Mengapa Anak Perlu Masuk ke Taman Kanak-kanak Dulu Sebelum Sekolah Dasar?

Ditulis Oleh: Rajab C. Lestari, S. Psi

Saat ini banyak dari orang tua yang memiliki pertimbangan untuk tidak menyekolahkan anaknya ke TK, tapi langsung ke SD. Belajar dirumah saja cukup, menghemat biaya atau alasan lainnya. Memang hal tersebut wajar dan masuk akal, namun tanpa disadari justru akan ada masalah di kemudian hari. Seperti contoh salah satu siswa SD di Bandung, yang tidak TK dulu langsung ke SD saat ini ia mengalami kesulitan konsentrasi dan tidak bisa duduk diam dan tenang selama di kelas. Sehingga ia menjadi lambat dalam menerima materi pelajaran dikarenakan ruang bermain dan bergerak yang seharusnya di dapatkan di TK tidak ia dapatkan. Nah jadi kenapa sih harus TK dulu bun?

TK dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 0486/U/1992 Bab I Pasal 2 Ayat (1) telah dinyatakan bahwa “Pendidikan Taman Kanak-kanak merupakan wadah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik sesuai dengan sifat-sifat alami anak”. Tindak lanjut dalam Bab II pasal 4 dijelaskan bahwa anak didik di TK anak berusia 4-6 tahun.

Lingkungan anak TK terdiri dari tiga lapis yang masing-masing mengandung lingkungan ekologi yang berorientasi pada :

  1. Lingkungan fisik yang terdiri dari objek, materi dan ruang.
  2. Lingkungan yang bersifat aktivitas, terdiri dari kegiatan, bermain, kebiasaan sehari-hari dan upacara yang bersifat keagamaan.
  3. Berbagai orang yang ada di sekitar anak dapat dibedakan dalam usia, jenis kelamin, pekerjaan, status kesehatan dan tingkat pendidikannya.
  4. Sistem nilai : sikap dan norma.
  5. Komunikasi antaranak dan orang di sekelilingnya akan menentukan perkembangan sosial emosi anak (dalam Patmonodewo, hal 44-45).

Menurut Erick Erickson usia anak TK ini berada di tahapan Inisiative VS Guilt. Ketika anak-anak prasekolah menghadapi suatu dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertantang daripada ketika mereka masih bayi. Perilaku aktif dan bertujuan dituntut untuk menghadapi tantangan-tantangan ini. Anak-anak diharapkan menerima tanggung jawab atas tubuh mereka, perilaku mereka, mainan mereka dan hewan peliharaan mereka. Sedangkan menurut Jean Piaget usia TK ini berada di tahap praoperasional, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampaui hubungan sederhana antara informasi sensor dan tindakan fisik (dalam Santrock, hal 40 &45).

Ciri anak sekolah TK menurut Snowman (1993) terdiri dari aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif diantaranya adalah :

  1. Secara fisik : anak TK umumnya sangat aktif. Setelah melakukan berbagai kegiatan, membutuhkan istirahat yang cukup. Serta otot-otot besar pada usia ini lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan, oleh karena itu biasanya anak belum terampil melakukan kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu.
  2. Secara sosial : memiliki teman yang cepat berganti, kelompok bermainnya kecil. Pola bermain anak usia ini bervairasi dengan kelas sosial dan jenis kelamin.
  3. Ciri emosional : Cenderung mengekspresiakn emosinya dengan bebas dan terbuka. Iri hati juga sering terjadi pada usia ini karena merebutkan perhatian guru.
  4. Ciri kognitif : umunya terampil dalam berbahasa. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang (dalam Patmonodewo, hal 32-35).

Berdasarkan penjelasan diatas, berarti sebagai orang tua setidaknya kita mencari lingkungan sekolah TK yang dapat memenuhi kebutuhan untuk anak di usia tersebut. Menurut The Nebraska Department of Education di Amerika Serikat saran bentuk program TK yang dianggap baik, yaitu :

  1. Pengalaman anak hendaknya dirancang, lingkungan yang bersifat sebagai pusat yang akan mendorong proses belajar melalui penjelajahan dan penemuan. Anak tidak hanya duduk diam di dalam kelas saja.
  2. anak harus diberi kesempatan mendapatkan berbagai pengetahuan dan kegiatan yang rumit. Anak harus mampu menggunakan alat-alat permainan atau alat bantu belajar yang tersedia.
  3. anak harus belajar bahwa jawaban atas suatu persoalan tidak hanya satu jawaban yang benar.
  4. Anak belajar menyukai buku dan bahasa melalui aktivitas bercerita
  5. Anak mampu berbahasa dengan caranya sendiri
  6. Anak berpartisipasi dengan kegiatan sehari-hari dengan kegiatan sehari-hari yang dirancang dalam kegiatan perkembangan motorik kasar dan halus.
  7. Anak mengembangkan pengertian matematika melalui penggunaan materi yang telah dikenal seperti pasir, air, balok dan alat bantu untuk menghitung.
  8. Anak mengembangkan rasa ingin tahu tentang alam
  9. Anak mengenal berbagai irama dan alat musik melalui kegiatan yang dilakukan sehari-hari
  10. Anak menyukai ekspresi seni melalui penggunaan berbagai alat atau media yang dirancang dalam kurikulum
  11. Semua kegiatan di TK dirancang untuk mengembangkan self image yang positif, serta sikap baik kepadateman dan sekolah (dalam Patmonodewo, hal 88-89).

Nah dengan penjelasan ini berarti pendidikan TK itu cukup penting yah bun, jangan diabaikan lagi agar anak merasa ‘kenyang’ bermain sehingga ketika ke jenjang berikutnya ia sudah siap untuk belajar.

 

Oleh : Rajab Cipta Lestari, S.Psi

Sumber : Patmono, Soemiarti. (2008). Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta

Santrock, J. W. (2002). Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jilid Kedua. Jakarta : PT.Erlangga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s