“Apakah Anakku Perlu Terapi?”

Ditulis Oleh: Mischa Indah Mariska, M.Psi., Psikolog

Sebelum memutuskan untuk mendatangi terapis, langkah pertama yang perlu orangtua lakukan adalah mengunjungi pihak profesional seperti psikolog anak atau ke dokter tumbuh kembang anak untuk mengkonfirmasi kekhawatiran mengenai kebutuhan anak apakah perlu diterapi atau tidak berdasarkan keluhan-keluhan yang dirasakan orangtua. Namun yang seringkali menjadi hambatan di awal adalah adanya suatu kondisi bahwa mendatangi psikolog memang tidak semudah mengambil keputusan untuk mendatangi dokter. Keluhan yang dirasakan tidak senyata keluhan atau sakit fisik yang membuat kita merasakan tingkat urgensi yang tinggi untuk segera ke dokter.

“Kayaknya nggak perlu ke psikolog deh, mungkin cuma kekhawatiranku aja..”

“Kalau ternyata keluhannya sepele nanti diketawain lagi sama psikolognya.”

“Nanti malu dan banyak ditanya macem-macem kalau ketauan keluarga bawa anak ke psikolog.”

…dan beragam pertimbangan lainnya.

Di satu sisi memang terkadang ada kondisi anak yang terasa seolah membutuhkan terapi namun setelah dikonfirmasi ternyata itu hanyalah sebuah fase yang umum terjadi pada rentang usia tertentu dan orangtua hanya disarankan untuk melakukan beberapa pendekatan dan pendampingan yang tepat di rumah. Namun sering juga ternyata kondisi anak yang menjadi kekhawatiran orangtua memang membutuhkan bantuan profesional entah itu hanya berupa konseling rutin atau bahkan terapi.

Untuk membantu menjawab kebingungan para orangtua berkaitan keluhan yang dirasakan mengenai anaknya, sudahkah perlu untuk diberikan terapi atau tidak, berikut akan dibahas beberapa poin yang bisa menjadi panduan demi mencegah terjadinya penundaan pemeriksaan yang terlalu lama yang berakibat pada berkembangnya masalah psikologis anak yang lebih serius jika dibandingkan permasalahannya dikonsultasikan lebih awal.

Selalu ingat, keluhan pada perilaku anak tidak selalu pertanda adanya masalah, bisa jadi hanya sebuah fase. Masa kecil adalah masa yang menyenangkan dan memang harus terasa menyenangkan untuk dilalui oleh anak. Tapi terkadang masa kanak-kanak juga merupakan masa penuh tantangan bagi orangtua karena anak sebagai manusia baru yang hadir ke dunia masih perlu melalui berbagai proses pengenalan dan pembelajaran untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan proses ini mengenai seluruh aspek tumbuh kembangnya. Contoh yang paling sering menjadi keluhan dan kekhawatiran orangtua adalah ranah emosi anak yang sering bergejolak. Semua manusia diciptakan dengan bekal emosi dalam dirinya. Apa pun emosi yang dirasakan tidak ada yang namanya emosi buruk, tapi anak akan melalui berulang kali kesulitan dalam memproses ragam emosi tersebut, dan bukan berarti juga mereka harus selalu memerlukan terapi untuk melaluinya. Kunci utama tetap ada pada penerimaan dan pendampingan dari orangtua.

Orangtua perlu paham bahwa kecemasan, tantrum, bahkan perilaku agresif di rentang usia tertentu dan dengan derajat tertentu bukanlah suatu kelainan melainkan bagian dari fase perkembangan anak yang perlu diterima dan dipahami oleh orangtua.

Perhatikan tampilan simtom pada anak: frekuensi, durasi, tingkat keparahan, dan kesesuaian dengan usia anak. Hampir semua anak melalui fase tantrum, namun dalam mendampingi anak melalui fase ini orangtua juga perlu aware apakah durasinya berlangsung terlalu lama, apakah perilaku yang menyertai tantrum sangat parah seperti misalnya menyakiti diri sendiri, dan apakah usianya sesungguhnya sudah terlalu besar untuk menunjukkan tantrum? Beberapa poin seperti ini patut menjadi acuan bagi orangtua untuk coba memeriksakan anak ke psikolog agar dapat dilakukan asesmen klinis lebih lanjut. Dari asesmen tersebut nanti akan dapat diketahui apakah perilaku yang ditampilkan anak masih kategori normal atau sudah di luar norma.

Hal lain yang dapat menjadi perhatian adalah apakah perilaku yang tampil sudah sampai mengganggu fungsi anak sehari-hari, seperti sering muncul konflik dengan teman atau guru di sekolah, kesulitan berkonsentrasi saat di kelas, mood swings yang terlalu sering di rumah sehingga mengganggu relasi anak dengan anggota keluarga lainnya. Contohnya, anak sulit dibangunkan dan penuh drama untuk berangkat sekolah sesungguhnya wajar, namun jika terjadi setiap hari dan bahkan selama di sekolah pun tidak merubah moodnya sampai pulang, maka hal tersebut bisa menjadi indikasi permasalahan yang memerlukan pemeriksaan lebih dalam.

