Males ah belajar. Capek, pusing… :(

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M.Psi., Psikolog

Ada yang belum pernah dengar perkataan ini? Nggak mungkin kayaknya ya..haha. Terkadang kita mendengarnya dari pernyataan anak kita ketika disuruh belajar atau malah kita sendiri yang mengeluhkan hal tersebut? Seringkali ketika kita merasa malas belajar, lelah atau pusing dalam mengerjakan suatu tugas dipengaruhi oleh kondisi emosi yang sedang dialami sehingga muncul juga istilah “nggak mood” untuk belajar. Lalu kadang mencari lagi alasan untuk menghindari atau menunda situasi belajar tersebut, ”Sebentar bundaa aku masih pusing ini mau tiduran dulu sebentar yaaa…” atau dulu alasan kita sewaktu sekolah/kuliah begini: “nonton dulu deeh 1 episode biar semangat lagi belajarnya..”, “ah makan dulu ah daripada nanti ga konsen perut bunyi..” dan pembenaran−pembenaran lainnya, benar apa betul? 😀

Kenapa ya?

Bisa saja hal tersebut muncul ketika anak atau kita sendiri menghayati belajar sebagai suatu kewajiban yang harus dipenuhi sehingga merasa terbebani. Jadi belum juga mulai belajar sudah capek ngebayanginnya, males, ga mood. Pada beberapa orang belajar memang bukan suatu hal yang menjadi prioritas karena tidak merasa tertantang, tidak dapat reward dari belajar atau memang tidak tahu tujuan belajar itu untuk apa selain dapet nilai bagus, sekedar lulus ujian atau biar gak dimarahin bunda/ayah.

Jadi gimana ya biar bisa seneng belajar?

Hmm..masih inget dengan Welin Kusuma? Pemuda yang memiliki 32 gelar. Wellin memiliki 11 gelar sarjana, 3 gelar master, dan 18 gelar pendidikan profesi. Ia mengungkapkan bahwa orang tua yang berperan besar dalam membentuk kebiasaan belajarnya sehingga ia kemudian menjadikan kuliah adalah hobi bagi Wellin.

Ada juga ceritanya Maudy Ayunda yang beberapa waktu yang lalu sempat galau milih kuliah S2 di mana karena ia diterima di 2 Universitas terbaik dunia yaitu Stanford dan Harvard. Terus rame banget deh dibuat meme.

maudy

sumber gambar: http://www.hipwee.com

Kece ya..

Dalam wawancaranya di kanal youtube Najwa Shihab, Maudy membahas dengan seru kegalauan untuk kuliah ini. Menarik melihat antusias Maudy ketika ia bercerita tentang kecintaannya untuk belajar. Sedari kecil  ia bermimpi untuk bersekolah di Harvard, “Waaaw  all the smart people go there, imagine how much I can learn”. Canggih ya, dari SD sudah merasa ingin menimba ilmu lagi lebih banyak dari sumber di mana orang−orang pintar berkumpul dan belajar, di luar negeri pula. Maudy kemudian bercerita bagaimana bisa ia secinta itu sama belajar, bagaimana orang tua Maudy mendidiknya untuk mengembangkan kecintaannya tersebut. Ya, lagi−lagi peran orang tua yang memang efektif membentuk perilaku dan kebiasaan−kebiasan baik bagi anak. Orang tua Maudy, menjadikan buku sebagai sumber hiburan untuk anaknya. Bukan tv, gadget, atau jalan-jalan di Mall. Hadiah yang diberikan oleh orang tua Maudy ketika meraih prestasi pun bukan berupa barang seperti mainan, makanan dan lain−lain, melainkan perasaan bangga yang ditunjukkan dalam pujian serta ungkapan sayang pada Maudy. Selain itu, orang tua khususnya Ibu Maudy sering mengajak Maudy untuk mendiskusikan segala hal, bahkan menu makan hari itu pun mereka diskusikan lengkap dengan alasan, sehingga Maudy mengungkapkan obrolan mereka tuh ga pernah simpel, selalu diajak mikir dan dibikin penasaran.

Proses ini sebenarnya selaras dengan apa yang Ki Hajar Dewantara sering tekankan demi pendidikan anak yang terbaik, yaitu memerdekakan anak dalam belajar. Beliau mengungkapkan:  “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri…” Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952). Apa arti kemerdekaan dalam pernyataan beliau tersebut?  Dalam sebuah tulisan di buku Pendidikan, beliau menyatakan “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri”.

Kebiasaan belajar yang orang tua Maudy bukan berupa penetapan jam belajar, cara atau strategi belajar saja tapi membiasakan anak untuk punya rasa ingin tahu yang besar. Menumbuhkan kebutuhan dari dalam diri untuk belajar. Bahwa anak lah yang menjadi prioritas dalam belajar, bukan lagi ambisi orang tua. Proses anak dalam belajar pun dihargai dengan tepat dan tidak hanya terpaku pada hadiah berupa barang semata, tapi dalam bentuk cinta kasih serta pujian yang cukup membangkitkan semangat serta kepercayaan diri anak.

