi, masih ada bagian-bagian seru lainnya yang bisa dilatih dan difungsikan secara optimal agar aspek-aspek fungsi otak bisa terhubung dan menjadi seimbang. Kuncinya ada pada penerimaan dan kesadaran kita dalam menghadapi emosi yang muncul. Jadi, yuk latihan untuk memvalidasi emosi dengan menerima dan mengakui emosi tersebut agar otak kita bisa berfungsi optimal hingga menemukan solusi yang efektif.

Burnout Syndrome

Ditulis Oleh: Tsan Ulfah Ullaya, S. Psi

Burnout Syndrome dijelaskan sebagai kelelahan fisik yang diakibatkan oleh adanya perasaan tidak berdaya, putus asa, merasa terkuras secara emosional, konsep diri menjadi negatif, dan sikap negatif terhadap pekerjaan, kehidupan, serta orang lain (Pines, Aronson & Kafry, 1981).

Burnout syndrome biasanya dirasakan individu dalam setting pekerjaan, namun bisa juga dirasakan pada kehidupan sehari-hari. Berbagai gejala yang mungkin dirasakan ketika individu mengalami burnout syndrome dijabarkan secara lebih jelas, di antaranya:

  • Kelelahan fisik ditandai dengan energi yang menurun, lelah sepanjang hari dan biasanya disertai dengan keluhan fisik, seperti sakit kepala, mual, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan.
  • Kelelahan emosional ditandai dengan adanya perasaan cemas, dan tidak berdaya.
  • Kelelahan sikap ditandai dengan sinis terhadap orang lain, bersikap negatif terhadap orang lain, cenderung merugikan diri sendiri, pekerjaan, serta kehidupan pada umumnya.
  • Penghargaan diri rendah ditandai dengan tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik.

Sinisme, kecemasan, dan kelesuan yang merupakan ciri khas dari burnout syndrome paling sering terjadi ketika seseorang tidak dapat mengendalikan pekerjaan mereka, baik di tempat kerja atau di rumah, diminta untuk menyelesaikan tugas yang bertentangan dengan diri mereka, bekerja berjam-jam, terlalu banyak tugas, serta kurangnya dukungan.

Perlu diketahui, bahwa pekerjaan bukanlah satu-satunya sumber stres yang dapat menyebabkan kelelahan. Peran sebagai orang tua, atau pasangan misalnya, juga dapat mengalami kelelahan karena merasa kewalahan dengan tanggung jawab mereka atau merasa gagal dalam peran mereka. Kelelahan dalam bentuk apa pun dapat memiliki konsekuensi yang parah jika tidak ditangani. Berikut adalah cara yang bisa kita lakukan jika kita mengalami burnout syndrome:

1. Mendiskusikan atau sharing secara terbuka, baik dengan keluarga, pasangan, teman, atau terapis, bisa menjadi langkah awal untuk mengatasi gejala, mendapat bantuan yang dibutuhkan dan menghindari hasil negatif.

2. Membuat schedule aktivitas sehari-hari. Catat dengan seobjektif mungkin dan pertimbangkan berapa jam yang kita dihabiskan di kantor, di rumah, di tempat-tempat umum dan di waktu “me-time” untuk melakukan hal-hal yang kita disukai.

3. Luangkan waktu untuk liburan atau melakukan kegiatan yang disukai dan lupakan masalah pekerjaan untuk sementara waktu.

4. Mempelajari dan melakukan teknik relaksasi dan meditasi untuk mengurangi stres.

5. Periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala kelelahan yang sampai mempengaruhi kesehatan kita.

MOVE ON

Ditulis Oleh: Clorinda Vinska, S. Psi., M. Psi., Psikolog

Melakukan move on merupakan salah satu bentuk kepedulian kita pada well-being dan kebahagiaan diri kita sendiri lho sobat RK!

Ketika sebuah hubungan berakhir, atau ketika orang yang kita cintai tidak memiliki perasaan yang sama, kita cenderung merasa kalau hidup tidak ada artinya lagi dan merasa kita tidak akan pernah tertawa, tersenyum, atau siap untuk mencintai lagi. Cinta adalah sebuah hadiah yang dapat membawa kesedihan dan juga kebahagiaan. Dibutuhkan keberanian untuk mengangkat dirimu dari perspektif soal memiliki, dan memulai lagi dari awal.

“Your emotions shouldn’t paralyze you. They shouldn’t be defensive. They shouldn’t stop you from being everything you can be” -Wayne W. Dyer-

Yap, move on memang tidak akan menghapus masa lalu, tetapi dapat membantu kita untuk mengatasi kegelisahan yang kita rasakan ketika kita belajar untuk bangkit dari masa lalu. Move on menggabungkan kesedihan, kekecewaan, dan ketidakadilan yang ada dalam hidup sehingga hal-hal tersebut tidak lagi menjadi
penghalang dalam hidup, tetapi menjadi fondasi agar kita bisa tumbuh. Ada penelitian yang menunjukkan kalau sistem saraf manusia itu dapat terkoneksi dengan sangat baik jika berada di dalam sebuah relasi yang sehat dengan manusia lain. Itulah kenapa penting bagi kamu untuk bisa menjalin relasi yang kembali
setelah hubunganmu terlah berakhir, yuk MOVE ON!

