Mendampingi anak saat fase ‘Terrible Twos’

Banyak orangtua yang merasa khawatir ketika melihat anak batita mereka yang semula begitu manis, penurut, dan tenang mendadak menjadi  anak yang cepat marah, galak, sering melakukan hal yang justru dilarang, menangis meraung-raung dan suka memukul. Perubahan yang begitu cepat ini tentunya membuat orangtua kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada anak mereka. Tidak jarang juga perubahan ini membuat orangtua menjadi mudah terbawa emosi dan pada akhirnya kemarahan anak yang dibalas dengan kemarahan tidak kunjung mereda, malah semakin menjadi-jadi.

Di tahun pertama kehidupan anak dorongan yang mereka miliki masih sebatas pada pemenuhan kebutuhan fisik (lapar ingin makan, ngantuk ingin tidur, atau ingin diganti popoknya). Pusat perhatian anak hanyalah ayah, ibu, atau pengasuh utama lainnya. Anak ingin membuat ibunya tertawa agar mendapat perhatian. Ketika ibu tersenyum, anak ikut tersenyum. Begitupun saat ibu tegang, anak terbawa emosional. Situasi yang begitu sinkron antara anak dengan ibu ini membuat anak terlihat sangat manis dan anteng di tahun pertamanya.

Begitu anak berulang tahun yang pertama dan mulai belajar berjalan, maka perhatiannya mulai menyebar luas tidak hanya sekedar ibunya. Dengan berjalan, anak mulai memiliki dorongan baru untuk melakukan banyak hal sesuai kehendaknya karena ia merasa memiliki kuasa penuh atas pergerakan tubuhnya. Sehingga tidak heran di fase ini orangtua sering merasa anaknya mulai susah diatur dan sering membuat marah. Perubahan drastis yang muncul pada batita anda ini hanyalah sebuah fase dari sekian fase lainnya yang harus ia lewati. Fase ini biasa disebut sebagai fase ‘terrible twos’, yaitu sebuah fase ketika anak batita mulai belajar untuk menyatakan kebebasannya dalam bertindak dan memutuskan sesuatu sesuai keinginannya. Biasanya muncul ketika anak berusia 18 bulan dan normalnya berhenti di usia 3 tahun. Ciri-ciri utama yang menandai fase ini adalah anak tiba-tiba menunjukkan perilaku tantrum, penolakan, dan melakukan hal-hal yang justru dilarang atau bertentangan dengan yang diminta orangtua.

Masa batita merupakan masa ketika anak mengalami pergolakan emosi dan perasaan yang begitu kuat dengan kemampuan komunikasi yang masih sangat terbatas. Terkadang perasaan yang mereka rasakan cukup berlebihan tapi mereka tidak tahu kata-kata apa yang harus mereka gunakan untuk memberitahukan orangtua, sehingga akhirnya kemarahan, kekecewaan, frustrasi, kecemburuan, dan kejenuhan menjadi bentuk-bentuk perilaku yang tampil pada mereka.

Orangtua juga kerapkali menemukan perubahan emosi yang begitu cepat pada anak seperti saat anak sedang marah karena dia dilarang terus menerus makan cokelat dari toples di meja makan, tiba-tiba ia tertawa senang hanya karena melihat kedatangan kakek dan nenek yang sangat disukainya.

Karakteristik anak di fase ‘terrible twos’

  1. Anak menjadi sangat keras kepala di fase ini. Mulai muncul banyak opini dari dalam diri mereka yang diungkapkan begitu saja, kapan, saja, dan di mana saja, tanpa memedulikan situasi dan kondisi saat itu. Jika mereka inginkan sesuatu maka mereka akan menuntut terus sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau dengan berbagai cara.
  • Hal positif yang bisa orangtua peroleh dari kondisi ini adalah orangtua bisa segera mengetahui apa kemauan anak dan bagaimana menyikapinya. Anak tidak malu ataupun tertutup mengungkapkan keinginan dan pikirannya, dibandingkan menghadapi anak remaja yang kemauannya sulit diterka karena antara pikiran dan tingkah lakunya banyak bertolak belakang.
  • Ini adalah tahapan awal anak belajar untuk asertif. Orangtua hendaknya mendengarkan apa pun yang disampaikan anak, terima pendapatnya tanpa menginterupsi saat anak belum selesai bicara apalagi menyuruh anak untuk diam.
  1. Anak kerapkali memiliki kesulitan mengambil keputusan yang sangat mereka inginkan . Mereka bilang ingin sesuatu namun ketika diberikan mereka justru menolaknya dan setelah itu kembali memintanya lagi dan menolaknya lagi sampai akhirnya mereka kesal dan menangis. Orangtua tentunya kebingungan karena tidak paham bagaimana harus menenangkan anak sementara penyebab kemarahan anak pun masih belum jelas. Situasi ini adalah teka-teki yang sulit dipecahkan oleh para orangtua.
  • Hal yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah mengalihkan anak ke hal lain. Orangtua bisa segera menggendong anak ke tempat yang bisa membuatnya lebih tenang. Jika anak terlanjur tantrum, jangan lakukan apa pun kecuali berada di dekat anak dan tunggu sampai anak selesai menangis. Saat kemarahan anak terlihat mulai mereda, orangtua dapat kembali mengajaknya bicara dengan lembut untuk menanyakan kembali apa keinginannya dan mengkoreksi tingkah laku tidak baik yang ditunjukkan saat ia marah.

