Seberapa Pentingkah Melatih Anak untuk Asertif Sejak Dini?

Seiring anak tumbuh besar mereka juga semakin mengembangkan pemahaman bahwa setiap perkataan dan perilaku yang mereka tampilkan tidak hanya memiliki dampak terhadap orang lain tapi juga diri mereka sendiri. Dengan pemahaman ini anak pun belajar menyesuaikan perilaku dengan melihat contoh di lingkungan seperti orangtua, guru, atau dari buku dan televisi.

Pada umumnya melalui periode “belajar” ini anak akan mengembangkan kemampuan asertif yaitu kemampuan untuk berdiri sendiri, memastikan opini dan perasaan diri dianggap oleh orang lain tanpa menyakiti siapapun. Namun jika di periode ini rasa percaya diri anak terkikis, misalnya terlalu banyak dikritik dan dilarang oleh oleh anggota keluarga atau mengalami bullying di sekolah tanpa adanya pendampingan baik dari guru maupun orangtua, maka anak akan mengembangkan perilaku pasif atau agresif dalam berespon terhadap lingkungannya di masa yang akan datang.

early-childhood_large_1

Mengapa kemampuan asertif sangat penting ditumbuhkan sejak dini?

Ketika seorang anak berespon secara pasif terhadap lingkungannya, misalnya cenderung memendam pikiran, perasaan dan kebutuhannya dengan tujuan ingin menghindari konflik dan menyenangkan hati orang lain, maka akan berdampak pada penumpukan stress, kemarahan, dan yang paling parah depresi. Anak yang pasif dalam mengutarakan pendapatnya juga cenderung akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Sementara pada anak yang berespon secara agresif, misalnya selalu menuntut agar keinginannya didengar dan dituruti tanpa memedulikan kondisi orang lain, maka akan berdampak pada munculnya rasa bersalah dan malu. Dalam pergaulan juga mereka cenderung dijauhi.

Seperti apakah anak yang asertif?

Anak yang asertif akan mampu menyatakan pikiran, perasaan, dan kebutuhannya tanpa melukai orang lain. Kemampuan untuk membela diri dan menghormati hak orang lain ini juga berguna untuk menghindari anak dari bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Anak yang percaya dengan dirinya sendiri tidak akan memiliki kebutuhan untuk menindas anak lain, begitupun pada anak yang ditindas akan mampu mengatasi masalahnya dengan baik.

Dalam interaksi sehari-hari, anak yang asertif mampu mengatakan “tidak” ketika ia diminta melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Saat kebingungan dengan penjelasan guru di kelas, ia berani bertanya. Ketika ada hal yang mengganggunya di sekolah, ia akan dengan leluasa bercerita kepada orangtuanya di rumah.

Bagaimana cara melatih anak agar asertif?

  1. Mulailah dengan menghormati pendapat dan keinginan yang disampaikan anak anda sejak dini. Anak yang merasa dirinya dihormati dan dihargai di rumah akan melakukan hal yang serupa kepada orang lain di lingkungan sosialnya dan tidak akan membiarkan orang lain memperlakukan mereka dengan buruk.
  2. Ceritakanlah pengalaman-pengalaman anda ketika berinteraksi dengan berbagai jenis karakter orang yang anda temui selama ini dan bagaimana anda secara asertif menghadapi mereka. Sampaikan apa efek positif dari sikap asertif tersebut bagi diri anda dan orang lain serta kemungkinan negatif yang bisa terjadi seandainya anda tidak mampu bersikap asertif.
  3. Anak anda adalah pengamat yang sangat baik. Maka tampilkanlah perilaku asertif anda dalam kehidupan sehari-hari saat anda berinteraksi dengan anggota keluarga lain, rekan kerja, pegawai restoran, dan orang-orang yang anda temui di tempat umum.
  4. Lakukan roleplay bersama anak dengan menciptakan situasi buatan yang mendorong anak anda untuk asertif, bisa dengan kemampuan menyapa/mengajak berkenalan, menolak, bertanya, berpendapat, meminta tolong, menyapa, dll. Misalnya anda dapat berpura-pura menjadi teman sekelas anak anda yang menyuruhnya untuk ikut bolos sekolah.
  5. Selalu berikan pujian terhadap sekecil apa pun usaha anak anda dalam mencoba mengungkapkan pendapatnya. Hindari memarahi dan menekannya saat anak anda belum mampu bersikap asertif.

