RAISING A READER: Tahap Awal Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak

Ditulis Oleh: Nida Nabila Sodikin, S. Psi

Halo bunda dan ayah.. kira-kira pernah ga sih (atau bahkan sering) terbersit pikiran “hmmm bagaimana ya cara untuk menumbuhkan anak menjadi individu yang rajin membaca?” eits.. sebelumnya apa sih
membaca itu?

Membaca adalah suatu proses yang melibatkan reaksi yang penuh arti terhadap simbol yang terlihat (Bond and Tinker. 1967). Dalam artian, membaca itu adalah proses dimana kita mengenal simbol-simbol yang tertera di sebuah tulisan (misal kita tau A itu dibaca A, B dibaca BE dst),
menyambungkan simbol-simbol tersebut menjadi kata-kalimat-paragraf dst dan paham akan apa yang kita baca. Nah kalau kita melihat suatu tulisan dan tidak paham akan apa yang kita lihat tersebut, berarti itu hanya ada pada tahap melafalkan saja, bukan membaca. Wahh.. tidak semudah itu ya ternyata untuk membaca. Jadi bagaimana ya caranya kita menumbuhkan anak yang rajin membaca baik tulisan, artikel, buku (bisa buku cetak atau ebook)?? Ini dia saran-saran yang dapat bunda dan ayah lakukan :

  1. Jadilah individu yang suka membaca
    Yap!sebelum anak yang melakukan, alangkah baiknya kita sebagai orang tua harus menjadi contoh bagi anak untuk menjadi individu yang suka membaca. Baca apa pun yang ayah bunda temukan, koran, komik, buku, majalah, berita di tv apapun itu. Bacakan dengan lantang ya ayah,
    dan bunda. Kelak, anak akan mencontoh perilaku orang tua yang suka membaca.

2. Bacakan buku sejak dalam kandungan
Bagi bunda yang sedang mengandung, yuk bacakan buku sebanyak mungkin kepada baby. Baby bisa mendengarkan apa yang bunda bacakan lho! Bacakan buku atau bacaan yang baik ya bund,
seperti buku cerita untuk anak.

3. Baca-baca-baca.. Nah.. ayo ajak anak membaca sejak dini ayah bunda, bahkan sejak lahir. Loh?kok?kan anak bayi belum bisa membaca?yap, betul. Akan tetapi, mereka bisa mendengarkan apa yang ayah dan
bunda katakan. Bacakan buku minimal 1 buku perhari atau bisa lebih. Bacakan apapun yang ada disekitar anda seperti tulisan di jalan, buku cerita, bahkan untuk sekarang sudah banyak aplikasi buku di gadget ayah dan bunda. Oh ya, membacanya harus dengan ekspresi ya ayah dan bunda! Agar anak lebih tertarik untuk ikut serta dalam aktivitas membaca buku.

4. Jadikan rutinitas
Jadikan membaca suatu rutinitas anak dan orang tua setiap hari. Selain menumbuhkan rasa kecintaan anak terhadap membaca, juga mempererat bonding antara orang tua dan anak. Salah satu contoh, jadikan rutinitas membaca buku sebelum anak tertidur di malam hari. Jika anak sudah lancar berbicara (misal untuk anak usia 3 taun) berikan pertanyaan seputar bacaan yang sedang ayah/bunda bacakan. Misal, “tadi siapa ya yang bertanding lari dengan kura-kura?”.

5. Membantu Lancar Baca
Jika kita sebagai orang tua selalu membacakan buku kepada anak, kelak anak akan memiliki kosakata yang lebih banyak di dalam memory nya jika dibandingkan anak yang tidak dibacakan buku. Kemampuan tersebut dapat membantu anak untuk lebih cepat dalam membaca terutama pada tahap membaca awal. Ketika anak melihat suatu kata yang dibaca, ia akan dengan mudah mengidentifikasi kata tersebut karena sudah familiar untuknya.

6. Buku Menarik
Belikan buku yang sesuai dengan usianya dan menarik bagi anak. Misalkan, bunda dan ayah membelikan buku yang terbuat dari kain untuk anak ayah dan bunda yang masih bayi. Jika anak sudah dapat membaca, belikanlah buku sebagai reward untuk anak. Berikan kebebasan dengan pendampingan kepada anak untuk memilih buku yang ingin dibelinya.


Itulah salah satu tips untuk menumbuhkan minat membaca pada anak. Lalu seberapa penting sih membaca untuk anak? Ayah dan bunda dalam dunia pendidikan Membaca adalah aktivitas dasar yang harus dimiliki seorang anak sebelum anak masuk ke sekolah formal (SD/MI). Anak akan menemukan kesulitan di sekolah jika kemampuan membacanya belum baik.

Yuk bunda dan ayah, ajarkan anak untuk membaca sedari dini agar kelak ia akan sukses di sekolah dan lingkungannya. Pastikan juga anak
ayah dan bunda tidak mengalami kesulitan belajar yang perlu untuk diberikan intervensi khusus 😉

Sumber Acuan :
Improving The Teaching Of Reading 3rd Edition . Emerald V. Dechant. 1982
https://www.nytimes.com/guides/books/how-to-raise-a-reader

PEDOMAN PRAKTEK PSIKOLOGI dalam HUKUM (Bagian 1)

Ditulis Oleh: Reno Fitria Sari, S. Psi., M. Si

image source: clbb.mgh.harvard.edu

Prakteknya ilmu psikologi dalam dunia hukum dikenal dengan sebutan psikologi forensik. Dimana praktek tersebut akan digunakan untuk kepentingan hukum, jika bukan untuk kepentingan hukum, maka praktek yang dilakukan tersebut hanya praktek psikologi biasa yang pada umumnya dilakukan.

Apa sih bedanya?

American Psychology Association (APA) membuat dasar-dasar pedoman
untuk pelaksanan praktek psikologi forensik. Dasar-dasar pedoman tersebut antara lain meliputi Tanggung Jawab, Kompetensi, Ketekunan, Membentuk Hubungan, Fees, Informed Consent, Pemberitahuan, dan Persetujuan, Menghadapi Konflik dalam Praktik, Menjaga Privasi, Kerahasiaan dan Hak klien, Metode dan Prosedur, dan Pemberian Assessment.