Fase ini memang salah satu fase yang sulit bagi orangtua, tapi sesungguhnya anak pun mengalami kesulitan pada fase ini. Sama halnya dengan kita individu dewasa yang merasa risau saat memiliki keputusan sendiri yang terkadang bertentangan dengan kehendak orangtua kita, anak pun merasakan hal demikian. Namun ini adalah tahapan pertama anak untuk belajar menjadi individu yang unik dengan pemikiran dan pilihannya sendiri melalui keberanian menyatakan pendapat dan kemampuan mengambil keputusan.

Saat Anak Takut Bertemu Orang Asing

99501232_wide

Kita seringkali kebingungan ketika melihat bayi kita yang semula selalu anteng mendadak menjadi penuh ketakutan dan kemarahan saat bertemu orang baru. Padahal sebelumnya bayi kita bisa dengan mudah digendong oleh siapa saja, bahkan bisa tertawa ketika diajak bercanda. Beragam pertanyaan muncul di benak kita sebagai orangtua, apakah anak saya penakut? Apa ada yang salah dengan cara saya mengenalkan dia dengan orang lain? Apa anak saya selama ini terlalu nempel sama saya? 

Semua kekhawatiran tersebut sangat wajar kita rasakan. Namun kita tidak perlu berlarut-larut dalam kekhawatiran tersebut karena ternyata bayi kita sedang memasuki fase fear of strangers atau ketakutan terhadap orang asing dan ini merupakan tahapan perkembangan yang normal dilalui pada anak.

 

Usia berapa bayi mulai menunjukan ketakutan terhadap orang baru?

Pada usia 3 dan 4 bulan kebanyakan bayi menunjukan respon serupa seperti tersenyum kepada siapa saja yang mengajaknya berinteraksi. Memasuki usia 6 atau 7 bulan, di samping mengembangkan berbagai keterampilan, bayi juga mulai mengembangkan rasa takutnya. Mereka mulai belajar mengenali lingkungannya dan mulai membedakan orangtuanya dengan orang asing. Hal ini yang membuat mereka tiba-tiba takut saat orangtuanya meninggalkan mereka sebentar atau ketika ia bertemu dengan orang asing.

Fase ‘takut’ ini dapat berlangsung selama beberapa bulan saja, bahkan sampai berbulan-bulan, dan pada umumnya akan berhenti antara usia 18 bulan sampai 2 tahun.

Apakah semua anak mengalami fase ini?

Semua bayi mengalami fase ini, tentunya dengan intensitas yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh faktor temperamen masing-masing anak: easy, slow-to-warm, dan difficult. Anak dengan temperamen easy terlihat aktif dan ceria, ia akan dengan mudah beraptasi  di situasi dan lingkungan baru. Pada anak slow-to-warm cenderung sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara pada anak dengan temperamen difficult memiliki kesulitan untuk beradaptasi dan seringkali terlihat bad mood.

Bagaimana cara orangtua membantu anak menghadapi fase ini?

  • Dampingi anak saat memasuki lingkungan/bertemu dengan orang baru. Ketika anda membawa anak anda ke tempat baru berisi orang-orang yang juga baru bagi anak, selalu pastikan anak berada dalam sentuhan anda, misalnya digendong, dipeluk, atau digenggam tangannya. Jika tiba-tiba ia menangis, alihkan sejenak perhatiannya ke hal lain atau menjauh dari orang yang baru dikenalnya sampai ia merasa tenang. Anda juga bisa membawakan barang kesayangan anak seperti mainan yang dapat ia pegang selama mencoba beradaptasi.
  • Beri anak anda waktu. Jangan langsung membiarkan anak digendong oleh orang baru dengan harapan lama-lama ia akan terbiasa. Hal ini justru akan semakin memperbesar rasa takutnya. Cobalah untuk ikut terlibat ketika anak anda sedang belajar berinteraksi. Situasi ini dapat membuat anak anda merasa aman karena ia tahu anda tidak akan meninggalkannya dengan orang dewasa yang masih asing baginya.
  • Tunjukkan interaksi positif di hadapan anak. Anak selalu belajar dari lingkungannya, terutama orangtua. Ketika anda sedang bertemu dengan teman atau anggota keluarga yang belum familiar bagi anak, atau bahkan orang yang juga baru anda kenal, sapa mereka dengan intonasi yang ceria dan tunjukkan senyuman anda kepada mereka. Dengan melihat interaksi yang positif ini dapat mengurangi ketakutan anak ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya.
  • Berikan penjelasan. Terkadang kerabat kita tiba-tiba menyapa dengan mencium atau langsung menggendong anak kita. Maka sangat penting untuk segera memberikan penjelasan kepada mereka bahwa anak kita sedang belajar untuk bertemu dengan orang baru.

 

Kapan kita perlu mencari bantuan?

Jika sampai usia lebih dari 2 tahun anak masih terus menampilkan ketakutan yang ekstrim terhadap orang baru atau saat berpisah dengan orangtua, maka orangtua disarankan untuk segera mengkonsultasikan permasalahan anak anda ke ahlinya.     

 

Sumber:

http://www.raisingchildren.net.au

Hartson, John. & Payne, Brenda. (2006). Creating Effective Parenting Plans. Chicago: ABA Publishing.