Berikut beberapa langkah bagaimana untuk move on ya sobat RK:
a. Feel the feelings
Terima segala bentuk perasaan ini, karena ini adalah suatu proses penyembuhan. Terima perasaan sedih, marah, atau ketakutan yang sedang kamu rasakan saat ini. Jangan biarkan inner critic muncul. (Inner critic
merupakan suara-suara yang muncul dalam pikiran kita, jika suara-suara ini mengatakan hal yang kurang baik harus dilawan ya sobat RK!).
b. Find a support system
Carilah orang-orang yang dapat membuat kita dapat lebih terbuka, jujur, dan nyaman ketika mengeluarkan emosi-emosi tersebut. Sehingga membuatmu merasa tidak terlalu kesepian dengan rasa sakitmu dan akan membuat untuk sembuh.
c. Let go of fantasy
Banyak orang yang jatuh cinta dengan impian ideal dari pasangan mereka, atau hanya sekedar ide dari jatuh cinta itu sendiri dibandingkan dengan kenyataan yang ada dari pasangannya. Hindari memimpikan sesuatu yang terlalu sempurna karena akan membuat kita fokus pada aspek-aspek yang bagus saja dan membuat kita semakin sulit untuk menerima kenyataan kalau sesuatu sudah berakhir atau pergi. Fantasi yang sering buat membuat kita susah move on karena kita bukan hanya kehilangan seseorang atau sesuatu, tapi juga fantasi akan hal-hal tersebut.
d. Self care
Jangan lupa unutk merawat diri ya sobat RK! Ketika putus cinta, kita seringkali tidur terlalu lama atau bahkan tidak tidur, makan terlalu sedikit makan atau bahkan terlalu banyak makan, mengkonsumsi alkohol, atau mengikuti kegiatan yang dapat mempertajam emosi negatif kita. Mulailah istirahat yang cukup dan memakan makanan yang sehat untuk mengembalikan tenaga agar kita lebih sehat dan pikiran lebih jernih.
e. Look at your life as a journey
Akhir dari sesuatu bukanlah akhir dari segalanya. Ini merupakan kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan berubah. Sehingga kamu memiliki harapan untuk hubungan di masa depan. Dan inilah saatnya kamu melakukan sesuatu yang dulu ingin kamu lakukan tapi tidak bisa atau tidak diperbolehkan, seperti mencoba olahraga baru, volunteer, berpergian ke kota-kota baru, dan aktivitas-aktivitas positif lainnya.

Referensi :
https://www.psychalive.org/how-to-move-on/
https://exploringyourmind.com/grieving-relapse-when-we-cant-move-on/
https://www.bolde.com/might-not-seem-like-12-things-emotional-abuse/

Bagaimana Cara Meningkatkan Kesejahteraan Diri?

Ditulis Oleh: Rajab Cipta Lestari, S. Psi

Hai sobat RK, mungkin ada beberapa sobat RK yang belakangan ini sedang menghadapi atau berjuang dengan hal yang membuat lelah ataupun stress. Dalam diri kita pasti ada suara kecil yang mencemaskan hal tersebut dan membuat kita tetap waspada dan aman. Tapi mari kita hadapi seperti layaknya orang tua yang protektif, dan membuat kita akhirnya jadi menahan atau bahkan menjadi terbebani. Dr. Beck menjelaskan bahwa cara kita memandang sesuatu itu dapat mempengaruhi perasaan kita. Bagaimana persepsi kita terhadap situasi tersebut, bagaimana cara kita berpikir pada situasi tersebut. Namun, setelah kita memperhatikan bagaimana mood dan perilaku, lalu ternyata terjadi perubahan yang buruk kita bisa bertanya pada diri sendiri, “apa yang baru saja saya pikirkan?” setelah kita mengidentifikasi pikiran, kita dapat menanggapi dan mengevaluasi pikiran kita dengan mengajukan pertanyaan seperti, “ apa buktinya kalau pikiran kita ini benar atau salah? Apa ada acara lain untuk melihat pikiran saya ini? Jika saya memiliki teman dalam situasi ini dan mereka memiliki pemikiran ini, apa yang akan saya katakan kepada mereka?” ini adalah CBT dasar.

Misalnya ketika kita dapat meningkatkan perasaan sejahtera dan menyelaraskan tujuan dengan nilai-nilai yang kita punya. Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “ apa yang benar-benar penting bagi saya dalam hidup saya? Apa nilai inti saya? Bagaimana saya ingin menjadi?” kemudian kenali langkah-langkah kecil yang dapat menggerakkan kita menuju tujuan. Jika mengalami hambatan, atau kehilangan motivasi di epanjangan jalan karena pemikiran yang menyimpang, kita dapat mengidentifikasi pikiran kita baik positif maupun negatif. Bicara pada diri sendiri speerti orang bijak dan teman baik.