Poin pertama mengenai Tanggung Jawab sebagai seorang praktisi psikologi forensik yang meliputi: Integritas, Ketidakberpihakan dan Keadilan, dan Menghindari Konflik Kepentingan.
Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Integritas
    Praktisi forensik berjuang untuk akurasi, kejujuran, dan kebenaran dalam sains, pengajaran, dan praktik psikologi forensik dan mereka berusaha untuk melawan tekanan partisan untuk memberikan layanan dengan cara apa pun yang cenderung menyesatkan atau tidak akurat.
  2. Ketidakberpihakan dan Keadilan
    Ketika menawarkan pendapat ahli untuk diandalkan oleh pembuat keputusan, menyediakan layanan terapi forensik, atau mengajar atau melakukan penelitian, praktisi forensik berusaha untuk akurasi, imparsialitas, keadilan, dan independensi (Standar EPPCC 2.01). Ketika melakukan pemeriksaan forensik, praktisi forensik berusaha untuk bersikap tidak memihak dan menghindari presentasi partisan dari
    bukti yang tidak representatif, tidak lengkap, atau tidak akurat yang mungkin menyesatkan para pencari fakta. Praktisi forensik berpegang pada data yang nyata, yang ditemukan, dan dapat diperlihatkan sebagai bukti-bukti atau dasar pemikiran dalam menghadapi sebuah kasus.
  3. Menghindari Konflik Kepentingan
    Praktisi forensik menahan diri dari mengambil peran profesional ketika kepentingan atau hubungan pribadi, ilmiah, profesional, hukum, keuangan, atau lainnya diharapkan sikap ketidakberpihakan dimiliki agar tetap terjaga keprofesionalan sebagai praktisi psikologi forensik.
    Praktisi forensik didorong untuk mengidentifikasi, membuat diketahui, dan mengatasi konflik kepentingan nyata atau nyata dalam upaya untuk
    mempertahankan kepercayaan publik, melepaskan kewajiban profesional, dan mempertahankan tanggung jawab, ketidakberpihakan, dan akuntabilitas.

Gratitude

Ditulis Oleh: Fadila Nisa Ul Hasanah, M. Psi., Psikolog

Gratitude atau kebersyukuran adalah bentuk emosi yang diekspresikan melalui apresiasi untuk apa yang kita miliki atau kita terima. Emosi atau perasaan ini kemudian berkembang menjadi suatu sikap moral yang baik, kebiasaan, sifat kepribadian, dan akhirnya akan mempengaruhi seseorang
dalam menanggapi/bereaksi terhadap sesuatu ataupun situasi (Emmons & McCullough, 2003).

Manfaatnya:

  1. Meningkatkan kesejahteraan diri
    Orang yang memiliki rasa syukur biasanya lebih menyenangkan, lebih terbuka, dan kurang mengalami kecemasan.
  2. Mempererat hubungan interpersonal Menyatakan rasa syukur dengan berterima kasih kepada orang lain yang telah membantu dapat memelihara, memperkuat dan meningkatkan kepuasan hubungan.
  3. Meningkatkan keinginan melakukan tindakan pro-sosial kepada orang lain.
  4. Meningkatkan optimisme Ketika orang sering beryukur maka ia akan cenderung lebih fokus pada hal-hal yang positif dibandingkan hal negatif yang terjadi. Secara tidak langsung hal tersebut meningkatkan harapan dalam dirinya dan membuat seseorang menjadi lebih optimis.
  5. Meningkatkan kebahagiaan Dengan bersyukur maka akan timbul kepuasana atas apa yang telah dimiliki. Kepuasan hidup ini merupkan timbal balik positif yang diberikan rasa syukur dan efeknya jangka panjang. Dengan demikian, semakin banyak rasa syukur yang kita lakukan dan ungkapkan, semakin banyak kebahagiaan yang kita rasakan.
  6. Memperkuat kontrol diri Kontrol diri meningkat secara signifikan ketika subjek memilih rasa syukur daripada kebahagiaan atau merasa netral. Dengan rasa syukur, individu cenderung memandang positif dirinya dan kemampuan control diri meningkat karena hal tersebut.
  7. Kesehatan fisik dan mental yang lebih baik Saat kita mengapresiasi atau menghargai apa yang kita miliki maka manfaat ganda yang dimiliki adalah pikiran kita menjadi lebih sehat, dengan begitu tubuh pun akan sejalan menjadi lebih sehat pula. Dalam beberapa penelitian juga didapat bahwa dengan melatih rasa syukur dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan.
  8. Memikirkan orang lain berlaku baik pada kita dapat membuat otak dibanjiri oleh kimia otak yang positif sehingga membuat otak lebih aktif dan meningkatkan kemampuan metabolism, regulasi emosi.
  9. Meningkatkan koherensi dari fungsi tubuh, yang memfasilitasi fungsi kognitif, menciptkan stabilitas emosi dan memfasilitasi keadaan tenang.

Cara meningkatkan gratitude:
a. Buat “gratitude journal” yang berisi mengenai hal-hal baik yang dialami ataupun diterima tiap harinya. Selain itu, hal di bawah juga bisa dibuat untuk melengkapi jurnal yang dibuat:

  • Siapa atau apa yang menginspirasi saya hari ini?
  • Aapa yang saya sukai dari diri saya?
  • Siapa yang memberi dapak positif dalam hidup saya?
  • Apa yang telah saya selesaikan hari ini?
  • Apa yang saya ingin kerjakan?
    b. “Thank you notes”, menulis pesan terima kasih untuk orang lain yang telah memberikan
    bantuan untuk kita
  • Pertama, pikirkan seseorang yang telah melakukan sesuatu yang penting dan luar
    biasa untuk kita, namun belum sempat kita ucapkan berterima kasih dengan benar.
  • Selanjutnya, renungkan manfaat yang diterima dari orang tersebut, dan tulis surat
    yang menyatakan terima kasih atas semua yang telah mereka lakukan untukmu.
  • Kirimkanlah surat tersebut secara pribadi, dan luangkan waktu bersama orang ini
    untuk membicarakan apa yang telah kamu tulis.

  • https://positivepsychology.com/gratitude-appreciation/
    https://passionplanner.com/blog/5-gratitude-journal-prompts/

Memaksimalkan Bakat dan Potensi dengan “IKIGAI”

Ditulis Oleh: Myrna Anissaniwaty, M. Psi., Psikolog

Bakat, seringkali menjadi topik atau fokus utama bagi kebanyakan orang, mulai dari usia balita hingga ketika masuk masa dewasa. Di masa balita, orang tua ingin mengetahui bakat yang dimiliki anaknya. Hal ini bertujuan agar orang tua bisa mengarahkan dan membimbing anak untuk memantapkan minat dan bakatnya sehingga akan mudah bagi mereka menentukan tujuan hidup, sebagaimana pernah saya bahas di artikel “Memaksimalkan Minat dan Bakat Anak Usia Dini”.

