Kenapa Validasi Emosi itu Penting?

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

“Berat banget ya situasinya, wajar kamu sedih kaya gini..”

“Saya kesal dan merasa sendiri karena tidak mendapat perhatian dari teman saya..”

“Iya sayang sedih ya, kesel juga ya rasanya ga boleh nonton kartun lagi?”

Sobat RK, seringkah mendengar jenis kalimat seperti di atas? Bijak sekali ya terdengarnya, kadang geli dengernya ga? hha. Kalimat tersebut merupakan bentuk usaha Validasi Emosi. Di dunia parenting pun lagi sering banget digaungkan untuk menghadapi balada emosi anak.

Validation requires empathy (the accurate understanding of the person’s experience) but validation also includes the communication that the person’s response makes sense.

-Dr. Marsha Linehan-

Istilah Validasi Emosi ini cukup sering muncul ketika kita berhadapan dengan masalah pengaturan emosi. Konsep mengakui dan menerima perasaan dianggap ampuh meredakan rasa tak nyaman ketika berada di kondisi yang memicu emosi. Mengapa bisa begitu ya? Seajaib itu kah kata-kata “mengerti” dan melabel emosi yang muncul?

Dalam buku A Whole-Brain Child, Daniel J. Siegel, menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat validasi emosi mampu mempengaruhi keberfungsian otak manusia khususnya pada anak. Otak manusia terdiri dari 2 belahan otak (kanan dan kiri) yang perlu diseimbangkan. Otak kanan masih mendominasi ketika masih berada di fase anak-anak. Maka sejak kecil anak-anak perlu dilatih untuk menggunakan kedua belah otaknya. Latihan ini bisa dimulai di usia 3 tahun. Ada 2 strategi yang bisa dilakukan untuk latihan menyeimbangkan otak yaitu Connect dan Redirect.

  • Connect

Mulailah dengan mengkoneksikan perasaan anak dengan menenangkan dan menunjukkan empati kita pada anak. Bisa menggunakan kalimat validasi atau cukup dengan menemani hingga memeluk anak. Hal tersebut bisa menenangkan otak kanan anak (berisi perasaan dan sinyal nonverbal). Baru kemudian kita picu otak kirinya dengan fokus pada alasan emosinya muncul (what and how).

  • Redirect

Melabel perasaan tersebut agar lebih “jinak”. Ketika sudah tenang minta anak untuk menceritakan kejadian emosional yang ia alami lalu kita bantu validasi atau berikan nama pada perasaan yang muncul. Hal ini akan menghubungkan fungsi otak kiri seperti bahasa emosi, ingatan dan pikiran dari otak kanan. Ketika ketika memberikan nama atau mengakui emosi, otak kita akan mengurangi fokus kerjanya di area emosi sehingga bisa “menjinakkan” perasaan yang muncul.

2 strategi tersebut baru sedikit mengupas cara kerja otak kita dalam mengelola emosi, masih ada bagian-bagian seru lainnya yang bisa dilatih dan difungsikan secara optimal agar aspek-aspek fungsi otak bisa terhubung dan menjadi seimbang. Kuncinya ada pada penerimaan dan kesadaran kita dalam menghadapi emosi yang muncul. Jadi, yuk latihan untuk memvalidasi emosi dengan menerima dan mengakui emosi tersebut agar otak kita bisa berfungsi optimal hingga menemukan solusi yang efektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s