People Pleaser

Ditulis Oleh: Prilianti Putri Lestari, S. Psi

Seseorang dapat dikatakan people-pleaser ketika ia ingin semua orang yang ada di sekitarnya bahagia dan ia akan melakukan apa saja untuk membuat semua orang bahagia. Betul, semua orang.Menurut psikolog dari New Jersey, Susan Newman, mereka akan menempatkan orang lain terlebihdahulu dibandingkan dirinya sendiri. Selalu berkata “iya” adalah kebiasaan mereka. Hal itu membuatmereka merasa penting dan mereka senang dapat berkontribusi dalam hidup orang lain. People-pleaser menginginkan validasi dari luar. Linda Tillman, psikolog klinis dari Atlanta mengatakan bahwa perasaan aman dan kepercayaan diri seorang yang people-pleaser didapat berdasarkan penerimaan orang lain. Mereka khawatir pandangan orang lain terhadap mereka ketika mengatakan tidak. Mereka tidak mau dilihat sebagai orang yang malas, tidak peduli, dan egois. Ketakutan mereka adalah tidak disukai atau dikeluarkan dari suatu kelompok, entah itu tema, keluarga, atau rekan kerja.

Kebanyakan people-pleaser tidak sadari adalah mereka sebenarnya bisa saja mendapatkan risiko yang serius. Tidak hanya akan menempatkan dirinya dalam posisi tertekan dan stress, akan tetapi mereka akan membuat dirinya sendiri sakit karena berbuat sesuatu secara berlebihan. Ketika berkomitmen secara berlebihan untuk orang lain, jam tidur pun mulai akan terpengaruh dan mereka mulai sering merasa cemas dan kesal. Hal ini akan menguras energi mereka. Atau bahkan lebih buruknya, mereka akan merasa depresi, kewalahan karena mungkin saja mereka tidak bisa melakukan semua hal tersebut. Dengan kata lain, menjadi people-pleaser bukanlah masalah utamanya; namun keinginan untuk membuat orang lain bahagia merupakan simtom dari masalah yang lebih dalam. Seringkali, keinginan untuk menyenangkan orang lain berakar dari masalah harga diri karena berharap untuk selalu merasa diterima dan disukai semua orang. People-pleaser lainnya mungkin saja pernah mengalami penganiayaan dan mereka berharap untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik sehingga mereka mencoba untuk membahagiakan orang-orang yang menganiaya mereka.

Banyak people-pleaser bingung antara menyenangkan orang lain dengan kebaikan. Ketika mendiskusikan keenganan mereka untuk menolak keinginan orang lain, mereka akan berkata “saya tidak ingin menjadi orang yang egois”, atau “saya hanya ingin menjadi orang yang baik”. Konsekuensinya, mereka membiarkan orang lain memanfaatkan mereka.

People-pleasing dapat menjadi masalah serius dan ini adalah kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. Berikut adalah 10 tanda bahwa kamu berusaha keras untuk menyenangkan orang lain:

1. Berpura-pura setuju dengan semua orang.

Mendengar opini orang lain dengan sopan, bahkan ketika kamu tidak setuju, merupakan kemampuan sosial yang bagus. Tetapi berpura-pura setuju hanya karena ingin disukai dapat membuat perilaku yang berlawanan dengan nilai-nilai diri.

2. Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Mengetahui bagaimana perilaku kita berpengaruh pada orang lain itu baik. tapi berpikir mempunyai kekuatan untuk membuat orang lain bahagia adalah sebuah masalah. Pengendalian emosi itu kembali pada masing-masing individu, bukan menjadi tanggung jawab kita.

3. Meminta maaf terlalu sering.

Menyalahkan diri secara berlebihan atau ketakutkan orang lain akan menyalahkan dirinya, mereka akan meminta maaf secara sering dan itu bisa menjadi tanda dari masalah yang lebih besar. Kita tidak perlu meminta maaf untuk menjadi diri sendiri.

4. Merasa terbebani dengan hal yang seharusnya kamu lakukan.

Kita bertanggung jawab atas bagaimana kita menghabiskan waktu. Tapi bagi jadwal waktu yang dimiliki seorang people-pleaser, mereka akan mengisinya dengan berbagai aktivitas yang mereka pikir orang lain ingin mereka lakukan.

5. Tidak bisa berkata “tidak”.

Berkata “iya” dan kemudian menjalaninya atau memutuskan berpura-pura sakit untuk keluar dari komitmen pada akhirnya akan membuat kita jauh dari tujuan yang kita tetapkan jika kita tidak berbicara untuk diri sendiri.

6. Merasa tidak nyaman ketika orang lain marah padamu.

Hanya karena seseorang marah bukan berarti kamu melakukan semua hal salah. Tapi jika kamu tidak bisa tahan ketika ada orang yang marah padamu, kamu akan mulai berkompromi dengan nilai-nilaimu.

7. Berperilaku seperti orang-orang di sekitar, tidak menjadi diri sendiri.

Hal yang normal ketika orang lain mengeluarkan sisi yang berbeda dari kepribadianmu. Tapi people-pleaser sering kali justru bersikap mengikuti orang-orang yang ada di sekitarnya. Penelitian menunjukkan bahwa people-pleaser mengalami perilaku yang merusak diri jika mereka berpikir dapat membantu orang lain merasa lebih nyaman dalam situasi sosial. Contohnya, people-pleaser makan lebih banyak ketika mereka berpikir hal itu akan membuat orang lain senang.