Tidak sedikit pula beberapa orang baru memfokuskan pada bakatnya ketika SMA atau bahkan ketika akan lulus kuliah. Pertanyaan “Mau jadi apa..?” pun muncul entah datang dari diri sendiri maupun pernyataan yang sering dilontarkan orang lain. Terkadang kita masih merasa kesulitan menentukan jalan apa yang akan dipilih terkait pekerjaan, atau bahkan masih belum mengenali bakat dan potensi yang dimiliki. Berbagai macam cara bisa ditempuh untuk menentukan karir atau tujuan hidup, salah
satunya dengan terlebih dahulu mengenal dan menyadari diri sendiri.

Mengenal atau mengetahui diri bisa menggunakan beberapa konsep atau teori yang populer, saya pribadi cukup sering menerapkan konsep IKIGAI dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika membantu orang lain memetakan bakat maupun keinginannya. Ikigai adalah konsep Jepang
yang didefinisikan sebagai “alasan untuk hidup”. Orang Jepang percaya setiap orang memiliki ikigai. Sesuatu yang sangat penting, sebuah alasan untuk menikmati hidup. Untuk menemukan ikigai, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri tentang 4 hal, yaitu:

  1. Apa yang kamu suka? (what you love?)
  2. Apa yang sangat kamu kuasai? (what you are good at?)
  3. Apa yang dunia butuhkan? (what the world needs?)
  4. Apa kamu bisa menghasilkan yang dengan hal itu? (what you can be paid for?)

Irisan dari 4 pertanyaan itulah yang dimaksud dengan ikigai. Pertanyaan ini yang jika ditanyakan berulang-ulang pada diri akan mengerucut pada hal yang paling kita sukai dan juga memberikan dampak kepada finansial dan orang sekitar (Yoris Sebastian, 2016). Jadi, tidak cukup hanya punya
passion, kita juga perlu menentukan misi yang kita emban untuk masyarakat sekitar, profesi yang menjadi sumber penghasilan, dan lapangan kerja yang mungkin bisa kita kembangkan.

Ikigai merupakan proses menemukan tujuan diri, memang tidak instan sehingga bisa saja waktu yang dibutuhkan untuk menggali atau menemukan ikigai kita berlangsung cukup lama. Untuk memudahkan prosesnya, kita juga bisa melihat indikator atau ciri ketika kita sudah berhasil menemukan ikigai kita, yaitu ketika memiliki unsur 4E; Enjoy, Easy, Excellent dan Earn. Seseorang merasa senang saat melakukannya (enjoy)merupakan ciri yang pertama atas keberhasilan dari suatu
kegiatan. Apakah aku tetap akan melakukannya meskipun tidak seseorangpun menghargai hasil karyaku? Sebagai contoh seseorang yang suka masak selalu mengisi waktunya dengan memasak, terus berlatih, tak perduli walaupun orang lain tak menyukainya. Ciri yang kedua ketika seseorang dapat melakukan sesuatu dengan mudah (easy), saat dia merasakan dapat menguasai keterampilaan tersebut dengan mudah sementara orang lain dengan susah payah. Ciri yang ketiga adalah apabila
orang tersebut merasa telah dapat mencapai hasil yang maksimum (excellent). Terakhir, keika ia menghasilkan pendapatan, pujian, maupun pengakuan dari lingkungan atas apa yang dilakukan (earn).

Beberapa peneliti mengatakan, ikigai bisa berubah seiring perkembangan usia. Seseorang yang menjadikan karier sebagai tujuan hidup, akan mencapai kepuasannya saat pensiun nanti. Selanjutnya, ia akan mencari ikigai baru. Gordon Matthews, profesor antropologi di Chinese
University of Hong Kong sekaligus pengarang buku What Makes Life worth Living? mengatakan, ikigai bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih bermakna. “Sebab, kita selalu memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan,” ujarnya. Jadi, selamat menemukan Ikigai-mu ya Sobat RK..

Salahkah Jika Saya Marah?

Ditulis Oleh: Tsana Ulfah Ullaya, S. Psi

Semua orang di dunia ini pasti pernah marah. Apakah wajar jika kita merasa marah? Jawabannya, tentu saja wajar.

Menurut American Psychological Association, “Kemarahan adalah emosi manusia yang sepenuhnya normal, biasanya sehat. Tetapi ketika itu menjadi tak terkendali dan berubah menjadi destruktif, hal itu dapat menyebabkan masalah, baik di tempat kerja, hubungan pribadi, dan dalam kualitas hidup secara menyeluruh.”.

Marah merupakan emosi dasar dan alami. Marah merupakan respon terhadap ancaman, frustasi, kehilangan, serta hal-hal tidak menyenangkan lainnya dan membantu kita melindungi diri sendiri dan orang lain. Menjadi sangat penting bagi kita untuk dapat memahami, mengendalikan dan melepaskan marah secara sehat. Sebagian orang sering menekan dan menyangkal ketika dirinya merasa marah. Bagi mereka, marah adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan, dan seringkali membuat mereka
menyalahkan diri sendiri karena merasa marah. Marah bukanlah suatu hal yang salah. Meskipun memang kita tidak dapat diterima untuk menunjukkan perilaku marah, tetapi sepenuhnya dapat diterima untuk memiliki pikiran marah dan merasa marah. Kita harus dapat
menerima kemarahan yang kita rasakan. Apapun yang membuat kita marah, kenali itu.

Menurut Psychologies.co.uk, menekan kemarahan dapat memiliki efek negatif pada fisik, termasuk penyakit kulit, masalah jantung, dan sakit kepala. Pada tingkat emosional, kemarahan juga bisa menjadi dasar perasaan depresi. Ketika kita tidak dapat berhubungan dengan kemarahan kita secara langsung, kita mengambil risiko mengubahnya pada diri kita
sendiri, dan kemudian dapat mulai mengalami serangan pemikiran kritis terhadap diri sendiri. Ketika kita marah, beri waktu untuk menenangkan dan melepaskan diri sejenak dari situasi yang memberatkan kita. Tenangkan diri dengan menarik napas dan tahan selama 6 detik, kemudian hembuskan secara perlahan, dan ulangi sampai membuat kita merasa tenang. Setelah itu cobalah untuk fokus dan tanya pada diri sendiri, “Mengapa saya marah pada situasi ini?” Pahami sumber kemarahan kita, ketahuilah bahwa kita marah dan rasakan emosi marah ini sepenuhnya.

