Berdamai dengan Perilaku Mom-shaming

Oleh: Meilinda Herawan, S.Psi

 

https_blueprint-api-production.s3.amazonaws.comuploadscardimage5193736318e1fb-1cb4-4dba-87ee-c50f961e654a

Seperti yang kita ketahui, media sosial berkembang sangat pesat dan tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita saat ini. Setiap kegiatan dari individu itu sendiri menjadi terlihat sangat transparan. Sejak beberapa tahun lalu, media sosial khususnya Instagram menjadi lebih menarik karena muncul anak-anak artis yang lucu atau bahkan timeline di Instagram kita juga banyak menampilkan foto anak dari teman atau circle kita sendiri. Secara tidak sadar, kita menjadi komentator atas foto-foto yang ditampilkan. Walaupun mungkin tidak ditulis di kolom komentar atau hanya sebatas bergumam dalam hati. Seperti misalnya salah satu artis yang menerapkan metode MPASI Baby Led-Weaning pada anaknya membuat beberapa orang berkomentar dan memberikan kritik mengenai keamanan atau resiko dalam metode tersebut.

Dalam kehidupan nyata pun, seringkali kita mendengar orang lain atau mungkin kita sendiri memberikan komentar dan kritik kepada ibu lain yang memilih untuk memberikan susu formula atau ASI, ibu bekerja atau ibu yang diam di rumah, penggunaan screen time untuk anak dan lain-lain.  Komentar atau kritikan terhadap ibu lain itu disebut dengan istilah mom-shaming yang berarti merendahkan seorang ibu karena pilihan pengasuhannya berbeda dari pilihan-pilihan yang dianut si pengkritik.

Menurut Psikolog Monica Sulistiawati, mom-shaming seperti bullying, namun tujuannya membuat ibu yang menjadi target merasa salah dan buruk, sementara si pelaku benar dan sempurna. Perilaku mom-shaming bisa berupa sindiran, komentar, dan kritik yang sifatnya negatif.

C.S. Mott Children’s Hospital Universitas Michigan melakukan survey pada 475 ibu dengan balita. Sebagian besar ibu (61%) mengatakan bahwa mereka dikritik tentang pilihan pengasuhan mereka, paling sering oleh keluarga – pasangan (36%), mertua (31%), ibu atau ayah mereka sendiri (37%), teman (14%), ibu lain yang mereka temui di depan umum (12%), komentator di media sosial (7%), petugas kesehatan (8%) atau penyedia pengasuhan anak (6% ). Sekitar 1 dari 4 ibu (23%) telah dikritik oleh tiga atau lebih kelompok. Secara keseluruhan, 62% percaya bahwa ibu mendapatkan banyak saran yang tidak membantu dari orang lain, sementara 56% percaya bahwa para ibu terlalu banyak disalahkan dan tidak terlalu dihargai atas perilaku anak-anak mereka.

Sementara hal-hal yang menjadi bahan kritikan, yakni sebagian besar seputar disiplin anak (70%), lalu diikuti nutrisi makanan anak (52%), kebiasaan tidur (46%), menyusui versus botol susu (39%), keamanan anak (20%), dan perawatan anak (16%).

Beberapa tanggapan terhadap kritik tentang pengasuhan mereka. Banyak mencari informasi tambahan tentang topik tertentu, baik mencari informasi sendiri (60%) atau meminta penyedia layanan kesehatan (53%), dan 37% telah membuat perubahan dalam cara mereka menjadi orang tua. Sementara 67% dari ibu mengatakan bahwa kritik membuat mereka merasa lebih kuat tentang pilihan pengasuhan mereka, 42% menunjukkan bahwa kadang-kadang, kritik telah membuat mereka merasa tidak yakin tentang pilihan pengasuhan mereka. Setengah dari ibu mengatakan bahwa mereka menghindari orang-orang tertentu yang kritis, sementara 56% telah berhenti mengkritik ibu-ibu lain setelah mengalami kritik itu sendiri.

mom-shaming-is-a-big-issue-says-u-of-m-ann-arbor-poll

Sebagai ibu baru, perilaku mom-shaming tentunya menjadi hal yang cukup menakutkan karena akan membuat kita sebagai ibu menjadi tidak percaya diri atau bahkan merasa selalu diawasi atas pilihan kita terhadap pengasuhan anak. Berikut beberapa tips untuk menghadapi mom-shaming:

  1. Berpikir positif. Apa yang kita anggap sebagai kritikan atau penilaian orang lain mungkin adalah ketidaktahuan mereka. Anggota keluarga dekat atau orang lain mungkin tidak mengetahui riwayat atau mengapa, misalnya, seseorang tidak menyusui atau mengapa kita mendisiplinkan anak-anak seperti yang kita lakukan.
  2. Jangan terpengaruh oleh teman-teman yang pengasuhannya terlihat mulus dan mudah. Apa yang kita lihat, terutama di media sosial seringkali hanyalah sebagian kecil yang ditampilkan dari kehidupannya.
  3. Tetaplah bersama dengan orang-orang yang mendukung kita. Kurangi waktu bersama mereka yang telah memberikan penilaian buruk — baik itu keluarga atau teman.
  4. Kita sebagai orang tua lebih mengenal anak kita daripada orang lain. Percaya diri dengan apa yang kita yakini merupakan hal yang paling baik untuk anak dan diri kita sendiri, bukan apa yang dipercayai orang lain.
  5. Tidak ada orang tua yang sempurna; hampir semua orangtua pernah membuat kesalahan. Yang perlu dilakukan adalah, terus memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah kita buat sebagai orang tua.
  6. Terus aktif menambah wawasan dari sumber-sumber terpercaya seperti buku, seminar kesehatan anak maupun pengasuhan, dan diskusi dengan para ahlinya. Dengan begitu kita akan lebih mantap dan percaya diri menghadapi mom-shaming di lingkungan sekitar.

 

 

 

 

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/singletons/201710/10-ways-deal-mom-shaming

https://parentalk.id/mom-shaming-dan-tantangan-menjadi-ibu-baru/

https://mottpoll.org/reports-surveys/mom-shaming-or-constructive-criticism-perspectives-mothers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s