Psychological First Aid untuk Korban Bencana Alam

Ditulis oleh: Narulita Shanti Hapsari, S.Psi

Baru-baru ini bangsa kita dilanda bencana alam. Setelah bencana gempa Lombok yang terjadi pada bulan Agustus lalu, kini saudara kita yang berada di Palu merasakan bencana gempa bumi yang disertai dengan tsunami. Bencana alam datang tanpa diundang dan sulit sekali untuk diprediksi. Tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur, tapi juga gangguan terhadap kondisi psikologis para korban itu sendiri.

Menurut sebuah penelitian, korban terdampak bencana berpotensi mengalami kecemasan, depresi, dan trauma. Oleh karena itu, melakukan pertolongan pertama pada psikologis (Psychological First Aid) korban merupakan sebuah usaha yang perlu diperhatikan untuk menghadapi dampak buruk bencana alam.

 Apa itu Psychological First Aid (PFA) ?

Menurut Sphere (2011) dan IASC (2007) dalam Psychological First Aid : Guide for Field Workers yang disusun oleh WHO (2011) menjelaskan bahwa PFA merupakan perawatan dasar yang bersifat praktis, suportif, dan humanis untuk sesama manusia yang menderita dan mungkin membutuhkan pertolongan dengan segera setelah terjadinya bencana atau kecelakaan.

Dapat dikatakan PFA adalah pertolongan pertama yang bersifat praktis, supportif, dan humanis (berupa dukungan sosial dan emosional)  yang diberikan kepada individu yang dapat memberikan efek pulih jangka panjang.


Fokus dari
Psychological First Aid

Menurut WHO (2011) berikut adalah hal-hal yang dilakukan saat PFA :

1.) Menyediakan perawatan praktis dan dukungan yang bersifat tidak memaksa,

2.) pengenalan dan pemenuhan kebutuhan dasar beserta membantu seseorang untuk memenuhinya,

3.) mendengarkan apa yang mereka ceritakan tetapi tidak memaksa untuk berbicara,

4.) membantu seseorang untuk medapatkan informasi, pelayanan, dan bantuan sosial,

5.) melindungi korban dari hal – hal yang membahayakan.

Mengenai penjelasan lebih lanjut PFA BUKAN merupakan suatu yang hanya bisa dilakukan oleh profesional (seperti psikolog, tenaga medis dll), bukan layanan konseling professional, bukan “psychological debriefing” (Tidak mendiskusikan secara detil tentang kejadian yang menyebabkan tekanan), bukan meminta mereka untuk menganalisa apa yang sedang terjadi atau menempatkan mereka pada waktu dan tempat ketika kejadian itu berlangsung . Walau PFA melibatkan kita untuk menyediakan diri dan waktu mendengarkan cerita mereka, tetapi bukan berarti memaksa atau mendorong mereka untuk menceritakan tentang perasaannya terhadap kejadian tersebut.

 

Pentingnya Melakukan Psychological First Aid (PFA)

Ada beberapa alasan yang menjelaskan pentingnya melakukan psychological first aid pada korban, yaitu:

  1. Mengurangi Risiko Gangguan Mental

Tidak sedikit korban bencana alam merasa putus asa dan terpuruk, misalnya yang dialami oleh korban Gempa Yogyakarta pada tahun 2006. Mereka kehilangan tempat tinggal, keluarga, harta benda dan berbagai hal yang dimilikinya. Mereka seakan-akan berdiri di tanah yang tidak bisa dipijak, hampa dan penuh kekosongan. Banyak dari mereka yang tidak tahu harus berbuat apa. Dengan adanya PFA ini dilakukan agar mengurangi risiko terdampak bencana pada aspek psikologis. Sebab, kondisi psikologis para korban juga dapat mempengaruhi cepat lambatnya proses healing pasca bencana.

  1. Meningkatkan Self-Healing

PFA dapat membantu seseorang untuk dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari dalam. Self-healing ini dilakukan dengan memberi dorongan kepada korban untuk bisa memahami keadaan yang telah terjadi. Setelah memahami keadaan yang terjadi, korban bencana juga dibantu untuk menerima peristiwa yang telah terjadi.

  1. Membangun Harapan

Harapan adalah perasaan yang sangat penting bagi para korban terdampak bencana. Satu-satunya tongkat yang membantunya untuk bangkit adalah memiliki harapan untuk tetap melanjutkan kehidupan, apapun keadaannya. Di sinilah pentingnya PFA dalam membangun harapan bagi para korban. Memberikan pelukan yang hangat untuk setiap tangisan yang mereka curahkan. Menemani para korban agar sembuh dari luka-luka yang menyakitkan atas peristiwa traumatis yang dilaluinya.

Dapat dikatakan, Psychological first aid hadir untuk mendampingi korban yang terluka secara psikis, yang justru terasa lebih sulit untuk menyembuhkannya. Terasa sulit karena luka psikis tidak dapat terlihat oleh kasat mata dan tidak semudah itu untuk ditemukan.

Dalam hal ini, siapa saja bisa memberikan psychological first aid dengan mempelajari terlebih dahulu makna dari PFA itu sendiri seperti apa. Ketika PFA telah berhasil diberikan, harapannya korban yang mengalami bencana alam dapat kembali pulih dari luka, dapat merasa lebih baik dan sejahtera dengan keadaannya sekarang.

Source :

www.pujionocentre.org (Dukungan-Psikososial-PFA_Diskusi-RKEP-2Juni17)

Pijar Psikologi untuk Liputan6.com

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s