Lakukan perbandingan melalui pengamatan terhadap perilaku anak lain yang seusia. Memang betul dalam parenting tidak sepatutnya kita membanding-bandingkan kondisi anak kita dengan anak lain yang dirasa lebih baik dari anak kita. Namun pada kasus tertentu hal ini menjadi perlu untuk menjadi acuan kita apakah anak kita memang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak profesional atau tidak, bukan untuk mendiskreditkan anak.

Bertanya kepada anggota keluarga lain atau teman mengenai anak-anak mereka yang usianya sama dengan anak kita bisa membantu kita memiliki panduan tentang keluhan yang kita rasakan terhadap anak. Jika melalui obrolan tersebut tenyata kondisi anak kita juga sama-sama dialami oleh anak lain, dengan frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan yang sama, itu berarti kita bisa berlega hati. Namun jika dari beberapa anak yang kita bandingkan lalu kita merasa anak kita memang melebihi batas keluhan prilaku anak pada umumnya maka itu bisa menjadi indikasi untuk kita segera memeriksakan anak ke psikolog.

Pada kasus kecemasan dan depresi, ingat tidak selalu sama tampilannya pada setiap anak. Gangguan psikologis terbagi menjadi dua, yang pertama masuk kategori externalizing behavior seperti ADHD atau perilaku oposisi (dalam ilmu psikologi dikenal istilah atau diagnosis “Oppositional Defiand Disorder dan Conduct Disorder.”). Simtom-simtom yang muncul mudah dilihat oleh lingkungan karena tampil dalam bentuk perilaku yang mengganggu dan tentu saja mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekeliling.

Kategori yang kedua adalah internalizing behavior, simtom-simtomnya sulit untuk dideteksi karena berkaitan dengan pola pikir dan perasaan yang terganggu seperti kecemasan dan depresi. Meskipun sulit untuk dideteksi namun orangtua bisa menangkap dari reaksi anak setiap marah seperti sangat mudah tersinggung, ledakan emosi yang tiba-tiba, dan juga terdapat perubahan pada pola tidur dan makan anak. Ciri-ciri secara fisik juga bisa dilihat dari keluhan anak seperti sakit kepala atau perut yang frekuensinya sering. Ini biasa terjadi pada anak-anak dengan kemampuan verbal yang masih rendah, mereka kesulitan mengungkapkan lewat kata-kata sehingga termanifestasikan melalui keluhan fisik.

Kunjungi/bertanyalah pada pihak profesional. Ketika kita memiliki kekhawatiran mengenai kondisi psikis anak maka kuatkanlah tekad untuk segera mengunjungi pihak profesional. Jika bingung siapakah yang harus ditanyai, kita bisa mulai dari bertanya ke dokter anak kita sendiri yang selama ini sudah sering kita temui. Biasanya dokter akan merekomendasikan pihak mana yang tepat untuk ditemui selanjutnya. Guru pun bisa menjadi ahli profesional yang bisa dijadikan sumber informasi mengenai kondisi anak.

Perlu diingat, mengunjungi ahli profesional seperti psikolog bukan berarti anak kita mengalami masalah kejiwaan serius dan membutuhkan treatment panjang, meskipun tidak ada yang salah juga dengan hal tersebut jika itu benar-benar tejadi. Namun stigma yang seringkali muncul di awal tersebut yang pada akhirnya semakin menjauhkan orangtua dari informasi akurat mengenai kesehatan mental anak dan keluarga, padahal kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Ajak anak bicara dan selami pola pikir serta perasaannya. Lakukan komunikasi rutin mengenai emosi-emosi yang dirasakan anak, terutama jika baru saja terjadi peristiwa yang memancing emosinya. Memang ada anak tertentu yang sudah komunikatif akan tetapi menjaga komunikasi yag rutin dengan anak untuk membicarakan perasaan dan pikiran mereka akan membuat mereka lebih mudah bercerita kepada orangtuanya setiap kali mereka mengalami sesuatu yang membuat tidak nyaman, dan kita sebagai orangtua akan berada di posisi yang mudah untuk terkoneksi dengan anak dan membantu kesulitan mereka.

Terkadang anak hanya butuh didengarkan dengan seksama oleh orangtuanya, tanpa ada nasihat setelahnya. Hasrat orangtua pada umumnya memang selalu terdorong untuk memberikan intervensi, namun kita perlu tenang sejenak dan betul-betul mendengarkan apa yang disampaikan anak. Tidak hanya setiap perkataannya tapi juga bahasa tubuh, ekspresi wajah dan nada bicaranya lalu berikan tanggapan seperti anggukan kepala, usapan di bahunya, genggam tangannya, juga senyuman, hal itu akan lebih menyamankan anak ketimbang kita buru-buru memberikan nasihat.

Sumber:

https://www.huffpost.com/entry/how-to-tell-if-your-child-needs-therapy_l_5d41eb12e4b01d8c97859aba

https://www.vice.com/en_us/article/gvzdyy/how-to-tell-if-a-kid-actually-needs-to-see-a-therapist

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s