Memaafkan: Dari, Untuk, dan Oleh Diri Sendiri

Ditulis Oleh: Prilianti Puteri Lestari, S. Psi

 

201105-omag-forgiveness-600x411
Masalah adalah hal yang tidak dapat terlepas dalam hidup. Meski sebenarnya siapa sih orang yang mau mencari masalah? Namun tampaknya, tanpa masalah pun bukan berarti bahwa diri kita adalah pribadi yang baik. Dengan kata lain, masalah adalah sesuatu yang membantu diri kita untuk belajar dan berkembang. Apa lagi kita sebagai makhluk sosial yang dimana akan selalu saling membutuhkan satu sama lain.

Dinamika dalam menjalin hubungan dengan orang lain juga tidak dapat terlepas dari adanya  kondisi naik-turun, seperti suka-duka, senang-kesal, bahagia-kecewa, dan lainnya. Yang menarik dalam hal ini adalah ketika kita dihadapkan pada kondisi dimana kita merasa sedih, marah, atau pun kecewa dengan perlakuan orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Rasanya kita sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik, namun kok kita tidak mendapatkan yang kita inginkan dari orang lain? Apakah kita pamrih? Hal ini tentulah wajar karena dalam menjalin relasi diperlukan adanya perlakuan timbal balik satu sama lain. Meskipun begitu, perlu dicatat bahwa kita pun tidak dapat selalu menuntut orang lain agar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak menutup kemungkinan bahwa yang tersakiti tidak hanya diri kita, namun kita pun melakukan perbuatan yang menyakitkan bagi orang lain. Selain dengan mendiskusikan masalah, memaafkan juga merupakan kunci terjaganya relasi serta kedamaian bagi diri sendiri.

Dengan memaafkan, kemarahan bisa terlepas. Segala perasaan negatif yang biasanya dipendam (beberapa diantara kita biasanya lebih memilih untuk memendam kemarahan, bukan?) dapat tergantikan dengan perasaan netral, atau dalam beberapa kondisi, menjadi perasaan yang lebih positif. Memaafkan bukan berarti dapat memulihkan hubungan secara otomatis. Terkadang, kita tidak perlu kembali menjalin hubungan yang sama atau menerima perlakuan buruk dari orang lain yang menyakiti
kita.

Lalu, bagaimana cara untuk memaafkan?
Memaafkan bisa menjadi pilihan yang menantang. Kita berjuang melawan pemikiran dan perasaan sendiri, di sisi lain kita perlu juga berusaha untuk memahami perspektif orang lain. Memaafkan menjadi cara yang sehat untuk membantu kita dalam memahami perasaan terluka dan memproses emosi kita.

Menurut psikolog Robert Enright, terdapat empat langkah dalam memaafkan:

Pertama, adalah mengungkapkan kemarahan dengan mencari tahu bagaimana kita telah berusaha menghindar atau menyalurkan dalam mengatasi emosi tersebut.

Kedua, dalam mulai memutuskan untuk memaafkan. Dimulai dengan mengakui bahwa mengabaikan atau mengatasi emosi negatif tersebut ternyata tidak berhasil, akan tetapi, pilihan memaafkan mungkin dapat menjadi jalan yang terbaik.

Ketiga, adalah dengan menghadapi rasa sakit serta mengembangkan rasa belas kasih bagi orang lain yang melakukan kesalahan pada kita. Cobalah untuk merenungkan apakah tindakan yang dilakukan disebabkan niat jahat atau “paksaan” keadaan dalam hidup orang tersebut.

Terakhir, lepaskan emosi yang menyakitkan dan renungkan bagaimana kita dapat tumbuh menjad pribadi yang lebih baik dari pengalaman dan masalah yang ada.

Ketika sudah memaafkan orang lain, pertanyaan berikutnya yang sering kali muncul adalah: apakah perlu kita melupakannya? Seperti yang kita dengar dari banyak orang, “kita harus memaafkan dan melupakannya”. Wah, rasanya sulit ya untuk dilakukan..
Akan tetapi, ada beberapa alasan yang memungkinkan kita untuk memaafkan namun tidak melupakannya:
1. Memaafkan adalah hal yang penting bagi kondisi emosional kita
Ketika kita tidak memaafkan orang lain, sebenarnya kita memilih untuk menahan semua amarah atas perlakuan yang mereka buat. Hal ini dapat menyakiti diri kita sendiri, membuat kita tidak sabar, terganggu, dan bahkan menyakiti diri kita secara fisik. Memaafkan adalah tentang kita, bukan tentang orang lain. Kita memilih untuk memaafkan orang lain karena kita tidak bisa terus menerus merusak emosi yang ada dalam diri kita. Memaafkan bukanlah soal keadilan, melainkan soal hati.

2. Kita dapat belajar dari pengalaman sebelumnya
Kita perlu mengambil apa yang bisa kita pelajari, mengingatnya, dan move on. Hal ini dapat berarti kita berjalan terus dengan atau tanpa orang yang menyakiti kita. Bahkan dalam situasi tertentu, kita dapat mempelajari sesuatu mengenai diri kita sendiri seperti apa yang dapat membuat kita terpancing emosi, apa hal yang sensitive bagi diri kita, dan bagaimana cara kita mengatasi ketika disakiti orang yang kita pedulikan. Dengan mengetahui itu, kita lebih siap untuk hubungan berikutnya dan menghadapi konflik yang tidak dapat dihindarkan.

3. Memaafkan dapat menjadi kekuatan dalam hubungan
Semua hubungan dapat kembali, dan bahkan menjadi lebih dalam, terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Memaafkan merupakan kekuatan atas komitmen satu sama lain untuk hubungan yang lebih sehat. Dan kita menjadi lebih menjaga komitmen satu sama lain untuk tidak membiarkan konflik memecah belah di kemudian hari.

4. Kita menyelamatkan diri kita untuk menjadi korban dari kesalahan yang sama
Kita perlu mengingat apa yang terjadi pada diri kita agar kita dapat terhindar dari masalah yang sama. Hanya karena kita sudah memaafkan orang lain, bukan berarti kita memilih untuk tetap bersamanya dalam hidup kita. Terkadang, cara yang paling sehat yang bisa kita lakukan adalah dengan memaafkan mereka dan berjalan tanpa mereka. Hal ini penting agar kita tidak mengulang kondisi dimana kita menjadi target dari perlakuan yang keliru. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk belajar dari apa yang terjadi sehingga kita dapat mengatur diri kita untuk hasil yang lebih baik di masa depan.

Memaafkan dan melupakan nampaknya suatu hal yang baik, namun sulit untuk dilakukan. Dengan mengingatnya, bukan berarti kita tidak memaafkan, namun kita memilih untuk menjadikan hal itu sebagai pembelajaran yang bernilai bagi hidup kita.

References
Forgiveness. (n.d.). Retrieved from Psychology Today:
https://www.psychologytoday.com/us/basics/forgiveness
Kurt Smith, P. L. (2018, July 8). 4 Reasons to Forgive but Not Forget. Retrieved from PsychCentral:
https://psychcentral.com/blog/4-reasons-to-forgive-but-not-forget/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s