Burnout Syndrome

Ditulis Oleh: Tsan Ulfah Ullaya, S. Psi

Burnout Syndrome dijelaskan sebagai kelelahan fisik yang diakibatkan oleh adanya perasaan tidak berdaya, putus asa, merasa terkuras secara emosional, konsep diri menjadi negatif, dan sikap negatif terhadap pekerjaan, kehidupan, serta orang lain (Pines, Aronson & Kafry, 1981).

Burnout syndrome biasanya dirasakan individu dalam setting pekerjaan, namun bisa juga dirasakan pada kehidupan sehari-hari. Berbagai gejala yang mungkin dirasakan ketika individu mengalami burnout syndrome dijabarkan secara lebih jelas, di antaranya:

  • Kelelahan fisik ditandai dengan energi yang menurun, lelah sepanjang hari dan biasanya disertai dengan keluhan fisik, seperti sakit kepala, mual, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan.
  • Kelelahan emosional ditandai dengan adanya perasaan cemas, dan tidak berdaya.
  • Kelelahan sikap ditandai dengan sinis terhadap orang lain, bersikap negatif terhadap orang lain, cenderung merugikan diri sendiri, pekerjaan, serta kehidupan pada umumnya.
  • Penghargaan diri rendah ditandai dengan tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik.

Sinisme, kecemasan, dan kelesuan yang merupakan ciri khas dari burnout syndrome paling sering terjadi ketika seseorang tidak dapat mengendalikan pekerjaan mereka, baik di tempat kerja atau di rumah, diminta untuk menyelesaikan tugas yang bertentangan dengan diri mereka, bekerja berjam-jam, terlalu banyak tugas, serta kurangnya dukungan.

Perlu diketahui, bahwa pekerjaan bukanlah satu-satunya sumber stres yang dapat menyebabkan kelelahan. Peran sebagai orang tua, atau pasangan misalnya, juga dapat mengalami kelelahan karena merasa kewalahan dengan tanggung jawab mereka atau merasa gagal dalam peran mereka. Kelelahan dalam bentuk apa pun dapat memiliki konsekuensi yang parah jika tidak ditangani. Berikut adalah cara yang bisa kita lakukan jika kita mengalami burnout syndrome:

1. Mendiskusikan atau sharing secara terbuka, baik dengan keluarga, pasangan, teman, atau terapis, bisa menjadi langkah awal untuk mengatasi gejala, mendapat bantuan yang dibutuhkan dan menghindari hasil negatif.

2. Membuat schedule aktivitas sehari-hari. Catat dengan seobjektif mungkin dan pertimbangkan berapa jam yang kita dihabiskan di kantor, di rumah, di tempat-tempat umum dan di waktu “me-time” untuk melakukan hal-hal yang kita disukai.

3. Luangkan waktu untuk liburan atau melakukan kegiatan yang disukai dan lupakan masalah pekerjaan untuk sementara waktu.

4. Mempelajari dan melakukan teknik relaksasi dan meditasi untuk mengurangi stres.

5. Periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala kelelahan yang sampai mempengaruhi kesehatan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s