Berikut adalah beberapa pendekatan lain yang disarankan Judith agar kita mencoba untuk menantang pemikiran kita secara konstruktif ketika tidak terasa berguna:

  1. Bayangkan skenario yang paling mungkin – Untuk membantu mengelola kecemasan
    tentang ketidakpastian, pertama-tama tanyakan pada diri kita, “Hal terburuk apa yang aku khawatirkan bisa terjadi? Dan jika itu terjadi, bagaimana aku mengatasinya? ” Misalnya, hal terburuk yang mungkin terjadi adalah bisa kehilangan pekerjaan, tabungan dan tunjangan, dan berakhir menjadi tunawisma dengan harta benda di tas belanjaan yang compang-camping. Tetapi kita mungkin mengatasinya dengan mendapatkan pekerjaan tetap yang akan memberi tempat tinggal, makanan, dan pendapatan. Dengan cara ini, kita dapat mengontrol gambar dan mengubahnya dengan cara yang lebih baik. Sekarang pertimbangkan hal terbaik apa yang bisa terjadi? Dan biasanya, kenyataan berada di antara keduanya, jadi bayangkan apa yang mungkin terjadi dan bagaimana kita akan mengatasi skenario yang berada di antara hasil terburuk dan terbaik.
  2. Kendalikan hal-hal yang dapat kita kendalikan – Meskipun ada banyak hal yang tidak
    dapat kita kendalikan, kita dapat menggunakan kendali atas hal-hal seperti jadwal dan
    kebiasaan kita. Misalnya, buat daftar setiap hari tentang hal-hal yang perlu kita
    selesaikan. Sertakan aktivitas yang kita butuhkan untuk menyeimbangkan hidup kita,
    seperti berhubungan dengan orang lain, melakukan hal-hal menyenangkan, menjaga
    kesehatan kita, atau mengalihkan perhatian kita dan mencari cara untuk membantu orang lain seperti teman, keluarga, atau mereka yang kurang beruntung dari kita.
  1. Terima pengalaman kita – Berjuang melawan emosi negatif dapat membuat kita lebih
    memperhatikannya dan membuat kita merasa jauh lebih buruk. Alih-alih, coba katakan pada diri sendiri, “Saya tidak suka merasakan kecemasan atau ketidakpastian ini, tapi wajar jika saya merasa seperti ini saat ini, dan mungkin kebanyakan orang merasakan hal seperti ini. Sementara itu, saya tidak harus fokus pada perasaan ini, dan saya bisa fokus mengambil tindakan berdasarkan nilai-nilai saya, atau terlibat dalam hal-hal yang sangat penting bagi saya. ”
  2. Gunakan isyarat tubuh – Ketika kita melihat reaksi fisiologis yang tidak nyaman atau
    secara fisik kita merasa tidak enak badan, penting untuk mencari tahu apa yang mungkin menandakannya. Jika kita dapat mengesampingkan bahwa olahraga atau penyakit menyebabkan rasa sakit dan nyeri, penting untuk mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya mengganggu. Coba lakukan ini dengan membayangkan beberapa solusi yang berbeda untuk masalah yang mungkin ada di pikiran kita. Misalnya, mungkin bertanya-tanya apakah ini tentang beban kerja, jadi kita dapat membayangkan bahwa mendapatkan email yang mengatakan bahwa tidak lagi harus memenuhi sejumlah tanggung jawab atau bahwa tenggat waktunya diubah menjadi satu tahun dari sekarang. Kemudian, ketika kita memperbaiki masalahnya, pertimbangkan seberapa baik hal ini membuat tubuh merasa. Jika kita merasa sangat lega, mungkin itulah yang ada di pikiran. Namun jika kita tidak merasa jauh lebih baik, skenario yang dibayangkan mungkin bukanlah masalah utama, dan kita perlu terus mempertimbangkannya. Bagaimana kita tetap bisa merasa sejahtera? Itu bergantung pada bagaimana cara kita merubah cara piker terhadap situasi yang dihadapi.

Sumber :
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/functioning-flourishing/202011/can-you-think-your-
way-wellbeing

“Hai, Aku, Bagaimana kabarmu sekarang?”

Ditulis Oleh: Tiara Delia Madyani, S. Psi

Hai sobat RK, pernahkah sobat RK berada di fase lelah, jenuh dan rasanya ingin segera menyelesaikan tugas atau hal yang dihadapi sesegera mungkin? Kita jadi tidak bersemangat dan malah menunda melakukan hal yang seharusnya kita selesaikan. Posisi kita berada di posisi yang sulit sehingga kita bertanya-tanya, apakah saya bisa? Apakah ini akan selesai sesuai dengan ekspektasi kita? Apakah semua akan baik-baik saja? Dan berbagai pertanyaan yang semakin berkembang sehingga membuat kita semakin bingung dan tidak berenergi. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mengikuti mood dan emosi kita? Tapi pekerjaan kita takkan beres dengan sendirinya. Hal ini menandakan bahwa kita perlu “berbicara” dengan diri kita.

Adapun langkah-langkahnya yaitu:

1. Lontarkan pertanyaan pada diri kita

– “Hai aku, sebenarnya kamu lagi perlu apa?, tidak semua orang langsung bisa menjawab pertanyaan ini. Kita perlu berbicara dan menggali informasi ini seperti saat kita sedang berbicara tentang apa yang orang lain perlukan dari kita. Tenangkan diri kita dan atur pernapasan kita saat berkomunikasi dengan diri kita. Jangan terburu-buru.

– Pertanyaan lain yang dapat kita komunikasikan, “Hai aku, selama ini apakah aku sudah berterima kasih dan memberikan hadiah atas usaha yang aku lakukan?”. Hal ini untuk mengidentifikasi apakah kita sudah cukup menghargai usaha yang sudah kita lakukan.

– Lalu, pertanyaan terakhir, “Hai aku, saat teman curhat dan dia berada dikondisi yang sama denganku sekarang, nasehat apa yang bisa ku berikan padanya?”. Pertanyaan ini membantu kita dalam mencari jalan keluar yang bisa kita lakukan.

