Nobody is Perfect

Ditulis Oleh: Tiara Delia Madyani, S. Psi

 

“Aku harus mendapatkan nilai A di semua mata pelajaran”
“Anakku harusnya sudah bisa A, B, C, D….”
“Aku ga boleh menangis meskipun aku sedih”

Perkataan-perkataan itu tanpa sadar selalu kita ucapkan kepada diri kita sendiri. Terkadang sebagai manusia kita memiliki keinginan untuk menjadi sempurna baik di mata kita sendiri atau di mata orang lain. Dengan menjadi sempurna, kita berupaya untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal seperti dalam pertemanan, mendidik anak, menjadi juara, dan lain sebagainya. Padahal, mesin pun yang sudah dirancang sesempurna mungkin oleh manusia, tidak dapat bekerja dengan sempurna seiring dengan berjalannya waktu. Cara berpikir kita yang harus sempurna menjadikan kita tidak tenang saat menjalani hidup. Kita akan selalu merasa khawatir ketika ada satu atau dua hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita terlalu mementingkan diri kita dan kurang begitu melihat apa yang terjadi pada lingkungan di sekitar kita.

Apa sih Arti Kesempurnaan Itu?
Kesempurnaan berarti suatu sifat yang dicirikan oleh “perjuangan yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa cacat, menetapkan standar kinerja yang terlalu tinggi disertai dengan evaluasi diri yang terlalu kritis dan adanya kekhawatiran tentang evaluasi yang dilakukan oleh orang lain.

Apakah Aku Seorang yang Perfeksionis?
Terdapat beberapa tanda yang menggambarkan apakah kita seseorang yang perfeksionis:
1. Tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan.
2. Sangat teliti dan berhati-hati saat menghadapi keadaaan tertentu

3. Memiliki pendekatan all-or-nothing. Ketika kita melihat hal yang akan kita lakukan
itu bisa dilakukan dengan baik maka akan kita lakukan, dan sebaliknya jika kita
merasa tidak bisa melakukannya, lebih baik tidak mengambil kesempatan itu.
4. Selalu melihat hasil dari apa yang kita lakukan. Kita tidak pernah melihat bagaimana
cara memulai dan proses yang harus dilakukan. Kita hanya melihat bahwa hasil yang
kita kerjakan harus sempurna.
5. Terlalu keras terhadap diri sendiri. Ketika kita melihat ada satu kesalahan, kita
terkadang menyalahkan diri kita dan berupaya memperbaikinya secepat dan sebaik
mungkin tanpa melihat keadaan diri dan lingkungan sekitar kita.
6. Mudah terbawa emosi negatif ketika tida dapat mencapai goal yang diinginkan. Kita
mudah sedih dan juga berangan-angan seperti,”kalau tadi ga melakukan A pasti
kejadiannya ga kayak seperti ini.”
7. Memiliki standar yang tinggi untuk dicapai.
8. Rasa puas yang tidak ada batasannya. Ketika kita sudah meraih tujuan A, maka kita
merasa akan lebih baik jika berhasil meraih tujuan yang lebih dari A, yaitu 2 A.
Ketika kita sudah mencapai 2A, kita ingin meraih 3A, dst.
9. Melakukan prokrastinasi untuk menunggu moment yang tepat agar semua dapat
dilakukan dengan baik.
10. Memerlukan waktu yang banyak untuk menyelesaikan satu tugas dibandingkan orang lain. Kita akan merasa aman ketika mengerjakan tugas dengan sempurna, tidak ada kesalahan sehingga selalu mengecek apa yang kurang dari tugas yang kita buat.
11. Dapat menemukan kesalahan yang jarang ditemukan oleh kebanyakan orang.
Menjadi seorang yang perfeksionis cukup melelahkan karena hidup yang tidak berjalan
sesuai rencana. Kita memerlukan ruang dimana kita dapat membuka diri untuk menjadi
individu yang lebih fleksibel dalam menghadapi keadaan yang tidak dapat kita prediksi.

Lalu, pikiran apa yang harus kita miliki agar mengubah kebiasaan harus sempurna ?
1. Berpikir real. Terima diri kita sendiri. Kita adalah manusia yang tidak mungkin lepas
dari kesalahan.
2. Kita dapat belajar dari kesalahan yang telah kita buat. Membuat kesalahan bukan berati dunia akan kiamat.
3. Kebahagiaan tidak hanya berasal dari kesempurnaan yang kita miliki, banyak cara untuk menjadi bahagia.
4. Terima diri kita apa adanya. Jangan biarkan keinginan untuk menjadi sempurna
menjadikan kita lupa apa yang kita miliki, kita sukai, tidak sukai, kemampuan kita, dan
sebagainya. Melakukan komunikasi dengan diri sendiri seperti menghargai apa yang
sudah diraih, hal apa yang perlu diperbaiki, dan sebagainya.

Terdapat lima tips yang dapat diterapkan untuk mengubah kebiasaan harus menjadi
sempurna:
1. Identifikasi tiga situasi yang membuat kita harus melakukan sesuatu dengan sempurna. Dalam setiap situasi tersebut, tuliskan tiga pesan tentang anti-sempurna yang akan memberikan ruang kepada kita untuk menghadapi situasi tersebut tanpa harus menjadi sempurna.
2. Gunakan kesalahan yang telah dibuat sebagai kesempatan untuk menjadi individu yang lebih baik. Ketika kita melakukan kesalahan, katakan, “Ok, aku membuat kesalahan, karena aku manusia, dan tidak ada manusia yang sempurna Dan sekarang, apa yang dapat ku lakukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan?”.
3. Ketika kita menyadari bahwa kita melakukan kesalahan, berikan peringatan kepada diri sendiri bahwa kita harus mencintai diri kita apa adanya. Ingatlah bahwa kesalahan itu hanyalah sedikit dari bagian diri kita, tidak menggambarkan siapa diri kita yang
sesungguhnya.
4. Sengaja membuat satu kesalahan dalam satu hari seperti memakai baju yang warnanya bukan warna favorit kita, salah naik angkutan umum dan sebagainya. Tetapi kita juga perlu hati-hati, jangan lakukan hal-hal yang berbahaya dan melanggar aturan, hukum dan sebagainya.
5. Sadari bahwa orang lain juga dapat melakukan kesalahan. Ingatlah tentang betapa
normalnya hal tersebut karena dapat terjadi pada semua orang, dan kita juga bukan orang spesial di mana kegagalan itu merupakan hal yang tidak boleh terjadi.

 

Sumber:
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/happiness-purpose/201304/be-perfectly-
imperfect
https://www.psychologytoday.com/us/blog/teen-angst/201807/perfectly-imperfect
https://personalexcellence.co/blog/perfectionism/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s