Health Communication in Relationship (We both talk, listen and respect)

Ditulis Oleh: Tsana Ulfah Ullaya, S. Psi

Komunikasi, bukanlah menjadi suatu hal baru bagi kita. Berbicara mengenai komunikasi menjadi sangat luas cakupannya karena setiap domain dalam kehidupan kita tidak terlepas dari komunikasi. Istilah komunikasi sendiri berasal dari bahasa Latin
“communis” yang artinya “umum”. Sehingga, berkomunikasi dapat diartikan sebagai
“mengumumkan”, atau “berbagi”.

Dalam jurnal “Communication Cycle: Definition, Process, Models and Examples” yang ditulis oleh Prof. John Velentzas beserta DR. Georgia Broni (2014), komunikasi merupakan macam tindakan yang diberikan atau diterima individu dari informasi yang disampaikan orang lain. Bisa tentang kebutuhan, keinginan, pengetahuan, atau keadaan.
Seiring berjalannya waktu, individu akan dihadapkan dengan berbagai macam hal,
baik itu situasi, orang lain, tuntutan serta tanggung jawab yang harus dipenuhinya. Semua itu tentunya tidak terlepas dari komunikasi.

Komunikasi dapat dilakukan bersama anggota keluarga, teman, kolega, atau pun pasangan. Berbicara mengenai pasangan (kekasih/suami/istri) menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Ini menjadi penting, sebab suatu kondisi hubungan dapat mempengaruhi kondisi individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pernahkan kalian melihat ada teman yang baru bertengkar atau berpisah dengan pasangannya kemudian ia menjadi murung, pemarah, hilang motivasi bahkan sakit secara fisik maupun psikis? Atau bisa juga pasangan suami istri yang bertengkar
dan memberikan dampak negatif bagi anak-anak mereka, pekerjaan mereka, dan lain
sebagainya. Jawabannya mungkin pernah, sering atau bahkan kita sendiri yang mengalami. Lalu, bagaimana mengantisipasinya? Komunikasikan diri kita. Bicarakanlah tentang pikiran dan perasaan diri kita sendiri, begitu pun pasangan kita dapat mengutarakan mengenai dirinya sendiri. Komunikasi memegang peran yang sangat penting bagi kesehatan dan keharmonisan suatu hubungan. Komunikasi yang sehat dapat dicapai dengan;

Mengomunikasikan Diri Sendiri
Fokus pada apa yang dapat kita katakan tentang diri kita sendiri secara langsung,
bukan sesuatu yang sudah terjadi kemarin atau minggu lalu. Bukan tentang pendidikan,pekerjaan, anak-anak, atau pasangan kita, tetapi benar-benar tentang diri kita saat ini. Akui jika kita memiliki perasaan negatif atau ada pemikiran menyimpang. Jangan menganggap hal tersebut tidak penting, immature atau tidak pantas. Dengan mengutarakan diri kita sendiri, dapat membuat kita menjadi individu yang lebih terbuka. Sampaikan keinginan kita. Bukan sekedar keinginan yang mudah (Mis, “Saya ingin membeli baju baru”), tetapi keinginan pribadi yang datang dari lubuk hati terdalam, di mana kita merasa hal itu sangat rentan (Misal:
“Saya ingin kita lebih dekat dan saling mendengarkan”). Semakin kita dapat berkomunikasi pada tingkat ini, terkoneksi dengan diri sendiri, semakin kita menjadi diri kita yang sebenarnya.

Manfaat Mengomunikasikan Diri Sendiri
Berfokus pada diri sendiri menurunkan indikasi saling menyalahkan. Cukup
menghapus kata “Kamu” dari kalimat dan memperkenalkan lebih banyak “Aku”, akan
mengubah nada kita dari menuduh dan mengkritisi, menjadi reflektif diri. Hal ini dapat
membantu kita dan pasangan merasa lebih terbuka, adanya kesetaraan dalam hubungan (tidak ada yang dominan menasihati atau mengkritisi pasangan), menumbuhkan kasih sayang, cinta dan empati satu sama lain. Saat kita dan pasangan meluangkan waktu, saling berbicara, saling mendengarkan mengenai diri kita masing-masing, kita sebagai pendengar akan merasakan perasaan pasangan kita dan memahami pengalamannya. Begitu pun sebaliknya.

Mendengarkan Pasangan
Saat berbicara, penting untuk diingat bahwa kita tidak tahu apa yang benar-benar
dipikirkan dan dirasakan pasangan kita. Kita mungkin hanya dapat berasumsi dengan melihat ekspresi wajah pasangan yang terlihat sedih atau marah. Tetapi, sampai kita benar-benar mendengarkan apa yang disampaikannya, kita mungkin akan menyadari bahwa ternyata kita tidak tahu apa-apa tentang keadaanya. Jadi, jangan langsung berasumsi dan menyimpulkan.

Dengarkan dengan penuh minat dan dengan hati kita ketika pasangan mengungkapkan
pikiran dan perasaannya kepada kita. Ketika pasangan menceritakan suatu peristiwa tertentu, cobalah untuk menempatkan diri kita di tempatnya, dan hal itu akan membuat kita mendapatkan perspektif baru.

Catatan penting untuk kita adalah; Hentikan kebutuhan untuk menjadi benar.
Percakapan dengan pasangan bukanlah pertempuran yang harus kita menangkan. Kita tidak perlu membuktikan apapun. Kita tahu bahwa menyelesaikan masalah dari perspektif kita sendiri bisa menjadi proses yang berantakan, dan kita mengharapkan reaksi dari pasangan.

Kita mungkin menjadi marah dan frustrasi, atau sesuatu yang dikatakan pasangan bisa
memancing. Tetapi melalui itu semua ingatlah bahwa tujuan kita adalah untuk memperbaiki hubungan dan tidak saling menjauhkan satu sama lain. Ketika kita dan pasangan berkomunikasi satu sama lain dengan berbicara secara pribadi tentang diri sendiri, dan mendengarkan dengan rasa hormat dan minat yang tulus, banyak masalah-masalah dapat diminimalkan, dapat menjaga dan menumbuhkan cinta, rasa hormat dan pengertian di antara kita dan pasangan.

 

Source:
Firestone, Tamsen. The Key to Health Communication. https://www.psychalive.org/key-

healthy-communication/ (Diakses pada tanggal 22 November 2019)

Velentzas, John, and Georgia Broni.(2014).Communication cycle: Definition, Process,
Models and Examples.
https://pdfs.semanticscholar.org/da4e/69265653057d6f03fdc4ce3692b4e6923a0f.p
df (Diakses pada tanggal 22 November 2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s