Hukum dan Psikologi

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S.Psi., M.Si

Aplikasi Psikologi Sosial dalam Bidang Hukum dan Contoh Kasus

Kejahatan erat sekali dalam dunia hukum. Kejahatan  menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis (hukum pidana). Kejahatan adalah suatu rumusan tentang perilaku manusia yang diciptakan oleh yang berwenang dalam suatu masyarakat yang secara politis terorganisasi; kejahatan merupakan suatu hasil rumusan perilaku yang diberikan terhadap sejumlah orang oleh orang lain; dengan demikian kejahatan adalah sesuatu yang diciptakan (Quinney, 1979).

Kriminologi di Indonesia memandang kejahatan sebagai pelaku yang telah diputus oleh pengadilan; perilaku yang perlu dekriminalisasi; populasi pelaku yang ditahan; perbuatan yang melanggar norma; dan/atau perbuatan yang mendapat reaksi social. Kejahatan dalam KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) diatur dalam buku II, yaitu Pasal 104 sampai Pasal 488 KUHP.

Tindakan kriminal yang terus terjadi diantaranya adalah korupsi, narkoba, kerusuhan, pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual kepada anak, dan masih banyak lagi kasus-kasus kejahatan yang terjadi. Kasus-kasus ini terus meningkat seperti bola saju yang terus bergulir seolah negara ini tidak mampu mengatasi permasalahan kriminalitas yang terjadi. Sanksi hukum yang diberikan kepada pelaku seolah sudah menjadi hal yang biasa tetapi tidak satupun dari sanksi hukum tersebut yang dapat menjamin bahwa pelaku tidak akan mengulangi perilaku kriminalitasnya kembali.

Salah satu kasus yang perlu mendapatkan perhatian adalah kasus yang melibatkan anak-anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selalu mencatat setiap tahunnya terhadap tindakan kriminal yang menjadi anak-anak sebagai pelaku maupun sebagai korban atau yang disebut Anak Berhadapan Hukum (ABH). Pada tahun 2016 menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Anak Berhadapan Hukum (ABH):

  1. Anak sebagai korban kekerasan seksual (pemerkosaan, pencabulan, sodomi/pedofilia,dsb).
  2. Anak sebagai korban kekerasan fisik (penganiayaan, pengeroyokan, perkelahian, dsb).
  3. Anak sebagai korban kecelakaan lalu lintas.

Anak-anak sangat perlu kita jaga karena mereka masih memiliki perjalanan yang sangat panjang dan memiliki banyak mimpi untuk kehidupan ke depannya. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian dari segala pihak untuk memperhatikan anak-anak di Indonesia. Lingkungan yang paling kecil dan sederhana untuk memperhatikan anak-anak dan menjaga mereka adalah keluarga, yaitu orang tua. Orang tua diharapkan;

  1. Memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anaknya, mengetahui lingkungan pertemanan anak-anak agar anak tidak salah dalam pergaulan.
  2. Memberikan kasih sayang yang cukup, sehingga anak-anak tidak mencari kasih sayang dari orang lain dan dari luar rumahnya.
  3. Orang tua maupun orang dewasa berani menyampaikan sesuatu yang salah atau mencurigakan yang terjadi di lingkungan sekitar. Jika melihat ada tanda-tanda kejahatan terhadap anak-anak, jangan ragu melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwenang.

Maka, marilah kita menjaga anak-anak kita, anak-anak yang berada dekat dengan lingkungan kita, dan anak-anak bangsa Indonesia. Kita saling merangkul bersama untuk memberikan kepedulian terhadap anak-anak Indonesia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s