“Ayah..Ibu.. Aku siap sekolah!”

Ayah dan ibu, seringkah kita merasa bingung menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai memasukkan anak kita ke sekolah formal (SD)? Apa saja sih tanda bahwa mereka sudah siap sekolah? Apakah ketika sudah memasuki usia 7 tahun? Atau ketika mereka sudah terlihat bosan di TK/PlayGroup?

Kesiapan anak untuk mengikuti pembelajaran formal tentu harus didukung dengan kematangan aspek-aspek psikologis yang anak miliki. Kematangan yang dimaksud adalah proses yang terkait dengan perkembangan yang dijalani sejak bayi. Untuk mencapai kematangan tersebut maka anak perlu distimulasi atau dibina melalui hal-hal yang sederhana seperti berlatih mandiri, mendorong rasa ingin tahu anak, mengenal benda di sekitar, dan lain-lain.

Ada 3 aspek yang dibutuhkan untuk mengetahui apakah anak sudah siap untuk sekolah atau belum, yaitu kematangan fisik (motorik), kematangan mental (kognitif), dan kematangan emosi. Yuk, kita bahas aspek aspek ini satu persatu…

  1. Kematangan Fisik

Aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mengendalikan gerak tubuh dan otot-otot besar maupun otot-otot kecil mereka khususnya dalam belajar. Aktifitas motorik merupakan kunci utama kemapuan belajar dasar bagi anak. Contoh ketika menulis atau menggambar, anak harus sudah mampu untuk memegang alat tulis dengan 3 jari penopang, yaitu jempol, jari telunjuk, dan jari tengah. Cara menggenggam seperti ini akan membuat anak nyaman menulis dan lebih mudah menggerakan serta mengarahkan alat tulis. Tekanan yang diberikan saat menulis juga tidak terlalu lemah dan tidak juga terlalu keras, karena tekanan yang lemah menghasilkan tulisan yang tipis dan sulit terbaca. Sebaliknya jika tekanan terlalu keras, tangan akan cepat lelah dan menghambat anak untuk menulis lebih lama.

Untuk menstimulasi cara anak dalam menggenggam dan memberi tekanan saat menulis bisa dilakukan melalui kegiatan yang mengolah motorik halus anak seperti bermain plastisin, meronce, mengupas kulit bawang dan lain-lain. Contoh lain yang juga penting dari aspek kematangan fisik adalah cara duduk. Anak harus mampu bertahan untuk duduk tegak dan tidak terlalu banyak bergoyang, hal ini berkaitan dengan kemampuan konsentrasi anak dan membiasakan diri untuk mengikuti aturan (tidak jalan-jalan di kelas misalnya.)

  1. Kematangan Mental

Aspek ini berkaitan dengan kapasitas kecerdasan yang dimiliki anak. Daya tangkap untuk memahami perintah atau instruksi akan memegang peranan penting selama ia mengikuti pembelajaran di sekolah dasar. Perlu diperhatikan bahwa daya tangkap yang anak miliki berbeda beda. Pada beberapa anak mungkin bisa dengan mudah paham maksud dari perintah yang diberikan, ada juga yang perlu diulang atau diberi contoh yang kongkrit. Hal ini yang akan menentukan pola belajar seperti apa yang efektif bagi anak. Anak juga diharapkan sudah mengerti konsep konsep belajar. Misalnya anak sudah tahu perbandingan jumlah dan ukuran. Kemampuan ini menjadi dasar bagi anak untuk belajar berhitung. Anak juga diharapkan sudah dapat memahami cerita yang di ceritakan dan bisa menceritakannya kembali dengan bahasa yang sederhana. Selain itu konsentrasi dan daya ingat juga yang menentukan keberhasilan anak dalam belajar.

  1. Kematangan emosi

Munculnya minat dan semangat untuk sekolah merupakan salah satu tanda anak memiliki kematangan emosi. Selain itu, sebelum anak bisa dikatakan siap sekolah ia harus mampu mengelola emosinya. Misalnya bagaimana ketika anak merasa malu saat pertama masuk sekolah, marah atau sedih ketika harus mengikuti aturan sekolah, masih belum memahami perbedaan bermain dan belajar. Berikut ini adalah indikator kematangan emosi yang akan mendukung kesiapan anak untuk sekolah:

–        Bisa bermain secara interaktif dengan temannya.

–         Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya.

–         Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain.

–         Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya.

–         Dapat menolong orang lain/temannya.

–         Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya.

–         Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru.

–         Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti.

–         Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit.

–         Bisa menunggu atau menahan keinginannya.

–         Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan.

Jadi ketika anak misalnya masih berusia 5 tahun namun beberapa aspek masih kurang matang sebaiknya diberi stimulasi terlebih dahulu agar nantinya anak bisa lebih siap mengikuti pembelajaran di SD. Tentunya kematangan setiap anak pun berbeda-beda. banyak faktor yang mempengaruhinya seperti temperamen, tahapan perkembangannya, pola belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, dan faktor lingkungan yang mendukungnya.

Secara umum di usia 6-7 tahun ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Jadi, bisa saja kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pemalu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut.

Itulah mengapa di beberapa sekolah dasar sering mengadakan tes kematangan, tujuannya bukan untuk seleksi tapi sebagai acuan belajar dan mengajar mereka nantinya. Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Jika secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri. Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama.

Jadi pemilihan sekolah juga akhirnya sangat penting, ayah dan ibu harus mengetahui bagaimana pola dan sistem yang berlaku di sekolah tersebut, disesuaikan dengan potensi atau hambatan yang anak miliki. Pilihlah sekolah yang memperhatikan dan berusaha menyeimbangkan semua aspek dan potensi yang dimiliki anak kita, bukan hanya kognitif agar anak bisa belajar dan mendaat hasil yang optimal.

 

 

 

 

Sumber Acuan:

Kemampuan belajar dasar (Robert E. Valett)

Matang Dulu, Masuk SD Kemudian (kancilku.com)

School Readiness (Gary W. Ladd, PhD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s