Memang dalam penerapannya kita tidak dapat mengungkapkan kemarahan kita pada semua situasi. Misalnya dalam situasi pekerjaan, dirasa tidak etis jika kita mengungkapkan kemarahan kita pada atasan. Namun kita dapat mengungkapkan perasaan kita kepada pihak ketiga yang kita percaya, tidak memihak, dan tidak mendukung reaksi yang dramatis (bisa keluarga, saudara, pasangan, teman, atau terapis). Mengungkapkan kemarahan akan memberi kita sedikit kelegaan dan membantu kita mencapai keadaan yang lebih tenang dan perspektif yang lebih seimbang. Saat kita berkomunikasi dengan orang lain, kita dapat mengungkapkan perasaan kita secara langsung dengan cara yang lebih sehat dan produktif.
Bersikaplah secara rasional, langsung dan jujur. Hal tersebut juga memungkinkan kita untuk mendapatkan wawasan mengenai diri kita sendiri, serta memungkinkan kita untuk dapat memahami apa yang memicu kemarahan kita dan memutuskan tindakan efektif apa yang
harus dilakukan. Buatlah keputusan rasional tentang bagaimana kita menghadapinya.

Hal yang paling penting adalah kita dapat belajar untuk merasa nyaman dengan kemarahan kita, menerimanya sebagai bagian alami dari kehidupan tanpa membiarkannya menyakiti kita atau orang yang dekat dengan kita. Jangan pernah menyerang diri sendiri karena marah. Kemarahan adalah emosi tidak menyenangkan yang harus dihadapi semua
orang. Memiliki sikap ini akan memungkinkan kita untuk dapat lebih berempati pada orang lain yang sedang berjuang mengatasi kemarahan mereka.

Sumber:
Psychalive. Understanding Anger. https://www.psychalive.org/anger/. (Diakses pada tanggal 12

Februari 2020)

_. Letting Go of Anger. https://www.psychalive.org/letting-go-of-anger/. (Diakses

pada tanggal 12 Februari 2020)

Bantu Anak Belajar Mengambil Keputusan

Ditulis Oleh: Lindyani Anissa, S. Psi

Seringkali orang tua menentukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka inginkan tanpa meminta persetujuan dari anak.  Namun sesekali biarkan anak mengambil keputusan sendiri. Walaupun masih kecil, bukan berarti anak tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Belajar untuk mengambil keputusan sendiri akan mempengaruhi kemandirian cara berpikir dan
bersikapnya kelak.

Waktu diminta untuk menentukan pilihan, mungkin Si Kecil akan kebingungan. Hal ini normal karena ia belum punya banyak pengalaman dalam menentukan pilihan. Ia akan kebingungan misalnya ketika mereka memilih Baju apa yang akan mereka pakai untuk pergi? Makanan apa yang mereka inginkan untuk sarapan? Teman mana yang ingin mereka
undang? Atau sesederhana Rasa es krim mana yang ingin mereka makan?
Hidup ini penuh dengan pengambilan keputusan baik hal kecil ataupun besar, tetapi bagi beberapa anak, terasa sangat sulit untuk dapat memutuskan sesuatu, ketika diminta memilih, mungkin mereka akan berkata “Aku tidak tahu! Saya tidak bisa memutuskan! ” atau, mereka
mungkin membuat pilihan tetapi dengan cepat membalikkan keputusan mereka. “Yang merah! Eh tidak, yang biru! Tidak, yang merah! ” Bahkan sebagian anak bisa sampai menangis karena kebingungan. Maka kita sebagai orang tua, penting untuk dapat membuat anak belajar membuat keputusan.

Dengan setiap keputusan, anak-anak membangun identitas mereka, menyatakan, “Inilah yang penting bagi saya” atau “Inilah saya”. Lalu, bagaimana membantu anak-anak agar dapat mengambil keputusan? Ada berbagai cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak-anak mengambil keputusan.

  1. Memberikan sedikit pilihan
    Dengan memberikan sedikit pilihan akan membuat pilihan menjadi tidak terlalu sulit untuk anak. Dr. Tamara Chansky yang juga seorang psikolog anak menyatakan adanya Penelitian yang menunjukkan bahwa jika anak diperhadapkan pada terlalu banyak pilihan, ia akan lebih
    sulit menentukan pilihan, karena pada dasarnya ingin memilih sebanyak mungkin yang ia bisa. Jadi, lebih baik batasi pilihan yang ibu berikan pada anak, baru kemudian minta ia untuk memilih. Misalnya, saat memilih pakaian, biarkan ia memilih baju warna biru atau
    merah saja dibandingkan memberikan pilihan yang lebih banyak dari itu. Dengan pilihan ini mereka akan belajar menyusun strategi, misalnya seperti membalikan sebuah koin untuk memilih sambil mengatakan ‘’eenie-meenie-minie-mo’’
  2. Memikirkan Konsekuensi dari Sebuah Keputusan
    Untuk keputusan yang lebih besar, bantu anak untuk memikirkan konsekuensinya dengan menyampaikan , “Jika kamu memilih A, maka akan terjadi B” Ketika kita membantunya untuk menjelaskan konsekuensi dalam segala pilihan, maka akan mengubah pikirannya dan
    biasanya menemukan pola yang menunjukkan lebih condong kemana keinginan anak tersebut.
  3. Berilah kesempatan anak Anda yang memutuskan
    Ketika kita memercayai anak-anak kita untuk membuat keputusan, kita tidak hanya memberi mereka latihan dengan keterampilan hidup yang penting, kita juga membantu mereka mengembangkan dirinya. Mereka akan belajar apa yang mereka sukai, tetapi mereka juga akan menemukan bahwa pilihan yang buruk bukanlah akhir dari cerita ketika mereka mau membuat beberapa pilihan yang mereka sesali dan mereka anak belajar dari pengalaman ini. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/growing-friendships/201906/when-your-child-can-t-decide

Pendidikan Melalui Karakter Disney Princess: 3 Hal yang Dapat Dipelajari Dari Film Frozen 2

Ditulis Oleh: Rajab Cipta Lestari, S. Psi

Hallo bunda, apa disini ada yang memiliki putri dan senang menonton film Princess Disney?

image source: http://www.bustle.com

Nah ada hal yang menarik nih bunda dari karakter atau tokoh-tokoh yang ditampilkan di film kartun Disney Princess ini. Memang di luar negeri sendiri ada beberapa penelitian yang sudah mengkonfirmasi kekhawatiran orang tua tentang efek buruk dari “budaya princess,” namun Putri<br>yang ditampilkan dari Disney saat ini dapat merubah cara pandang kita.Nah ada hal yang menarik nih bunda dari karakter atau tokoh-tokoh yang ditampilkan di film kartun Disney Princess ini. Memang di luar negeri sendiri ada beberapa penelitian yang sudah mengkonfirmasi kekhawatiran orang tua tentang efek buruk dari “budaya princess,” namun Putri
yang ditampilkan dari Disney saat ini dapat merubah cara pandang kita.

