Berdamai Dengan Perasaan Menyesal

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

Penyesalan merupakan suatu emosi. Ketika kita merasa buruk, kita yakin dan harus melakukan sesuatu yang berbeda. Penyesalan tentang Pendidikan, hubungan, pola asuh yang diterapkan di rumah kepada anak, Kesehatan dan karir merupakan hal yang bisa dianggap biasa dan sering kita jumpai. Trauma, penyakit, kehilangan seseorang adalah pemicu penyesalan tersebar. Rasa sakit yang kita bawa memotivasi kita untuk melihat ke belakang dan fokus pada apa yang seharusnya kita lakukan secara berbeda. Penyesalan juga bersifat kognitif atau merupakan hasil dari proses berpikir. Menjadi unik ketika kita membayangkan apa yang bisa kita lakukan dari pada apa yang kita lakukan. Dalam psikologi, ini disebut pemikiran kontrafaktual. Kontrafaktuan adalah pemikirantentang alternatif dari peristiwa masa lalu, pemikiran tentang apa yang bisa terjadi.

Perbedaan dari individu mempengaruhi pengalaman penyesalan setiap orang. Beberapa orang tidak mengalami penyesalan yang begitu besar karena beberapa orang tidak memiliki tipe kecerdasan emosional yang terkait dengan “pemeriksaan diri” yang diperlukan untuk membangun penyesalan. Beberapa orang menggunakan jalan pintas emosional, seperti menyangkal dan menyalahkan orang lain, untuk dengan cepat menghilangkan penyesalan mereka. Orang-orang yang “kurang penyesalan” ini melewatkan rasa sakit dari penyesalan tetapi kehilangan personal dan relationship growth yang datang ketika kita menghadapi penyesalan kita.

Penyesalan dapat mengurangi kepuasan hidup dan menimbulkan kesehatan mental yang negatif, atau penyesalan bisa menjadi sumber pertumbuhan dan pengambilan keputusan yang lebih baik. Berikut adalah beberapa pemikiran dan strategi dari psikologi yang dapat membantu Anda menghadapi, tumbuh dari, dan melepaskan penyesalan Anda.

1. Ubah cara kita menyikapinya

Penyesalan bisa saja merupakan suatu hasil dari apa yang kita pikirkan. Bisa jadi karena kita memang terlalu memikirkan dampak negative dari tindakan kita di masa lalu. Salah satu cara yang bisa kita lakukan disamping terlalu memikirkan dampak buruknya seperti apa, kita juga bisa mencoba membayangkan keadaan keadaan atau dampak positif yang akan terjadi dari Tindakan kita yang sudah kita lakukan sebelumnya. Jika perlu kita bisa menuliskan di catatan kita mengenai Tindakan atau kejadian yang kita lakukan kemudian tuliskan beberapa kemunkinan atau dampak positif serta dampak negatifnya. Kemudian kita bisa hitung kembali dampak-dampak positif dari kejadian atau Tindakan tersebut dan kita bisa memberi “penghargaan” atau reward seperti pujian atau sekedar membeli barang pada diri kita terhadap beberapa Tindakan Tindakan yang sudah kita anggap benar. Kita juga perlu mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa tidak ada orang yang hidup dengan sempurna dan pasti memiliki kesalahan dalam bertindak atau berperilaku.

2. Memaafkan dan perbaiki

Berpikir bahwa tindakan kita menyakiti orang lain dan berharap kita bisa melakukan yang lebih baik darinya dapat menyebabkan penyesalan yang memalukan dan begitu besar. Terkadang beberapa Tindakan yang kita lakukan bisa mengakibatkan tumbuhnya perasaan menyesal pada diri kita. Apabila memang menyakut dengan orang lain, maka kita bisa mencoba meminta maaf atau memaafkan apabila kita merasa Tindakan itu salah dan mencoba untuk memperbaiki Tindakan tersebut sedikit demi sedikit. Kembangkan rasa kasih sayang terhadap diri sendiri dan memaafkan diri sendiri. Hal wajar jika kita bersedih akan rasa penyesalan yang kita terima tapi jangan sampai kita

terjebak di perasaan sedih itu terlalu lama. Selain dengan kita memaafkan orang lain pun kita juga perlu memaafkan diri sendiri dari kejadian atau peristiwa yang kita alami. Beberapa terapis juga mengatakan kita bisa menulis catatan atau diary untuk mengungkapkan rasa sakit yang kita miliki dan mengakui kamarahan yang kita miliki juga kita bisa menuliskan alasan-alasan kenapa kita harus memaafkan diri kita sendiri. selain memaafkan diri sendiri pun jangan lupa untuk kita selalu menyayangi diri kita karena kalau bukan kita sendiri yang menyayangi diri kita maka siapa lagi ?

Sumber:

Psychology Today

Buchanan, J., Summerville, A., Reb, J., & Lehmann, J. (2016). The Regret Elements Scale:

Distinguishing the affective and cognitive components of regret. Judgment and Decision

Making, 11, 275-286.

Byrne, R. M. (2016). Counterfactual thought. Annual Review of Psychology, 67, 135-157.

Cornish, M. A., & Wade, N. G. (2015). A therapeutic model of self‐forgiveness with

intervention strategies for counselors. Journal of Counseling & Development, 93, 96-104.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s