Sumber:

Williams, Chris J. (2000). Being Assertive. Overcoming Depression: A Five Areas Approach. UK: Arnold Publishers.

http://www.psychcentral.com

 

Saat Anak Takut Bertemu Orang Asing

99501232_wide

Kita seringkali kebingungan ketika melihat bayi kita yang semula selalu anteng mendadak menjadi penuh ketakutan dan kemarahan saat bertemu orang baru. Padahal sebelumnya bayi kita bisa dengan mudah digendong oleh siapa saja, bahkan bisa tertawa ketika diajak bercanda. Beragam pertanyaan muncul di benak kita sebagai orangtua, apakah anak saya penakut? Apa ada yang salah dengan cara saya mengenalkan dia dengan orang lain? Apa anak saya selama ini terlalu nempel sama saya? 

Semua kekhawatiran tersebut sangat wajar kita rasakan. Namun kita tidak perlu berlarut-larut dalam kekhawatiran tersebut karena ternyata bayi kita sedang memasuki fase fear of strangers atau ketakutan terhadap orang asing dan ini merupakan tahapan perkembangan yang normal dilalui pada anak.

 

Usia berapa bayi mulai menunjukan ketakutan terhadap orang baru?

Pada usia 3 dan 4 bulan kebanyakan bayi menunjukan respon serupa seperti tersenyum kepada siapa saja yang mengajaknya berinteraksi. Memasuki usia 6 atau 7 bulan, di samping mengembangkan berbagai keterampilan, bayi juga mulai mengembangkan rasa takutnya. Mereka mulai belajar mengenali lingkungannya dan mulai membedakan orangtuanya dengan orang asing. Hal ini yang membuat mereka tiba-tiba takut saat orangtuanya meninggalkan mereka sebentar atau ketika ia bertemu dengan orang asing.

Fase ‘takut’ ini dapat berlangsung selama beberapa bulan saja, bahkan sampai berbulan-bulan, dan pada umumnya akan berhenti antara usia 18 bulan sampai 2 tahun.

Apakah semua anak mengalami fase ini?

Semua bayi mengalami fase ini, tentunya dengan intensitas yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh faktor temperamen masing-masing anak: easy, slow-to-warm, dan difficult. Anak dengan temperamen easy terlihat aktif dan ceria, ia akan dengan mudah beraptasi  di situasi dan lingkungan baru. Pada anak slow-to-warm cenderung sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara pada anak dengan temperamen difficult memiliki kesulitan untuk beradaptasi dan seringkali terlihat bad mood.

Bagaimana cara orangtua membantu anak menghadapi fase ini?

  • Dampingi anak saat memasuki lingkungan/bertemu dengan orang baru. Ketika anda membawa anak anda ke tempat baru berisi orang-orang yang juga baru bagi anak, selalu pastikan anak berada dalam sentuhan anda, misalnya digendong, dipeluk, atau digenggam tangannya. Jika tiba-tiba ia menangis, alihkan sejenak perhatiannya ke hal lain atau menjauh dari orang yang baru dikenalnya sampai ia merasa tenang. Anda juga bisa membawakan barang kesayangan anak seperti mainan yang dapat ia pegang selama mencoba beradaptasi.
  • Beri anak anda waktu. Jangan langsung membiarkan anak digendong oleh orang baru dengan harapan lama-lama ia akan terbiasa. Hal ini justru akan semakin memperbesar rasa takutnya. Cobalah untuk ikut terlibat ketika anak anda sedang belajar berinteraksi. Situasi ini dapat membuat anak anda merasa aman karena ia tahu anda tidak akan meninggalkannya dengan orang dewasa yang masih asing baginya.
  • Tunjukkan interaksi positif di hadapan anak. Anak selalu belajar dari lingkungannya, terutama orangtua. Ketika anda sedang bertemu dengan teman atau anggota keluarga yang belum familiar bagi anak, atau bahkan orang yang juga baru anda kenal, sapa mereka dengan intonasi yang ceria dan tunjukkan senyuman anda kepada mereka. Dengan melihat interaksi yang positif ini dapat mengurangi ketakutan anak ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya.
  • Berikan penjelasan. Terkadang kerabat kita tiba-tiba menyapa dengan mencium atau langsung menggendong anak kita. Maka sangat penting untuk segera memberikan penjelasan kepada mereka bahwa anak kita sedang belajar untuk bertemu dengan orang baru.

 

Kapan kita perlu mencari bantuan?

Jika sampai usia lebih dari 2 tahun anak masih terus menampilkan ketakutan yang ekstrim terhadap orang baru atau saat berpisah dengan orangtua, maka orangtua disarankan untuk segera mengkonsultasikan permasalahan anak anda ke ahlinya.     

 

Sumber:

http://www.raisingchildren.net.au

Hartson, John. & Payne, Brenda. (2006). Creating Effective Parenting Plans. Chicago: ABA Publishing.