2. Sadari bahwa hidup itu ada hal positif dan negative.

Kita bisa mengajak diri kita untuk berbicara kejadian-kejadian apa saja yang telah dilewati hingga ke tahap ini. Dimulai dari mengapa kita mau mengerjakan hal ini, masalah yang dilalui, usaha dalam mengatasi masalah itu, siapa saja yang bisa membantu kita saat dalam mengatasi masalah, apakah semua proyek yang kita jalani langsung berjalan mulus atau tidak. Pastinya ada rasa kecewa, takut, marah, dan emosi negatif lainnya saat kita menjalani hidup ini. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita baik-baik saja, tapi kita bisa mengatakan bahwa hidup itu seperti pepatah yang sering kita dengar, hidup itu bergerak seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Ada hal negatif dan positif dalam hidup yang kita jalani. Wajar kita marah, takut dan kecewa karena lelah dan hasil yang kita inginkan tidak sesuai ekspektasi kita tetapi hidup akan terus berjalan dan mau tidak mau kita harus bisa mengendalikan emosi negatif itu untuk mendapatkan hasil yang baik dari apa yang kita jalani. Pelajari hal negatif dan positif yang kita dapatkan sehingga kita bisa berdiri di titik ini sekarang.

3. ‘Berhenti’ untuk Sementara

Setiap orang membutuhkan waktu untuk istirahat. Ketika kita sudah merasakan terlalu lelah dan merasa penat dengan apa yang sedang kita jalani, kita bisa bertanya pada diri kita, “hai aku, apakah kita perlu berhenti sejenak? Apa yang harus kita lakukan?”. Pergi jalan-jalan atau berlibur ke suatu tempat yang lebih mendekatkan diri dengan alam dapat membantu kita untuk lebih tenang.

4. Percaya pada Diri Sendiri

Kurangi perasaan ragu terhadap diri sendiri. Katakan bahwa Kita bisa, apapun yang terjadi adalah bagian dari proses menjadi diri sendiri. Jika kita melakukan kesalahan, artinya kita bisa belajar jadi pribadi yang lebih baik. Kita bisa melewati semuanya.

Sumber:

https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/berdamai-dengan-diri-sendiri/#gref

https://www.popbela.com/relationship/single/hyrasti-kayana/cara-untuk-berdamai-dengan-diri-

sendiri-1/full

https://www.psychologytoday.com/us/blog/between-cultures/201802/be-kind-yourself

Ibu, Ayah…”Tolong Ajari Aku Kecakapan Hidup, Kelak Aku akan Membutuhkannya”

Ditulis Oleh: Alinda Destiana, S. Psi

Banyak yang mengatakan bahwa kehidupan itu bagaikan roller coaster, saat kita sedang berada diatas, kita tidak tahu kapan kita tita-tiba langsung terjun ke bawah dengan sangat kencangnya, terkejut? Sudah pasti..! Seperti itulah gambaran kehidupan yang dialami oleh setiap orang. Ketika kita sedang menikmati kehidupan yang “nyaman” kita tidak pernah tahu bahwa yang namanya masalah, musibah, bencana akan datang menghampiri dengan tiba-tiba. Marah, sedih, kecewa, dan beberapa emosi negatif lainnya akan muncul dalam benak kita. Namun pernahkah kita menyadari dan menerima semua yang terjadi, lalu kita berusaha untuk bangkit, dan memperbaiki kondisi yang “tidak menyenangkan” ini? Atau justru kita malah bingung dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan? Selain itu kita tidak memiliki solusi akan permasalahan yang kita hadapi, bahkan kita tidak tahu hal apa yang pertama kali harus kita lakukan untuk menolong diri kita sendiri. Pernahkan kita terjebak dalam situasi seperti itu? Atau setidaknya pernahkah kita melihat orang lain dalam situasi yang serupa? Lantas hal apa yang dapat menyebabkan seseorang begitu terpuruk saat mendapatkan

permasalahan? Bahkan sampai dia tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk menolong dirinya keluar dari permasalahan.

Jika kita menyadari dan melihat pada diri kita, kita akan mengetahui bahwa setiap individu itu membutuhkan yang namanya kecakapan hidup (Life Skill). Lalu kecakapan hidup itu apa? Kecapakan hidup diartikan sebagai kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk berani menghadapi permasalahan dalam kehidupan dan secara aktif akan mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya akan membuat individu tersebut mampu mengatasi permasalahannya melalui kemampuan berinteraksi dan beradaptasi dengan orang lain. Tidak hanya kemampuan dalam berinterkasi dan beradaptasi tetapi kecakapan hidup ini juga meliputi keterampilan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, berfikir kritis, berfikir kreatif, berkomunikasi dengan efektif, membina hubungan antar pribadi, kesadaran diri, berempati, mengatasi emosi, dan juga mengatasi stress (Anwar, 2004:54).

Tujuan memperlajarinya apa?

1. Untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki individu agar individu tersebut dapat memanfaatkan potensinya untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari- hari.

2. Memberikan bekal agar individu nantinya mampu untuk berkompetisi sekaligus berkolaborasi dengan lingkungan sosialnya.

3. Agar Individu mampu untuk melindungi dirinya dari resiko dan ancaman seperti perasaan negatif yang berlebihan, dan stress sehingga ia bisa hidup dengan baik untuk menggapai cita-citanya.

