Strategi Makan Untuk Si Pemilih Makanan

Ditulis oleh: Meilinda Herawan, S.Psi

Bagi seorang ibu, melihat anak yang memilih-milih makanan merupakan salah satu hal yang dikhawatirkan. Seringkali ibu membandingkan dengan anak lain yang bisa memakan “segala” seperti sayur, buah, daging dan lainnya. Tentunya hal tersebut menjadi kebingungan tersendiri ketika mendapati anak sendiri hanya mau makan dengan satu jenis macam makanan setiap harinya. Anak hanya mau makan telur saja, atau daging saja. Tidak jarang beberapa anak yang justru menyukai makan dengan mie instan karena aroma dan rasanya cukup menggugah selera. Namun memilih-milih makanan ternyata merupakan hal yang umum bagi anak-anak prasekolah (berlangsung sampai sekitar umur empat atau lima tahun) baik anak laki-laki maupun anak perempuan.

Anak-anak umumnya berhenti makan bermacam-macam makanan sekitar umur dua tahun, ketika pengecap pada lidah mulai berubah dan selera mulai berkurang. Umumnya anak hanya ingin makan makanan kesukaannya berulang kali; skeptisisme yang alami terhadap makanan baru merupakan bagian yang normal dari perkembangan anak dan dapat berlangsung sampai satu tahun (atau lebih lama). Anak-anak lebih menyukai makanan manis dan asin dan menolak segala macam yang rasanya asam atau pahit. Minum susu terlalu banyak bisa menekan selera makan, khususnya di usia ini (prasekolah).
Kebiasaan memilih-milih makanan tersebut harus segera diubah, karena ketika anak bertambah usia dan kegiatannya lebih banyak, kebutuhan nutrisinya juga semakin bertambah.

Berikut tips mengatasi anak pemilih makanan:

1. Makan bersama keluarga. Selalu meluangkan waktu untuk makan bersama-sama dengan keluarga. Jauhkan gangguan media seperti TV atau ponsel saat makan. Sajikan makanan yang sama untuk seluruh keluarga. Jangan mengganti atau memasak makanan yang lain yang hanya disukai anak karena hanya akan mengajarkan bahwa mereka tidak perlu makan makanan yang ada di piringnya. Sebagai gantinya coba untuk menyediakan makanan yang kurang disukai bersama-sama dengan makanan yang lebih digemari.

2. Buat makanan dengan “selera anak”. Cobalah dengan melibatkan anak dalam membeli, merencanakan, mempersiapkan, atau menyediakan makanan. Berikan anak pemotong kue untuk membuat bentuk yang lucu pada beberapa macam makanan; anak bisa menggunakan wortel yang dipotong melingkar untuk menambahkan rambut pada kentang, kismis untuk matanya. Anak-anak sering lebih menginginkan makan sesuatu yang mereka masak.
Perhatikan tekstur, bentuk, dan warna. Anak-anak menikmati makanan yang terlihat penuh warna dan menggugah selera, serta mempunyai tekstur yang menarik. Jadikan pilihan itu sebagai pertimbangan dalam merencanakan makanan anda. Sementara itu, ubah fokus dari cita rasa makanan menjadi hanya menikmati makanan. Jangan berbicara tentang “bagaimana rasanya?” tetapi menjadi “wah bagus sekali warnanya!” “kamu suka bentuk lucunya kan?”.

3. Berikan nama yang lucu pada makanan. Penelitian Cornell University menemukan bahwa memberikan nama yang menarik untuk sayuran seperti “Power Peas” atau “Dinosaur Brocoli Trees” membuat anak prasekolah yang pemilih berpikir sayur-sayuran itu lebih menyenangkan untuk dimakan.
Tetap berusaha. Penelitian memperlihatkan bahwa ketenangan, berulang kali terpapar makanan baru (terutama sayuran yang menjadi fokus penelitian ini) setiap hari selama lima sampai empat belas hari sering efektif membuat anak mengabaikan rasa jijiknya. Pilih makanan baru pada satu waktu dan mengenalkannya dalam porsi kecil. Sajikan makanan baru dengan beberapa makanan pokok yang sudah dikenalnya,meningkatkan kecenderungan anak mencoba makanan baru itu.
Tidak semua anak akan suka semua makanan dan kita tidak dapat mengubah kebiasaan makan seseorang dalam satu malam, jadi bersabarlah. Tujuan sebenarnya adalah memastikan anak mempunyai pengalaman makan yang positif yang akan membantu meningkatkan kebiasaan makan yang sehat sepanjang hidupnya.

Source :
https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/nutrition/Pages/Picky-Eaters.aspx
Borba, Michele. The Big Book of Parenting Solutions 101 Jawaban Sekaligus Solusi bagi Kebingungan dan Kekhawatiran Orang Tua dalam Menghadapi Permasalahan Anak Sehari-hari. Jakarta, PT Elex Media Komputindo. 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s