Seperti yang kita ketahui, banyak sekali cerita yang disampaikan oleh Disney dan sangat populer. Seperti misalnya kisah Cinderella, yang bertemu dan kemudian menikah dengan seorang pangeran yang baru saja ia temui sebagai satu-satunya jalan keluar dari situasi rumah yang kejam. Snow White, yang terbangun dari tidur panjangnya dengan dicium oleh pangeran, yang ciuman itu dilakukan tanpa persetujuan darinya. Ariel yang mengorbankan suaranya , untuk seorang pangeran yang juga nyaris belum dikenalnya. Mungkin yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa masing-masing karakter ini menjalani pengalaman ini karena semua wanita sekitar mereka tampaknya jahat.

Seperti yang ditulis Peggy Orenstein dalam Cinderella Ate My
Daughter, “Putri-putri bisa curhat dengan tikus atau cangkir teh yang simpatik, tetapi ia tidak punya pacar. Mari kita ulas: para tokoh putri yang sering diceritakan Disney yang dulu, adalah karakter yang menghindari terlibat dengan wanita lainnya. Tujuan mereka adalah untuk diselamatkan oleh seorang pangeran, menikah, dan dirawat seumur hidup mereka. ” Namun Disney tampaknya terus berkembang, semakin banyak yang mempertimbangkan sisi psikologisnya serta dapat menjadi contoh untuk kita sendiri, seperti : Film Inside Out, film ini memanfaatkan ahli psikologi untuk memastikan pandangan yang akurat tentang dunia emosi. Moana mewakili keragaman yang sangat dibutuhkan dan merupakan demonstrasi terbaik dari seorang pemimpin wanita. Frozen (part one) menceritakan seorang putri yang jatuh cinta dalam satu hari yakni Anna, tetapi kemudian jelas menunjukkan betapa berbahayanya dan tidak realistisnya jika hal tersebut terjadi. Film tersebut menggambarkan tokoh protagonis wanita yang menggunakan kekuatan nyata untuk menemukan jalan mereka melalui tantangan, daripada hanya bersandar padapertemuan kebetulan dengan pria. Elsa yang memiliki kekuatan super dan Anna yang sangat
manusiawi, kekuatan psikologis Anna dan Elsa membesarkan hati di berbagai tingkatan.

Pertama, mereka secara akurat menggambarkan bagaimana kekuatan dapat dikembangkan sebagai kombinasi dari alam, pengasuhan, dan cara hidup yang baik. Kedua, mereka memiliki kekuatan yang sangat penting bagi para pemimpin untuk hari ini dan besok.

Berikut adalah tiga kekuatan kekuatan utama yang dapat dipelajari dari kedua karakter tersebut:

  1. Koneksi – Sebagai makhluk sosial, kita terhubung untuk berkembang dalam koneksi. Hubungan Anna dan Elsa adalah salah satunya. Mereka menarik kekuatan dari satu sama lain dan yang lain yang mereka sayangi. Kemampuan ini mencerminkan apa yang disorot oleh para
    peneliti dalam kekuatan hubungan positif, berfungsi sebagai obat terhadap stres, sumber ketahanan, dan faktor-x dalam kehidupan yang dijalani dengan baik. Berbeda dengan putri putri masa lampau yang tidak memiliki teman wanita yang ditampilkan, koneksi kuat Elsa dan
    Anna adalah pusat kesuksesan mereka.
  2. Keterampilan hidup – Mereka juga menyampaikan alat yang bisa dipelajari alias keterampilan hidup yang dapat dikembangkan siapa pun untuk menghadapi tantangan kehidupan dan berkembang untuk jangka panjang. Anna dan Elsa mengilustrasikan beberapa alat yang sangat
    kuat ini yang digunakan oleh terapis dan pelatih untuk klien mereka seperti merasakan perasaan seseorang, memilih untuk fokus pada langkah tepat berikutnya di tengah-tengah kelelahan, dan penilaian kembali untuk menghindari rasa cemas. Sama seperti putri-putri
    Disney masa lalu, masyarakat kita cenderung menghargai tetap tenang dalam menghadapi tantangan, terutama bagi wanita. “Tetap tenang dan lanjutkan,” kata kita. Tetapi menahan ketakutan, kegelisahan, dan stres cenderung membuatnya lebih buruk. Memang, para peneliti telah menunjukkan bahwa jauh lebih efektif untuk mengubah kecemasan dengan pikiran yang menyenangkan. Dalam satu penelitian, seperti dilansir Olga Khazan di The Atlantic, profesor Alison Wood Brooks melengkapi setiap peserta dengan satu dari tiga penegasan untuk
    dikatakan sebelum melakukan sesuatu yang biasanya menakutkan, seperti bernyanyi karaoke di depan orang asing. Mereka mengatakan, “Saya tenang,” “Saya stres,” atau “Saya senang.”. Ketika peserta mengatakan pada diri mereka sendiri, “Saya senang,” detak jantung mereka terus meningkat, rasa percaya diri dan performa juga ikut meningkat. Demikian pula, dalam lagu Into the Unknown, Elsa bergeser dari menenangkan suara-suara yang membuatnya takut, menjadi merasakan sensasi baru bagi yang tidak dikenal.
  3. Tujuan – hal kuat yang membuat kita bangun dari tempat tidur di pagi hari dan membantu kita bertahan melalui tantangan yang paling berat. Anna memiliki tujuan yang stabil dan jelas. Dia peduli tentang masa depan Arrandale dan hubungan terdekatnya. Elsa juga didorong oleh tujuan, yang menarik adalah kita dapat melihat bagaimana tujuannya kurang kuat ketika tidak sesuai dengan tujuan awal. Di awal film dia mencoba untuk puas dengan yang sekarang, tetapi merasa ada panggilan yang lebih tinggi. Hanya ketika dia setia pada suara di dalam, tujuannya mendorongnya melalui prestasi untuk menjadi manusia super . Mengapa ini penting? Pertama, kita semua percaya akan pentingnya merayakan kemenangan kecil. Jika tidak mengenali hal-hal yang baik, sulit untuk melihat hal lain diluar sana dan menganggap itu baik. Kedua, secara langsung cara-cara di mana kita membawa pelajaran sejak masa kecil akan berdampak pada cara kita memandang hidup dan juga cara memandang pekerjaan kita. Inilah yang digambarkan Esther Perel sebagai kekuatan emosi. Karakter favorit anak-anak dari film dan pertunjukan memiliki pengaruh pada cara pikir mereka, dan apa yang mereka pegang di dunia. Berdasarkan tahap perkembangan otak mereka, anak-anak tidak memisahkan karakter fiksi dari manusia nyata dengan cara yang sama dilakukan orang dewasa. Menurut Dr. Jessamy Comer dari Departemen Psikologi RIT, baru pada pertengahan sekolah dasar anak-anak benar-benar memahami karakter dalam film adalah fiksi. “Ketika mereka sedang melihat kartun” katanya, “bagi mereka, itu nyata. Ini sangat nyata.”. Untuk anak-anak, tokoh panutan dapat berupa nyata atau fiksi. Setiap orang dari kita dapat memengaruhi – apakah itu langsung sebagai panutan, melalui cerita yang kita ceritakan, atau melalui cerita yang kita pilih untuk dinikmati. Perlu diingat bahwa setiap pilihan memiliki efek bagi semua orang yang menonton.