4. Membuat individu lebih mandiri dalam menjalani kehidupannya.

Sejak kapan mulai belajarnya?

Kecakapan Hidup ini lebih baik dikenalkan kepada individu sejak dini (masa kanak-kanak). Dapat dilakukan dengan cara-cara seperti mengajarkannya mengenai sopan santun dengan mengenalkannya mengenai kata (maaf, terimakasih, dan tolong). Mengajarkannya untuk bertanggungjawab pada barangnya sendiri, misalnya membereskan mainan jika telah selesai dimanainkan, bertanggungjawab pada dirinya sendiri misalnya dengan mengajarkannya untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Membantu untuk mengerjakan perkerjaan rumah, misalnya mencuci piring selesai makan, menyapu, memasak. Melibatkan anak untuk merencanakan sesuatu, misalnya ketika kite berencana pergi camping kita berikan pertanyaan

apa saja yang akan kita lakukan bersama-sama saat di lokasi camping biarkan dia untuk mengutarakan pendapatnya.

Siapa yang mengajarkannya?

Orang tua maupun co-parents merupakan layer pertama yang dimiliki oleh anak untuk mengajarkannya mengenai kecakapan hidup, selain itu waktu kebersamaan mereka lebih banyak bersama kita. Oleh sebab itu, kita memiliki tugas untuk mengajarkannya mengenai kecakapan hidup sedikit demi sedikit sesuai dengan kapasitas usianya. Selain kita sebagai orang tua, guru dan lembaga sekolah juga memiliki tugas yang sama untuk memberikan pengajaran mengenai kecakapan hidup yang sesuai dengan prinsip pengajaran di sekolah. Dengan mengenalkan kecakapan hidup kepada anak-anak sejak dini, artinya kita telah memberikan “bekal” kepada mereka untuk dapat menghadapi kehidupannya kelak di masa mendatang. Diharapkan bila kita telah membekalinya dengan kemampuan kecakapan hidup kelak ia akan tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri, individu yang kuat dan solutif dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

People Pleaser

Ditulis Oleh: Prilianti Putri Lestari, S. Psi

Seseorang dapat dikatakan people-pleaser ketika ia ingin semua orang yang ada di sekitarnya bahagia dan ia akan melakukan apa saja untuk membuat semua orang bahagia. Betul, semua orang.Menurut psikolog dari New Jersey, Susan Newman, mereka akan menempatkan orang lain terlebihdahulu dibandingkan dirinya sendiri. Selalu berkata “iya” adalah kebiasaan mereka. Hal itu membuatmereka merasa penting dan mereka senang dapat berkontribusi dalam hidup orang lain. People-pleaser menginginkan validasi dari luar. Linda Tillman, psikolog klinis dari Atlanta mengatakan bahwa perasaan aman dan kepercayaan diri seorang yang people-pleaser didapat berdasarkan penerimaan orang lain. Mereka khawatir pandangan orang lain terhadap mereka ketika mengatakan tidak. Mereka tidak mau dilihat sebagai orang yang malas, tidak peduli, dan egois. Ketakutan mereka adalah tidak disukai atau dikeluarkan dari suatu kelompok, entah itu tema, keluarga, atau rekan kerja.

Kebanyakan people-pleaser tidak sadari adalah mereka sebenarnya bisa saja mendapatkan risiko yang serius. Tidak hanya akan menempatkan dirinya dalam posisi tertekan dan stress, akan tetapi mereka akan membuat dirinya sendiri sakit karena berbuat sesuatu secara berlebihan. Ketika berkomitmen secara berlebihan untuk orang lain, jam tidur pun mulai akan terpengaruh dan mereka mulai sering merasa cemas dan kesal. Hal ini akan menguras energi mereka. Atau bahkan lebih buruknya, mereka akan merasa depresi, kewalahan karena mungkin saja mereka tidak bisa melakukan semua hal tersebut. Dengan kata lain, menjadi people-pleaser bukanlah masalah utamanya; namun keinginan untuk membuat orang lain bahagia merupakan simtom dari masalah yang lebih dalam. Seringkali, keinginan untuk menyenangkan orang lain berakar dari masalah harga diri karena berharap untuk selalu merasa diterima dan disukai semua orang. People-pleaser lainnya mungkin saja pernah mengalami penganiayaan dan mereka berharap untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik sehingga mereka mencoba untuk membahagiakan orang-orang yang menganiaya mereka.

Banyak people-pleaser bingung antara menyenangkan orang lain dengan kebaikan. Ketika mendiskusikan keenganan mereka untuk menolak keinginan orang lain, mereka akan berkata “saya tidak ingin menjadi orang yang egois”, atau “saya hanya ingin menjadi orang yang baik”. Konsekuensinya, mereka membiarkan orang lain memanfaatkan mereka.

People-pleasing dapat menjadi masalah serius dan ini adalah kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. Berikut adalah 10 tanda bahwa kamu berusaha keras untuk menyenangkan orang lain:

1. Berpura-pura setuju dengan semua orang.

Mendengar opini orang lain dengan sopan, bahkan ketika kamu tidak setuju, merupakan kemampuan sosial yang bagus. Tetapi berpura-pura setuju hanya karena ingin disukai dapat membuat perilaku yang berlawanan dengan nilai-nilai diri.

2. Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Mengetahui bagaimana perilaku kita berpengaruh pada orang lain itu baik. tapi berpikir mempunyai kekuatan untuk membuat orang lain bahagia adalah sebuah masalah. Pengendalian emosi itu kembali pada masing-masing individu, bukan menjadi tanggung jawab kita.

3. Meminta maaf terlalu sering.

Menyalahkan diri secara berlebihan atau ketakutkan orang lain akan menyalahkan dirinya, mereka akan meminta maaf secara sering dan itu bisa menjadi tanda dari masalah yang lebih besar. Kita tidak perlu meminta maaf untuk menjadi diri sendiri.

4. Merasa terbebani dengan hal yang seharusnya kamu lakukan.

Kita bertanggung jawab atas bagaimana kita menghabiskan waktu. Tapi bagi jadwal waktu yang dimiliki seorang people-pleaser, mereka akan mengisinya dengan berbagai aktivitas yang mereka pikir orang lain ingin mereka lakukan.

5. Tidak bisa berkata “tidak”.

Berkata “iya” dan kemudian menjalaninya atau memutuskan berpura-pura sakit untuk keluar dari komitmen pada akhirnya akan membuat kita jauh dari tujuan yang kita tetapkan jika kita tidak berbicara untuk diri sendiri.

6. Merasa tidak nyaman ketika orang lain marah padamu.

Hanya karena seseorang marah bukan berarti kamu melakukan semua hal salah. Tapi jika kamu tidak bisa tahan ketika ada orang yang marah padamu, kamu akan mulai berkompromi dengan nilai-nilaimu.

7. Berperilaku seperti orang-orang di sekitar, tidak menjadi diri sendiri.

Hal yang normal ketika orang lain mengeluarkan sisi yang berbeda dari kepribadianmu. Tapi people-pleaser sering kali justru bersikap mengikuti orang-orang yang ada di sekitarnya. Penelitian menunjukkan bahwa people-pleaser mengalami perilaku yang merusak diri jika mereka berpikir dapat membantu orang lain merasa lebih nyaman dalam situasi sosial. Contohnya, people-pleaser makan lebih banyak ketika mereka berpikir hal itu akan membuat orang lain senang.

8. Butuh pujian untuk merasa baik.

Ketika pujian dan perkataan yang baik membuat seseorang senang, maka people-pleaser akan bergantung pada validasi. Jika harga diri bergantung sepenuhnya pada apa yang orang lain pikirkan tentangmu, maka kamu hanya akan merasa baik ketika orang lain memberikanmu banyak pujian.

9. Sangat menjaga agar terhindar dari konflik.

Tidak ingin memulai konflik adalah satu hal. Tapi menghindari konflik dengan cara apa pun berarti kita akan berjuang untuk membela hal-hal, dan orang-orang, yang benar-benar kamu percayai.

10. Tidak mengakui ketika merasa tersakiti.

Tidak akan terbentuk hubungan yang asli dengan seseorang kecuali ada keinginan untuk berbicara dan mengatakan bahwa kita sakit hati. Menolak perasaan sendiri ketika marah, sedih malu, atau kecewa, bahkan ketika tersakiti secara emosional, akan membuat hubungan dangkal.

Jika ada kecenderungan untuk mengatakan “iya” pada hal-hal yang tidak ingin dikerjakan atau tidak berbicara karena tidak ingin membuat orang lain kesan, maka inilah hal-hal yang harus diingat:

1. Kamu tidak bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Ada kecenderungan untuk melakukan apa saja seperti yang pasangan inginkan, atau berusaha membuat semua rekan kerja suka padamu, usaha untuk membuat semua orang senang berarti kamu berusaha untuk membawa sangat bayak tanggung jawab. Semua orang bertanggung jawab atas emosinya masing-masing, dan kamu tidak bisa membuat semua orang senang. Semua orang mempunyai caranya sendiri untuk mengatasi perasaan tidak nyaman seperti kecewa dan marah. Bukanlah tugasmu untuk melindungi mereka dari rasa sakit.

2. People-pleaser mudah untuk dimanipulasi

Semakin sering mengatakan ya pada banyak permintaan, maka akan semakin banyak pula permintaan-permintaan lain berdatangan. Dalam hal ini, people-pleaser menjadi sasaran empuk. Seseorang mungkin akan mengatakan pada mereka seperti “aku benci menanyakanmu ini, tapi…” atau “saya tidak akan meminta bantuan orang lain, tapi kamu adalah teman baikku “. Adanya rasa bersalah untuk melakukan sesuatu, atau merasa terhormat karena telah dipercaya, mungkin saja itu bentuk manipulasi ketika orang lain tahu bahwa tujuan utamamu adalah menyenangkan orang lain.

3. Pilihanmu akan selalu menjadi hal yang tidak disukai orang lain

Tidak ada satu keputusan, produk, atau layanan yang dapat membuat semua orang senang. Misalnya, saya suka roti rasa coklat tapi mungkin sobat RK tidak suka dan lebih memilih roti rasa keju.

Bahkan keputusan pribadimu pun tidak mempengaruhi orang lain untuk menjadikannya suatu pendapat atau kritikan. Misalnya, ibumu mungkin akan mempertimbangkan banyak hal ketika dirimu memutuskan untuk menerima pekerjaan baru, atau teman-temanmu menunjukkan bahwa mereka kurang menyetujui hubunganmu yang baru. Sementara kamu menjadi mempertimbangkan pendapat-pendapat mereka. Bukan tugasmu untuk membuat mereka bahagia.

