Hal yang Perlu Dihindari Saat Berkomunikasi dengan Anak

Ditulis Oleh: Sadiqa Sadaf, S.Psi

 

Setiap kata dapat merubah otak anak anda. Mari belajar cara yang benar.

Menjadi orang tua adalah salah satu tugas hidup yang paling menantang, namun juga tugas yang berharga. Sayangnya, kesalahpahaman tentang cara membesarkan anak-anak dapat menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif. Beberapa orang tua menggunakan strategi pengasuhan otoriter sehingga tidak memungkinkan anak memiliki hak untuk bersuara. Orang tua lain terlalu banyak memberi kompensasi dengan pola asuh yang terlalu permisif yang tidak mengajarkan anak-anak tentang batasan dan pengendalian diri. Penelitian menunjukkan kedua ekstrem dapat mengganggu kemampuan anak-anak untuk mengatur emosi dan membentuk hubungan yang sehat sebagai orang dewasa. Jenis pengasuhan terbaik adalah adil, fleksibel, hormat, dan mau terus belajar. Mendengar dan menghormati perasaan mereka, memberikan pilihan, namun menetapkan batas yang adil dan jelas pada perilaku yang tidak dapat diterima adalah keseimbangan yang sehat yang harus kita semua perjuangkan.

Hal yang harus dihindari ketika berkomunikasi dengan anak adalah :

  1. Ibu Berteriak/ Berbicara terlalu banyak

Ketika orang tua terus dan terus berbicara, anak-anak justru akan meninggalkan dan tidak mau mendengarkan orangtuanya. Para peneliti telah menunjukkan bahwa otak manusia hanya dapat menyimpan empat “bongkahan” informasi atau ide-ide unik dalam memori jangka pendek (aktif) sekaligus. Jumlah ini sekitar 30 detik atau satu atau dua kalimat berbicara.  Contoh tidak efektif “Ibu tidak yakin apa yang harus kita lakukan tentang balet dan softball semester ini. Kamu tahu, Kamu benar-benar mungkin tidak dapat melakukan keduanya karena softball adalah pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 4, tetapi kemudian kamu harus mengubah dan memasukkan rambut kamu ke dalam sanggul, sehingga tidak akan cukup waktu, kecuali jika Anda mengemas semua barang balet Anda pada Senin malam, yang berarti harus dicuci pada hari Minggu ……. ” Contoh Efektif “Jika kamu melakukan ballet dan softball semester ini, kamu harus pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dalam satu waktu. Mari duduk dan cari tahu apakah ini masuk akal untuk kamu.” alam contoh ini, orang tua membatasi percakapan ke dua kalimat, yang membuatnya lebih mudah bagi anak untuk menyerap informasi. Dia juga menjadi jelas tentang tujuan keseluruhan (membuatnya bekerja untuk keduanya), dan langkah selanjutnya yang dia minta (duduk dan diskusikan masalah). Akhirnya, dia mengkomunikasikan keinginan untuk berkolaborasi dan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak serta kebutuhannya sendiri.

2.      Mengomel dan Memberi Banyak Peringatan Mengomel hanya akan membuat anda tidak akan didengar oleh anak. Sementara anak-anak sebenarnya lebih banyak membutuhkan bantuan dan instruksi. Orangtua seharusnya membiarkan anak untuk mengambil tanggung jawab sendiri yang semakin lama semakin dewasa aka nada tanggung jawab yang lebih besar yang akan menanti mereka.  Contoh tidak efektif “ibu bangunin kamu lebih pagi soalnya kamu suka telat. Cepet mandi. Cepet ganti baju, bawa PR nya ibu mau lihat” 10 menit kemudian “kan ibu udah bilang kamu cepet siap-siap, malah leyeh leyeh. Kamu bikin kita semua jadi terlambat. Cepet gosok gigi terus ganti baju” 10 menit kemudian “mana PR nya? Ibu kan mau liat. Kamu juga belum selesai siap-siap. Pasti kita akan telat”

Orang tua ini mengambil terlalu banyak tanggung jawab dan secara tidak langsung mengkomunikasikan kepada anak bahwa dia tidak percaya kepadanya untuk mengelola situasi tanpa instruksi dan gangguan yang luas. Ini yang disebut “pengasuhan helikopter,” ini dapat menyebabkan anak-anak yang tidak percaya diri dan terlalu tergantung, menurut Dr. Carol Dweck, seorang penulis dan pengarang dan pengajar yang paling laris. Nada negatif dan mengganggu, cenderung menciptakan kebencian dan perlawanan atau pasif agresif pada orangtua kelak.

Contoh Efektif “Kita akan berangkat ke sekolah dalam 45 menit. Jika kamu belum menyelesaikan yang kamu butuhkan untuk keperluan sekolahmu, kamu akan menjelaskannya pada gurumu nanti”

Instruksi-instruksi yang diberikan harus singkat dan jelas serta penjelasan tentang konsekuensi yang akan mereka hadapi. Dengan begitu, memungkinkan anak untuk belajar dari konsekuensi alami dari tingkah lakunya sendiri. 

