Pentingnya Pendidikan Seks Sejak Dini

Oleh : Rajab Cipta Lestari, S.Psi

 

istock-92182678

“eh…eh kita nge- seks yuk?”

Ungkap salah seorang anak laki-laki sekitar usia 5 tahun kepada teman sebayanya. Ajakan anak tersebut tentu bukan sesuatu hal yang seharusnya sudah diketahui oleh usianya, ternyata anak tersebut terbiasa untuk menonton suatu tayangan di internet yang memperlihatkan hal tersebut baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis tanpa pengawasan dari orang tua atau orang dewasa. Sehingga timbulah rasa penasaran pada anak tersebut mengenai seks dan menganggap itu adalah sebuah permainan dan hal yang wajar.

Sebagai orang tua ataupun orang yang lebih dewasa ada baiknya kita untuk memberikan pengetahuan pada anak mengenai pendidikan seks (sex education), ditambah saat ini maraknya kasus pelecehan dan kekerasan secara seksual yang korban ataupun pelakunya sendiri adalah anak-anak.

Pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan pemberian informasi tentang masalah seksual. Pendidikan seks didefinisikan juga sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksualnya dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang (Ratnasari & Alias, 2016).

Setiap usia diberikan pendidikan seks secara berbeda-beda seperti balita yang diajarkan mengenai organ kemaluan, fungsinya apa dan bagaimana cara menjaganya. Untuk lebih lengkapnya diberikan pendidikan seks berdasarkan usia, seperti :

Umur 3-5 tahun

Pada rentang umur ini, ajarkan mengenai organ tubuh dan fungsi masing-masing organ tubuh, jangan ragu juga untuk memperkenalkan alat kelamin si kecil. Hindari penggunaan istilah, dan ajarkan secara jelas alat kelaminnya seperti vagina atau penis. Jelaskan juga pada anak, bahwa semua bagian tubuhnya adalah miliknya tidak boleh ada yang menyentuhnya selain dirinya.

Umur 6 – 9 tahun

Di rentang umur ini, si kecil diajarkan mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Seperti berani menolak ajakan teman atau orang lain yang memintanya untuk mau agar bagian tubuhnya disentuh, dan kemudian anak berani untuk melaporkan kejadian tersebut pada guru dan orang tua. Mulai ajak anak untuk mengenai perkembangan reproduksi melalui contoh dari binatang, sehingga anak akan paham bahwa dirinya juga akan berubah sama seperti binatang tersebut.

Umur 9 – 12 tahun

Berikan informasi lebih mendetail apa saja yang akan berubah dari tubuh si anak saat menjelang masa puber yang cenderung untuk berbeda-beda di setiap individu. Seperti anak perempuan akan mengalami menstruasi, bagaimana menyikapinya apa yang harus disiapkan. Begitu juga dengan anak laki-laki yang akan mengalami mimpi basah, apa yang sekiranya harus disiapkan.

Umur 12 – 14 tahun

Dorongan seksual di masa puber memang sangat meningkat, oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengajarkan apa itu sistem reproduksi dan bagaimana caranya bekerja. Orang tua mulai mengajarkan kematangan fisik dan emosional untuk dapat melakukan hubungan seksual, sehingga anak akan paham konsekuensi serta dampak ketika melakukan hal tersebut sebelum waktunya baik secara fisik maupun psikologis. Tanamkan keterbukaan komunikasi pada usia ini (Ratnasari & Alias, 2016).

Tips Cerdas Berbicara Seks pada Anak

Banyak orang tua bingung menyikapi pertanyaan anak mengenai masalah seks. Berikut beberapa sikap yang disarankan dalam berbicara dengan anak tentang seks :

1) Luangkan waktu untuk membuat dialog atau diskusi tentang seks dengan anak.

2) Sikap terbuka, informatif, dan yakin atau tidak ragu-ragu.

3) Siapkan materi dan penyampaian disesuaikan dengan usia anak.

4) Gunakan media atau alat bantu konkret seperti boneka, gambar, binatang, untuk memudahkan anak menyerap informasi.

5) Membekali diri dengan wawasan cukup untuk menjawab pertanyaan anak.

6) Menjawab pertanyaan dengan jujur dan dengan bahasa yang lebih halus

7) Dalam memberikan pendidikan seks pada anak sebaiknya anak mengenali bagian tubuh dirinya

sendiri dan jangan pernah mengeksplor tubuh orang lain.

8) Mendiskusikan kepada ahli atau psikolog apabila ada hal-hal yang masih ragu atau bingung, terutama apabila terjadi hambatan dalam memberikan informasi.

9) Menyakinkan diri bahwa pendidikan seks pada anak adalah penting dan bermanfaat (Ratnasari & Alias, 2016).

Dengan demikian baik orang tua maupun orang dewasa dapat mencegah berbagai kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan tersebut seperti pelecehan dan juga kekerasan seksual pada anak. Mari hindari anak kita menjadi korban ataupun pelaku.

Sumber : Ratnasari, R. F., & Alias, M. (2016). Jurnal ’ Tarbawi Khatulistiwa ’ Vol.2 No. 2 2016 ISSN : 2442-756X, 2(2), 55–59.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s