4. Mencoba untuk menyenangkan semua orang itu menguras energi dan melelahkan

Mencoba untuk membuat semua orang senang akan menghabiskan energi mentalmu. Semakin kamu berpikir apakah seseorang akan kesal, atau bagaimana menyampaikan keputusanmu dengan cara yang tidak menyinggung, semakin sedikit energi yang kamu miliki untuk memutuskan sesuatu yang lebih penting. Mencemaskan, merenungkan, dan membicarakan kembali tidak akan membuatmu maju. Jika kamu menghabiskan waktu dan energi dalam jumlah yang sama untuk melakukan sesuatu produktif, kamu akan mendapatkan hasil yang lebih.

5. Berusaha menyenangkan semua orang sebenarnya sedikit egois

Salah satu alasan umum yang sering didengar dari people-pleaser adalah mereka tidak bisa berkata “tidak” karena mereka tidak ingin terlihat egois. Tapi nyatanya, kebutuhan untuk selalu ingin disukai sebenarnya sedikit egois. Mengatakan ya pada hal yang tidak ingin dilakukan akan menyebabkan perasaan kesal. Dan hal tersebut membahayakan hubungan. Mengatur batasan yang sehat dan memelihara hubungan, bahkan dengan risko seseorang mungkin akan marah itu jauh tidak egois.

Kebiasaan untuk ingin menyenangkan semua orang dapat menyebabkan kita kehilangan nilai-nilai diri kita. Belajar untuk toleransi ketika seseorang kesal pada kita mungkin akan sulit, tapi itu perlu agar kita dapat mencapai tujuan kita. Kata-kata dan perilaku kita harus sejalan dengan keyakinan diri sebelum kita bisa menjadi diri kita sendiri. Ketika kita bisa menjadi diri sendiri, saat itulah kita bisa menjadi diri kita yang terbaik.

References

Margarita Tartakovsky, M. S. (2018, October 8). 21 Tips to Stop Being a People-Pleaser. Retrieved from

PsychCentral: https://psychcentral.com/lib/21-tips-to-stop-being-a-people-pleaser/?all=1

Morin, A. (2016, September 1). 5 Lessons People Pleasers Need to Learn. Retrieved from Psychology

Today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/what-mentally-strong-people-dont-

do/201609/5-lessons-people-pleasers-need-learn

Morin, A. (2017, August 23). 10 Signs You're a People-Pleaser. Retrieved from Psychology Today:

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201708/10-

signs-youre-people-pleaser

Manfaat Bersyukur

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

Sering menerapkan perilaku bersyukur dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata punya manfaat yang begitu besar bagi kehidupan kita. Dengan kita mempraktikan rasa syukur, kita dapat memperluas perespektif kita dan melihat berbagai hal secara lebih luas, meningkatkan pikiran positif dan kesejahteraan kita, meiningkatkan kepecrayaan diri dan hubungan kita dengan orang lain.

Para ahli di bidang Psikologi mendefinisikan rasa syukur sebagai respon emosional positi untuk menerima manfaat dari seseorang. Dalam Psikologi positif , rasa syukur adalah cara manusia untuk mengakui hal-hal baik dalam hidupnya dan juga rasa syukur itu bisa kita pelajari.

Ada beberapa manfaat ketika kita sering mempraktikan rasa bersyukur, terutama saat kita dilanda stress atau adanya ketidakpastian dalam hidup kita. Rasa syukur mampu mengundang emosi positif yang dapat memiliki manfaat fisik Melalui system kekebalan dan atau system endokrin. Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memikirkan tentang apa yang kita hargai, bagian parasimpatis atau penenang dari system saraf terpicu dan dapat memberikan manfaat pelindung bagi tubuh termasuk penurunan kadar hormone stree kortisol dan peningkatan oksitosin, hormone pengikat yang terlibat dalam hubungan yang membuat kita merasa nyaman.

Dengan mempraktikkan rasa syukur, kita bisa mengatasi stress dengan lebih baik. Dengan mengakui hal-hal yang kecil dalam hidup kita dapat mengubah untuk menghadapi keadaan sekarang dengan lebih banyak kesadaran dan fleksibilitas. Para ilmuwan menyarankan bahwa dengan mengaktifkan pusat penghargaan di otak, pertukaran rasa syukur mengubah cara kita memandang dunia dan diri kita sendiri.

Seperti kebanyakan skill, rasa syukur harus terus dipraktikkan dan diperkuat sehingga pada akhirnya kita bisa melatih otak kita untuk bersyukur. Ada banyak cara untuk melakukannya. Tidak ada satu cara yang berhasil untuk semua orang cara terbaik adalah menemukan metode yang paling nyaman dan efektif untuk kita.

Ada 5 cara yang bisa dijadikan rujukan untuk melatih rasa syukur kita:

1. Menulis catatan atau notes terima kasih

Dalam buku upward spiral yang ditulis oleh Alex Korb mengatakan bahwa rasa syukur memaksa kita untuk tetap focus pada sisi positif kehidupan kita. Kaat kita memberi atau menerima ucapan terima kasih, otak kita secara otomatis diarahkan unuk memperhatikan apa yang kita miliki. Kita bisa menjadikan hari yang tertentu sebagai hari syukur. Misal kita menentukan bahwa hari syukur adalah hari jumat (bukan berarti kita tidak bersyukur di hari yang lain). Pada hari yang sudah ditentukan itu, kita bisa menulis memo atau catatan ungkapan terima kasih baik pada diri kita sendiri ataupun pada orang lain yang telah membantu kita selama satu minggu kebelakang. Biasanya kita mengungkapkan rasa terima kasih secara langsung dengan lisan kita, tetapi pada hari yang di tentukan tulislah rasa terima kasih tersebut di secarik kertas atas apa yang kita lakukan atau yang orang lain lakukan untuk hidup kita selama satu minggu kebelakang.