  1. Menggunakan Rasa Bersalah dan Rasa Malu untuk Mendapatkan Kepatuhan

 Ketika anak melakukan sesuatu yang akan membuat anda marah seperti memakai sepatu anda sehingga kotor dan sebagainya, hal itu karena anak hanya ingin bermain dan bersenang-senang. Anak belum memiliki empati dan hal itu akan didapatkan seiring berjalannya waktu hingga ia dewasa dengan bercermin bagaimana anda berempati pada anak anda Dan ketika anda merasa akan marah, penting untuk meluangkan waktu bagi perasaan Anda sendiri dan menenangkan diri dengan menggunakan pernapasan dalam atau berbicara sendiri sebelum membiarkan emosi-emosi ini meledak dan menggagalkan komunikasi Anda dengan anak Anda. Contoh tidak efektif“Ibu bilang berkali-kali untuk merapikan mainan kamu. Kamu ga peduli sama ibu? Ibu udah cape dari tadi berdiri untuk beres-beres, sekarang ibu harus rapihin mainan kamu lagi. Kenapa kamu egois?”

Orang tua ini menciptakan banyak energi negatif. komunikasinya menyalahkan anak dan tidak menghargai anak dengan memanggil anak “egois,” atau menyiratkan ada sesuatu yang salah dengannya juga berbahaya. Anak-anak menginternalisasi label negatif ini dan mulai melihat diri mereka sebagai anak yang “tidak baik.” Memalukan atau mempermalukan seorang anak dapat membentuk jalur otak dengan cara negatif. Perilakunya memang tidak dapat diterima, tetapi anak itu harus tetap dicintai.

 

Contoh efektif:

“Saya melihat mainan-mainan itu belum dikemas dengan baik dan itu membuat saya kecewa. Sangat penting bagi kita untuk memiliki rumah yang tertata yang dapat kita semua fungsikan. Semua mainan yang sedang keluar harus tidur di garasi malam ini. Kamu bisa memainkannya kembali besok dengan merapikan semua mainannya sekarang.”

Orang tua ini jelas mengomunikasikan perasaan dan kebutuhannya sendiri tanpa kemarahan atau kesalahan. Dia menerapkan konsekuensi yang jelas, tetapi tidak terlalu menghukum untuk perilaku dan memberikan kesempatan bagi anak untuk mencoba lagi besok dan berhasil. Dia tidak menghubungkan motivasi negatif apa pun dengan anak itu atau memberi label kepribadiannya dengan cara negatif.

  1. Tidak Mendengarkan

Kami semua ingin mengajari anak-anak kami untuk menghormati orang lain. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan memberi contoh perilaku yang penuh hormat dan peduli dalam interaksi kita sendiri. Ini membantu anak belajar nilai rasa hormat dan empati dan mengajarkan mereka keterampilan komunikasi yang efektif. Seringkali, mendengarkan dengan penuh perhatian adalah hal yang paling sulit bagi orangtua untuk dilakukan, karena anak-anak terus mengganggu kita, atau pikiran kita sibuk dengan semua tugas yang harus dilakukan. Dalam hal ini, tidak apa-apa untuk mengatakan kepada anak-anak “Sulit bagi saya untuk mendengarkan Anda sekarang karena saya menyibukkan memasak, tetapi saya akan berada di sana dalam 10 menit.” Lebih baik menyisihkan waktu yang jelas untuk komunikasi daripada mendengarkan dengan setengah hati atau kesal. Namun, ingatlah bahwa sulit bagi anak-anak untuk menunggu lama untuk didengarkan.

Contoh Tidak Efektif

Tanggapan orang tua terhadap seorang anak yang mengatakan mereka mencetak gol di sepak bola (tanpa melakukan kontak mata) “Oh, itu bagus, sayang. Sekarang pergi dan bermain dengan adikmu (bergumam pada dirinya sendiri) Berapa suhu saya memasak ayam? ”

Mendengarkan yang efektif melibatkan semua non-verbal, seperti menjaga kontak mata, menyampaikan pemahaman dengan wajah dan suara kita, dan menggunakan kata-kata untuk mencerminkan pemahaman kita. Orang tua ini mengajar anaknya untuk tidak mengganggunya, dan bahwa hal-hal yang penting baginya tidak penting baginya. Ini bisa membuat anak merasa sendiri dan tidak cukup baik.

Contoh Efektif

Tanggapan orang tua terhadap seorang anak yang mengatakan mereka mencetak gol di sepak bola. “kamu mencetak gol. Fantastis! Ibu dapat melihat kamu merasa sangat bangga dengan bagaimana kamu bermain. Ibu ingin mendengar semua tentang bagaimana hari ini. ” Orang tua ini menampilkan minat dan antusiasme; mengundang anak untuk menguraikan dan menjelaskan apa yang terjadi. Dia secara efektif menyetel ekspresi non-verbal anak dan merefleksikan perasaannya, sehingga membantu anak itu untuk mendapatkan kesadaran akan reaksinya sendiri. Jenis tanggapan ini mengarah pada si anak yang merasa bahwa dia penting dan layak mendapat perhatian.  Menjadi orang tua adalah pekerjaan yang sulit, dan di mana kita semua sering melakukan kesalahan. Berkomunikasi secara efektif dengan anak-anak kita membutuhkan waktu dan energi. Kita perlu menyadari perasaan kita sendiri dan reaksi otomatis, dan cukup memperlambat untuk dapat memilih cara yang lebih tepat. Anak-anak yang memiliki orang tua yang respek, terlibat, dan konsisten untuk terus belajar mengatur emosi, akan tumbuh menjadi anak-anak akan yang akan merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, dan mampu memiliki hubungan yang lebih mencintai sebagai orang dewasa.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s