Nah, masalahnya kalo sadarnya udah telat gimana dong? (Udah kuliah nih, semester akhir pula 😦 )

Don’t Worry Be Happy guys….. tidak ada kata telat untuk belajar dan berubah. Asal memang ada keinginan untuk memperbaiki diri dan mau belajar. Bagaimana caranya? Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh yaitu:

 Ubah Mindset dan tentukan tujuan dalam belajar

Langkah ini penting agar kita tidak terus merasa bahwa belajar adalah beban. Mulai dengan menanamkan dalam diri bahwa saya yang butuh belajar nih, bukan orang lain, saya yang bisa ngatur diri sendiri untuk belajar, saya yang tahu kemampuan saya untuk belajar seperti apa, dll. Menelaah hal apa sih yang bikin berat belajar? Ngatur waktunya? Atau cara belajarnya? Dengan begitu kita bisa lebih paham nentuin cara penyelesaian atau nemuin ide supaya ga kerasa lagi beban atau capek buat belajar. Setelah itu baru kita tentukan tujuan belajar kita itu untuk apa? Sesuaikan dengan bidang dari yang ingin kita pelajari atau apa yang ingin kita capai. Bagaimana kalo kita nggak suka sama materi yang perlu dipelajari? Bentar lagi ujian pula. Salah satu cara untuk memulainya adalah dengan mengukur kemampuan kita dalam materi itu, mungkin ekpektasi kita pun harus disesuaikan dengan realita atau kemampuan serta usaha kita supaya kita bisa tetap bisa mengarahkan diri dalam belajar tapi tidak juga seenaknya atau yang penting lulus aja karena ada tujuan yang ingin dicapai tadi.

 Ciptakan tantanganmu sendiri

Beberapa orang memang merasa lebih semangat dalam belajar atau mengerjakan tugas ketika kita merasa tertantang dalam prosesnya. Contoh yang sering terjadi adalah dengan mengerjakan di akhir waktu sehingga kita mau tidak mau harus menyelesaikannya dalam tempo yang sesingkat−singkatnya. Hasilnya? Hanya Tuhan yang bisa menentukan :D, karena kadang hasilnya juga tidak terprediksi bagus atau tidak karena hal ini belum tentu efektif jadi bisa dikatakan cara kerjanya ini belum tepat. Kita bisa menemukan tantangan lain misalnya memakai prinsip gamification yaitu usaha untuk melihat segala sesuatu dari pandangan seorang gamer dan tentukan level−level yang perlu kita capai dan reward apa yang akan kamu dapatkan nantinya.

Kaitkan materi dengan minatmu atau penerapannya di kehidupan sehari−hari

Pada langkah ini banyak yang agak kesulitan, apalagi kalo dari awal memang ga suka sama materinya. “Susah sih kalo harus disangkut−sangkutin, kayanya ga ada kaitannya deeeh sama hobi aku…”. Meskipun begitu, sebenarnya langkah ini yang paling efektif dan bisa membantu kita dalam menyusun rencana belajar. Jadi ketika kita sudah tahu minat atau apa yang kita suka mulailah untuk mengaitkan hal tersebut dengan materi atau tugas yang sedang kita hadapi, misalnya kita senang fotografi, kalo diurai ternyata butuh tahu prinsip−prinsip bentuk geometri juga supaya dapet gambar yang lebih bagus lagi misalnya. Bisa juga kita cari penerapannya yang bisa kita pakai di kehidupan sehari−hari. kaya prinsip−prinsip ekonomi buat belanja bulanan dan lain lain.

Tentukan dukungan seperti apa yang bisa membuat kita semangat belajar

Nah apalagi buat kita yang sering merasa moody atau sering tidak fokus kalau lagi ada masalah, cari tahu dukungan atau bentuk semangat seperti apa yang kita butuhkan bisa jadi sangat penting untuk membantu kita belajar. Butuh curhat dulu sama temen misalnya, butuh dapet kata−kata positif dari ibu, atau sekedar butuh liburan dan nonton sebentar biar fresh lagi bisa dipraktekkan asal tidak bersinggungan dengan tujuan yang udah kita tetapkan sebelumnya.

Seru kan belajar tuh…

Perlu kita hayati pula bahwa belajar itu proses, ada naik turunnya, ada kecewa, jatuh bangun, tapi banyak juga serunya, dan kalau sudah dilewati kita bisa mengapresiasinya dengan menepuk pundak sendiri dan bilang bahwa ternyata kita mampu lho, kita bisa berubah, kita berkembang jadi sosok yang lebih baik loh ternyata… Proses belajar selalu ada sampai akhir hayat, yuk kita nikmatin proses ini dan selalu syukurin atas apapun yang telah kita capai…

 

Sumber:

Bukik Setiawan http://temantakita.com/joey-alexander/

Bukik Setiawan http://temantakita.com/kemerdekaan-belajar/

Glen Ardi https://www.zenius.net/blog/4343/kenapa-malas-belajar

Iradat Ungkai https://www.hipwee.com/hiburan/maudy-ayunda-diperebutkan-2-universitas-ternama-dunia-begini-15-curhatan-iri-warganet-lah-kocak/

WikiHow https://www.wikihow.com/Develop-a-Passion-for-Learning

Najwa Shihab https://www.youtube.com/watch?v=c0-4kWWU94Q

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s