2. balas perbuatan orang lain dengan kebaikan

Biasanya kita hanya focus kepada apa yang kita dengar, apa yang kita ketahui atau apa yang disampaikan seseorang kepada kita tentang pencapaian yang kita raih dan lain sebagainya. Kita bisa memulai untuk memperhatikan perbuatan orang lain sekecil apa pun kepada kita dan menindaklanjuti dengan mengunkapkan rasa terima kasih kita kepadanya. Sebagai contoh ketika ada orang lain yang menanyakan perasaan kita hari ini kita bisa menindak lanjutinya dengan mengungkapkan rasa terima kasih kita kepadanya karena telah menanyakan perasaan kita hari ini.

3. Buatlah jurnal rasa syukur

Jika bingung untuk membuat formatnya seperti apa, saat ini sudah banyak jurnal rasa syukur tersedia di berbagai situs jual beli online. Jurnal ini membantu menjaga agar prosesnya bervariasi, interaktif dan menarik. Menulis jurnal ini bisa dilakukan di penghujung hari sebelum tidur sehingga bisa memperkuat praktik yang konsisten terhadap rasa syukur di kemudian hari. Praktik ini juga bisa dilakukan baik sendiri atau bersama dengan keluarga kita.

4. Santai dan perhatikan

Syukur adalah keterampilan yang bisa dipupuk dan diperkuat dengan latihan kesadaran. Ketika kita beristirahat sejekan dari aktivitas kita dan memperhatikan semua apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri, kita dapat lebih mudah mensyukuri karena kita mensyukuri setiap hal kecil yang kita lakukan untuk diri kita. Ada banyak manfaat fisiologis dan psikologis dari mindfulness. Ini bermanfaat bagi Kesehatan psikologis seperti membantu mengurangi kecemasan, depresi, perenungan dan reaktivitas emosional. Ini membantu meningkatkan Kesehatan fisik kita juga seperti meningkatkan fungsi system kekebalan tubuh, kualitas tidur, dan tekanan darah. Tetap santai untuk

mempraktikkan kemampuan bersyukur kita agar di kemudian hari kita terlatih dalam mempraktikkan rasa syukur.

5. Berhati-hatilah saat membandingkan diri dengan lingkungan.

Saat kita membandingkan diri baik secara sengaja maupun tidak disengaja, pikiran kita berusaha mati-matian untuk melindungi diri kita dengan cara apapun dan terkadang hal tersebut membuat kita menjadi merasa Lelah dan membuat pikiran menjadi negatif. Apabila pikiran berubah menjadi terlalu negative, kita akan kesulitan untuk mencari celah dalam mempraktikkan rasa syukur kita. Berhati-hatilah ketika akan membandingkan diri kita dengan orang lain karena tidak semua hal harus kita bandingkan.

Kekerasan Seksual

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

Kasus kekerasan seksual masih banyak terjadi di masyarakat Indonesia, apalagi disaat pandemik
seperti sekarang ini. Angka kekerasan seksual khususnya terhadap perempuan dan anak semakin
meningkat, ada 770 kasus kekerasan seksual terjadi pada anak-anak dengan kasus tersangka atau
pelakunya memiliki hubungan keluarga seperti ayah, paman, kakak kandung, maupun kakek.
Atau disebut dengan inces. Hal ini dapat dilihat pada CATAHU 2020 (Catatan Tahunan).

Screen Shot 2020-10-03 at 12.07.02

Siapa sih pelaku kekerasan seksual itu?
Setiap orang yang memberikan tindakan kepada anak tanpa persetujuannya atau dengan persetujuannya jika diperoleh dengan paksa, atau dengan cara ancaman atau intimidasi dalam bentuk apa pun, atau karena takut akan cedera tubuh.

Jadi, suatu tindakan dikatakan memiliki unsur kekerasan seksual adalah jika terdapat
didalamnya:

  1. Tindakan Paksaan
  2. Tindakan ancaman
  3. Memberikan intimidasi

Screen Shot 2020-10-12 at 09.48.56

Hal ini dijelaskan dalam Kitab Undang Hukum Acara Pidana (KUHP) pasal 82, yang berisi:
Setiap orang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).

Jadi, jika diri sendiri, keluarga terdekat, kerabat, teman, sahabat, atau siapapun, jika mengetahui terhadap perilaku ini diberikan kepada seseorang, segera melaporkan kepada pihak yang dinilai memiliki otorisasi terhadap kasus ini. Lembaga tersebut antara lain:

  1. Kepolisian; melalui hotline resmi 110
  2. Komnas perempuan; melalui hotline resmi 021 – 3903963
  3. Komnas perlindungan anak Indonesia; melalui hotline resmi 021- 319015 Atau, segera mendatangi pihak-pihak yang memiliki otoritas tersebut, atau yang mudah untuk didatangi seperti P2TP2A, Puskesmas, maupun biro konsultasi psikologi.