Menjadi Diri Sendiri: Menjadi Bahagia Saat Merasa Kesepian

Ditulis Oleh: Tiara Delia Madyani, S. Psi

Saat memasuki situasi baru, bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk dapat langsung beradaptasi dengan lingkungan atau aturan yang ada di tempat yang asing bagi kita. Terkadang kita merasa ‘kesepian’ dan merindukan hal-hal yang biasa kita lakukan bersama orang-orang terdekat kita. Namun bagaimana jika mereka sibuk? Bagaimana jika kita tidak
menemukan waktu yang sesuai dengan mereka? Tentunya akan sulit untuk ‘menunggu’ waktu yang pas sedangkan emosi negatif kita perlu untuk segera ditangani.

Jawaban yang tepat untuk masalah ini adalah menemukan kebahagiaan kita sendiri. Bagaimana cara menemukannya? Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan:

  1. Kenali emosi yang dirasakan saat mengalami kesendirian
    Kesendirian itu merupakan pengalaman yang netral dan bisa dirasakan oleh semua orang. Namun, emosi yang kita rasakan tergantung bagaimana cara kira memandang kesendirian itu. Kita mendapatkan emosi positif jika memandang dengan sendiri, kita dapat melakukan ‘me time’ dan fokus pada kegiatan-kegiatan yang membuat kita nyaman. Sebaliknya, kita mendapatkan emosi negatif jika kita memandang kesendirian sebagai hal buruk yang terjadi karena adanya kesalahan
    pada diri kita. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah menerima bahwa kesendirian merupakan hal yang lumrah dan itu ban hal buruk karena kita tidak disukai orang lain atau ada yang salah pada diri kita. Jadi, fokuskan diri kita bahwa meski kita merasa sendiri, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat diri bahagia.
  2. Kembangkan hubungan yang baik dengan diri sendiri
    Adalah sebuah kesalahan untuk berpikir bahwa hubungan yang baik akan terjalin saat memiliki relasi dengan orang lain. Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan, “hubungan yang paling baik yang dimiliki seseorang adalah hubungan dengan diri sendiri.” Untuk meningkatkan hubungan yang baik dengan diri sendiri, kita harus mengetahui lebih baik tentang diri kita. Tanya diri kita tentang: nilai apa yang kita miliki dalam kehidupan kita? Apa yang sedang kita butuhkan saat ini? Apa yang harus kita selesaikan? Apa hal yang bisa kita lakukan? Dan sebagainya. Dengan mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut,
    kita dapat memulai langkah untuk mencapai tujuan kita.
  3. Ijinkan dirimu untuk melakukan apa yang menjadi passionmu.
    Ada banyak waktu kosong yang bisa dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan yang kita sukai. Inilah waktunya kita menjadi diri sendiri, tanpa harus beradu argumentasi dengan orang lain saat kita sendiri. Kita dapat mencoba hal-hal baru yang sesuai dengan passion kita seperti nonton dua atau tiga film di bioskop dalam sehari, baca buku 7 seri harry potter dalam satu waktu, solo travelling, dan lain sebagainya.
  4. Kurangi penggunaan media sosial
    Sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa pengguna media sosial sebenarnya membuat Anda merasa lebih kesepian. Media sosial menciptakan kesan seolah Anda menjalin relasi, tetapi sebenarnya justru sebaliknya. Dalam buku Alone Together, psikolog sosial Sherry Turkle berpendapat adanya hiperkoneksivitas melalui media sosial yang membuat seseorang menjadi lebih terasing satu sama lain dalam kehidupan nyata. 
  5. Buat diri sendiri bangga
    Salah satu hal positif ketika kita merasa kesepian, kita bisa menjalani keseharian kita dengan standar yang kita tentukan sendiri. Kita bisa menentukan apa yang harus kita tuju, menjadi diri sendiri, mulai untuk merencanakan dan berupaya untuk mencapai standar tersebut sehingga timbul rasa bangga atas apa yang telah kita lakukan untuk diri kita sendiri.

Sumber:
https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-art-closeness/201601/the-fine-art-being-yourself
https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/cara-mengatasi-kesepian/

Resolusi Tahun Baru Bukan Sekedar Wacana

Ditulis Oleh: Prilianti Putri Lestari, S. Psi

Siapa diantara sobat RK yang membuat daftar resolusi tahun 2019? Bagaimana progressnya saat ini?

Selamat, bagi sobat RK yang bisa mencapai resolusinya! Untuk yang belum, kamu ngga sendiri kok, karena menurut survey dari Miller dan Marlatt (1998) dari 264 subjek yang mengisi kuesioner, sekitar 75% yang membuat resolusi gagal pada upaya pertama yang mereka lakukan dan kebanyakan orang sekitar 67% membuat lebih dari satu resolusi.

