Merdeka Belajar

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

Istilah Merdeka Belajar ramai menjadi topik pembicaraan di dunia pendidikan. Berawal dari tagar di
naskah pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Hari Guru Nasional tahun 2019 yang pada
tindaklanjutnya melahirkan 4 Pokok Kebijakan Pendidikan Merdeka Belajar. Lalu apa sih Merdeka
Belajar itu? Konsep ini sebenarnya sudah dikenalkan oleh Kampus Guru Cikal pada tahun 2014 ketika
Bukik Setiawan sebagai Ketua Kampus Guru Cikal mendampingi #KomunitasGuruBelajar. Dalam
komunitas tersebut terdapat berbagai macam kisah para pengajar yang inspiratif, salah satunya Bu
Wanti dari Borang,Sanggau,Kalimantan Barat. Beliau merubah gaya mengajarnya dan memilih lebih
tertuju pada kebutuhan siswa didiknya. Paradigma inilah yang disebut Merdeka Belajar.

Konsep Merdeka Belajar di dunia Psikologi Pendidikan dikenal sebagai pembelajaran mandiri (Self
Regulated Learning). Zimmerman (Kadi, 2016) menjelaskan self regulated learning merupakan
proses dimana peserta didik mengaktifkan pikiran, perasaan dan tindakan yang diharapkan dapat
mencapai tujuan khusus Pendidikan. Harapannya, individu bisa menghayati tujuan belajarnya
bahkan menjadikan belajar sebagai kebutuhan sehari-hari. Namun faktanya, ketika masuk jenjang
pendidikan formal (SD, SMP, SMA), banyak sekali ditemukan masalah belajar seperti malas belajar,
sulit konsentrasi, dan ada pula yang menjalani rutinitas sekolah hanya sebagai formalitas semata.
Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, harus belajar di rumah tantangannya makin besar ya?
Hmm, padahal secara alami manusia itu pembelajar yang handal lho, sejak kecil manusia selalu
berhadapan pada situasi yang mengharuskannya untuk mengembangkan diri seperti belajar jalan,
belajar bicara, semua dilakukan dengan sukarela dan menyenangkan bukan?

Lantas, bagaimana ya caranya agar belajar tidak dihayati sebagai tuntutan? Cara agar bisa dengan
sukarela dan mengarahkan diri untuk mengembangkan diri dengan belajar sepenuh hati?

Inilah beberapa tips yang bisa orang tua lakukan untuk memelihara semangat belajar anak hingga
akhir hayatnya (life long learner).

  1. Amati dan respon kebutuhan belajar anak.
    Beri kesempatan anak bereksplorasi dan latihlah kepekaan orang tua akan apa yang anak
    minati. Hindari penilaian atau asumsi yang terlalu spesifik misalnya ketika anak senang
    bermain Lego lalu kita menilai ia “ooh ade mau jadi arsitek yaa kereeen looh..”. Disini ortu
    bertuju hanya pada hasil (keren) jenis pekerjaannya (Arsitek) saja. Akan lebih baik ketika
    orang tua fokus pada prosesnya “ooh, Ade suka ya nyusun balok LEGO, tadi mama liat ade
    nyusunnya dari balok yang besar dulu bikin badan kapalnya, baru yang kecil-kecil detil buat
    jadi orangnya, seru banget udah 30 menit yaa mainnya.” Orang tua hanya memaparkan apa
    yang ia amati tanpa menyebutkan hasilnya. Pengamatan tanpa penilaian akan menjadi
    modal kita dalam membantu anak menetapkan tujuan belajarnya.
  2. Membangun tujuan belajar muncul dalam diri anak.
    Dari pengamatan orang tua terhadap kebutuhan belajar dan kemampuan anak, mulailah
    berdiskusi mengenai apa yang ingin anak capai dan kembangkan. Misalnya, dengan bertanya
    “De, main LEGO supaya apa?”, “Apa aja yang bikin seru dari LEGO?”, harapannya ketika anak
    berada di sekolah formal, ia terbiasa menetapkan tujuan belajar dari suatu materi.
  3. Biarkan anak mencoba mengarahkan dirinya dalam mencapai tujuan belajar.
    Tanpa paksaan. Ketika orang tua mengingatkan akan tujuan belajarnya saja pun sudah cukup
    berperan aktif dalam membantu anak mengarahkan dirinya. Meskipun ketika di sekolah
    anak akan mendapatkan nilai atas hasil belajarnya, penting pula bagi anak untuk menghayati
    seperti apa kinerja yang telah ia berikan. Pendapat pribadi anak nantinya akan memudahkan
    orang tua dan anak untuk menentukan strategi belajar yang lebih efektif.
  4. Melatih anak untuk refleksi diri
    Refleksi diri biasanya dilakukan ketika anak sudah memperoleh hasil dari belajarnya. Bisa
    melalui raport atau suatu tugas. Berikan anak untuk menyatakan pendapatnya apakah hasil
    yang diperoleh sudah sesuai dengan harapan anak. Misalnya dengan mengajukan
    pertanyaan “De, menurutmu gimana hasil gambarmu ini?” “Kalau dengan gambar yang
    bulan lalu Ade buat gimana tanggapannya? Mana yang lebih memuaskan menurutmu?”
    “apa alasannya?. Dengan begitu, anak akan melatih kemampuannya dalam menilai kinerja
    serta hasil, harapannya ia nantinya mampu memperbaiki gaya belajarnya jika belum
    memuaskan atau mempertahankan semangat belajar yang telah ia bentuk.
    Intinya dalam membantu anak belajar mandiri atau Merdeka dalam Belajar orang tua berperan
    sebagai pendamping, fasilitator. Cukup mengingatkan tujuan belajar dan tidak membuat anak
    bergantung pada orang tua atau guru dalam belajar. Tumbuhkanlah rasa cinta, suka dan
    berprasangka baik dalam kegiatan belajar, agar belajar terasa sama menyenangkannya seperti
    sedang menikmati makanan kesukaan. Selamat Belajar, Merdeka!

Referensi
https://www.universitaspsikologi.com/2020/01/teori-self-regulated-learning.html?m=1
https://blog.kampusgurucikal.com/merdeka-belajar-bukan-jargon/
http://temantakita.com/kemerdekaan-belajar/
http://temantakita.com/nilai-rapor-anak/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s