Membangun Self Esteem Anak

Ditulis Oleh: Fadila Nisa Ul Hasanah, M.Psi., Psikolog

SE1

Self-esteem atau perasaan harga diri adalah evaluasi yang dibuat tentang diri sendiri. Apakah itu berkaitan dengan tampilan fisik, kemampuan, penerimaan, kondisi mental, dan sebagainya, yang menunjukkan sejauh mana kita menyukai diri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga. Apa yang kita pikir atau bagaimana kita menganggap diri sendiri akan mempengaruhi perasaan, sikap, perilaku dan motivasi kita. Mengembangkan self-esteem yang sehat dan konsep diri yang positif sangat penting untuk keberhasilan dan kebahagiaan anak-anak atau pun remaja.

Anak dengan healthy self esteem:
– Merasa diterima dan disukai orang lain
– Merasa percaya diri
– Merasa bengga dengan apa yang ia mampu lakukan
– Berpikir positif mengenai dirinya
– Yakin terhadap dirinya

Anak dengan unhealthy self esteem:
– Mudah mengkritik diri
– Merasa diri tidak sebaik anak lain
– Berpikir mengenai kegagalannya dibandingkan keberhasilannya
– Ragu jika ia tidak dapat melakukan segalanya dengan baik

Mengapa self esteem penting?
Self esteem merupakan evaluasi terhadap diri, maka hasilnya adalah penilaian-penilaian mengenai diri. Jika penilaian yang dimiliki baik, maka kecenderungan anak akan memiliki pemikiran positif mengenai dirinya, perasaan yang baik terhadap dirinya, dan mampu berperilaku adaptif menghadapi lingkungannya.

Bagaimana self esteem berkembang?
Pembentukan self esteem dimulai pada masa kanak-kanak. Anak akan memperoleh self esteem mereka dari orang tua dan lingkungan. Mereka belum dapat mengevaluasi diri karena perkembangan kemampuan kognitif anak belum cukup untuk hal tersebut (menilai apakah mereka baik atau buruk). Oleh karena itu, orang tua dan lingkungan berperan besar dalam pembentukan self esteem. Self-esteem seringkali berubah dan mengalami penyesuaian karena pengaruh pengalaman baru. Jadi keterlibatan orang tua sangat penting untuk mewaspadai gejala-gejala self-esteem yang tidak sehat dan membantu mengarahkan anak-anak memahami dirinya secara sehat dan tepat.

Bagaimana orang tua dapat membangun self esteem?
Setiap anak berbeda. Self esteem mungkin akan mudah dimiliki namun terkadang beberapa anak menghadapi masalah yang dapat membuat self esteem nya menjadi rendah. Tetapi self esteem yang rendah dapat dikembangkan.

1. Ciptakanlah lingkungan rumah penuh kasih sayang dan aman. Berikan pelukan
sebagai ungkapan kasih sayang secara spontan. Hindari pertengkaran orang tua di
depan anak-anak. Anak yang senang bisa mencapai sesuatu tapi tidak merasa dicintai,
mungkin self esteem-nya  menjadi rendah. Sebaliknya, anak yang merasa dicintai tapi
ragu-ragu tentang kemampuannya juga dapat membuat self-esteem-nya berkurang

2. Ajari anak- anak berlatih membuat pernyataan positif terhadap dirinya.
Sebagai contoh:
“Aku bisa kalau terus mencoba menyelesaikannya”.
“Aku senang bisa membantu orang lain meskipun dia tidak berterimakasih”.
“Aku sudah berusaha sebaik mungkin, ngak apa-apa hari ini aku kalah,”

3. Larangan mengkritik secara keras. Pesan yang anak-anak dengar mengenai dirinya
dari orang lain mudah diartikan ke dalam perasaan mereka mengenai dirinya. kata-kata
yang keras (contoh ; “Kamu pemalas!”) membahayakan dan tidak memotivasi. Ketika
anak mendengar pesan negatif mengenai dirinya, hal tersebut membahayakan self
esteemnya. Bimbing anak dengan kesabaran. Fokus pada hal yang orang tua inginkan di
waktu berikutnya. Saat dibutuhkan, tunjukan caranya.