Kalau begitu, sebenarnya apa saja yang menentukan kesuksesan seseorang untuk mencapai resolusi-resolusinya? Menurut penelitian ditemukan bahwa orang-orang yang percaya bahwa self-control adalah sesuatu yang dinamis, dapat berubah, dan tidak terbatas (misalnya, “saya bisa berhenti merokok, yang perlu saya lakukan adalah menanamkan hal itu dalam pikiran saya”) cenderung dapat mencapai resolusinya. Sedangkan pada orang-orang yang percaya bahwa kita dilahirkan dengan self-control yang terbatas dan tidak dapat diubah (misalnya, “saya tidak bisa berhenti makan coklat ini, saya punya gen coklat yang diturunkan oleh ibu saya!) serta mereka yang mempunyai keyakinan kecil dalam dirinya pada kemampuan mereka sendiri untuk melaksanakan tujuan mereka (yang dalam psikologi disebut sebagai self-efficacy yang rendah) menunjukan bahwa mereka tidak dapat memperoleh tujuan resolusi tahun baru mereka.

Oleh karena itu, individu yang percaya pada kemampuan sendiri (self-efficacy yang tinggi) umumnya berkorelasi dengan kemungkinan yang lebih besar untuk mencapai tujuan. Sekarang kita tahu bahwa keyakinan pada diri sendiri adalah kunci yang bisa kita lakukan untuk mencapai resolusi. Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat resolusi menjadi lebih mungkin dicapai?

1. Pilih tujuan yang spesifik dan realistis
Di tiap tahun, banyak orang dewasa yang memutuskan untuk menurunkan berat badan di tahun depan. Daripada memilih tujuan yang ambigu, fokuslah pada sesuatu yang lebih konkret yang secara realistis dapat dilakukan oleh sobat RK. Misalnya, sobat RK berkomitmen untuk menurukan berat badan sebanyak 5 kg atau melakukan mini-marathon untuk membiasakan diri berolahraga. Memilih tujuan yang konkret dan bisa dicapai memberi sobat RK kesempatan untuk merencanakan bagaimana sobat RK akan mencapai tujuan dalam tahun tersebut.

2. Pilih hanya satu resolusi
Richard Wiseman, professor psikologi di Hertfordshire University, menyarankan untuk memilih satu tujuan dan fokuskan energimu untuk mencapainya. Memutuskan terlalu banyak resolusi sekaligus dapat menjadi hal yang sulit karena membangun pola perilaku baru membutuhkan waktu. Memfokuskan upaya pada satu tujuan spesifik membuat resolusi menjadi lebih dapat dicapai.

3. Jangan menunda
Rencana adalah bagian penting dalam mencapai berbagai tujuan. Para ahli menyarankan untuk meluangkan waktu dalam memikirkan bagaimana kita akan mengatasi perubahan perilaku dalam mencapai resolusi. Memiliki rencana secara tertulis dan detail dapat memudahkan kita. Jika kita memulai untuk mencapai tujuan tanpa adanya rencana, kita mungkin akan mudah menyerah ketika dihadapkan dengan hambatan dan kesulitan. Dengan mengetahui apa yang kita inginkan untuk dicapai dan kesulitan yang mungkin akan dihadapi, kita akan lebih siap untuk tetap berpegang pada resolusi dan mengatasi potensi dari hambatan-hambatan.

4. Mulailah dengan langkah kecil
Mengambil langkah terlalu banyak adalah alasan umum mengapa begitu banyak resolusi tahun baru yang gagal. Mengurangi kalori secara drastis, berolahraga di gym secara berlebihan, atau mengubah perilaku normal secara radikal adalah cara ampuh untuk menggagalkan rencana. Akan lebih baik bagi kita untuk fokus mengambil langkah kecil yang pada akhirnya akan membantu kita mencapai tujuan yang lebih besar. Misalnya, jika sobat RK ingin membiasakan makan makanan yang lebih sehat, mulailah untuk mengganti beberapa junk food favoritmu dengan makanan yang lebih bernutrisi.

5. Hindari pengulangan kegagalan masa lalu
Strategi lain untuk menjaga resolusi tahun baru adalah dengan tidak membuat resolusi yang sama persis di tiap tahun, karena jika pernah mencoba dan gagal, hal ini dapat berpengaruh pada kepercayaan diri mereka. Jika sobat RK memilih untuk tetap meraih tujuan yang sama dengan yang pernah sobat RK coba sebelumnya, luangkan waktu untuk mengevaluasi hasil sebelumnya. Startegi mana yang paling efektif? Mana yang paling tidak efektif? Apa yang menghambat sobat RK menjaga resolusi dalam beberapa tahun terakhir? Dengan mengubah pendekatan, sobat RK akan lebih cenderung melihat hasil nyata berikutnya.

6. Ingat bahwa perubahan butuh proses

Kebiasaan tidak sehat yang mungkin sobat RK coba ubah butuh waktu bertahun-tahun untuk berkembang, jadi tidak mungkin rasanya kalo kita berharap untuk mengubahnya hanya dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Mungkin butuh waktu lebih lama daripada yang kita harapkan untuk mencapai tujuan, tetapi ingat bahwa tujuan ini bukan perlombaan untuk mencapai tujuan. Setelah kita membuat komitmen untuk mengubah perilaku, itu adalah sesuatu yang akan terus kita kerjakan selama sisa hidup kita.

7. Cari dukungan dari teman dan keluarga
Mungkin kita pernah mendengar nasihat berkali-kali, namun percayalah bahwa itu karena buddy system berfungsi. Mempunyai support system yang solid dapat membantumu untuk tetap termotivasi. Jelaskan tujuanmu pada teman terdekat atau keluarga dan minta bantuan mereka untuk mencapainya.
8. Perbarui motivasimu
Selama hari-hari pertama menjalankan resolusi tahun baru, kita mungkin akan merasa percaya diri dan termotivasi untk mencapai tujuan kita. Karena kita belum benar-benar menghadapi ketidaknyamanan atau godaan yang terkait dengan mengubah perilaku kita, membuat perubahan ini mungkin tampak terlalu mudah. Setelah berhadapan dengan kenyataan menyeret diri kita ke gym pada pukul 6 pagi atau menggertakkan gigi karena sakit kepala akibat penarikan nikotin, motivasi kita untuk menjaga resolusi tahun baru mungkin akan mulai berkurang. Ketika kita menghadapi saat-saat seperti itu, ingatkan diri kita mengapa kita melakukan ini. Apa yang harus kita dapatkan dengan mencapai tujuan tersebut? Temukan sumber inspirasi yang akan
membuat kita terus berjalan ketika masa-masa sulit.

9. Terus bekerja pada tujuanmu
Pada bulan Februari, banyak orang telah kehilangan percikan motivasi awal yang mereka rasakan setelah membuat resolusi tahun baru mereka. Biarkan inspirasi itu tetap hidup dengan terus bekerja pada tujuan, bahkan setelah menghadapi kemunduran. Jika pendekatan kita saat ini tidak berhasil, evaluasi ulang strategi sebelumnya dan kembangkan rencana baru. Dengan bertahan dan bekerja pada tujuan kita sepanjang tahun, kita bisa menjadi salah satu dari sedikit yang bisa mengatakan bahwa kita benar-benar menjaga resolusi tahun baru.