8. Butuh pujian untuk merasa baik.

Ketika pujian dan perkataan yang baik membuat seseorang senang, maka people-pleaser akan bergantung pada validasi. Jika harga diri bergantung sepenuhnya pada apa yang orang lain pikirkan tentangmu, maka kamu hanya akan merasa baik ketika orang lain memberikanmu banyak pujian.

9. Sangat menjaga agar terhindar dari konflik.

Tidak ingin memulai konflik adalah satu hal. Tapi menghindari konflik dengan cara apa pun berarti kita akan berjuang untuk membela hal-hal, dan orang-orang, yang benar-benar kamu percayai.

10. Tidak mengakui ketika merasa tersakiti.

Tidak akan terbentuk hubungan yang asli dengan seseorang kecuali ada keinginan untuk berbicara dan mengatakan bahwa kita sakit hati. Menolak perasaan sendiri ketika marah, sedih malu, atau kecewa, bahkan ketika tersakiti secara emosional, akan membuat hubungan dangkal.

Jika ada kecenderungan untuk mengatakan “iya” pada hal-hal yang tidak ingin dikerjakan atau tidak berbicara karena tidak ingin membuat orang lain kesan, maka inilah hal-hal yang harus diingat:

1. Kamu tidak bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Ada kecenderungan untuk melakukan apa saja seperti yang pasangan inginkan, atau berusaha membuat semua rekan kerja suka padamu, usaha untuk membuat semua orang senang berarti kamu berusaha untuk membawa sangat bayak tanggung jawab. Semua orang bertanggung jawab atas emosinya masing-masing, dan kamu tidak bisa membuat semua orang senang. Semua orang mempunyai caranya sendiri untuk mengatasi perasaan tidak nyaman seperti kecewa dan marah. Bukanlah tugasmu untuk melindungi mereka dari rasa sakit.

2. People-pleaser mudah untuk dimanipulasi

Semakin sering mengatakan ya pada banyak permintaan, maka akan semakin banyak pula permintaan-permintaan lain berdatangan. Dalam hal ini, people-pleaser menjadi sasaran empuk. Seseorang mungkin akan mengatakan pada mereka seperti “aku benci menanyakanmu ini, tapi…” atau “saya tidak akan meminta bantuan orang lain, tapi kamu adalah teman baikku “. Adanya rasa bersalah untuk melakukan sesuatu, atau merasa terhormat karena telah dipercaya, mungkin saja itu bentuk manipulasi ketika orang lain tahu bahwa tujuan utamamu adalah menyenangkan orang lain.

3. Pilihanmu akan selalu menjadi hal yang tidak disukai orang lain

Tidak ada satu keputusan, produk, atau layanan yang dapat membuat semua orang senang. Misalnya, saya suka roti rasa coklat tapi mungkin sobat RK tidak suka dan lebih memilih roti rasa keju.

Bahkan keputusan pribadimu pun tidak mempengaruhi orang lain untuk menjadikannya suatu pendapat atau kritikan. Misalnya, ibumu mungkin akan mempertimbangkan banyak hal ketika dirimu memutuskan untuk menerima pekerjaan baru, atau teman-temanmu menunjukkan bahwa mereka kurang menyetujui hubunganmu yang baru. Sementara kamu menjadi mempertimbangkan pendapat-pendapat mereka. Bukan tugasmu untuk membuat mereka bahagia.

4. Mencoba untuk menyenangkan semua orang itu menguras energi dan melelahkan

Mencoba untuk membuat semua orang senang akan menghabiskan energi mentalmu. Semakin kamu berpikir apakah seseorang akan kesal, atau bagaimana menyampaikan keputusanmu dengan cara yang tidak menyinggung, semakin sedikit energi yang kamu miliki untuk memutuskan sesuatu yang lebih penting. Mencemaskan, merenungkan, dan membicarakan kembali tidak akan membuatmu maju. Jika kamu menghabiskan waktu dan energi dalam jumlah yang sama untuk melakukan sesuatu produktif, kamu akan mendapatkan hasil yang lebih.

5. Berusaha menyenangkan semua orang sebenarnya sedikit egois

Salah satu alasan umum yang sering didengar dari people-pleaser adalah mereka tidak bisa berkata “tidak” karena mereka tidak ingin terlihat egois. Tapi nyatanya, kebutuhan untuk selalu ingin disukai sebenarnya sedikit egois. Mengatakan ya pada hal yang tidak ingin dilakukan akan menyebabkan perasaan kesal. Dan hal tersebut membahayakan hubungan. Mengatur batasan yang sehat dan memelihara hubungan, bahkan dengan risko seseorang mungkin akan marah itu jauh tidak egois.

Kebiasaan untuk ingin menyenangkan semua orang dapat menyebabkan kita kehilangan nilai-nilai diri kita. Belajar untuk toleransi ketika seseorang kesal pada kita mungkin akan sulit, tapi itu perlu agar kita dapat mencapai tujuan kita. Kata-kata dan perilaku kita harus sejalan dengan keyakinan diri sebelum kita bisa menjadi diri kita sendiri. Ketika kita bisa menjadi diri sendiri, saat itulah kita bisa menjadi diri kita yang terbaik.

References

Margarita Tartakovsky, M. S. (2018, October 8). 21 Tips to Stop Being a People-Pleaser. Retrieved from

PsychCentral: https://psychcentral.com/lib/21-tips-to-stop-being-a-people-pleaser/?all=1

Morin, A. (2016, September 1). 5 Lessons People Pleasers Need to Learn. Retrieved from Psychology

Today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/what-mentally-strong-people-dont-

do/201609/5-lessons-people-pleasers-need-learn

Morin, A. (2017, August 23). 10 Signs You're a People-Pleaser. Retrieved from Psychology Today:

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201708/10-

signs-youre-people-pleaser

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s