4. Bantu anak untuk melakukan suatu kemampuan. Dalam setiap usia, akan selalu ada
hal baru yang dapat dipelajari oleh anak-anak. Bahkan masa bayi, belajar memegang
gelas atau belajar melangkah adalah suatu penguasaan besar yang mereka senangi.
Seiring dengan perkembangan usia, hal seperti belajar mengenakan pakaian, membaca,
atau naik sepeda adalah kesempatan untuk mengembangkan self esteem juga.

5. Bantulah anak untuk menetapkan standar yang tepat dan lebih realistis dalam
menilai dirinya, baik tentang kemampuannya, daya tarik atau kesempurnaan,
sehingga akan membantunya mempunyai konsep diri yang positif. Sebagai contoh, seorang anak yang bagus dalam mata pelajaran lain, tapi kesulitan dengan matematika mungkin beranggapan bahwa dia payah hanya karena tidak bisa matematika. Anggapan demikian selain keliru, juga akan membentuk keyakinan bahwa dia gagal. Bantulah untuk meringankan situasinya. Anda bisa katakan: “Belajar Matematika itu perlu waktu lebih banyak dan ketekunan. Bagaimana kalau kita kerjakan bersama.

6. Saat mengajarkan anak melakukan sesuatu, tunjukkan dan bantu mereka di awal.
Lalu biarkan mereka melakukan apa yang mereka bisa, walaupun mereka membuat
kesalahan. Pastikan anak Anda mendapatkan kesempatan untuk belajar, mencoba, dan
merasa bangga. Jangan membuat tantangan baru terlalu mudah atau terlalu sulit.

7. Berikan pujian, namun lakukan dengan bijak. Tentu sangat baik untuk memuji anak.
Pujian merupakan bentuk dari kebanggaan orang tua pada anaknya. Namun dalam
beberapa cara memuji anak-anak bisa menjadi boomerang.
Sebaiknya dilakukan dengan:
– Jangan memuji berlebihan. Hindari pujian yang terdengar tidak benar atau tidak
tulus. Misalnya, memuji anak bahwa ia bermain dengan hebat padahal dia tahu
bahwa ia tidak bermain dengan baik. Jauh lebih baik mengatakan, “Ibu tahu ini
bukan permainan terbaikmu, tapi Ibu bangga padamu karena tidak menyerah.”
– Puji usahanya. Hindari pujian yang berfokus pada hasil (seperti mendapat nilai baik)
atau kualitas yang menetap (seperti kepintaran atau atletis).
– Sebaiknya berikan pujian untuk upaya, kemajuan, atau sikapnya. Misalnya, “Kamu
belajar dengan baik”, “Kamu menulis dengan semakin baik dan rapi”, “Ibu bangga
terhadapmu karena rajin berlatih piano”. Dengan pujian semacam ini, anak-anak
berupaya keras dalam berbagai hal, bekerja menuju tujuan, dan mau mencoba.
Ketika anak-anak melakukan itu, mereka lebih cenderung berhasil.

8. Jadilah contoh yang baik. Ketika orang tua membuat makanan, membersihkan rumah,
mencuci mobil, atau melakukan kegiatan harian lainnya, berarti mereka sudah membuat contoh yang baik. Anak-anak belajar hal yang sama untuk mengerjakan pekerjaan di rumah seperti membereskan mainan atau kasurnya. Menjadi model untuk sikap yang benar pun dapat dihitung. Saat orang tua mengerjakan tugas rumah secara happy (setidaknya tanpa mengeluh dan complain), mereka mengajarkan hal yang sama pada anak-anak.

9. Fokus pada kekuatan. Berikan perhatian pada hal yang dilakukan dengan baik oleh
anak dan dia nikmati. Pastikan anak-anak punya kesempatan untuk mengembangkan
kekuatannya. Fokuskan pada kekuatannya dibandingkan kelemahannya jika orang tua
ingin anak merasa baik terhadap dirinya.

10. Ajarkan anak membantu dan memberi. Self esteem berkembang saat anak dapat
melihat apa yang bisa ia lakukan untuk orang lain. Anak-anak dapat membantu di
rumah, melakukan kegiatan sosial di sekolah, atau bahkan membantu adik atau
kakaknya. Membantu dan berbuat baik membangun self esteem dan perasaan baik
lainnya.

https://bigloveadagio.wordpress.com/2010/03/23/membina-self-esteem-anak/
https://kidshealth.org/en/parents/self-esteem.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s