10. Jangan biarkan hambatan kecil menurunkan semangatmu
Menghadapi kemunduran adalah salah satu alasan paling umum mengapa orang menyerah pada resolusi tahun baru mereka. Jika sobat RK tiba-tiba kembali melakukan kebiasaan buruk, jangan menganggapnya sebagai kegagalan. Jalan menuju tujuan kita tidak lurus, dan akan selalu ada tantangan. Sebaliknya, melihat kekambuhan sebagai kesempatan belajar. Jika kita membuat jurnal resolusi, tulis informasi penting tentang kapan kekambuhan terjadi dan apa yang mungkin memicu itu. Dengan memahami tantangan yang sobat RK hadapi maka akan lebih siap untuk menghadapinya di masa depan.

References
Cherry, K. (2019, August 9). 10 Great Tips for Keeping Your Resolutions This Year. Retrieved from
verywellmind: https://www.verywellmind.com/how-to-keep-your-new-years-resolutions-
2795719
John M. Grohol, P. (2018, July 8). The Psychology of New Year's Resolutions. Retrieved from
PsychCentral: https://psychcentral.com/blog/the-psychology-of-new-years-resolutions/

Mempersiapkan Tahun Baru yang Lebih Baik

Ditulis Oleh: Raiguna Sonjaya, S. Psi

Biasanya, untuk mempersiapkan tahun baru yang lebih baik, kita merenungkan tahun
sebelumnya dan berpikir tentang apa yang ingin kita lakukan dengan kesempatan peluang yang baru. Banyak orang menetapkan resolusi Tahun Baru untuk berolahraga, makan lebih sehat, lebih ramah, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan berganti pekerjaan dan sebagainya. Sayangnya untuk sebagian besar, hal tersebut tidak cenderung menetap, resolusi yang sudah dibuat bisa dilupakan dan kebiasaan lama serta pengalaman yang lalu masih dilakukan.

Perilaku dan perubahan hidup adalah mungkin terjadi, tetapi butuh komitmen dan fokus, bukan hanya kalimat keinginan yang dituliskan di selembar kertas atau direkam dalam telepon genggam kita. Untuk benar-benar membuat perubahan yang kita inginkan, kita harus mengubah cara berpikir kita tentang perubahan yang perlu kita lakukan.

1. Mulailah dengan menentukan hasil atau outcome yang kita inginkan
Kebanyakan orang tahu apa yang tidak mereka inginkan, tetapi mereka jarang
meluangkan waktu untuk mempertimbangkan apa yang mereka inginkan. Dan itu bisa
menjadi pernyataan luas. Contohnya: Saya ingin menurunkan berat badan;
pernyataan tersebut terlalu luas dan tidak jelas. Pernyataan hasil yang baik mencakup
tindakan kuantitatif dan kualitatif. Berapa berat yang ingin Kita turunkan? Kapan?
Kita ingin ukuran tertentu? Adakah hal yang akan Kita lakukan atau tidak akan
lakukan untuk menurunkan berat badan (makan selada setiap hari selama sebulan
jarang berhasil, misalnya)? Apakah Kita ingin menurunkan berat badan dengan
makan lebih baik, atau ingin berolahraga juga? Semakin lengkap Kita dapat
melukiskan gambaran hasil sukses Kita, dengan sangat detail, semakin baik pikiran
Kita untuk mengarahkan pada apa yang Kita inginkan.

2. Mencari tahu apa yang menghalangi kita atau apa yang mungkin menghalangi
kita untuk mencapai kesuksesan
Di sinilah Kita mengidentifikasi hambatan Kita untuk sukses. Tidak dapat
menurunkan berat badan karena Kita tidak punya waktu untuk berolahraga? Kita
bepergian terlalu banyak untuk bekerja? Kita sedang menjalani pengobatan yang

menambah berat badan? Mungkin ada beberapa faktor yang menghalangi Kita, jika
tidak, Kita akan mencapai tujuan Kita sejak lama. Penting untuk mengidentifikasi
hambatan dan kemudian mengkategorikannya agar dapat merencanakan lebih lanjut
secara efektif.

3. Mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan kita
Penting untuk mengenali di mana hal yang mungkin menjadi hambatan Kita sendiri,
tetapi juga di mana Kita membawa keterampilan dan keterampilan khusus untuk
membantu Kita melakukan perubahan. Perhatikan baik-baik apa yang dapat Kita
lakukan untuk memungkinkan diri Kita berhasil dalam usaha yang Kita lakukan.
Lihatlah juga orang-orang di sekitar Kita, orang-orang dalam hidup Kita yang peduli
pada Kita dan dapat mendukung upaya Kita menuju kesuksesan. Apakah ada orang
yang dapat Kita manfaatkan untuk membuat rencana? Adakah orang yang bisa
menjadi penyemangat atau sumber informasi Kita?

4. Pertimbangkan juga langkah alternative
Terkadang kita berpikir seolah-olah hanya ada satu cara untuk mencapai tujuan Kita.
Tapi ternyata dibalik itu banyak sekali opsi alternative yang bisa kita. Bisa dengan
memulai bertanya pada diri kita sendiri mengenai apakah itu yang paling efisien
waktu, paling murah, paling menarik, paling cocok untuk kepribadian Kita, dan lain-
lain.
5. rencana yang jelas dari langkah selanjutnya
Hidup kita adalah campur tangan kita juga, Kita ingin tetap terbuka terhadap ide dan
opsi baru; ya, Kita ingin pergi ke mana Semesta membawa Kita tetapi Kita masih
perlu memiliki rencana tindakan jika Kita ingin
(a) mencapai hasil yang diinginkan
(b) mengatasi hambatan
(c) meningkatkan faktor manusia dan Stakeholder
(d) menerapkan alternatif yang tepat untuk Kita.
Tentukan apa, siapa, kapan, bagaimana, dan berapa banyak, dan kemudian ambil
langkah untuk bergerak maju menuju tujuan Kita.

Apa pun yang Kita lakukan, pastikan untuk membuat perubahan KITA menjadi
kenyataan di tahun baru ini.

Sumber:

Flaxington, B. D. (2019, December 20). Preparing for a New Year. Retrieved December 22,
2019, from Psychology today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/understand-
other-people/201912/preparing-new-year